Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 110. Semakin Curiga


Fahri mencerna semua ucapan Samuel barusan. Tak lama kemudian ponselnya berdering, Fahri pun langsung mengangkat panggilan yang tak lain dari sekretarisnya itu.


"Aku angkat telepon sebentar," ujar Fahri. Samuel pun menimpali ucapan pria itu dengan sebuah anggukan pelan.


"Halo, ada apa Doni?" tanya Fahri kepada sekretarisnya dari seberang telepon.


"Pak Fahri, Pimpinan dari DS Grup tidak mau memundurkan jadwal rapatnya," ujar Doni, yang merupakan sekretaris baru Fahri.


Fahri memijat keningnya sejenak. Satu sisi, ia harus menjaga sang istri. Namun, di sisi lainnya, ia juga memiliki tanggung jawab yang besar untuk urusan kantor. Apalagi saat ini Arumi sudah tak bisa menghandle perusahaan dikarenakan istrinya tengah mengandung.


"Baiklah. Aku akan segera ke sana," ujar Fahri yang langsung memutuskan sambungan teleponnya.


Fahri kembali menghampiri Samuel dengan memperlihatkan wajah yang sedikit kusut.


"Ada apa? Kenapa ekspresimu seperti itu? Apakah ada masalah?" tanya Samuel.


"Pak Budi, pimpinan dari DS Grup tidak mau memundurkan jadwal rapatnya," timpal Fahri, terdengar helaan napas yang cukup panjang dari pria tampan itu.


Fahri melirik ke arah ruangan Arumi. Samuel pun mengerti akan kekhawatiran pria itu. "Uruslah urusanmu dulu. Aku yang akan menjaga Arumi selama kamu tak ada di sampingnya," tawar Samuel.


Fahri mengangguk pelan. Kali ini, hanya Samuel lah yang bisa ia percaya untuk menjaga istrinya itu. Jika tak ada yang menjaga Arumi, Fahri takut kejadian tadi akan terulang lagi.


Fahri masuk ke dalam ruang rawat tempat Arumi berada. Pria itu pun menghampiri istrinya yang tengah tersenyum menatap ke arahnya.


"Sayang, maaf karena aku tidak bisa menemanimu. Aku harus menghadiri rapat penting. Samuel yang akan menjagamu untuk sementara waktu," tutur Fahri seraya mengusap lembut puncak kepala istrinya.


"Tidak apa-apa, Mas. Kamu pergi saja, jangan terlalu mengkhawatirkan aku. Jika ada Samuel, aku akan tetap aman," ucap Arumi.


"Ya sudah, kalau begitu Mas berangkat kerja dulu," ujar Fahri berpamitan kepada sang istri, mengecup kening Arumi sebelum ia pergi.


Samuel yang menyaksikan interaksi keduanya pun sesekali membuang muka. Bagaimana pun juga, ia Samuel masih memiliki rasa yang tersisa untuk Arumi walaupun itu sedikit. Dan melihat kemesraan keduanya, tentu saja ada rasa cemburu di dalam hati yang tak bisa ia ungkapkan.


"Sam, ... aku titip Arumi," ujar Fahri menepuk pundak Samuel.


Samuel menimpalinya dengan sebuah anggukan pelan. Fahri melangkah pergi dari ruangan tersebut. Tak lama kemudian, pria itu kembali lagi sembari mengusap tengkuknya.


"Loh, ada apa Mas?" tanya Arumi menatap suaminya dengan keheranan.


"Ini ... ponselmu. Mas lupa memberikannya tadi," ujar Fahri.


Arumi mengulas senyumnya sembari menggeleng-gelengkan kepala. Fahri menyerahkan ponsel tersebut, lalu kemudian kembali mengecup kening istrinya, seolah tak ingin meninggalkan sang istri di tengah kekalutan ini.


"Aku rasa memberikan ponsel Arumi hanya menjadi sebuah alasanmu saja," gumam Samuel.


Mendengar ucapan Samuel, membuat Arumi langsung terkekeh. Bagaimana pun juga, yang diucapkan Samuel memang benar adanya. Jika hanya memberikan ponsel saja, Fahri tak akan terlalu berlama-lama di sini sembari memberikan beberapa kecupan pada puncak kepala istrinya.


"Sudah pergilah, Mas! Nanti Doni terkena masalah lagi karena kamu terlalu banyak mengulur waktu," ujar Arumi sembari membingkai rahang suaminya dengan satu tangan.


Tatapan Fahri menyendu. Ia pun mengangguk, dan menggenggam tangan istrinya itu.


"Ya sudah, kalau begitu Mas berangkat dulu. Kamu baik-baik ya di sini. Tidak usah terlalu banyak pikiran, tetaplah di sini bersama Samuel, nanti Mas jemput pulang saat urusan kantor sudah selesai," papar Fahri.


"Iya Mas."


Fahri pun kembali melanjutkan langkah kakinya. Arumi hanya bisa tersenyum sembari melihat kepergian suaminya dari balik pintu.


"Kenapa tidak ada lagi?" gumam wanita itu memeriksa pesan yang membuatnya tumbang hingga di bawa ke rumah sakit.


"Sam, ... Kamu ...."


"Aku tidak melihatnya. Saat aku pergi ke rumahmu, sudah ada Bu Dewi di sana. Beliau lah yang memberikan ponsel itu kepadaku," papar Samuel.


"Ck, wanita tua itu berulah lagi," gumam Arumi.


Samuel mengernyitkan keningnya. "Apakah kamu mengetahui sesuatu?"


Arumi menghela napas dengan berat. "Penyerangan yang terjadi malam itu ... dia lah orangnya," ujar Arumi dengan wajah yang penuh kekecewaan.


"Apa?!" Samuel langsung terkejut dengan ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Arumi.


"Ya. Aku melihatnya secara langsung. Ia kedapatan kembali masuk ke ruang kerja papa, mencoba untuk mengambil dokumen penting perusahaan yang aku letakkan di sana. Beruntung sebelumnya aku memindahkan dokumen itu ke tempat lain dan memasang kamera pengintai di beberapa titik," jelas Arumi.


Samuel tampak mencerna semua ucapan Arumi. Entah mengapa ia merasakan ada sebuah rahasia dibalik penyerangan malam itu.


"Benar-benar tidak ada yang beres. Penyerangan Arumi pada malam itu cukup sadis. Jika memang ini semua ulah Bu Dewi, apakah keanehan yang lainnya yang pernah terjadi itu juga ulahnya? Tapi mengapa dia sampai bertindak sekeji itu? Arumi adalah anak kandungnya sendiri. Mengapa dia tega melakukan hal itu?" batin Samuel.


Ada banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benak Samuel. Arumi yang melihat ekspresi wajah Samuel pun langsung menegurnya.


"Kamu tidak apa-apa? Apakah ada yang salah?" tanya Arumi.


Samuel menggelengkan kepalanya, lalu kemudian mengulas senyum. "Bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Samuel tampak berhati-hati.


"Boleh, silahkan."


"Apa yang membuatmu sampai jatuh pingsan? Aku dengar dari bibi yang bekerja di rumahmu, kamu sempat berteriak histeris," ujar Samuel.


"Ada nomor baru yang masuk. Ia mengirimkan sebuah foto," timpal Arumi. Matanya mulai berkaca-kaca dan tangannya kembali bergetar.


"Foto apa?" tanya Samuel. Ia masih belum jelas tentang foto yang dikatakan oleh Fahri tadi.


"Foto papa. Papa yang sedang bersimbah darah di dalam mobil yang terlihat benar-benar rusak. Aku ... aku bahkan tidak melihat papa untuk yang terakhir kalinya karena saat itu aku berada di luar negeri. Dan sekarang, aku mendapatkan foto yang memperlihatkan papa dengan kondisi yang mengenaskan. Tentu saja membuatku hancur, Sam ... aku benar-benar sakit hati."


Arumi kembali menangis sesegukan. Ia tak bisa menahan rasa sedihnya. Memang benar, kejadian kecelakaan yang menewaskan sang papa saat mengantarnya di bandara.


Dan suatu ketika Arumi mendapat kabar tersebut, ia hendak pulang ke Indonesia, akan tetapi saat itu tak bisa melakukan penerbangan dikarenakan cuaca yang buruk. Dan Arumi tak mengantarkan kepulangan ayahnya untuk yang terakhir kalinya karena hal itu.


Melihat Arumi yang menangis sesegukan, membuat Samuel menepuk pundak Arumi, mencoba untuk menenangkan wanita tersebut.


"Maafkan aku karena sudah bertanya sesuatu yang membuatmu kembali bersedih," ucap Samuel.


"Tidak apa-apa, Sam. Lagi pula, aku merasa benar-benar kesal dengan si pengirim pesan itu. Seharusnya dia tidak mengirimkan foto ayahku yang bersimbah darah seperti itu," gerutu Arumi.


Samuel hanya terdiam. Pria itu sibuk dengan berbagai macam perkiraan yang ada dalam kepalanya.


"Bu Dewi menghapus pesan gambar itu. Apakah ini semua ada kaitannya dengan Bu Dewi?" batin Samuel .


Bersambung ...


Yang punya vote, dari pada vote nya nggak ke pake, mending kasih ke aku aja ya guys🤭