
"Dua Minggu yang akan datang, mari kita adakan pernikahan," ucap Fahri.
Arumi sedikit terkejut dengan ucapan pria itu. Ia tidak menyangka jika Fahri bersedia menikah dengannya dalam jangka waktu yang sedikit singkat untuk memikirkannya.
"Baiklah. Mari kita adakan pesta pernikahan. Persiapkan dirimu dan jangan mengecewakanku saat acara pernikahan nanti. Karena akan ada banyak tamu penting yang ada di sana," ujar Arumi seraya memberikan peringatan pada pria tersebut.
"Ya. Aku mengerti."
Arumi pun kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Gadis itu masuk ke dalam mobil, lalu kemudian melajukan kendaraan tersebut menuju ke jalanan.
Fahri menatap kepergian Arumi. Mobil tersebut semakin lama semakin menghilang dari pandangannya. Meminta Arumi untuk segera melangsungkan pernikahan tersebut bukanlah tanpa alasan.
Fahri ingin ia yang lebih dulu menikah. Memperlihatkan pernikahan itu pada mantan istrinya. Seakan Fahri hidup lebih bahagia dibandingkan Sifa.
Tak peduli pernikahan itu tanpa dilandasi adanya cinta. Lagi pula mau tak mau, Fahri tetap harus melakukannya. Karena itu merupakan sebuah hutangnya pada Arumi.
Fahri membawa langkahnya untuk kembali ke kontrakan. Pria tersebut baru saja melewati gerbang, ia berpapasan dengan seorang wanita paruh baya, yang ia tahu wanita itu adalah tetangga kontrakan sebelah.
"Yang tadi pacarnya ya?" tanya wanita itu.
"Bukan," ujar Fahri menimpali ucapan wanita tersebut dengan mengulas senyum.
"Bukan pacar tapi calon istri? Benarkan tebakan ibu?" tanya wanita tersebut yang mencoba menerka.
Fahri hanya terdiam. Ia ingin mengelaknya, akan tetapi ucapan wanita tersebut memang benar adanya. Bukankah ia sebentar lagi akan menikah dengan Arumi? Itu tandanya tak lama lagi Arumi akan menjadi istrinya.
"Kalian sangat cocok. Yang satunya cantik dan satunya lagi tampan. Tidak bisa dibayangkan anak kalian pasti sangat cantik dan tampan parasnya," lanjutnya lagi.
Anak? Fahri sangat menantikannya sedari dulu. Ia ingin kehadiran sang buah hati. Hal itu pernah ia impikan saat bersama dengan Sifa dulu. Akan tetapi kini wanita itu hanya menjadi sebuah kepingan kenangan. Dan pernikahan dengan Arumi, hanyalah sebatas saling menguntungkan saja. Pernikahan yang tidak dilandasi dengan cinta.
"Loh kok melamun? Ya sudah lah, ibu jadi sibuk ngegosip langsung di depan orangnya nih. Padahal tadi mau ke warung," ujar wanita itu yang kemudian berlalu dari hadapan Fahri.
Fahri kembali melanjutkan langkahnya. Masuk ke dalam kontrakan tersebut, dan mengunci pintunya dengan rapat. Karena ia ingin menikmati waktu kesendiriannya terlebih dahulu. Ini merupakan hari terberatnya, resmi bercerai dengan wanita yang kini sudah menjadi bagian dari kenangan.
...****************...
Malam ini Sifa dan ibunya tengah berada di rumah Aldo. Mereka membuat acara barbeque do belakang rumah Aldo. Pesta kecil-kecilan menyambut masa menjandanya seorang Sifa. Hal ini sangat di dukung oleh Kartika, ibunya. Wanita paruh baya itu seakan terlepas dari beban yang begitu berat saat terlepasnya sang anak dari mantan menantunya. Dan kini ... Kartika bersiap untuk menyambut calon menantunya yang baru, yaitu Aldo.
Aldo tengah memanggang daging bersama dengan Sifa. Sementara Kartika, mengabadikan momen tersebut dengan mengambil beberapa jepretan dari ponselnya.
"Ibu, sebaiknya hentikan. Lampu flash dari kamera ibu sangat menyilaukan," protes Sifa.
"Tahan saja sebentar. Lagi pula sayang jika kita tidak mengabaikan momen kebersamaan ini," tukas Kartika yang kembali mengambil beberapa gambar.
"Ayo! Pose sedikit. Lihat ke kamera sembari saling merangkul," lanjut Kartika.
Sifa memutar bola matanya dengan malas. Ibunya semakin menggila, mengambil beberapa potret dirinya bersama dengan Aldo.
Aldo mendekat pada Sifa, lalu meraih pinggang ramping wanita tersebut. Mendapat perlakuan itu, Sifa langsung terkejut.
"Ayo lihat ke kamera dan tersenyumlah," ucap Aldo.
Sifa menuruti ucapan pria tersebut. Mereka sibuk memasang pose. Namun, tiba-tiba indera penciuman mereka menangkap aroma gosong. Sifa langsung tersadar.
Dengan sigap ia membalik daging yang dipanggangnya menggunakan capit. Dan benar saja, daging tersebut memang benar-benar gosong.
Baru saja ia hendak pergi mengambil daging tersebut, tiba-tiba ponselnya berdering. Membuat pria tersebut mengurungkan niatnya terlebih dahulu untuk mengangkat panggilan tersebut.
Melihat Aldo yang sibuk berbicara dengan seseorang di telepon, membuat Sifa mengambil tugas yang hendak di kerjakan oleh Aldo.
Sifa berjalan menuju ke dapur. Ia membuka lemari pendingin tersebut, mengambil daging secukupnya untuk mereka panggang nanti.
Setelah berhasil mengambil daging tersebut, Sifa pun langsung kembali ke halaman belakang untuk memanggang daging itu.
Saat diperjalanan, matanya terpaku pada sebuah ruangan yang tak jauh dari halaman belakang tersebut. Sifa merasa penasaran, ia pun melangkah mendekati ruangan itu.
Ruangan yang tertutup rapat, serta di gembok seraya dililitkan rantai pada pengait pintunya.
"Ruangan apa ini?" gumam Sifa yang semakin berjalan mendekat. Wanita tersebut mencoba mengintip ruangan itu dari celah pintu.
Sifa berpikir jika ruangan itu gelap. Ternyata ia salah besar. Ruangan itu masih diberi lampu walaupun hanya remang-remang. Sifa semakin menyipitkan matanya, ia ingin melihat apa yang ada di dalam sana.
"Sedang apa kamu di situ?"
Terdengar suara berat seorang pria membuatnya sangat terkejut. Sifa pun langsung berbalik menatap Aldo yang sidah berdiri di belakangnya.
"Sedang apa?" ujar Aldo mengulangi pertanyaannya.
"Ti-tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedikit penasaran dengan apa yang ada di dalam ruangan ini," jelas Sifa. Ia berucap dengan seidkit terbata-bata. Bagaimana pun juga sikap Sifa memang salah. Ia terlalu lancang karena mengintip tanpa meminta izin terlebih dulu pada sang kekasih.
"Isi di dalamnya hanya beberapa barang bekas yang tidak terpakai," jelas Aldo.
"Apakah kamu tidak mempercayai ucapanku?" lanjut Aldo memberikan tatapan menyelidik pada Sifa.
"Aku percaya," ujar Sifa sembari mengulas senyumnya.
"Ya sudah. Kalau begitu, ayo kita pergi dari sini," lanjut wanita itu melangkah pergi seraya membawa daging yang hendak dipanggang.
Aldo mengangguk. Pria itu mengikuti langkah Sifa dari belakang. Sesekali ia menoleh, melihat ke arah ruangan tersebut.
Setibanya di sana, Kartika tengah memasukkan daging-daging yang sudah tak layak makan tersebut ke dalam kantong plastik untuk dibuang, karena memang daging-daging itu sudah gosong.
Ia melihat Sifa dan Aldo datang bersamaan. Sifa yang tengah membawa daging untuk dipanggang. "Duh, kami jadi sangat merepotkan, Nak Aldo." Kartika merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa, Bu. Lagi pula aku sangat senang dengan keberadaan kalian, membuat rumah ini tak terasa sepi," ujar Aldo.
"Nak Aldo tinggal sendirian di sini?" tanya Kartika.
Aldo menganggukkan kepalanya. "Iya. Kedua orang tuaku sudah tidak ada lagi," ucap Aldo.
Kartika menatap Aldo dengan tatapan iba. Sifa berjalan menuju ke pemanggangan. Lalu kemudian memberikan bumbu pada daging tersebut, lalu kembali memanggang daging.
Ia menatap Aldo yang tengah berbincang dengan ibunya. Lalu kemudian mengarahkan pandangannya ke ruangan remang-remang yang dilihatnya tadi.
"Kenapa dia semarah itu saat aku melihat ruangan tersebut?" batin Sifa.
Bersambung ....