Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 12. Cinta Membuatku Gila


Fahri mengenakan pakaian santainya. Pria itu tak perlu memakai kemeja hanya untuk bekerja di toserba. Ia mematut dirinya di depan cermin.


Fahri keluar dari kamarnya, melihat keberadaan sang istri yang tengah mencuci piring di dapur. Dari belakang, Fahri memeluk Sifa, membuat istrinya sedikit terkejut mendapati Fahri yang memeluknya secara tiba-tiba.


"Kamu mau berangkat kerja, Mas?" tanya Sifa.


"Hmmm ...." Fahri meletakkan dagunya di ceruk leher sang istri.


"Mas Fahri pulangnya jam berapa?" tanya Sifa lagi.


"Jam 11 malam waktu kerjaku habis," timpal Fahri.


Sifa mencuci tangannya, ia sedikit menggeser tubuhnya untuk meraih kain lap. Fahri tak sedikit pun melepaskan pelukannya. Pria itu ikut bergeser di saat Sifa bergerak.


Setelah mengelap tangannya hingga kering, Sifa berbalik menghadap ke arah Fahri. Wanita itu melingkarkan tangannya di leher sang suami, lalu kemudian mengulas senyum.


"Mas, aku boleh ya keluar. Soalnya Elena minta ditemani untuk berbelanja beberapa kebutuhan. Ia tidak enak jika berjalan sendirian. Tidak apa-apa kan?" tanya Sifa yang berbohong. Wanita itu bukan memiliki janji dengan temannya, Elena. Melainkan ia memiliki janji temu dengan Aldo, mantan kekasihnya.


Melihat wajah Sifa yang begitu memelas, membuat Fahri tak tega jika melarang istrinya untuk keluar. "Baiklah, tapi pulang ke rumah jangan terlalu malam," ujar Fahri.


"Baik, Suamiku." Sifa mengembangkan senyumnya. Ia merasa sangat senang karena Fahri tak mencurigai dirinya sedikit pun.


"Kalau begitu, aku berangkat kerja dulu," ucap Fahri.


Sifa menganggukkan kepalanya. "Hati-hati di jalan, Mas."


Fahri tersenyum, lalu kemudian mengecup puncak kepala Sifa dengan lembut. Pria itu mengulas senyumnya, lalu kemudian pergi meninggalkan sang istri di rumah untuk mencari tambahan rezeki.


Sifa tersenyum lebar saat melihat kepergian sang suami. Wanita itu segera menggeledah lemarinya, mencari baju yang cocok untuk ia kenakan bertemu dengan Aldo kelak.


Cukup lama Sifa memilah koleksi bajunya, dan ia pun menetapkan untuk memakai dress berwarna cream dengan panjang selutut.


Setelah mengenakan pakaian tersebut, Sifa bergegas menuju ke meja rias, ia memoles wajahnya dengan make up, berusaha tampil cantik di mata pria yang akan ia temui itu.


Kini Sifa begitu terlihat cantik dengan tampilannya malam ini. Tak lupa rambutnya ia tata dengan sangat rapi untuk menambah nilai plus dari penampilannya.


Wanita itu pun meraih ponselnya, mengetikkan pesan singkat kepada Aldo, memberitahukan mantan kekasihnya itu bahwa ia akan menuju ke.tempat yang telah dijanjikan sebelumnya.


Usai mengirimkan pesan pada Aldo, Sifa langsung meraih gas jinjing yang ia kenakan, lalu kemudian bergegas keluar dari rumahnya menuju ke tempat dimana ia akan bertemu dengan Aldo nantinya.


.....


Fahri baru saja tiba di tempat kerjanya. Ia berganti shift dengan anak satpam yang memberitahukan lowongan di tempat tersebut beberapa hari yang lalu.


"Duluan, Bang." Pria teman kerja yang lebih muda dari Fahri menyapanya.


"Iya. Hati-hati di jalan. Salam sama bapak ya," ucap Fahri.


Pria tersebut berbalik lalu mengacungkan ibu jarinya. Ia pun kembali melanjutkan langkahnya, keluar dari toserba itu.


Salah satu pembeli menghadap ke meja kasir. Ia menyerahkan beberapa makanan serta minuman untuk melakukan transaksi pembayaran. Fahri men-scan belanjaan tersebut.


"Lima puluh lima ribu lima ratus rupiah," ujar Fahri seraya menyebutkan nominal jumlah yang tertera di layar monitor.


Sebelum benar-benar keluar dari toserba, pembeli itu menatap sekilas ke arah Fahri, lalu kemudian kembali mengernyitkan keningnya.


"Dia sepertinya tidak asing," gumamnya yang kemudian memasuki mobil yang terparkir tak jauh dari toserba itu.


Arumi tersenyum, melihat Samuel yang membawa belanjaan dari toserba tersebut. "Bagaimana? Dia sangat tampan bukan?" tanya Arumi dengan sangat antusias.


"Lebih tampan aku," celetuk Samuel dengan begitu angkuh.


"Hah?! Tampan dari mana. Lagi pula kamu selalu saja memperlihatkan diriku seolah kamu adalah pria yang gemulai. Aku tahu kamu berpura-pura, tapi sebaiknya jadilah dirimu sendiri," papar Arumi yang sekalian menceramahi pria yang ada di sampingnya.


"Baiklah, Princess. Jika kamu mengatakan bahwa aku tampan, maka aku akan merubah semu--"


"Kau tampan!" tegas Arumi yang langsung menyela ucapan Samuel. Pria itu mengulas senyumnya saat mendengar ucapan dari Arumi.


"Kalau begitu ... bisakah kita kembali ke rumah. Dari jam tiga sore kita sudah standby di sini hanya menunggu pria toserba itu. Lagi pula perutku sudah mulai lapar," rengek Samuel.


Arumi langsung melemparkan tatapan tajam pada pria yang ada di sebelahnya. Baru saja gadis itu memujinya dengan sebutan tampan, akan tetapi Samuel tiba-tiba kembali berulah.


"Jika kamu lapar, sebaiknya makan saja apa yang kamu beli tadi. Tidak usah berisik!" tukas gadis tersebut.


Samuel sedikit menggerutu, laku kemudian mulai memakan makanannya. Sementara Arumi, sibuk melihat Fahri menggunakan teropongnya.


Sesekali gadis itu tersenyum saat melihat Fahri dengan sangat ramah melayani pembeli saat itu


"Dia sepertinya sudah benar-benar gila," gumam Samuel melihat Arumi seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


.....


Malam mulai larut, Samuel telah ketiduran di dalam mobil dengan kepala yang tersandar di kaca mobil yang ada di sampingnya.


Sementara Arumi, gadis itu masih setia memperhatikan Fahri dari kejauhan. Benar apa yang pepatah katakan. Jatuh cinta memang membuat orang sedikit bertindak gila. Contohnya adalah Arumi. Ia tak bisa menampik bahwa saat pertemuan pertama mereka beberapa tahun lalu, gadis itu memiliki rasa. Namun, setelah pertemuan mereka yang pertama, Arumi tidak pernah lagi menemukan keberadaan Fahri.


Dan kini, ia menemukan pria yang mengisi relung hatinya. Tentu saja gadis itu merasa senang dan tak akan melepaskannya.


Waktu telah menunjukkan pukul 10 malam, Arumi memberanikan diri untuk keluar dari persembunyiannya, keluar dari mobilnya menunggu pria yang ada di seberang sana untuk diajak mengobrol ataupun meminta kontaknya. Bahkan bila perlu, Arumi akan langsung memintanya untuk menikahinya.


Cukup lama ia menunggu di luar, menikmati dinginnya udara malam itu yang sedikit membuatnya menggigil. Saat melihat pria yang ada di seberang sana, seakan dingin itu sudah tak terasa lagi.


Ia melihat Fahri bersiap untuk keluar dari toserba, karena jam kerjanya sudah habis. Disaat itu lah Arumi mempersiapkan dirinya, berdiri di seberang tempat penyeberangan jalan, membuat dirinya agar lebih terlihat dengan Fahri ataupun berpapasan dengannya.


Fahri bersiap untuk menyebrang, ia mengukir senyumnya saat melihat ke arah Arumi. Hal itu membuat Arumi sangat senang. Ia juga membalas senyum itu dengan sangat manis.


Fahri setengah berlari menghampiri ke arah Arumi. Arumi telah berharap banyak, ia bersyukur karena Tuhan mengabulkan permintaannya kali ini. Bahkan semua ini terjadi dengan cepat dan begitu saja.


Fahri semakin mendekat, membuat senyum Arumi semakin lebar. Namun, Fahri melewati dirinya. Senyum itu bukan untuk Arumi, melainkan seseorang yang ada di belakangnya.


"Suamiku, ..."


Bersambung ...