Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 56. Fitting Baju


Matahari menyapa pagi. Bulu mata lentik milik Arumi perlahan mengerjap saat sinar mentari pagi masuk melalui celah jendelanya.


Gadis itu membuka mata, menguap seraya meregangkan otot-ototnya. "Cepat sekali sudah pagi lagi," gumam Arumi. Ia pun beranjak dari tempat tidurnya, lalu kemudian keluar dari kamar masih dengan mengenakan piyama.


Beberapa pelayan tampak menyambut kedatangan Arumi. Akan tetapi gadis tersebut berjalan begitu saja. Matanya masih sedikit menyipit karena baru saja terbangun dari tidurnya.


Gadis itu berjalan menuju ke dapur. Melihat beberapa pelayan yang sedang membuat sarapan di dapur. Arumi pun menuangkan air minum ke dalam gelasnya, lalu kemudian menenggaknya hingga tandas.


"Anak mama baru bangun?"


Telinganya menangkap suara ibunya dari arah belakang. Arumi pun berbalik. Dan benar saja, Dewi sudah berada di sana dengan mengembangkan senyumnya.


Dewi terkejut melihat wajah anak semata wayangnya. Terlihat beberapa sisi wajahnya memar dan terdapat goresan luka yang mulai mengering.


"Ya ampun. Wajahmu menjadi seperti ini. Bagaimana ini bisa terjadi kepadamu, Nak. Siapa yang melakukannya?" tanya Dewi dengan raut wajah yang terlihat khawatir.


Dewi menyentuh sedikit wajah Arumi. Namun, gadis tersebut dengan cepat memalingkan wajahnya.


"Siapa yang melakukannya?" tanya Dewi mengulangi ucapannya tadi.


"Entahlah. Aku tidak mengetahuinya," timpal Arumi.


Dewi menarik pelan tangan Arumi. "Ayo sini! Biar mama obati lukamu," ujar wanita tersebut.


Arumi langsung melepaskan cengkraman tangan ibunya. "Tidak usah! Aku bisa mengobatinya sendiri," ujar gadis itu.


Dewi pun mengalah. Ia tidak ingin terlalu memaksa Arumi yang pada akhirnya gadis itu semakin tidak menyukainya.


Tak lama kemudian, Samuel datang. Dengan setelan santainya, ia berjalan menghampiri meja makan. "Apakah sarapan belum siap?" tanya pria tersebut.


"Ckckck, kamu selalu saja memikirkan makanan," cecar Arumi.


"Karena aku tidak diizinkan untuk memikirkan seseorang," celetuk Samuel dengan kalimat sindiran yang penuh makna.


Arumi tak lagi membalas ucapan Samuel. Biasanya ia tak ingin kalah dari Samuel. Namun, kali ini Arumi seakan kehabisan kata-kata. Makna kata yang diucapkan oleh Samuel dapat tertangkap jelas olehnya.


"Nak, bukankah pernikahanmu akan diadakan Minggu depan? Bagaimana jika wajahmu masih belum sembuh? Alangkah baiknya jika diundur untuk sementara waktu," tutur Dewi.


Arumi mengernyitkan keningnya. "Dari siapa ibu mengetahui pernikahanku akan digelar Minggu depan?" tanya Arumi dengan tatapan yang menyelidik.


"Aku yang memberitahukannya pada Tante," celetuk Samuel.


Pelayan meletakkan hidangan di atas meja makan. Samuel tampak bersemangat. Matanya berbinar saat melihat makanan lezat tersaji di hadapannya.


"Sepertinya enak sekali," ujar Samuel.


"Aroma masakannya sudah menjawab citarasa dari masakan ini,"lanjut pria tersebut.


"Ya sudah, kalau begitu kamu mandilah terlebih dahulu. Mama akan menunggumu untuk menikmati sarapan bersama," ujar Dewi dengan bijak.


"Duh, maafkan aku Tante. Aku hobi kuliner, jadi rasanya tidak tahan untuk segera mencicipi masakan ini," ujar Samuel yang sudah mewadahi piringnya dengan makanan yang ada di sana.


Arumi pergi dari tempat tersebut. Ia melangkahkan kakinya kembali menuju ke kamar.


....


Di lain tempat, Fahri tengah berjalan mencari sarapan di sekitaran sana. Ia melihat ada penjual bubur ayam, akan tetapi pria tersebut tidak menyukai makanan yang bertekstur lembek.


Ia membawa kakinya yang masih terasa nyeri itu untuk mencari makanan sesuai dengan seleranya. Selang lima menit ia berjalan, Fahri menemukan penjual nasi uduk di sekitaran sana. Fahri pun memilih untuk singgah di sana, membeli nasi uduk yang akan menjadi santapannya di pagi hari.


"Nasi uduknya bang satu," ujar pria tersebut memasang kepada penjual yang ada di sana.


Fahri duduk di salah satu kursi yang ada di tempat tersebut. Ia mengistirahatkan sejenak kakinya yang terasa kembali berdenyut.


Tak lama kemudian, terdengar suara notifikasi pesan dari WhatsApp nya. Ia pun langsung merogoh ponselnya di dalam saku. Melihat pesan yang dikirimkan oleh Arumi.


Apakah kamu ada waktu siang ini? Aku ingin mengajakmu untuk fitting baju pengantin.


Fahri tampak menghela napasnya saat membaca rentetan pesan yang dikirimkan oleh Arumi. Ia pun membalas pesan tersebut.


Setelah membalas pesan itu, Fahri kembali menyimpan ponselnya di dalam saku. Pesanan nasi uduknya pun sudah siap, Fahri langsung membayarnya dan kemudian kembali ke kontrakannya.


Di lain tempat, Arumi yang saat itu tengah mengeringkan rambutnya, menunggu balasan pesan dari Fahri. Mendengar notifikasi dari ponselnya, membuat Arumi segera mematikan hair dryer nya. Gadis itu pun membuka pesan balasan yang dikirimkan oleh Fahri.


Maaf aku tidak bisa.


Arumi mendengkus kesal. Balasan pesan dari Fahri membuatnya langsung kehilangan moodnya di lagi hari. Wanita tersebut kembali mengeringkan rambutnya, dengan menggerutu dan berbagai umpatan yang ia layangkan untuk Fahri, calon suaminya.


Setelah cukup lama merias dirinya, menutupi luka memar di wajahnya dengan memakai alas bedak, Arumi pun keluar dari kamarnya.


"Iya. Tapi dia tidak bisa datang," gerutu Arumi.


"Kenapa? Terus bagaimana dengan fitting bajunya?" tanya Samuel tampak kebingungan .


"Akan tetap dilaksanakan. Untuk ukurannya, Ku rasa tidak jauh berbeda dari ukuran tubuhmu," sahut Arumi seraya memperhatikan postur tubuh Samuel.


"Baiklah. Ayo kita berangkat," ajak Samuel. Keduanya pun berangkat untuk melakukan fitting baju.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, kini Arumi dan Samuel telah berada di salah satu butik ternama yang ada di kota tersebut.


Kedatangan di sambut oleh beberapa pegawai yang ada di sana. Ia pun saat ini berada di sebuah ruangan yang terdapat banyak pilihan gaun pengantin.


"Aku ingin gaun yang sangat mewah dan membuatku terlihat begitu cantik saat dipakai nanti," ucap Arumi.


Tak lama kemudian, datang pemilik butik yang menghampiri Arumi. Wanita itu mengulas senyumnya saat melihat ke arah Arumi.


"Kami memiliki gaun yang cocok untuk anda cari. Tunggu sebentar," ujar wanita itu dengan sangat ramah. Wanita tersebut merupakan desainer sekaligus pemilik butik itu.


Ia berjalan, mengambil salah satu gaun yang diletakkan di patung yang berada di dalam lemari kaca. Wanita itu pun memperlihatkan gaun tersebut pada Arumi.


"Bagaimana dengan yang ini? Apakah kamu menyukainya?" tanya wanita tersebut.


Arumi tampak melihat-lihat gaun tersebut. Ia pun mengangguk menyetujui gaun itu.


"Untuk tuxedo nya, bisa disandingkan dengan yang ini," ujar wanita itu lagi.


Ia berjalan menuju ke arah lemari kaca yang satunya lagi, dimana terapat patung yang memakai tuxedo tersebut sebagai pajangan karena terlihat sangat mewah dan elegan.


"Silakan untuk mencobanya terlebih dahulu," lanjut penjual tersebut.


Arumi memanggil Samuel. "Kamu coba dulu tucedonya. Ukuran Fahri tidak jauh beda denganmu," ujar Arumi.


Samuel mengangguk. Ia pun berjalan menuju ke ruang ganti. Dan Arumi juga berjalan menuju ke ruang ganti yang satunya lagi.


Samuel menatap pantulan dirinya di cermin setelah memakai tuxedo tersebut. Seketika ada rasa bahagia dalam dirinya. "Aku sudah seperti pengantin prianya saja," gumam Samuel saat melihat pantulan dirinya.


Hal yang sederhana seperti ini saja sudah membuatnya senang. Apalagi jika hal itu benar-benar menjadi kenyataan.


Samuel membuka tirai tersebut. Ia melihat ruang ganti yang dipakai Arumi masih tertutup rapat. Pria itu terus memandang ke satu arah, menunggu Arumi yang mengenakan gaun mewah itu.


Tak lama kemudian, tirai pun mulai terbuka. Memperlihatkan seorang gadis cantik dengan gaun indahnya. Seketika mata Samuel tak lepas dari Arumi . Gadis itu berjuta-juta kali cantiknya di mata Samuel.


"Wah kalian sangat cocok sekali. Yang pria tampak gagah dan tampan sementara yang wanita sangat cantik. Bolehkah aku mengambil foto kalian berdua untuk dipasang di salah satu laman sosial mediaku?" tanya wanita itu.


"Maaf, kami bukan sepasang pengantin yang hendak menikah. Dia adalah keluargaku, karena calon suamiku berhalangan untuk datang, jadi dia yang menggantikan untuk mencocokan baju. Mereka memiliki ukuran yang sama," jelas Arumi. Wanita pemilik butik tersebut mengangguk paham.


Sementara Samuel, pria tersebut seakan ditampar oleh kenyataan. Baru saja ia membayangkan bahwa dirinya dan gadis itu yang akan menikah, saat mendengar ucapan Arumi tadi, membuat khayalannya menjadi buyar seketika.


....


Di lain tempat, Fahri sedang menuju ke sebuah toko perhiasan. Salah seorang yang ada di sana langsung menghampiri Fahri.


"Apakah pesananku kemarin sudah siap?" tanya Fahri.


"Iya. Tunggu sebentar," ujar pria tersebut.


Fahri menunggu pria yang bekerja di toko perhiasan itu mengambil barang yang di pesannya. Tak lama kemudian, pria itu pun datang sembari membawa kotak kecil berwarna merah.


"Ini. Kami mengukir namanya di dalamnya sesuai dengan permintaanmu," ujar pria itu.


"Harganya memang tidak seberapa, tapi ini benar-benar sangat mewah," gumam Fahri.


"Pak Burhan yang memintanya padaku. Dia bilang salah satu kenalannya ingin menikah, dan memintaku untuk memilihkan cincin ini," jelas pria tersebut.


"Kalian tampaknya berteman baik," lanjut pria itu.


"Dia baru saja mengenalku karena aku membatalkan kembali beberapa pesanan yang datang ke rumah," tutur Fahri.


"Kalau begitu, terima kasih. Aku pulang dulu." Fahri menepuk pelan bahu pria tersebut.


Pria itu mengangguk. Ia melihat Fahri yang masih sedikit pincang saat berjalan. "Apakah kakimu belum juga sembuh?" tanya pria itu.


"Sudah agak mendingan. Untung saja benturannya tidak terlalu keras," timpal Fahri seraya mengembangkan senyum.


Bersambung ....