Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 138. Tak Bisa Menolak


Fahri terlihat rapi dengan setelan yang dipilihkan oleh sang istri tadi. Pria itu berjalan menuju koleksi jam tangan mewahnya, lalu kemudian mengambil salah satu yang ada di dalam etalase kaca itu, melingkarkannya di pergelangan tangan kirinya.


Fahri kembali menatap dirinya di pantulan cermin, sembari membenahi sedikit dasinya. Setelah penampilannya dirasa cukup, pria itu pun langsung keluar dari kamarnya. Tak lupa dengan tas kantor yang sudah di letakkan di atas kursi.


Fahri meniti tangga, lalu kemudian menuju ke dapur, karena sang istri telah menunggunya di meja makan. Ia mengedarkan pandangannya, melihat sang istri yang saat itu tengah menata sarapannya di atas meja makan.


Arumi masih mengenakan apron yang tadi dikenakannya. Wanita itu tampak tersenyum setelah menambahkan potongan tomat dan timun, serta kucuran saus dan mayonaise di atas makanan tersebut.


Tak lama kemudian, Arumi menoleh ke belakang. Ia melihat Fahri yang sudah menatapnya sedari tadi.


"Eh, Mas Fahri," ujar Arumi yang sedikit tersentak kaget.


"Ayo Mas, silakan duduk!" Arumi pun menarikkan kursi tersebut untuk suami tampannya itu.


Fahri menggelengkan kepalanya. Pria itu pun langsung menuntun Arumi untuk duduk di atas kursi yang baru saja wanita itu siapkan untuknya tadi.


"Lebih baik aku yang memperlakukanmu seperti ini. Aku tidak mau jika kamu terlihat seperti seorang pelayan yang melayaniku sebagai majikan. Kamu itu istriku, dan aku lah yang seharusnya menjadikanmu seorang ratu," papar Fahri. Pria tersebut menarik kursi yang ada di seberang, lalu kemudian menjatuhkan bokongnya di kursi yang berhadapan langsung dengan istri cantiknya itu.


Arumi merasa benar-benar tersentuh akan ucapan yang dilontarkan oleh Fahri tadi. Gadis itu mengulum senyumnya, lalu kemudian menyodorkan sarapan yang ia buat tepat di depan suaminya itu.


"Sayang, cicipilah! Ini masakan rasa cinta yang aku buat untukmu. Aku membuat masakan ini dengan rasa cinta yang paling maksimal," ujar Arumi sembari berbicara dengan menggunakan gestur tubuhnya.


Fahri terkekeh. Ia pun langsung meraih alat makan yang ada di depannya. Lalu kemudian mencoba untuk mencicipi omelette buatan sang istri dengan rasa cinta yang maksimal.


Fahri memotong omelette itu, lalu kemudian memasukkan potongan omelette tersebut ke dalam mulutnya.


Wajah Arumi menatap Fahri dengan lekat. Berharap masakannya itu akan cocok di lidah suaminya.


Fahri yang baru saja merasakan omelette buatan sang istri pun langsung membelalakan matanya saat makanan itu mendarat sempurna di lidah Fahri.


"Kenapa Sayang? Apakah rasanya begitu enak?" tanya Arumi dengan wajah yang penuh harap.


Fahri menganggukkan kepalanya. Ia pun langsung meraih gelas air minum yang tak jauh dari jangkauannya, menenggak air yang di dalamnya hingga tandas.


"Berapa sendok ia menambahkan garam pada omelette ini," batin Fahri. Meskipun rasanya tak enak, akan tetapi Fahri tetap menghargai jerih payah istrinya yang sudah bersedia membuatkan sarapan untuknya.


"Benarkah? Padahal aku baru pertama kali belajar. Ternyata hasilnya senikmat itu?" tanya Arumi lagi memastikan.


Fahri hanya bisa menganggukkan kepalanya, sementara lidahnya terasa lebih pendek karena memakan makanan yang terasa sangat asin itu.


Arumi tersenyum bangga. Ia seakan merasa bahwa dirinya cukup hebat melakukan sesuatu dengan cepat hanya dengan sekali melihat saja.


"Mas, coba aku cicip," ujar Arumi yang langsung membuka mulutnya dengan lebar.


Fahri pun langsung menggelengkan kepalanya. Ia tidak ingin Arumi merasa kecewa karena hasil kerja kerasnya ternyata nihil.


"Ada apa?" tanya Arumi.


"Ini nikmat sekali, dam aku ingin menghabisinya. Jika kamu memintanya padaku, aku takut tidak konsentrasi dalam pekerjaanku nanti jika aku merasa lapar," papar Fahri. Ia mencoba mencari cara agar menghentikan istrinya itu.


"Tuan Fahri apakah tidak merasa bahwa omelette nya asin?" tanya pelayan 1.


"Entahlah, tapi melihat dia memasukkan satu suap makanannya, dan tak lama kemudian di dorong dengan air minum, seperti Tuan sedang menahan rasa asinnya," ucap pelayan 2.


"Iya, sepertinya begitu. Lagi pula nyonya kelupaan terus kalau masakannya sudah di kasih garam. Aku beberapa kali menegur Nyonya, tapi Nyonya tetap kekeuh dengan pendiriannya," balas pelayan 1.


"Apakah kamu melihatnya Nyonya menambahkan berapa kali garamnya?" tanya pelayan 2.


"Kalau tidak salah ... tiga kali," ujar pelayan 1.


"Seujung sendok?" tanya pelayan 2.


"Tidak! satu sendok penuh," timpal pelayan 1.


Kedua pelayan tersebut menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka pun langsung bubar karena harus melanjutkan pekerjaan yang belum terselesaikan.


....


Di lain tempat, Elena baru saja bangun dari tidurnya. Gadis itu perlahan membuka matanya, karena sinar mentari yang begitu menyilaukan, menembus melalui jendela kaca.


Elena perlahan bangun dari tempat tidurnya. Langkahnya yang gontai pun membawanya menuju ke kamar mandi. Gadis itu mencuci wajahnya, menatap bayangan dirinya di cermin.


Matanya sedikit sembab karena menangis saat di taman. Elena pun berencana untuk tidak pergi ke cafe dulu hari ini sampai kondisi matanya benar-benar pulih.


Elena keluar dari kamar mandi itu. Dirinya cukup terkejut saat melihat keberadaan ibunya yang ada di kamarnya itu.


"Ma, kenapa ...."


Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya juga ikut masuk ke dalam kamar putrinya. Pria tersebut melemparkan tatapan marah pada anak semata wayangnya itu.


"Bukankah semalam kami menyuruhmu untuk segera pulang? Apakah kamu ingin mempermalukan kami di depan calon suami dan calon mertuamu?!" bentak Pria tersebut.


Elena tak menjawab ucapan ayahnya. Ia hanya tertunduk sembari menahan laju air matanya.


"Jawab papa! Dari mana saja kamu semalam?" tanya ayah Elena. Sementara ibunya, wanita paruh baya itu hanya diam sembari memperhatikan kedua orang yang ada di hadapannya.


"Pa, ... bisakah papa memberikanku waktu lagi? Aku belum ingin menikah dan pria itu ... aku juga tidak mencintainya," ujar Elena dengan bibir yang bergetar.


"Nak, kamu mau sampai kapan seperti ini? Mama dan papa hanya ingin melakukan yang terbaik untuk kamu. Kamu sudah cukup berumur, siapa yang mau dengan gadis yang sudah terlalu tua nantinya," ucap ibu dari Elena. (Bagian dialog yang ini rada menyindir othor ya pemirsa🤣).


"Tidak! Kali ini pernikahan akan dilangsungkan. Aku sudah mengundang beberapa rekan bisnisku untuk menghadiri pernikahan Elena. Dia tetap menikah dan tak bisa menolaknya, titik!" tegas ayah Elena. Pria itu pun langsung keluar dari kamar putrinya dengan derap langkah yang begitu cepat.


Ibu Elena hanya menepuk pelan bahu anaknya sejenak, lalu kemudian wanita itu pun juga meninggalkan Elena sendirian.


Elena luruh ke lantai. Kakinya terasa tak bisa menopang berat badan tubuhnya lagi. "Bagaimana aku harus menolaknya, ayah ku bahkan sudah menetapkan tanggal pernikahan kami," batin Elena sembari menangis sesegukan.


Bersambung ....