
Doni melirik jam tangannya, entah mengapa atasannya belum datang juga padahal hari sudah siang. Biasanya, Fahri datang tepat waktu, tak pernah kesiangan.
Tak lama kemudian, ia pun melihat atasannya itu melangkah menuju ke ruangannya. Doni segera beranjak dari tempat duduk, untuk menyapa Fahri.
"Pagi, Pak."
"Pagi," timpal Fahri.
"Terjebak macet ya, Pak?"
"Tidak. Ada misi saat hendak pergi bekerja tadi," timpal pria tersebut yang langsung masuk ke dalam ruangannya.
Doni hanya menunduk menatap punggung atasannya itu yang menghilang dari balik pintu. "Misi? Kira-kira apa misinya?" gumam Doni bertanya-tanya.
Fahri menduduki kursi kebesarannya. Ia menggantung jas yang dipakainya, menyingkapkan lengan bajunya sedikit, lalu kemudian menjatuhkan bokongnya untuk memulai pekerjaannya.
Sesekali Fahri mengembangkan senyumnya, saat mengingat kejadian tadi pagi yang cukup berkesan. Bermain dengan terburu-buru hanya untuk berharap segera mendapatkan hasil dari buah cinta mereka nanti.
Fahri kembali fokus pada pekerjaannya, mengecek beberapa email yang masuk, lalu kemudian mulai membuka tumpukan dokumen yang ada di meja kerjanya.
....
Di rumah sakit, Dewi hendak di bawa oleh polisi menuju ke sel tahanan. Namun, Dewi memberontak. Wanita itu ketakutan sembari berteriak histeris.
"Tolong jangan bawa saya ke sana, Pak. Saya takut, nanti Arumi pasti akan membunuh saya," pinta Dewi sembari berlutut dan menggelengkan kepalanya.
"Kami tidak menerima alasan apapun! Anda harus ditahan karena kejahatan yang telah Anda lakukan!" tegas salah satu polisi yang hendak membawa Dewi.
"Tolong saya, Pak. Jangan bawa saya ke sana." Dewi masih merengek agar dirinya tidak di bawa ke dalam jeruji besi.
"Jika anda tetap seperti ini, jangan salahkan kami jika bertindak kasar!"
Dewi masih tersedu menangis, akan tetapi ia pun menuruti ucapan polisi tadi untuk di bawa ke sel tahanan.
Dewi yang tak bisa melihat hanya mengikuti salah satu polisi yang saat itu menuntun jalannya. Namun, di dalam hatinya, Dewi sangat ketakutan. Akan ada bahaya nantinya saat di sel tahanan sementara dia tak bisa melihat ke sekelilingnya sama sekali.
Dewi di bawa menggunakan mobil polisi, wanita itu pun hanya bisa mendengar tanpa bisa melihat apapun yang ada di depannya.
Meskipun begitu, Dewi berkeinginan keras untuk membalaskan dendamnya pada Arumi setelah ia keluar dari penjara.
"Lihat saja nanti, aku akan datang dengan cara yang lebih menyakitkan lagi," batin Dewi.
Cukup lama menempuh perjalanan, akhirnya Dewi pun dibawa menuju ke sel tahanannya. Sebelumnya salah satu polisi wanita memberikan seragam tahanan pada Dewi, meminta agar wanita tersebut berganti pakaian terlebih dahulu.
Setelahnya, ia pun di tuntun berjalan menuju ke sel tahanan, tempat dimana dirinya akan berbaur dengan sesama penjahat wanita di dalam jeruji besi.
Ada lima wanita melihat kedatangan Dewi dengan tatapan tak sukanya. Dewi bingung, ia harus ke arah mana karena memang dirinya tak bisa melihat yang ada di sekelilingnya.
Setelah polisi wanita itu pergi, Dewi pun mencoba melangkahkan kakinya. Namun, wanita itu tersandung karena tanpa sengaja menendang salah satu kaki dari sesama tahanan yang ada di dalam sana.
"Dasar bodoh! Punya mata dipake!!" tukas wanita bertubuh sedikit gempal, wanita tersebut memegangi kakinya karena tertendang oleh Dewi tadi.
"Ma-maafkan saya. Saya tidak bisa melihat," ujar Dewi.
"Oh ternyata buta. Lihatlah! Wajahnya seperti monster. Menjijikkan sekali!" cecar wanita tersebut.
Terdengar suara yang lain menertawakannya. Dewi menggeram kesal sembari mengepalkan tangannya.
"Apakah kalian tidak tahu siapa aku? Aku bisa saja membeli mulut kalian yang seperti sampah itu!" balas Dewi yang sudah tersulut emosi.
Tahanan yang lainnya pun langsung menimpali ucapan yang Dewi lontarkan tadi. "Jika memang kamu memiliki banyak uang, kenapa berada di sini. Segera sewa pengacara supaya cepat keluar. Atau beli mata baru supaya tidak buta."
Dewi mencoba untuk bangkit. Wanita itu pun menajamkan telinganya, berusaha mendengar suara seseorang yang mencercanya tadi.
Dewi langsung memukul-mukul ke sembarang arah. Hingga pukulan bertubi-tubi itu mengenai tubuh wanita berbadan gempal tersebut.
Wanita itu langsung menjambak rambut Dewi, hingga Dewi meringis kesakitan. "Lepaskan! Lepaskan aku!!".
"Kamu pikir, aku takut denganmu hah?!"
Yang lainnya langsung berdiri setelah mendapatkan kode dari wanita bertubuh gempal tersebut. Wanita itu melepaskan tangannya dari rambut Dewi. Hingga Dewi pun jatuh tersungkur.
Tak lama kemudian, beberapa tendangan Dewi dapatkan dari tahanan yang lainnya. Mengikuti perintah dari wanita bertubuh gempal tersebut.
Bugh ... Bugh ... Bugh ...
Dewi menitikkan air matanya mendapatkan serangan bertubi-tubi dari orang-orang yang ada di dalam sel tersebut.
Setelah selesai menghajar Dewi, wanita bertubuh gempal itu berjongkok, lalu kemudian menarik rambut Dewi lagi.
"Kita di sini adalah sampah masyarakat, yang tentunya sudah terpandang hina oleh orang-orang di luar sana. Jadi, tidak usah membanggakan diri karena memiliki uang yang banyak, kami tidak peduli akan hal itu!" cecarnya. Wanita itu melepaskan rambut Dewi dengan sangat kasar.
Dewi hanya meringkuk, merasakan tubuhnya sakit semua karena mendapatkan serangan orang banyak. Wanita itu beringsut bangkit dari posisinya, lalu kemudian duduk sembari memeluk lututnya.
Wajahnya lebam, sudut bibirnya mengeluarkan darah. Dewi menitikkan air mata, menangis tanpa bersuara. Sementara orang-orang yang ada di dalam sana tak peduli akan wanita itu.
Mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Beberapa orang memijat belakang wanita yang mereka yakini adalah ketua dari sel tahanan di sana. Dan beberapa orang lainnya ada yang sibuk membaca, ada juga yang sibuk merajut.
.....
Sore ini, Indra tengah duduk di sebuah Cafe, yang tak lain adalah Cafe milik Elena. Pria tersebut sengaja datang kemari karena Arumi yang menyuruhnya untuk bertemu di tempat ini.
Tak lama kemudian, Elena pun datang menemani Indra yang masih menunggu sendirian.
"Apakah Arumi masih lama datangnya?" tanya Elena sembari menarik kursi yang ada di hadapannya.
"Sepertinya tak akan lama lagi. Mungkin dia sedang di jalan," jawab Indra.
"Oh iya, selamat atas berita gembiranya. Aku melihat di obrolan grup," lanjut Indra.
"Haha itu, memang dasar suamiku saja yang sedikit berlebihan. Aku tiba-tiba menjadi sedikit tidak enak seolah terlalu mengumbar," ujar Elena seraya terkekeh.
"Tidak apa-apa, itu berarti tandanya suamimu sangat bahagia mendapat kabar baik itu," ucap Indra.
Selang beberapa saat kemudian, Elena melihat Arumi yang baru saja melewati pintu masuk. " Itu dia Arumi," ucap Elena.
Wanita itu menyunggingkan senyumnya sembari berjalan menghampiri kedua orang yang telah menunggunya.
"Maaf sudah membuatmu menunggu lama," ujar Arumi yang langsung menjatuhkan bokongnya ke kursi.
"Kalian begitu kalian berdua berbincang lah. Aku akan kembali mengecek ke dapur," ucap Elena meninggalkan kedua orang tersebut, memberi ruang agar mereka leluasa mengobrol.
Indra menyesap minuman yang ada di hadapannya. "Kamu ingin berbicara apa?" tanya Indra langsung tak ingin berbasa-basi.
"Kembalilah ke kantor," ujar Arumi.
Indra terkekeh,"Apakah kamu tidak takut jika aku melakukan kesalahan yang sama. Bisa saja aku kembali menggelapkan lagi dana perusahaannya," celetuk Indra.
Arumi menggelengkan kepalanya, sembari mengulas senyum. "Bantu lah Fahri mengurus perusahaan. Aku yakin kamu tidak akan melakukan hal yang sama. Aku percaya padamu," papar wanita tersebut.
"Baiklah, akan ku jaga kepercayaan yang kamu berikan kepadaku," balas Indra yang juga menyunggingkan senyumnya.
Bersambung ...