Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 82. Insiden Di Dapur


Samuel memilih untuk menyendiri di rumahnya. Pria itu mengurung dirinya, menghisap sebatang rokok yang menemani kesendiriannya siang itu. Pandangannya menatap lurus ke depan, sembari menghembuskan kepulan asap yang baru saja keluar dari rongga hidungnya.


Ia kembali mengingat, dimana saat beberapa jam yang lalu. Ketika pembicaraannya dengan Fahri di ruang tengah.


"Apakah kamu benar-benar tidak marah ataupun cemburu atas kejadian tadi?" tanya Samuel.


"Tidak. Aku sangat cemburu!" tukas Fahri menatap Samuel dengan tatapan tajamnya.


"Lantas, sudahkah kamu melupakan masa lalumu? Bisakah kamu mencintai Arumi sepenuh hati?" tanya Samuel lagi dengan wajah yang serius.


"Aku belum benar-benar sembuh dari masa laluku. Tapi aku mencoba untuk melangkah ke depan. Mustahil jika aku benar-benar melupakannya karena kepingan dari masa lalu itu masih terekam jelas di kepalaku."


"Namun, aku menemukan diriku yang lain saat bersama Arumi. Ketika aku mencoba untuk menyerah, Arumi menarikku. Dia memberikan semangat atas hidupku. Aku menjadi lebih berharga dari sebelumnya, dan Arumi lah yang membuatku seperti itu," papar Fahri panjang lebar.


"Jadi ... sekarang kamu sudah memiliki rasa untuk Arumi?" tanya Samuel penuh selidik.


"Rasa itu mulai tumbuh saat dimana kami melakukan segala sesuatu bersama. Di saat aku terpuruk, tangannya terulur untuk membantuku. Dan ku rasa, perlahan aku mulai terlepas dari masa lalu ku dan sekarang fokus ku hanya teralihkan untuk dirinya saja," jelas Fahri.


Samuel mengangguk paham, akan tetapi tak dapat dipungkiri saat ini hatinya terasa sedikit sakit. Fahri sudah mulai membuka hatinya untuk Arumi. Namun, entah kenapa sesak itu masih memenuhi rongga dadanya. Apakah karena Samuel yang saat ini belum bisa benar-benar menghapus nama Arumi dari hatinya?


Samuel kembali menghisap benda bernikotin itu. Menghisap dan mengeluarkan kepulan asap tersebut dari dalam mulutnya.


"Bisakah aku benar-benar melupakan Arumi seperti Fahri yang berusaha melupakan masa lalunya? Haruskah aku pergi darinya dan membiarkan Fahri untuk menjaganya?" gumam Samuel bermonolog.


Jika dalam suatu permainan, bukankah ada yang kalah dan ada yang menang? Apakah Samuel juga harus mengalah, menjauh dari Arumi demi menjaga perasaan Fahri yang notabene-nya adalah suami dari Arumi.


.....


Arumi dan Fahri baru saja tiba di rumah. Keduanya pun mulai memasuki hunian megah itu. "Apakah kamu ingin makan sesuatu?" tanya Fahri sembari menuntun Arumi masuk ke dalam rumah.


"Aku tidak terlalu menginginkan apapun. Tapi ... aku hanya ingin makan saja," ujar Arumi sembari terkekeh.


Fahri ikut tertawa saat mendengar ucapan Arumi. "Baiklah, kalau begitu kamu tunggu di sini, aku akan menyiapkan makanan untukmu," ucap Fahri mendudukkan Arumi di sofa yang ada di ruang tengah.


"Kamu mau kemana?" tanya Arumi mengernyitkan keningnya.


"Memasakkan makanan untukmu," timpal Fahri.


"Tidak usah! Suruh bibi saja yang memasakkannya. Kamu cukup menunggu saja," ujar Arumi.


Fahri menggelengkan kepalanya sembari menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan. "Bukankah sudah aku katakan. Aku akan merawatmu. Dan sekarang, aku akan menyiapkan makanan untukmu. Apakah kamu meragukan kemampuan memasakku?" tanya Fahri.


"Bukan seperti itu ...," cicit Arumi.


Fahri pun berbalik, meninggalkan Arumi sendirian di ruang tengah.


"Kalau begitu, izinkan aku untuk membantumu," ujar Arumi yang langsung beranjak dari tempat duduknya.


Fahri kembali berbalik menatap Arumi seraya menggoyangkan jari telunjuknya. "Tetaplah di situ!" tegas Fahri.


"Kalau begitu, aku akan menunggumu di dapur sembari melihatmu memasak," ucap Arumi lagi.


"Tidak!"


"Aku merasa bosan jika hanya menunggu di sini dan tak melakukan apapun," protes Arumi.


Fahri tampak berpikir sejenak, lalu kemudian ia pun membiarkan Arumi untuk ikut dengannya ke dapur.


"Ya sudah. Kalau begitu, kamu cukup duduk saja tanpa melakukan apapun di dapur nanti," ujar Fahri.


Di dapur, Fahri langsung membuka kulkas. Pria itu menyiapkan bahan-bahan yang akan dieksekusi olehnya di dapur. Sementara Arumi, gadis itu berjalan menghampiri Fahri dengan membawa apron berwarna hitam yang ada di tangannya.


"Pakai dulu apron ini supaya pakaianmu tidak kotor saat memasak nanti," ujar Arumi.


Fahri mengangguk, ia mencoba untuk meminta apron dari tangan Arumi. Akan tetapi tiba-tiba gadis itu menggelengkan kepalanya.


"Biar aku saja yang memasangnya," ucap Arumi.


"Bisakah kamu mengurangi tinggi badanmu sedikit?" tanya Arumi.


Fahri memiliki tinggi badan sekitar 187cm. Sementara tinggi Arumi sekitar 169cm. Melihat Arumi yang tak dapat menjangkaunya, membuat Fahri sedikit menekuk bagian lututnya, mensejajarkan dirinya dengan Arumi.


Arumi pun mulai mengalungkan tali apron di leher Fahri dengan leluasa. Dan Fahri, sibuk menatap wajah Arumi dengan seksama.


"Sekarang berdirilah seperti semula!" titah Arumi. Fahri pun menuruti ucapan sang istri.


"Berbalik!"


Fahri mulai membalikkan tubuhnya. Arumi mengikat tali apron tersebut di punggung Fahri. " Sudah!" gumam Arumi seraya mengembangkan senyumnya.


"Kalau begitu, kembalilah ke tempatmu!" titah Fahri.


Arumi menggelengkan kepalanya. "Aku ingin melihat dari jarak dekat saja," ujar Arumi.


"Seperti ini?"tanya Fahri yang tiba-tiba memajukan wajahnya tepat di wajah Arumi. Gadis itu cukup terkejut dengan perlakuan Fahri yang tiba-tiba.


"Bu-bukan seperti ini. Tapi aku ingin melihatmu memasak. Barangkali aku bisa belajar darimu," lirih Arumi.


Fahri terkekeh. Ia pun kembali menarik tubuhnya untuk menjauh dari sang istri. Fahri mulai bersiap untuk memasak. Pria itu tampak memotong wortel, menyiapkan berbagai macam bumbu yang akan menjadi racikan dari masakannya itu.


Arumi berjalan menuju ke meja makan. Ia mengambil tas jinjing yang di letakkan di atas meja itu. Lalu mengeluarkan sapu tangan dari dalam tas tersebut.


Arumi kembali menghampiri Fahri. Gadis itu sesekali mengelap keringat Fahri yang ada di kening. "Terima kasih," ucap Fahri. Dan Arumi hanya menimpalinya dengan sebuah anggukan pelan.


Fahri tengah menggoreng ikan. Pria tersebut tampak mondar-mandir karena sibuk menyiapkan yang lainnya. Arumi yang hendak membantu pun tak di perbolehkan oleh Fahri.


Gadis itu kembali melihat wajah Fahri yang sedikit berkeringat. Ia berencana untuk menyeka keringat yang ada di pelipis suaminya. Saat Arumi baru saja berjinjit untuk menyeka keringat itu, di waktu yang bersamaan, Fahri hendak berbalik dan tanpa sengaja ia pun menabrak tubuh mungil Arumi, membuat gadis itu hampir terjatuh.


Dengan cepat, Fahri meraih pinggang Arumi. Lalu kemudian membawa gadis itu ke dalam pelukannya.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Fahri sembari menatap Arumi dengan penuh kekhawatiran.


"A-aku tidak apa-apa," sahut Arumi yang sedikit gugup karena posisi mereka bisa dikatakan sangat intim.


Fahri menatap manik mata kecoklatan milik gadis itu. Seolah ia tersihir dengan mata indah Arumi. Lalu kemudian pandangannya beralih pada hidung tinggi istrinya itu, dan kembali ke bawah melihat bibir ranum nan tipis berwarna merah jambu.


Fahri semakin mendekatkan wajahnya. Napas hangatnya begitu terasa menerpa wajah Arumi, mata Arumi pun terpejam. Tanpa aba-aba, bibir Fahri langsung mengecup bibir Arumi. Kali ini bukan hanya sentuhan biasa, melainkan disertai dengan pagutan lembut dari suaminya.


Ini hal baru bagi Arumi. Ia tak tahu harus melakukan apa selain menerima serangan dari suaminya itu. Satu tangan Fahri membingkai rahang Arumi, mengusapnya dengan lembut. Dan tangan Fahri yang satunya lagi, menarik pinggul Arumi agar semakin dekat dengan tubuhnya.


Namun, tiba-tiba Arumi langsung membelalakan matanya saat hidungnya menangkap aroma yang sedikit menyengat. Gadis itu pun melepaskan ciuman Fahri secara paksa.


"Ikan gorengnya gosong!!" seru Arumi dengan mata yang membola.


Bersambung ....