
Arumi dan Fahri tiba di kantor. Seperti biasa, kedua orang itu selalu saja menjadi pusat perhatian. Banyak yang menilai pasangan suami istri tersebut tampak sangat serasi.
Fahri telah membuat sebuah gebrakan yang besar. Dimana pria itu terlihat lebih berkharisma dari pada sebelumnya. Bahkan, banyak yang mengidam-idamkan Fahri setelah pria tersebut menikah dengan Arumi. Memang benar, uang mengubah segalanya.
Kini Fahri tak menyia-nyiakan hidupnya. Ia bersyukur mendapatkan Arumi dan ia berusaha keras untuk memantaskan dirinya agar Arumi tak merasa malu memilikinya.
Pada saat itu, tengah diadakannya sebuah rapat. Biasanya rapat tersebut, Arumi yang memimpin. Namun, kali ini ia lebih memilih suaminya untuk memimpin jalan rapat tersebut. Sementara Arumi, ia mengawasi suaminya dengan menduduki salah satu kursi peserta rapat.
Fahri saat itu tengah melakukan presentasi, dengan tujuan agar perusahaan lebih maju dengan membuat beberapa terobosan baru.
Semua orang yang ada di sana pun mengangguk setuju saat Fahri menjelaskan tujuannya. Setelah melakukan presentasi, Fahri mendapatkan riuh tepuk tangan dari para pemegang saham.
Arumi menatap sang suami dengan tersenyum bangga. Fahri mampu dengan cepat menguasai dalam bidang bisnis.
Rapat pun dibubarkan. Fahri langsung menggandeng tangan Arumi dan berjalan bersama keluar ruangan tersebut. Pria itu tak malu-malu menunjukkan perhatiannya pada Arumi di depan umum. Hal tersebut, membuat Arumi semakin bahagia. Dengan begitu, perlahan ia bisa benar-benar menguasai hati Fahri seutuhnya.
Arumi dan Fahri saling melempar senyum dengan kedua tangan yang saling bertautan. Tanpa melihat ada pria lajang yang saat ini tengah mengikuti mereka hanya membuang muka melihat kemesraan keduanya.
"Ehem ...." Samuel mencoba berdeham dengan maksud agar kedua orang tersebut melihat dirinya.
Namun, dugaan pria itu salah. Keduanya langsung masuk ke dalam lift begitu saja tanpa menoleh sedikitpun.
"Apakah ini yang dinamakan dunia milik berdua?" gerutu Samuel pelan. Pria itu pun ikut masuk ke dalam lift tersebut.
Pintu lift tertutup. Ruangan sempit itu akan tiba di lantai lima. Setelah tiba, pintu lift kembali terbuka. Ketiga orang tersebut langsung melangkah keluar dari lift itu.
"Baby ...," panggil Samuel pada Arumi.
Kedua orang tersebut menoleh. Arumi menyahuti Samuel seperti biasanya. Sementara Fahri, pria itu langsung memperlihatkan wajah masamnya.
Sadar akan ekspresi yang.diberikan oleh Fahri, membuat Samuel pun dengan cepat memanggil nama panggilan Arumi.
"Eh ... maksudku Bu Arumi. Apakah nanti malam anda akan datang ke pesta pertunangan dari anak Pak Dewo, salah satu investor terbesar kita," ujar Samuel yang langsung meralat ucapannya saat melihat ekspresi dari Fahri.
"Ah iya. Aku lupa, pestanya nanti malam ya," ucap Arumi.
"Baiklah. Aku akan datang bersama Mas Fahri nanti malam," lanjut Arumi.
Mereka pun melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam ruangan pimpinan, sementara Samuel langkahnya terhenti tepat di depan meja kerjanya.
Di dalam ruangan, Arumi dan Fahri menempati kursi mereka masing-masing. Pria itu memandang Arumi dengan lekat.
"Apakah Samuel akan tetap memanggilmu seperti itu?" tanya Fahri.
"Ada apa?" Arumi balik bertanya.
"Tidak apa-apa. Mungkin banyak yang mengira bahwa panggilan itu akan sedikit mengganggu. Seperti kalian memiliki sebuah hubungan khusus," timpal pria itu.
Arumi mengulum senyumnya. "Apakah Mas Fahri cemburu?" tanya Arumi.
"Hahaha ... aku tidak cemburu, hanya saja itu akan sedikit mengganggu ku," sahut Fahri.
Seketika, serasa jutaan kupu-kupu berterbangan di perut Arumi dengan rasa yang begitu menggelitik. "Kamu cemburu, Mas. Aku tahu itu," batin Arumi.
"Nanti malam, kita akan datang ke pesta pertunangannya anak Pak Dewo. Mas Fahri akan datang bersamaku," ujar Arumi kembali memberitahukan hal tersebut pada Fahri.
Fahri pun menganggukkan kepalanya. Mendengar ucapan dari Arumi, ia sangat bertekad untuk menjadi yang terbaik dan tidak dipandang sebelah mata lagi.
....
Singkat cerita, malam pun tiba. Fahri sudah tampak gagah mengenakan setelan jas berwarna maroon serta dasi kupu-kupu yang bertengger di lehernya.
Pria itu sedang duduk di ruang tengah, menunggu sang istri yang masih sibuk bersolek sedari tadi, hingga kini belum juga selesai.
Fahri duduk di sofa, sesekali menyingkap lengan lengan jasnya, melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Sudah lewat setengah jam," gumam Fahri.
Pria itu pun memilih untuk mengeluarkan ponselnya. Lalu kemudian mengecek beberapa email yang masuk dari ponsel pintar tersebut.
Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan sepatu tengah menuruni anak tangga. Fahri pun menyimpan ponselnya ke dalam saku. Pria itu beranjak dari tempat duduknya, melemparkan pandangannya ke arah sumber suara.
Seketika matanya tak berhenti berkedip saat menatap wanita bak seorang dewi, tengah menuruni anak tangga, melangkah dengan sangat anggun.
Gadis cantik dengan mengenakan gaun berwarna merah, serta rambut yang di tata sedemikian rupa, bagian bawah sedikit di curly dan dibiarkan tergerai begitu saja. Polesan make up yang tak terlalu mencolok, akan tetapi mampu membuat dunia Fahri menjadi berputar-putar seketika.
Arumi tiba di hadapan Fahri. Keningnya mengernyit, menatap sang suami yang memandanginya begitu lekat. Arumi mengulas senyum, lalu kemudian melambaikan tangannya tepat di depan wajah Fahri.
"Apakah kita akan berangkat sekarang?" tanya gadis itu sembari menahan tawanya.
Fahri langsung tersadar dari lamunannya. Pria tersebut menjadi salah tingkah, kedapatan oleh Arumi menatapnya tanpa berkedip.
"A-apa yang kamu katakan tadi?" tanya Fahri yang langsung tergagap. Pria itu mengusap tengkuknya, mencoba menyembunyikan rasa gugupnya.
Arumi terkekeh melihat sang suami menjadi salah tingkah seperti itu. "Apakah kita akan berangkat sekarang?" ujar Arumi mengulangi ucapannya tadi.
"Ah i-iya. Kita berangkat sekarang,"ujar Fahri memilih untuk melangkahkan kakinya terlebih dahulu.
Arumi melihat Fahri yang salah tingkah, membuat gadis tersebut diam-diam menertawakan sang suami. "Dia sangat menggemaskan sekali," gumam Arumi pelan. Ia pun menyusul Fahri yang telah berjalan mendahuluinya.
Saat berada di luar, Arumi melihat suaminya telah berdiri sembari membukakan pintu untuk Arumi. Gadis itu pun tersenyum, lalu kemudian melangkahkan kakinya, mendekati sang suami yang telah berbaik hati membukakan pintu untuknya.
"Terima kasih," ujar Arumi masuk ke dalam mobil tersebut. Sementara Fahri, pria itu memalingkan wajahnya sejenak, lalu kemudian menekuk bibir bawahnya, mencoba untuk menyembunyikan senyumnya.
Setelah itu, Fahri langsung menempati kursi kemudi. Memasang sabuk pengamannya, lalu kemudian melajukan mobilnya menuju ke jalanan.
Arumi menopang dagunya, menatap Fahri dengan cukup lama.
"Ada apa?" tanya Fahri menyadari tatapan Arumi.
"Mas Fahri terlihat sangat tampan malam ini," timpal Arumi yang langsung to the point.
Fahri langsung tersenyum. "Kamu juga terlihat sangat cantik, Istriku."
Bersambung ....
Up lagi nanti malem kalo nggak ketiduran. Besok Senin, jangan lupa votenya ya bestie, nanti langsung setor bagian MP nya😌