
"Terimalah ini!! Kamu kira aku takut denganmu, hah?! Sepertinya kamu sudah terlalu meremehkanku!" cecar Dewi sembari memegang pisau di tangan kanannya. Wanita itu menatap tajam ke arah Sugeng yang sudah terkulai lemas.
Namun, dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Sugeng masih bisa menertawakan ucapan Dewi. Tak peduli dengan rasa nyilu yang begitu menyakitkan di bagian perutnya.
"Apakah kamu kira kejahatan yang kamu lakukan selama ini akan terkubur setelah menyerangku seperti ini?" tanya Sugeng sembari terkekeh. Keningnya berkerut memegangi perutnya yang begitu amat nyilu.
Dewi tertegun saat mendengar ucapan Sugeng. Wanita itu telah memusnahkan semua bukti yang ada. Namun, ucapan Sugeng seketika membuatnya menjadi berpikir kembali.
"Apa maksudmu?" tanya Dewi tampak berapi-api.
"Ternyata kamu terlalu bodoh dalam mengartikan ucapan ku. Wajar saja jika suamimu itu tidak mempercayakan perusahaan jatuh ke tanganmu," cecar Sugeng.
Dewi emosi karena merasa selalu disudutkan oleh Sugeng. Wanita itu pun mendekat ke arah pria tersebut, lalu kemudian menjambak rambut Sugeng dengan kuat.
"Sebentar lagi kamu tidak akan pernah bisa mengejekku lagi, Sugeng. Kamu akan merasakan sakitnya api yang akan membakar kulitmu sebelum kamu benar-benar mati!" tukas Dewi seraya tertawa kencang.
Sugeng hanya mendecih. Sedari awal memang sudah ia duga, bahwa Dewi akan berbuat seperti ini padanya. Beruntung Sugeng telah membeberkan semua kejahatan Dewi pada Samuel. Dan sekarang, Samuel lah yang menegang kartu as yang membongkar kebusukan Dewi.
Sugeng hanya tersenyum miring, menatap Dewi yang bak orang gila menumpahkan minyak tanah di sekitar gudang yang pengap itu.
Sebelumnya, Dewi meminta suruhan Indra untuk melakukannya. Namun, karena pria itu tak ingin menolong Dewi, hingga Dewi pun kembali melakukan pekerjaan kotor ini dengan tangannya sendiri.
Wanita itu memancing Sugeng untuk datang ke gudang tersebut. Lalu kemudian memasang jebakan dengan menyewa beberapa pria bertubuh tinggi besar guna untuk memukul Sugeng dan membuatnya babak belur.
Dan setelah Sugeng benar-benar lemah, Dewi menancapkan pisau ke perut Sugeng yang membuat Sugeng bermandikan darah. Akan tetapi anehnya, pria itu tak kunjung mati juga.
Kini Dewi berencana membakar Sugeng, membiarkan tubuh Sugeng dan kayu-kayu yang ada di gudang tersebut bersatu menjadi abu.
Setelah menyirami sekeliling tempat tersebut dengan minyak tanah, Dewi pun mengeluarkan pemantik dari dalam sakunya. Ia mengembangkan senyum iblisnya, menatap ke arah Sugeng yang tampaknya sudah pasrah untuk menerima takdirnya dibakar hidup-hidup oleh manusia yang biadab seperti Dewi.
"Selamat menikmati kesaktiannya. Ku harap kamu akan lekas menjadi abu dan bersatu dengan abu kayu yang ada di sini," ujar Dewi tersenyum smirk.
Wanita itu pun langsung melemparkan pemantiknya ke arah dimana Dewi menyiramkan minyak tanahnya tadi. Dan seketika ...
Bammm ...
Api pun mulai menyambar, mengikuti arah minyak tanah yang siramkan oleh Dewi tadi.
Saat api di rasa sudah semakin besar, Dewi pun melangkahkan kakinya meninggalkan tempat tersebut. Ia sedikit menepuk tangannya, lalu kemudian menaikkan alisnya sebelah karena merasa sudah menang dari Sugeng.
Sementara Sugeng, pria tersebut samar-samar melihat Dewi yang melenggang pergi dengan santainya. Sugeng tersenyum, lalu sesaat kemudian ia menitikkan air matanya.
"Semoga kelak, kamu akan mendapatkan pembalasan yang lebih pedih dari pada ini. Jika itu bukan sekarang, kamu akan mendapatkannya nanti," batin Sugeng.
Hingga kobaran api pun semakin besar. Dan mulai menjilat ke area tubuhnya. Sugeng merasakan pedih yang luar biasa saat merasakan api yang mulai menyambar ke tubuhnya. Karena kondisinya yang terikat, ditambah lagi dengan luka tusukan yang ada di perutnya, membuat Sugeng tak bisa lari kemana-mana.
Dewi yang sudah berada jauh dari gudang tersebut, kembali menoleh. Melihat gudang itu mengeluarkan asap hitam, tanda bahwa api di dalam bangunan tua itu benar-benar besar.
Dewi tersenyum penuh kemenangan. Kali ini, tak ada lagi teror dari Sugeng yang selalu memintanya uang. Tak ada lagi bukti yang membuat dirinya merasa panik berlebihan.
Namun, sesaat kemudian, Dewi kembali teringat dengan ucapan Sugeng sebelumnya.
"Apakah kamu kira kejahatan yang kamu lakukan selama ini akan terkubur setelah menyerangku seperti ini?"
Kalimat itu membuat Dewi sedikit berpikir bahwa Sugeng telah membocorkan rahasianya pada orang lain. Namun, Dewi mencoba menepis semua itu.
"Tidak mungkin ia akan melakukannya. Itu sama saja dia menyerahkan dirinya sendiri. Bagaimana pun juga, pria itu ikut terlibat dalam kecelakaan Mas Fian kemarin."
"Lagi pula, pria itu memang terlalu pintar berbohong. Bisa saja yang dikatakannya itu hanya untuk menggertak ku saja," gumam Dewi.
Wanita itu pun memilih untuk pergi meninggalkan tempat tersebut sebelum polisi menemukan dirinya berada di TKP. Tak lupa pula, Dewi melenyapkan beberapa barang bukti yang tentunya semua mengarah padanya.
Wanita itu masuk ke dalam mobil, lalu kemudian mengganti sepatunya dengan ukuran yang normal. Karena, saat mengeksekusi Sugeng, Dewi memakai sepatu pria dengan ukuran yang cukup kebesaran.
Setelah selesai, Dewi pun langsung pergi dari tempat tersebut. Ia membeli sebuah mobil bekas dengan harga yang murah hanya untuk berniat mengeksekusi Sugeng.
Wanita tersebut memberhentikan mobil itu di sebuah tempat pembuangan mobil-mobil yang sudah tak terpakai lagi.
Tak lama kemudian, seseorang muncul berjalan menghampiri wanita tersebut.
"Silakan menuju ke sana, Nyonya," ujar pria itu memberikan arahan.
Dewi langsung membawa mobil yang dikendarainya sesuai dengan arahan pria tadi. Tak lama kemudian, ia pun tiba di lokasi. Wanita itu langsung turun dari mobil tersebut.
"Apakah sudah tidak ada barang-barang berharga lagi di dalam sana, Nyonya?" tanya pria tersebut.
"Tidak ada. Hancurkan saja semuanya!" titah Dewi.
Setelah mendapatkan titah dari Dewi, pria itu pun langsung menekan tombol yang ada di sana. Lalu kemudian, sebuah besi berukuran besar pun meremukkan mobil tersebut hingga benar-benar hancur.
Dewi tersenyum. Kali ini ia tidak akan meninggalkan jejak apapun. Semuanya telah ia musnahkan. Dan saatnya, ia bergerak untuk membujuk anak gadisnya itu. Meminta setengah dari saham yang dimiliki oleh Arumi untuknya. Karena Dewi merasa berhak untuk mendapatkan perusahaan itu. Ia memanfaatkan gelar sebagai istri seorang Fian Aryaduta untuk merebutnya dari tangan Arumi.
"Aku akan bersikap manis terlebih dahulu dengan putri kesayanganku itu. Lalu membujuknya untuk memberikan sebagian saham yang ia miliki, setelah aku berhasil melakukan itu, aku akan membuat semua sahamnya jatuh ke tanganku," batin Dewi.
"Dan jika, aku tidak mendapatkan apapun darinya, maka aku akan meminta nya dengan paksa, tak peduli jika itu harus mengotori tanganku juga," lanjut wanita tersebut.
Bersambung ....