
Beberapa pelayan membawa Arumi ke kamarnya. Ia membaringkan tubuh wanita itu di atas tempat tidur milik gadis tersebut. Salah satu dari mereka mencoba untuk menelepon dokter menggunakan telepon rumah. Setelah menelepon dokter, pelayan itu pun menelepon Samuel, karena memang pria itu lah yang paling dekat dengan Arumi. Selalu siap siaga jika terjadi sesuatu pada gadis itu.
Setelah menelepon dokter dan Samuel, para pelayan pun menjaga Arumi. Ia menyeka keringat Arumi yang menetes, dan membersihkan luka tersebut dengan air hangat.
Setelah berselang selama dua puluh menit lamanya, dokter pun tiba. Ia memeriksakan kondisi Arumi yang masih belum sadarkan diri. Di samping itu juga, Samuel datang. Pria tersebut tampak panik saat melihat kondisi Arumi saat ini.
Terlihat ada beberapa luka memar dan sedikit lecet di bagian wajahnya. Samuel duduk di sisi ranjang Arumi sembari menggenggam tangan gadis tersebut.
"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Samuel.
"Pasien mengalami shock berat. Nanti saya akan resepkan obat penenang serta luka-lukanya agar cepat mengering," papar dokter tersebut.
Samuel mengangguk paham. Ia menatap Arumi dengan tatapan penuh arti. "Kamu tahu, ini alasan aku selalu bertahan dan ingin berada di sampingmu. Agar aku bisa melindungimu dari orang-orang yang hendak mencelakaimu," lirih Samuel.
Dokter memberikan resep obat pada Samuel. Ia pun berpamitan setelah memberikan resep tersebut. Salah satu pelayan mengantarkan dokter keluar.
Samuel juga meminta salah satu pelayan yang ada di sana untuk pergi ke apotik. Menebus obat yang diresepkan oleh dokter tadi.
Sementara Samuel, pria itu memilih untuk tetap berada di samping Arumi. Ia tidak ingin jika kejadian ini terulang lagi pada gadis tersebut.
Awalnya Arumi tampak biasa saja. Seperti orang yang tengah tertidur pulas. Namun, tak lama kemudian, Samuel merasakan Arumi membalas genggaman tangannya.
Genggaman tangan Arumi semakin lama semakin menguat, seakan mencengkram tangan Samuel. Gadis itu juga mengeluarkan peluh yang cukup banyak di area wajahnya. Sementara mulutnya meracau tak jelas.
"Arumi, ... bangun Arumi!!" Samuel mencoba untuk membangunkan Arumi. Menyadarkan gadis itu dari mimpi buruknya.
Arumi pun langsung membuka matanya dengan sedikit terbelalak. Peluhnya mengucur, napasnya juga tersengal. Samuel meraih air minum yang ada di atas nakas, lalu kemudian memberikannya pada Arumi.
"Minumlah terlebih dahulu," ujar Samuel memberikan segelas air minum tersebut pada Arumi.
Arumi meraih air yang diberikan oleh Samuel, meminumnya beberapa tegukan lalu kembali menyerahkannya pada Samuel untuk diletakkan di atas nakas.
Arumi menatap Samuel. Gadis itu langsung memeluk Samuel. Ia menangis tersedu di pelukan pria yang sudah seperti seorang ayah sekaligus kakak baginya.
"Tenanglah! aku akan selalu berada di sini untuk menjagamu. Kamu jangan takut," ujar Samuel sembari mengusap surai panjang gadis tersebut untuk menenangkan Arumi.
Arumi melepaskan pelukannya. Samuel menyeka air mata gadis tersebut. Sungguh ia sangat mencintai Arumi dan tak ingin jika gadis itu tersakiti sedikit pun. Namun, sayang seribu kali sayang Arumi tak membalas perasaannya. Ia sudah menganggap Samuel layaknya keluarga satu-satunya yang ia miliki. Sedangkan ibu dari Arumi, wanita itu masih berkelana mencari pria-pria di luaran sana untuk memenuhi kebutuhannya.
Tak lama kemudian, pelayan yang di suruh oleh Samuel tadi baru saja sampai sembari membawa plastik yang berisi obat-obatan untuk Arumi.
Samuel memberikan satu tablet obat penenang pada Arumi. Lalu kemudian mengoleskan salep di bagian luka serta memar.
Arumi meringis kesakitan saat merasakan perih di bagian luka tersebut. "Awww ...," ujar Arumi kesakitan. Setelah mengoleskan obat, Samuel meniup-niup luka Arumi supaya tidak merasa terlalu perih.
"Tidurlah! Aku akan menjagamu," ucap Samuel sembari membantu Arumi untuk berbaring.
Arumi mulai tenang setelah minum obat tersebut. Napasnya tak lagi tersengal seperti tadi. Saat Arumi terpejam, Samuel mengusap puncak kepala Arumi. Perlahan gadis itu pun memejamkan matanya kembali.
Saat Arumi sudah benar-benar terlelap dari tidurnya, Samuel pun berjalan keluar dari kamar gadis itu sejenak. Ia melihat beberapa asisten rumah tangga serta satpam yang berjaga di depan rumah tengah tertunduk merasa bersalah.
Samuel menuruni anak tangga. Semua orang yang ada di ruang tengah langsung berbaris saat mengetahui bahwa Samuel datang menghampiri.
"Di mana penjaga keamanan? Mengapa hal seperti ini bisa terjadi?" bentak Samuel pada tiga orang satpam tersebut. Samuel telah diberikan wewenang oleh Arumi untuk menegur mereka jika memang adanya kesalahan yang ditemukan oleh Samuel. Dan malam ini, kesalahan mereka sangatlah fatal.
"Di mana saja kalian saat kejadian?" tanya Samuel yang saat ini berdiri di depan para penjaga keamanan tersebut.
"Maafkan saya, Tuan..Tadi saya mendapatkan telepon dari keluarga di kampung," ucap satpam 1.
"Kamu?! Di mana saat kejadian tadi?"
"Saya ke kamar kecil, Tuan." Satpam ke 2 menimpali ucapan Samuel.
"Dan kamu?"
Samuel menghela napasnya sembari mengusap wajah dengan kasar. "Lain kali jika hendak melakukan sesuatu, kalian saling memberitahu supaya tidak terjadi hal seperti ini," ucap Samuel penuh dengan penekanan.
"Sudah! Semuanya bubar!" lanjut pria itu.
Mereka yang ada di sana pun langsung membubarkan diri. Pria itu kembali ke kamar Arumi untuk menjaga gadis yang tak berdaya itu.
"Sebaiknya perketat keamanan. Keselamatanmu bisa terancam jika seperti ini terus-menerus," gumam pria tersebut seraya memandang Arumi yang tengah terlelap..
...----------------...
Keesokan harinya, Arumi terbangun dari tidurnya. Ia melihat Samuel yang tengah tertidur di sisi ranjangnya sembari memeluk tangannya. Arumi tertegun melihat pria tersebut. Lalu kemudian menjahili Samuel, dengan berteriak tepat di telinga pria tersebut.
"Bangun!!" seru Arumi dengan keras.
Samuel pun terbangun dari tidurnya akibat ulah Arumi. Pria itu menggosok-gosok telinganya yang merasa berdengung karena teriakan gadis itu. Sementara Arumi terkekeh geli melihat Samuel.
"Mulai kumat," gerutu Samuel menatap Arumi dengan tajam.
"Sorry," ujar wanita tersebut.
"Kenapa kamu di sini?" tanya Arumi.
"Apakah kamu lupa yang terjadi padamu semalam?!" ketus pria tersebut masih menggosok telinganya.
Arumi mengangguk pelan saat menyadari kejadian kemarin malam. Samuel yang melihat Arumi memberikan tatapan penuh menyelidik. "Bisakah kamu menjelaskannya lebih rinci tentang kejadian semalam?" tanya Samuel.
"Dia masuk dan mengacak-acak ruang kerja papa. Entahlah apa yang ia cari sesungguhnya," ujar Arumi.
"Terus kamu memberikan perlawanan sampai luka-luka begini?"
"Tentu saja! Aku sangat marah jika ada yang masuk ke dalam ruang kerja papaku. Bahkan orang di rumah saja hanya bisa masuk karena seizinku," tukas Arumi.
"Lain kali, jika ada hal yang membahayakan mu, kamu cukup panggil keamanan! Jangan menyerangnya sendirian," ujar Samuel memberikan saran.
"Lihatlah! Wajahmu menjadi jelek!" ejek Samuel.
Arumi memegangi area wajahnya. Lalu kemudian gadis tersebut beranjak dari tempat tidur untuk bercermin. Saat melihat pantulan dirinya di cermin, mata Arumi langsung membola. Ia terkejut karena terlihat ada beberapa luka memar di wajahnya. Dan di beberapa bagian juga terlihat bengkak.
"Akhhh !!!" Arumi berteriak kencang, membuat seluruh pelayan yang mendengar teriakan itu segera menghampiri Arumi, takut terjadi sesuatu pada sang majikan.
Saat mereka telah tiba di kamar Arumi, ia sedikit kebingungan karena memang tak terjadi apa-apa di sana. Hanya melihat Arumi yang tengah menatap dirinya di pantulan cermin.
Melihat para pelayan yang berdatangan membuat Samuel terkekeh. "Biasa, drama di pagi hari. Silakan lanjutkan pekerjaan kalian," ucap Samuel.
Para pelayan tersebut melangkah keluar dari kamar Arumi. Mereka kembali melanjutkan pekerjaan.
Arumi merasa sangat kesal melihat wajahnya di cermin. "Dia siapa? Mengapa wajahku mirip seperti monster?" keluhnya frustasi.
"Tidak usah berlebihan! Kamu tetap cantik sekalipun wajahmu mirip monster," ujar Samuel.terkekeh.
"Omong kosong!" ketus Arumi.
"Apakah kamu mengetahui siapa pria yang menyerangmu kemarin?" tanya Samuel.
Arumi tampak mengingat-ingat sejenak. "Entahlah, tapi dia sepertinya tidak asing bagiku," ujar wanita tersebut.
"Aroma parfumnya. Aku seperti tidak asing dengan aroma parfum yang ia pakai," lanjut gadis tersebut.
Bersambung ....