Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 29. Nyawa Sembilan.


"Jadilah suamiku, maka aku akan langsung memberikan uangnya padamu," ujar Arumi dengan sangat enteng.


"Apa?!" Fahri tak bisa menyimpan wajah keterkejutannya.


"Bukankah saya sudah pernah menjelaskan sebelumnya, jika saya adalah pria beristri," lanjut Fahri.


"Tolong berbicara santai saja. Kita sedang di luar kantor, aku sedikit terganggu dengan bahasa formal yang kamu pakai itu," tutur Arumi.


"Baiklah. Jadi begini, aku jelaskan satu kali lagi. Aku adalah pria beristri, tak mungkin bagiku untuk mengkhianati istriku dan menikah denganmu," ucap Fahri mencoba menjelaskan.


"Bagaimana jika istrimu tidak menjaga hatinya seperti kamu menjaga hatimu untuk istrimu?" pancing Arumi sembari menaikkan alisnya sebelah.


"Itu adalah urusanku dengan istriku. Aku tetap akan mempertahankannya sebelum aku berucap menyerah. Lagi pula masalah rumah tangga kami, sudah seharusnya untuk Nona Arumi tidak mencampurinya," tutur Fahri mencoba untuk bersikap selembut mungkin.


Arumi sedikit mengangkat dagunya, lalu kemudian memalingkan pandangannya dari lawan bicaranya. "Baiklah jika keinginanmu seperti itu. Maaf, karena aku tidak bisa membantumu," ucap Arumi dengan nada bicara yang sedikit mengejek.


"Bukankah kita hidup di dunia ini harus memiliki timbal balik? Dan itu sudah hukum alam. Jika kamu tidak bisa membantuku, maka aku juga tidak bisa membantumu," lanjut gadis tersebut.


Fahri menjadi panik. Di satu sisi ia sangat membutuhkan uang itu, akan tetapi di sisi lain, ia harus mengkhianati pernikahannya jika menyetujui hal yang diminta oleh Arumi.


"Emmm ... begini saja. Beri aku sedikit waktu untuk memikirkan semuanya." Setelah cukup lama berpikir, kalimat itu lah yang keluar dari bibir Fahri.


Cukup lama Arumi menimbang ucapan Fahri. Dengan mencebikkan bibir mungilnya, Arumi pun mengangguk pelan.


"Baiklah. Aku akan menunggu kabar darimu. Pastikan untuk menerima tawaranku, maka kamu akan mendapatkan uangnya," ujar Arumi seraya mengerlingkan matanya dengan sikap yang sedikit nakal.


"Ku rasa pembicaraan kita cukup sampai di sini. Semuanya sudah jelas, bukan? Tinggal menunggu kabar baik darimu saja," lanjut Arumi sembari terkekeh. Gadis itu beranjak dari tempat duduknya. Mengenakan kacamatanya lagi, lalu kemudian mengambil tas jinjing yang ia letakkan di belakang tempatnya duduk.


"Sebaiknya kamu sudah harus bergegas untuk pergi ke kantor. Lima belas menit, atasanmu yang ganas itu akan tiba di kantor," ucap Arumi seraya tersenyum. Gadis itu langsung menuju ke meja kasir, untuk membayar pesanannya.


Saat mendengar ucapan Arumi tadi, Fahri langsung melirik jam tangannya. Matanya seakan hendak keluar dari tempatnya. Yang dikatakan oleh Arumi tadi benar adanya. Tak lama lagi atasannya itu akan datang.


Fahri langsung beranjak dari duduknya. Ia meraih tas kantornya, lalu kemudian meneguk minumannya yang tinggal sedikit lagi. Ia pun berjalan keluar dari resto dengan tergesa-gesa.


Arumi melihat ekspresi wajah Fahri yang panik, membuat gadis itu mengembangkan senyumnya. Pandangannya teralihkan saat kasir kembali menyerahkan kartu kredit usai melakukan transaksi pembayaran.


Gadis itu pun berjalan menuju ke pintu keluar. Ia masih mengulum senyumnya melihat Fahri yang semakin lama berjalan semakin cepat. Arumi juga dapat melihat, saat keluar dari resto tersebut Fahri tampak berlarian sembari memeluk tas kerjanya.


"Dia memang pria yang luar biasa. Betapa bodohnya wanita yang menyia-nyiakan cintanya begitu saja," gumam Arumi yang kemudian masuk ke dalam mobilnya. Ia menghidupkan mesin mobil tersebut lalu kemudian melajukan kendaraan itu menuju jalanan.


Arumi sengaja memilih untuk mengikuti Fahri. Dari jauh ia melihat pria itu tampak terhenti sejenak sembari membungkuk.


"Apakah kamu selalu seperti ini setiap hari? Mengapa kamu tidak memanjakan dirimu sedikit saja dengan menaiki ojek ataupun taksi," gumam Arumi dari balik setir. Gadis itu sedari tadi memperhatikan Fahri. Ia memperlambat laju kendaraannya, lalu kemudian berhenti tak jauh dari tempat Fahri menghentikan larinya.


TIINNN .. TIINNN ...


Arumi menekan klakson mobilnya beberapa kali, lalu kemudian menurunkan jendela kacanya.


"Naiklah! Lagi pula aku juga akan menuju ke kantor," ajak Arumi.


"Ayolah tidak usah malu-malu. Pilih dimarahi atau ikut bersamaku?" tanya Arumi.


Fahri menimbang-nimbang pilihan yang diajukan oleh Arumi. "Ta-tapi ... aku berkeringat," lirih Fahri. Ia takut jika Arumi merasa jijik padanya.


"Tidak apa-apa. Biasanya keringat pria tampan itu lebih wangi," goda Arumi, akan tetapi masih dengan wajah datarnya.


Fahri pun akhirnya memilih untuk ikut bersama dengan Arumi. Pria tampan itu malu-malu memasuki mobil dan duduk di sebelah Arumi.


Arumi mengambil sesuatu dari dalam tasnya, lalu kemudian menyerahkan saputangan pada Fahri. "Seka keringatmu dengan ini," ujar Arumi sembari menyodorkan saputangannya.


"Tidak usah. Aku membawa saputa ...." belum sempat Fahri menyelesaikan kalimatnya, Arumi langsung meraih tangan Fahri dengan paksa, lalu kemudian membuka kepalan tangan pria tersebut. Menaruh saputangan pada telapak tangan Fahri.


"Ada baiknya jika seseorang memberikanmu sesuatu, jangan menolak pemberiannya." Arumi menatap tajam Fahri.


Fahri mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia melihat Arumi yang masih memegang tangannya.


"Maaf, tapi bisakah kamu melepaskan tanganku?" tanya Fahri.


"Oh, sorry. Aku bukan sengaja. Tapi aku takut jika kamu membuang saputangan itu secara tiba-tiba. Itu adalah saputangan kesayanganku," ujar Arumi yang mencoba mencari alasan.


"Kalau memang ini adalah saputangan yang sangat berharga, aku tidak pantas untuk menggunakannya."


"Jika aku menyuruhmu mengelap keringat menggunakan saputangan ku, ya gunakan saja!" ujar Arumi yang mulai geram akan sikap Fahri.


"Meskipun aku berkata bahwa keringatmu itu wangi, tetap saja kamu harus mengelapnya. Lagi pula mana ada keringat yang harum," gumam Arumi.


"Maafkan aku. Kalau begitu, aku akan berjalan kaki saja," ujar Fahri.


"Ck!" Arumi berdecak kesal. Ia pun langsung mengunci pintu mobilnya agar Fahri tak keluar.


"Kamu tenang saja! Aroma keringatmu tak akan terendus oleh hidungku. Aku menggunakan parfum yang mahal, dan pastinya wangi parfumku lebih mendominasi dari pada aroma keringatmu. Tidak perlu khawatir!" ujar Arumi.


Gadis itu langsung melajukan mobilnya. Fahri terkejut saat Arumi yang tiba-tiba saja mempercepat laju kendaraannya itu.


"Nona, ini sangat berbahaya. Bisakah menurunkan sedikit laju kecepatannya?" tanya Fahri yang sudah berpegangan dengan erat.


Arumi tersenyum miring saat melihat Fahri yang menjadi panik seketika. Bukan menurunkan laju kendaraannya, Arumi justru kembali menginjak pedal gas pada mobilnya untuk menambah laju kecepatan kendaraan tersebut.


"Berpeganglah dengan erat, jika kamu takut," ujar Arumi menatap lurus ke depan.


"Ta-tapi ... tetap saja. Ini sangat berbahaya," ucap Fahri tergagap.


"Kamu tenang saja! Dengan seperti ini kita akan lebih awal tiba di kantor dari pada Indra," celetuk Arumi.


Fahri memilih diam. Ia memejamkan mata seraya merapalkan doa dalam hatinya agar selamat sampai di kantor, karena memang dia tidak memiliki sembilan nyawa layaknya seekor kucing.


Bersambung ...