Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 58. Surat Undangan


Setelah mencocokan gaun yang akan di kenakannya pada hari besar nanti, Arumi dan Samuel saat ini sedang menuju perjalanan pulang ke rumah. Samuel menyetir mobil, sementara Arumi memilih untuk menatap ke arah luar jendela.


"Aku belum menemukan bukti siapa yang menyerangmu malam itu, akan tetapi aku harap kamu tetap dalam pengawasan agar selalu aman," ujar Samuel seraya mengemudikan kendaraan tersebut, menatap ke arah jalanan.


"Haruskah kita menemukannya? Bagaimana jika orang itu adalah orang terdekat kita?" gumam Arumi yang tak mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


"Apa kamu sudah menemukan ciri-ciri yang sama persis dengan orang itu?" tanya Samuel, sekilas ia mengarahkan pandangannya pada Arumi.


"Entahlah, aku belum memastikannya apakah memang benar dia pelakunya atau bukan. Yang pasti, kita lihat saja nanti. Kejahatan sebaik apapun di simpan pasti akan terungkap juga," ucap Gadis tersebut.


Arumi menghela napasnya dengan dalam. Ia tak mungkin mengatakan jika dirinya juga mencurigai Fahri. Bisa-bisa Fahri tak akan lepas dari pria itu. Pernikahan sudah di depan mata, tak mungkin bagi gadis tersebut untuk mengurungkannya. Jauh dari dalam lubuk hati Arumi memang menginginkan Fahri, menginginkan pernikahan ini.


Samuel menatap kecurigaan dari raut wajah Arumi. Pria itu pun menepikan kendaraannya, mencoba untuk menanyai gadis yang saat ini bersamanya dengan serius.


"Kenapa kita berhenti?" tanya Arumi heran.


"Jelaskan padaku, apa sebenarnya yang terjadi? Kamu tampaknya tengah menyembunyikan sesuatu. Siapa pria itu? Apa yang membuatmu takut untuk mengatakan hal yang sebenarnya kepadaku?" tanya Samuel begitu yakin jika Arumi menyembunyikan sesuatu padanya.


Arumi menutup jendela kaca. Lalu kemudian mengarahkan pandangannya pada Samuel. Mata indah milik gadis itu menatapnya dengan tajam.


"Untuk yang satu ini, aku akan mengawasinya sendiri. Kamu tenang saja, aku tetap aman. Tidak perlu khawatir," ujar Arumi.


Awalnya ia sedikit ragu, akan tetapi Samuel mencoba untuk memahami keputusan dari gadis tersebut. "Baiklah. Jika ada apa-apa, segera hubungi aku," ucap pria tersebut.


Arumi mengangguk pelan seraya mengembangkan senyumnya. Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Arumi pun langsung merogoh benda pipih tersebut di dalam sakunya.


"Akhirnya dia menelepon juga," ucap Arumi sembari menggeram kesal.


Gadis itu pun mengangkat panggilan tersebut. "Ada apa?!" Arumi sedikit menaikkan nada bicaranya.


"Besok sore, bisakah kita bertemu?" tanya Fahri dari seberang telepon.


"Maaf, aku tidak bisa!" ketus Arumi yang langsung mematikan panggilan teleponnya. Ia mengembalikan ucapan penolakan yang dilontarkan oleh Fahri saat dirinya mengajak untuk fitting baju.


Samuel tersenyum samar. Ia sangat gemas melihat Arumi yang tengah merajuk.


Arumi mendelik, saat mendapati Samuel yang tersenyum saat melihatnya seperti itu. "Apa yang kamu tertawakan? Apa lucu?" tanya Arumi sembari mengerucutkan bibirnya.


Entah mengapa kali ini Arumi layaknya seorang anak kecil. Sisi dingin yang selalu ia perlihatkan pada orang lain seketika hilang begitu saja.


Samuel mengusap wajahnya dengan sebelah tangan untuk menghentikan tawanya. Akan tetapi, pria tersebut tak mampu. Ekspresi Arumi terlalu lucu, membuat pria tersebut terpingkal-pingkal.


"Siapa kamu? Apakah masih sama seperti Arumi yang dikenal oleh orang-orang?" tanya Samuel seraya terkekeh geli.


"Hentikan guyonanmu, Sam. Ini tidak lucu!"


"Bagiku ini sangat lucu," ujar Samuel yang tak ingin kalah.


Arumi mendecih sembari memutar bola matanya dengan malas. "Pria di dunia ini tak ada bedanya, sama saja."


Saat di persimpangan jalan, Samuel yang hendak berbelok menuju ke kediaman Arumi, tiba-tiba saja Arumi menyuruh Samuel untuk berhenti sejenak.


"Ada apa?" tanya pria tersebut dengan heran.


"Aku melupakan sesuatu. Ayo putar balik lebih dulu!" titah Arumi.


Samuel pun menuruti ucapan gadis itu. Ia memutar balik mobilnya menuju ke arah yang baru saja mereka lewati.


"Kamu melupakan apa?" tanya Samuel penasaran.


"Nanti kamu akan mengetahuinya sendiri," timpal Arumi seraya mengembangkan senyum penuh arti.


Di perjalanan, Samuel mengikuti instruksi Arumi. Gadis itu menunjukkan arah tempat yang hendak dikunjungi oleh Arumi.


Arumi meminta Samuel untuk berhenti di depan 'Beauty Store' yang tak lain adalah tempat kerja Sifa.


"Bukankah tempat ini ...."


"Iya. Tempat kerja mantan istrinya," ujar Arumi menimpali ucapan Samuel.


"Terus ... untuk apa kita berada di sini?" tanya Samuel lagi.


"Kamu terlalu banyak bertanya akhir-akhir ini. Aku seakan tengah diintegrasi dadakan. Sebaiknya tunggu saja di sini, atau ikut denganku ke dalam untuk mendapatkan jawaban yang pasti," ujar Arumi seraya melepas sabuk pengamannya. Ia pun mulai turun dari kendaraan tersebut.


"Tunggu aku! Aku tidak ingin rasa penasaran menghantui diriku," ujar Samuel. Pria itu pun ikut turun dari kendaraan roda empat itu.


Arumi dan Samuel berjalan bersamaan menuju pintu masuk. Gadis itu mencari keberadaan Sifa. Ia tersenyum miring saat menemukan targetnya yang sudah terlihat.


"Hai ...," sapa Arumi seraya melambaikan tangannya.


"Nyonya," ujar Sifa yang tampak senang akan kedatangan Arumi.


"Namaku Arumi, panggil aku Arumi saja," ucap Arumi.


"Maaf, tapi aku sedikit merasa sungkan karena Nyonya adalah salah satu konsumen kami," ujar Sifa.


"Apakah Nyonya hendak ingin membeli make up seperti kemarin?" tanya Sifa.


Arumi menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku ke sini sengaja untuk mencarimu," timpal Arumi tersenyum.


Arumi merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Ia pun mengeluarkan sebuah surat undangan yang terlihat tampak mewah tersebut. Lalu menyerahkannya kepada Sifa.


"Aku ingin memberikan ini padamu," ucap Arumi.


Melihat perbuatan Arumi, Samuel langsung membelalakkan matanya. Ia menatap gadis yang ada di sampingnya dengan tatapan tak percaya. "Apakah dia sedang memancing keributan di sini?" batin Samuel.


"Surat undangan? Aku merasa benar-benar terhormat dapat diundang secara langsung oleh Nyonya," ujar Sifa mengambil surat undangan tersebut.


Arumi tersenyum mendengar ucapan dari Sifa. "Kamu harus datang ya, bukankah kemarin-kemarin kamu sudah berjanji padaku?" tutur Arumi disertai dengan tawa kecil.


"Baik, Nyonya. Aku akan datang di acara Nyonya kelak. Sekali lagi selamat ya," ucap Sifa.


"Terima kasih." Arumi menimpali Sifa. Lalu kemudian ia pun berjalan satu langkah lebih maju dari hadapan Sifa.


"Jangan lupa, ajak juga kekasihmu untuk datang ke acara ku," bisik Arumi.


"Siap ... siap ...," ujar Sifa disertai dengan tawa kecil.


"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Aku tunggu kehadiranmu di pestaku," tutur Arumi.


Arumi langsung melangkahkan kakinya pergi dari tempat tersebut diikuti dengan Samuel yang berada di belakangnya.


Sifa tersenyum saat mendapatkan kabar dari Arumi. Ia sedikit mencium aroma vanila dari surat undangan tersebut. "Bahkan surat undangannya sangat harum," gumam Sifa.


Saat membuka surat undangan itu, membaca nama pengantin prianya, seketika Sifa membeku. "Nama ini ...," batin wanita tersebut.


Sifa kembali mengarahkan pandangannya pada Arumi yang sudah hampir tak terlihat. "Apakah pria itu adalah calon suaminya? Mungkin namanya saja yang sama," ucap Sifa yang mencoba untuk tetap berpikiran positif.


Arumi kembali memasuki mobil, diikuti oleh Samuel. Wanita itu seperti tanpa dosa, berekspresi biasa saja setelah memberikan undangan pernikahannya tadi.


"Mengapa kamu melakukannya? Bukankah kamu tahu sendiri, jika wanita itu adalah mantan istri yang sebentar lagi akan menjadi calon suamimu!" tukas Samuel.


"Kenapa? Tidak ada masalah bagiku. Lagi pula aku hanya memperkenalkan diri, agar dia tahu bahwa mantan suaminya bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari dirinya," ujar Arumi seraya menaikkan alisnya sebelah.


Bersambung ....