
Saat ini Aldo tengah berada di parkiran, tepatnya di depan tempat kerja Sifa. Pria itu menuruti ucapan Kartika, untuk mengetahui apa sebenarnya yang terjadi pada Sifa.
Tak lama kemudian, Aldo melihat Sifa yang baru saja keluar dari tempatnya bekerja. Pria tersebut melambaikan tangannya pada Sifa, saat pandangan wanita tersebut mengarah padanya.
Sifa tersenyum simpul. Lalu kemudian menghampiri sang kekasih hatinya itu. "Kamu sudah lama di sini?" tanya Sifa.
"Tidak terlalu lama. Lebih lama lagi aku menunggu waktu untuk menikahimu," celetuk Aldo.
Sifa memberikan pukulan kecil di lengan pria itu seraya terkekeh geli. "Berhenti menggombal!"
"Ayo masuklah!" ujar pria tersebut seraya membukakan pintu untuk Sifa.
Sifa pun masuk ke dalam mobil tersebut, disusul oleh Aldo yang juga masuk dan menempati kursi pengemudi.
Saat di perjalanan, keheningan pun tercipta diantara kedua manusia itu. Hingga akhirnya, Aldo pun mencoba untuk memulai perbincangan.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Aldo masih menatap lurus ke arah jalanan yang cukup lenggang.
"Iya, aku baik-baik saja. Ada apa?"tanya Sifa melemparkan pandangannya pada pria yang ada di sampingnya itu.
"Tidak apa-apa," ujar Aldo.
"Bolehkah aku main ke rumahmu?" tanya Aldo.
Sifa tersenyum lalu kemudian mengangguk pelan. "Tentu saja. Aku sekarang sudah bebas dan tidak akan ada lagi yang melarangmu untuk datang," timpal wanita itu.
Sebelah tangan Aldo menggenggam tangan Sifa, dan tangan yang sebelahnya lagi ia gunakan untuk mengendalikan setir.
Aldo sekilas menatap wanita yang ada di sampingnya, lalu kemudian mengecup punggung tangan mulus milik wanita itu.
"Aku mencintaimu," ujar Aldo.
"Aku juga," balas Sifa.
Tak lama kemudian, keduanya tiba di apartemen Sifa. Wanita itu pun mempersilahkan Aldo masuk ke dalam rumahnya.
Baru saja Sifa menutup pintu, tiba-tiba Aldo menarik wanita tersebut dan membawanya masuk ke dalam pelukannya.
"Sayang, malam ini kita ...." Suara Aldo tercekat, menahan gairah yang ada di dalam dirinya.
Mendapatkan perlakuan yang secara tiba-tiba, membuat Sifa sedikit terkejut. Namun, saat pria itu memintanya, wanita itu pun seakan terhipnotis olehnya. Perlahan Sifa menganggukkan kelapanya.
Mendapat persetujuan dari Sifa, membuat Aldo menyeringai. Pria itu seakan siap memangsa wanita yang ada di dekapannya kapan saja.
Bibir Aldo mulai memagut bibir Sifa dengan cukup kasar. Layaknya seekor hewan yang takut santapannya akan direbut oleh pemangsa lainnya. Sementara tangan pria itu, sibuk menjelajahi tubuh sintal milik kekasihnya.
Keduanya sudah berada di puncak gairahnya masing-masing. Sifa merasakan panas di sekujur tubuhnya seakan ingin meledak saat itu juga.
Perlahan, Aldo hendak melucuti pakaian Sifa. Namun, tak lama kemudian, terdengar suara pintu yang diketuk.
Awalnya mereka mengabaikannya, masih melakukan kegiatan panas tersebut. Namun, ketukan itu semakin kencang dan terdengar suara yang sangat Sifa kenali memanggil namanya saat itu juga.
"Ibu ...," gumam Sifa.
Keduanya pun langsung menyudahi kegiatan panas itu. Dengan tergesa-gesa, Sifa dan Aldo merapikan penampilannya. Aldo yang saat itu baru saja memasang resleting, sementara Sifa menutupi semua yang sempat dibuka oleh Aldo. Di samping itu pula terdengar suara tombol akses untuk membuka pintu tersebut tengah di tekan.
Baju Sifa yang belum tertutup sempurna, serta rambutnya yang juga masih berantakan. Sementara Aldo, pria tersebut belum sempat melilitkan ikat pinggangnya. Dan kemeja yang dikenakan oleh pria itu, tampak belum terkancing sepenuhnya.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya Kartika seraya menutup mulutnya yang ternganga.
"Bu, aku bisa jelaskan. Sifa tidak bersalah, sebenarnya aku ...."
"Tidak, Bu. Aku juga bersedia melakukannya," ucap Sifa yang menyela perkataan Aldo.
Kartika memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. "Lama-lama bisa cepat mati aku jika begini terus," ujar wanita tersebut sembari memijat kepalanya.
Kartika memilih untuk duduk di sofa. Ia sangat pusing dengan kelakuan dua manusia yang ada di depannya. Sementara Aldo dan Sifa, keduanya hanya tertunduk sembari menahan rasa malu.
"Sebenarnya ibu sangat senang jika kalian bersama. Tapi bisakah untuk tidak berbuat seperti ini dulu sebelum kalian benar-benar menikah? Setidaknya mereka diluaran sana memandang Fahri yang jahat karena telah berselingkuh dengan wanita kaya, belum genap satu bulan bercerai sudah menikahi wanita lain."
"Kalau bisa, kalian menikahlah saat sudah habis waktu yang ditentukan. Dengan catatan, tidak melakukan perbuatan seperti ini. Bagaimana jika kamu hamil? Apa kata orang di luar sana!" ujar Kartika penuh penekanan.
"Aldo, ibu percaya padamu, Nak. Ibu mohon jangan dulu berbuat seperti ini. Kalian pasti akan di permalukan nantinya. Untung ibu yang mendapati kalian seperti ini, bagaimana jika itu adalah mantan suamimu? Bisa-bisa dia semakin memandang hina kamu!" tukas Kartika.
Malam ini, bukan malam yang indah bagi kedua manusia yang saat itu tengah dimabuk cinta.
.....
Kepulan asap terlihat begitu tebal. Malam itu, Arumi berjalan seperti manusia yang tengah hilang arah. Ia melihat dua buah mobil yang tampak rusak parah, saling menabrak satu sama lain.
Perlahan Arumi pun mendekati salah satu dari mobil itu. Mobil yang tampak tak asing baginya. Selangkah demi selangkah ia membawa kakinya semakin mendekat. Seiring dengan itu juga, keringatnya bercucuran, tubuhnya bergetar hebat.
Ia mencoba untuk menepis pikiran yang tidak-tidak, hinggap di kepalanya. "Tidak. Aku yakin ini tidak seperti yang ku pikirkan. Ayolah! Berhenti untuk berpikiran buruk," gumam gadis itu yang mencoba mensugesti dirinya sendiri.
Arumi pun tiba di depan mobil BMW X5 berwarna hitam, yang terlihat sudah memiliki kerusakan yang cukup parah.
Napasnya mulai tersengal dan tenggorokannya terasa sangat tercekat. Ia melihat seorang pria tua yang ada di dalam sana tampak terluka parah. Pria itu mengeluarkan banyak darah dari kepala serta mulutnya. Dan setelah melihat dengan seksama, siapa yang ada di dalam mobil itu, Arumi langsung menutup mulutnya, dan tubuhnya semakin bergetar hebat.
"Papa !!" teriak Arumi histeris. Ia mencoba memukul-mukul bagian jendela kaca. Gadis itu juga berusaha untuk membuka pintu mobil tersebut, akan tetapi usahanya selalu gagal.
"Papa bangun, Pa! Papa harus kuat!" seru Arumi dengan air mata yang bercucuran di pelupuk matanya.
Arumi meminta bantuan, berteriak sekuat tenaga, akan tetapi tak ada satu pun yang bisa menolong Arumi untuk menyelamatkan papanya di dalam mobil itu.
Perlahan, Arumi melihat sang papa menatap ke arahnya. Tatapan lembut penuh cinta yang selalu di perlihatkan sang papa padanya.
"Tolong papa ... Tolong papa ...," Arumi mampu mengartikan gerak bibir yang diucapkan oleh papanya itu meskipun terdengar tidak jelas.
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, pria yang dipanggil papa oleh Arumi menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman. Seakan senyuman itu adalah menjadi senyuman terakhir untuk Arumi.
"Jangan, Pa ... Ku mohon jangan ..." gumam Arumi seraya menggelengkan kepalanya.
Tak lama kemudian bayangan sang papa tampak menghilang begitu saja dari pandangannya. Semuanya terlihat sangat gelap di mata Arumi. Kini ia seakan berada sendirian di dalam sebuah ruangan yang gelap.
"Papa ... papa!!"
Bersambung ...