
Fahri berteriak karena merasa frustasi. Ia hanya bisa melihat bagaimana cara Dewi menyiksa istrinya tanpa bisa membantu wanita yang ia cintai tengah menahan rasa sakitnya.
Namun, sesaat kemudian Fahri tertegun karena suara teriakannya tiba-tiba terdengar dalam layar monitor tersebut. Bahkan Dewi sempat mendongak sekilas, dan hal itu tak luput dari pandangan Fahri.
"Sekarang aku tahu di mana kamu," ujar Fahri.
Pria tersebut memilih menelusuri setiap sudut ruangan kosong. Ia menyingkirkan semua papan-papan yang sudah tak berguna di sekitar sana. Dan sekarang, Fahri pun menemukan sebuah petak yang membentuk pintu lubang yang ada di lantai tersebut.
"Aku menemukannya!" seru Fahri.
Samuel dan Indra pun langsung menghampiri Fahri untuk membuka pintu tersebut yang tampaknya sudah terkunci dari dalam.
Elena memperhatikan rekaman di layar monitor tersebut. Ia melihat Dewi yang tampak gelisah karena Fahri sudah menemukan lokasinya.
"Bobol saja langsung! Mereka ada di dalam sana,"ujar Elena memberitahukan pada yang lainnya.
Polisi juga ikut andil membantu. Hingga akhirnya mereka pub berhasil membobol pintu tersebut. Terlihat sebuah tangga yang langsung menuju ke ruangan bawah tanah. Fahri masuk terlebih dahulu untuk menyelamatkan istrinya. Di susul oleh yang lainnya juga.
Dan benar saja, Dewi beserta Arumi dan pelayan tersebut ada di dalam ruang bawah tanah itu.
Dewi langsung meraih sebuah botol yang ada di atas meja. "Jangan mendekat! Ini adalah air keras. Jika kalian berani maju selangkah saja, aku akan menyiramkan air keras ini ke wajahnya!" ancam Dewi sembari menunjuk ke arah Arumi.
Seketika Fahri dan beberapa orang lainnya pun langsung memberhentikan langkahnya. Mereka melihat Dewi yang sudah bersiap hendak menumpahkan air keras tersebut ke wajah Arumi.
"Fahri, selangkah saja kamu maju. Maka bukan hanya rambut saja yang menjadi korbannya, tetapi wajah cantik istrimu ini akan menjadi buruk rupa," tukas Dewi.
"Mari kita bicarakan baik-baik, tapi tolong lepaskan istriku," ujar Fahri mencoba untuk berbicara lembut.
" Bicarakan baik-baik? Kenapa harus mengundang polisi jika harus dibicarakan secara baik-baik. Kamu pikir saya bodoh, hah?!"
Fahri mencoba untuk melirik di sekitar Arumi. Mencari celah agar dapat menyelamatkan istrinya tanpa harus terluka lagi.
Cukup lama mereka saling terdiam dan berpandang-pandangan satu sama lain. Dewi melihat Fahri dan Arumi saling menatap, membuat wanita tersebut geram.
Ia pun langsung menghampiri Arumi, hendak menumpahkan air keras tersebut ke wajah Arumi. Namun, dengan cepat Indra menendang bekas botol wine yang ada di hadapannya.
Indra menendang botol tersebut menuju ke arah Dewi, dan Dewi pun tidak menyadari hal tersebut. Saat jarak Arumi dan Dewi sudah mulai dekat, tiba-tiba Dewi menginjak botol tersebut hingga membuat ia tergelincir. Alhasil, air keras yang hendak ia tumpahkan ke Arumi mengenai dirinya sendiri.
Dewi berteriak sembari memegangi wajahnya. Semua orang yang ada di sana tak menghiraukan wanita tersebut. Fahri dan Samuel langsung membantu melepaskan ikatan Arumi. Sementara Indra langsung menangkap Vera, orang suruhan Dewi.
"Tolong ... panas ... tolong!!" teriak Dewi, akan tetapi semua orang seolah menulikan telinganya.
Hingga akhirnya polisi pun menangkap Dewi saat itu juga, sementara Dewi masih sibuk kesakitan karena wajahnya terbakar.
Setelah berhasil melepaskan ikatan Arumi, Fahri langsung memeluk istrinya itu. Air matanya jatuh seketika saat melihat wajah Arumi yang lebam, serta darah yang ada di sudut bibir wanita itu.
"Maafkan Mas, Sayang. Maafkan Mas," ujar Fahri.
"Tidak apa-apa, Mas. Sekarang aku sudah merasa lega karena wanita itu sudah tertangkap," ucap Arumi.
Fahri menganggukkan kepalanya. Pria itu kemudian menggendong tubuh istrinya yang lemah. Hatinya merasa sakit saat melihat rambut sang istri yang dipotong oleh Dewi hingga menyerupai seorang pria.
Namun, setelah melihat wajah Dewi yang terbakar, membuat Fahri sedikit merasa puas walaupun tidak sepenuhnya. Setidaknya wanita wajah wanita itu nantinya akan rusak, setimpal dengan dia merusak mahkota kebanggaan milik Arumi (rambut).
Arumi berhasil dibawa keluar dari gudang tersebut. Vera dan Dewi juga berhasil diringkus oleh polisi. Dewi masih menjerit kesakitan karena wajahnya terasa panas dan terbakar.
"Lihatlah! Aku akan membalas perbuatan kalian nantinya!" seru Dewi yang masih sempat menaruh dendam pada orang-orang yang ada di sana.
"Aduh ... wajahku panas sekali ... perih sekali ...." Dewi meringis saat dibawa masuk ke dalam mobil polisi.
Samuel menghela napasnya dengan lega. Pria itu langsung merangkul Indra, berterima kasih karena Indra sudah bersedia membantu mereka.
"Terima kasih, Ndra. Karena bantuan mu, akhirnya kita bisa menangkap dalang kejahatan yang sesungguhnya," ujar Samuel.
Indra hanya mengangguk pelan sembari mengulas senyum, " Terima kasih juga, karena kalian sudah mau membantuku untuk terbebas dari penjara," ucap Indra.
Fahri dan yang lainnya juga ikut berterima kasih kepada Indra. Mereka pun pergi dari tempat itu, lalu kemudian berencana untuk membawa Arumi ke rumah sakit. Namun, wanita tersebut menolaknya.
Fahri menarik sudut bibirnya, lalu membingkai wajah sang istri. "Baiklah. Aku akan menyembuhkanmu dengan banyak cinta," ujar Fahri.
Indra tersenyum menatap keduanya dari kaca spion. Entah mengapa, baru kali ini ia merasa bangga terhadap diri sendiri karena telah melakukan satu kebaikan yang mampu membuat semua orang merasa bahagia. Dan Indra pun menyadari, bahwa menebar suatu kebencian atas keserakahan itu sama saja mempersempit rezeki sendiri.
Harta mungkin memang segalanya. Namun, tali persaudaraan lebih penting di atas segalanya. Meskipun ia menangkap Dewi, yang merupakan tantenya sendiri. Ia tak merasa menyesal, karena Dewi lah yang telah membuatnya menjadi kesusahan dan orang yang selalu ia benci langsung mengulurkan tangannya untuk membantu.
Tak terasa, mobil yang dikendarai oleh Indra telah tiba dikediaman Arumi. Indra pun memberhentikan kendaraannya. Fahri langsung menggendong Arumi ala bridal style.
Namun, sebelum membawa istrinya ke dalam, pria tersebut berbalik sembari mengucapkan banyak rasa terima kasih pada teman-temannya.
"Terima kasih banyak karena kalian sudah membantu kami. Bahkan aku merasa ... rasa terima kasih saja tidak cukup untuk membalas semua yang kalian lakukan untuk kami," papar Fahri.
"Kamu tidak usah berlebihan. Sebaiknya bawa Arumi ke kamar dan beristirahat lah. Sekalian aku dan Elena juga ingin berpamitan pulang karena hari sudah larut malam," ujar Samuel.
"Kalau begitu, aku juga pamit pulang. Mungkin besok malam aku akan berkunjung lagi kemari," ucap Indra.
Samuel dan Elena menaiki mobil yang sama, sedangkan Indra menaiki kendaraan yang diberikan oleh Arumi sebelumnya.
Kedua mobil tersebut langsung melaju ke jalanan. Namun, mereka menekan klakson terlebih dahulu sebelum benar-benar meninggalkan Arumi dan Fahri.
Saat melihat mereka sudah menjauh, Fahri pun langsung membawa istri tercintanya menuju ke kamar. Pria tersebut meniti tangga perlahan demi perlahan. Mata mereka saling memandang menyiratkan kesedihan yang telah keduanya lalui.
Mengingat bagaimana Arumi yang tak bisa yang tak bisa pulang melihat ayahnya untuk yang terakhir kalinya. Semua itu sudah direncanakan oleh Dewi. Serta saat mereka benar-benar hancur karena telah kehilangan sang buah hati yang mereka nanti-nantikan.
Fahri membuka pintu kamarnya. Pria tersebut perlahan membaringkan tubuh sang istri ke atas tempat tidur.
Ia menyibak anak rambut yang menutupi wajah istrinya, mengambil handuk kecil serta air hangat untuk membersihkan wajah Arumi.
"Pasti sangat sakit sekali,"ujar Fahri tak kuasa menahan air matanya sembari menyentuh setiap lebam di wajah cantik milik sang istri.
"Maafkan aku karena tidak bisa menjagamu dengan baik, istriku."
Arumi menggelengkan kepala, " Kamu sudah menjagaku dengan baik, Mas. Jangan merasa bersalah akan hal ini," ucap Arumi.
Arumi pun perlahan bangun dari pembaringannya. Wanita tersebut meraba rambutnya yang dipotong tak rata oleh Dewi.
"Mas, bisakah kamu merapikan rambutku. Tidak apa-apa dicukur habis saja, karena ini akan bertambah jelek jika ada yang botak dan ada yang masih memiliki rambut seperti ini," ujar Arumi sembari tertawa kecil, akan tetapi di dalam hatinya ia menangis karena harus merelakan rambut kesayangannya.
"Tapi ...."
"Tidak apa-apa, Mas." Arumi meyakinkan Fahri.
"Baiklah," ujar Fahri.
Pria tersebut membawa Arumi ke kamar mandi untuk merapikan rambutnya. Fahri meninggalkan Arumi sejenak, masuk kembali ke kamar mandi dengan alat cukur yang ada di tangannya.
Sebelum mencukur rambut istrinya, Fahri menghela napas, lalu kemudian mulai mencukuri rambut Arumi dengan pelan.
Setelah rambutnya benar-benar habis, Arumi menatap ke cermin yang ada di depannya. Wanita itu mengulas senyum, akan tetapi terlihat jelas gurat kesedihan di wajahnya.
Namun, saat melihat ke pantulan cermin, Arumi langsung menutup mulutnya tidak percaya. Ia menitikkan air mata saat Fahri juga ikut mencukur habis rambutnya.
Arumi tak dapat lagi menahan air matanya saat Fahri telah mencukur habis rambutnya. Pria itu tersenyum sembari memeluk istrinya dari belakang.
"Kenapa kamu harus berbuat sejauh ini Mas?" tanya Arumi sembari menitikkan air matanya.
"Aku tidak ingin hanya kamu yang merasakan malunya. Jika kamu terluka, maka aku juga harus ikut terluka. Bukankah kita adalah pasangan yang manis, bahkan kita sama-sama tidak memiliki rambut saat ini," ujar Fahri sembari terkekeh geli.
Arumi memukul pelan dada bidang suaminya. Lalu kemudian wanita itu langsung memeluk Fahri dengan begitu erat.
"Terima kasih karena telah mencintaiku, Mas."
Bersambung ...