Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 152. Calon Menantu


Samuel membawa langkah kakinya dengan gontai. Pria tersebut langsung menghampiri sepeda motor yang berada di parkiran. Saat Samuel hendak menunggangi kuda besinya, tiba-tiba ada yang menepuk bahunya dari belakang.


Samuel terperanjat, pria itu pun langsung mengarahkan pandangannya ke belakang. Matanya menyipit melihat Fahri yang tengah tersenyum ke arahnya.


"Kamu mau kemana?" tanya Fahri.


"Aku mau pulang," timpal Samuel.


"Acara belum dimulai kenapa sudah pulang" tanya Fahri lagi.


"Aku hanya ingin pulang saja," jawab Samuel yang tampak malas berbicara.


Tak lama kemudian, Fahri pun menarik Samuel ke dalam. Pria itu terkejut dan berusaha melepaskan tangannya yang ditarik oleh Fahri.


"Apa yang kamu lakukan, lepaskan aku!" tukas Samuel.


"Aku tahu kamu malu karena tidak membawa pasangan. Santai saja, aku akan menjadi pasanganmu hari ini. Dari pada pulang, lebih baik kita menikmati hidangan gratis di sini," ujar Fahri yang memang mengetahui bahwa Samuel adalah penikmat makanan gratisan meskipun dia sebenarnya mampu membeli makanan tersebut.


Samuel hanya bisa menghela napasnya berat, ia mengikuti kemana Fahri membawanya pergi. Semua rencana untuk pulang dan menikmati kegundahannya menjadi sirna seketika. Kini Samuel harus menelan pil pahit, dimana menyaksikan secara langsung Elena di persunting oleh pria lain.


Dan kali ini sialnya, Fahri membawa Samuel ke ruangan tepat dimana adanya Elena. Di dalam ruangan itu, Arumi tampak tersenyum sembari melambaikan tangannya pada suami dan pria yang telah dianggap sebagai kakaknya itu.


Sementara Elena, gadis itu mematung. Ia melihat Samuel dengan seribu rasa yang membuncah. Rasa marah, akan tetapi diselingi juga rasa rindu karena beberapa hari terakhir ia tak melihat pria itu.


Arumi langsung menghampiri suami tampannya. Wanita itu berdiri di samping Fahri dan menggamit lengan Fahri yang satu lagi, karena yang satunya saat ini tengah digamit oleh Samuel.


"Mas, temani aku ke toilet sebentar," ujar Arumi mencari alasan. Ia membiarkan Samuel berdua dengan Elena terlebih dahulu sebelum Elena benar-benar menjadi milik orang lain.


Fahri awalnya mengernyit, Arumi tak pernah minta ditemani ke toilet. Namun, saat melihat istrinya itu memberikan kode berupa kerlingan mata, Fahri pun mengerti.


"Sam, aku menemani Arumi ke toilet terlebih dahulu," ucap Fahri melepaskan tangannya lalu kemudian menepuk bahu Samuel.


Samuel menimpalinya dengan sebuah anggukan pelan. Ia pun melihat Arumi dan Fahri yang melangkah pergi meninggalkannya.


Kini hanya ada dirinya dan calon pengantin yang akan di persunting oleh pria lain saat ini. Cukup lama keduanya terdiam. Hingga akhirnya, Elena pun menurunkan ego nya. Ia memilih untuk membuka suara terlebih dahulu.


"Kamu terlihat tampan dengan setelan ini," ujar Elena yang mencoba untuk memulai topik pembicaraan.


"Terima kasih," ucap Samuel sembari tersenyum simpul.


"Kamu juga sangat cantik hari ini," sambung Samuel.


Elena tersipu, ia memalingkan wajahnya, mencoba untuk tidak menumpahkan air matanya. "Tolong, aku ingin dia melihatku bahwa aku bahagia di hari ini. Jangan menangis, Elena!" batin Elena mencoba mensugesti dirinya.


Samuel melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Acaranya akan dimulai sebentar lagi. Mana calon suamimu?" tanya Samuel.


"Dia sedang dalam perjalanan menuju kemari," timpal Elena seraya menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah lengkungan. Meskipun hatinya berkata lain, akan tetapi gadis itu berusaha keras untuk tetap tersenyum di hadapan pria yang tak pernah membalas cintanya.


Samuel menyodorkan tangannya, pria itu tersenyum sembari berkata. "Sekali lagi, aku ucapkan selamat atas pernikahanmu. Jadilah istri yang baik untuk suamimu, jangan membantah! Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian," ucap Samuel yang mencoba untuk berlapang dada.


Tes ...


Air mata yang sedari ditahan oleh Elena, akhirnya jatuh juga. Ucapan selamat dari Samuel membuat dirinya merasakan sesuatu yang tak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Ingin rasanya ia mengumpat karena Samuel yang tak pernah sedetikpun membalas cintanya. Namun, bagaimana pun juga Elena tak bisa memaksakan kehendaknya.


Gadis itu membalas jabatan tangan pria yang hingga kini masih mengisi relung hatinya. "Terima kasih atas ucapannya. Aku harap kamu juga menemukan wanita yang pantas untuk dicintai. Jika telah menemukannya, cintai dia sepenuh hati tanpa harus membuang waktu lagi," tutur Elena.


Samuel tersenyum, lalu kemudian menganggukkan kepalanya. "Aku sudah merasakan penyesalan itu. Dan jika aku mendapatkannya, maka aku tidak akan menyia-nyiakan nya lagi," ujar Samuel.


Elena tak mengerti maksud ucapan Samuel. Mungkin karena ia gagal mempertahankan Arumi dulu. Padahal yang dimaksudkan oleh Samuel adalah Elena, wanita yang saat ini tengah menjabat tangannya.


Tak lama kemudian, jabatan tangan keduanya pun terlepas. Samuel mengarahkan pandangannya ke pintu, sudah lima belas menit terlewat, akan tetapi Arumi dan Fahri tak kunjung kembali ke ruangan tersebut.


"Kalau begitu, aku akan menunggu di luar saja. Tidak enak jika hanya aku dan kamu saja yang berada di sini . Lagi pula, acaranya akan segera dimulai," kata Samuel.


Samuel membawa langkah kakinya untuk pergi meninggalkan Elena. Karena sudah terlanjur berada di sini, Samuel pun memilih untuk menyaksikan acaranya hingga selesai. Namun, ia memiliki harapan buruk untuk pernikahan Elena.


"Ku harap, pengantin prianya tidak datang. Hingga ia pun tak jadi diperistri oleh orang lain," ujar Samuel dalam hati.


Mungkin itu adalah do'a terburuk yang pernah dipanjatkan untuk mereka yang hendak melangsungkan pernikahan hari ini. Namun, Samuel berharap Tuhan akan mengabulkan permintaannya kali ini. Tak peduli ia dipandang jahat sekalipun. Karena memang pria itu baru menyadari, bahwa yang ia rasakan pada Elena bukanlah rasa nyaman sebatas pertemanan saja. Semua itu juga dilandaskan rasa cinta yang tak pernah ia sadari sebelumnya.


Tiga puluh menit telah berlalu. Namun, pengantin pria tak juga kunjung datang. Semua orang tampak berbisik sembari bergosip tentang pernikahan kali ini yang dinilai memiliki kekurangan, karena mempelai pria yang tak kunjung hadir.


Samuel beberapa kali melihat jamnya. Pria itu pun mengerutkan keningnya karena memang waktu yang ditentukan sudah terlewat.


"Apakah Tuhan mendengarkan do'aku tadi?" gumam Samuel.


Sementara Elena, ia hanya menatap lurus ke depan. Hal ini sudah bisa diprediksi dari sebelumnya. Dan ia mencoba untuk menahan air matanya dan menanggung malu setelah ini.


Tak lama kemudian, ia melihat ayahnya dengan wajah yang masam masuk ke dalam ruangan tersebut. "Bagaimana Tomi? Kenapa dia belum datang juga. Ini sudah lewat dari tiga puluh menit!" gerutu Pak Beni sembari memijat keningnya.


Selang beberapa menit kemudian, Bu Ani pun ikut masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia mencoba untuk menenangkan suaminya.


"Kita tunggu sebentar lagi, Pa. Mungkin sekarang Tomi sedang berada dalam perjalanan,"ucap Bu Ani.


Sesaat kemudian, pandangan mereka teralihkan dengan dering ponsel Elena yang berada di atas meja. Elena meraih ponselnya, ia melihat panggilan tersebut tak lain dari calon suaminya.


Elena menerima panggilan tersebut, lalu kemudian mengaktifkan loud speaker supaya kedua orang tuanya dapat mendengar apa yang diucapkan oleh Tomi.


"Maafkan aku, aku tidak akan hadir di pernikahan kita karena aku tidak mencintaimu. Aku akan menikah dengan wanita pilihanku," ujar Tomi dari seberang telepon.


Pak Beni yang mendengar hal tersebut langsung tersulut emosi. Pria yang rambutnya sudah mulai memutih itu pun langsung merebut ponsel Elena.


"Ku harap kamu tidak akan bahagia dengan pernikahan mu karena telah mempermainkan kami," ketus Pak Beni yang langsung melemparkan ponsel Elena ke sembarang arah.


Elena dan Bu Ani memejamkan matanya merasa sedikit takut saat ponsel itu hancur karena mengenai dinding di ruangan itu.


"Sekarang, lepas gaun pengantinmu! Gantilah dengan baju biasa. Tidak akan ada pernikahan hari ini. Semuanya sudah hancur tanpa sisa karena bajingan itu!" cecar Pak Beni.


Elena hanya diam, gadis itu menitikkan air matanya karena sedih melihat kedua orang tuanya harus menanggung malu karena ini.


"Kenapa kamu hanya diam! Papa suruh kamu berganti pakaian sekarang!" seru Pak Beni.


Brakkk ...


Terdengar suara benturan pintu yang begitu keras. Ketiga orang tersebut langsung mengarahkan pandangannya pada sumber suara. Elena terbelalak melihat Samuel masuk begitu saja disaat ayahnya tengah emosi seperti ini.


"Siapa kamu?! Apakah kamu tidak memiliki sopan santun, hah?!" bentak Pak Beni yang juga memarahi Samuel.


"Perkenalkan, saya Samuel. Calon menantu bapak," ujar Samuel dengan begitu mantap.


Pak Beni beserta istrinya langsung tertegun. Begitu pula dengan Elena yang tak kalah terkejut mendengar penuturan dari Samuel.


"Samuel, hentikan! Tolong jangan bercanda! Papa saat ini sedang emosi," ucap Elena.


"Apakah kamu sudah gila?!" tanya Pak Beni sedikit ketus.


"Ya, saya rasa seperti itu, Pak. Tapi ... hari ini pernikahan akan tetap berjalan karena aku yang akan menggantikan posisi pria itu," tukas Samuel yang amat begitu yakin.


Elena menggeleng-gelengkan kepalanya, sementara Samuel menatap Pak Beni dengan begitu mantap.


Bersambung ....


Kira-kira direstuin nggak nih sama calon mertua kalo caranya rasa bar-bar begini?