Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 137. Masuk Angin


Setelah mengantarkan Samuel pulang, Elena belum langsung pergi menuju ke rumahnya. Wanita itu singgah di sebuah taman kota, duduk sendirian bersama dengan minuman bersoda dengan kemasan kaleng menemaninya kala itu.


[Pulanglah, waktu pernikahanmu sudah dimajukan. Keputusan mama dan papa tidak bisa diganggu gugat! ]


Elena masih mengingat isi pesan yang dikirimkan oleh ibunya. Sebelumnya, memang kedua orang tuanya sudah mengatur perjodohan untuknya karena mengingat usia Elena yang sudah cukup berumur.


Gadis itu menenggak minumannya. Matanya sedikit berkaca-kaca mengingat semua yang ia alami saat ini akan hilang begitu saja. Samuel tak kunjung membalas cintanya, meskipun Elena sudah menunjukkan semuanya dengan begitu jelas.


"Semuanya sudah selesai, aku memilih menyerah untuk mengejarmu," gumam Elena.


.....


Di lain tempat, Samuel baru saja naik ke kasurnya, bersiap untuk tidur. Tak lama kemudian, ia pun mendengar suara ponselnya berdering. Samuel meraih benda pipih tersebut di atas nakas. Lalu kemudian mengusap layar ponselnya, untuk mengangkat panggilan dari Elena.


"Hmmm ... ada apa El? Kenapa kamu tiba-tiba saja meneleponku malam-malam begini?" tanya Samuel melihat jam dinding yang menunjukkan waktu pukul 10 malam.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu," ujar Elena dari seberang telepon.


"Katakanlah! aku akan mendengarnya." Samuel yang semula duduk, mengganti posisinya dengan sedikit berbaring. Pria itu mengernyitkan keningnya saat merasa pinggangnya terasa sangat pegal.


Cukup lama Samuel menunggu Elena berbicara, akan tetapi yang terdengar hanya helaan napas yang panjang.


"El, ...." Samuel menautkan kedua alisnya, karena ia merasa bahwa saat ini Elena benar-benar tidak baik-baik saja.


"Kamu boleh berhenti bekerja besok. Dan hutangnya ... lupakan saja. Aku berniat ingin membantumu dengan cara itu," ucap Elena.


Samuel cukup lama tertegun. Entah mengapa Elena bersikap begitu aneh. "Hutangku lima ratus juta loh, El. Apakah kamu sedermawan itu memberikanku uang dalam jumlah yang besar?" tanya Samuel.


"Tidak apa-apa. Aku adalah temanmu yang paling baik, bukan? Mulai sekarang, aku tidak ingin membahas masalah hutang lagi. Sudah! Aku mengantuk! Aku tutup teleponnya."


Samuel melongo, menatap panggilannya yang sudah diputus secara sepihak. "Kenapa dia aneh sekali," gumam pria tersebut.


Samuel mencoba menghubungi Elena lagi. Elena pun mengangkat panggilan tersebut. "El, apakah kamu tidak apa-apa?" tanya Samuel pada gadis yang ada di seberang telepon itu.


"Aku tidak apa-apa, Sam. Aku ingin tidur, aku tutup ya teleponnya," ujar Elena yang kembali menutup panggilannya.


Samuel menjengit, pria tersebut meletakkan ponselnya di atas nakas karena merasa sudah memastikan bahwa tak ada yang terjadi pada Elena. Semua itu hanya pikirannya saja.


"Dia tidak apa-apa, mungkin firasatku saja yang berlebihan," gumam Samuel.


Pria itu pun langsung menarik selimutnya, hanya bisa memeluk bantal guling yang menemani malamnya, karena pasangan tentunya Samuel belum memilikinya.


Di waktu yang bersamaan, Elena menangis tersedu. Air matanya yang ia tahan sedari tadi saat panggilannya masih terhubung, kini tak bisa dibendung lagi.


Tak lama kemudian, ponselnya kembali berdering. Elena melirik sejenak, siapa yang meneleponnya saat itu. Ia melihat kontak ibunya tertera di layar ponsel itu.


Elena memilih untuk mengabaikannya. Ia ingin tetap berada di sini terlebih dahulu, mencoba menenangkan pikirannya dan berdamai dengan keadaan, karena setelah ini ia akan merelakan hidupnya, berada di samping pria yang tak ia cintai dan pria itu pun tak mencintainya.


.....


Keesokan harinya, matahari mulai menampakkan sinarnya. Suara kicauan burung pun serta ayam jantan yang berkokok saling bersahutan menyambut suasana pagi itu.


Perlahan, Fahri membuka matanya. Ia hendak memeluk istrinya, akan tetapi pria itu baru menyadari bahwa Arumi sudah tidak ada lagi di sebelahnya.


Kali ini ada sesuatu yang berbeda dengan Arumi. Wanita itu mengenakan celemek yang bermotifkan hello kitty.


"Sayang, lihatlah! Aku cantik kan pakai ini?" tanya Arumi sembari memutar-mutar tubuhnya di depan sang suami.


Fahri mengubah posisinya menjadi duduk. Dengan rambut yang sedikit acak-acakan, pria itu pun menimpali istrinya dengan sebuah anggukan pelan.


"Segeralah mandi, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu," ujar Arumi dengan antusias.


"Sarapan? Kamu yang masak?" tanya Fahri sembari mengucek matanya.


"Iya, Mas. Tadi aku belajar otodidak," ujar Arumi sembari terkekeh.


"Masak apa?" tanya Fahri lagi.


"Omelette, Mas. Kamu pasti suka. Ayo bergegaslah mandi dan sarapan bersama," ucap Arumi sembari menarik sedikit tangan suaminya.


"Iya ... iya ... Mas bangun," ujar Fahri yang langsung beranjak dari tempat tidurnya.


Saat hendak menuju ke kamar mandi, pria tersebut menatap wajah istrinya. Mata Arumi menyipit sembari memperlihatkan senyumannya yang begitu manis.


Fahri menggeram kesal. Ia benar-benar gemas melihat tingkah istrinya seperti itu. Melihat Fahri yang tak kunjung pergi, membuat Arumi pun mengubah posisinya di belakang Fahri. Lalu kemudian wanita itu pun mendorong tubuh suaminya, menuntun Fahri untuk pergi ke kamar mandi.


Dengan langkah yang gontai dan setengah malas, Fahri pun menuju ke kamar mandi. Setelah melihat suaminya masuk ke dalam kamar mandi, Arumi pun memilih untuk membereskan tempat tidur mereka yang sedikit acak-acakan, lalu kemudian menyiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh Fahri saat hendak ke kantor nanti.


"Sepertinya ... aku tidak usah ke kantor saja hari ini. Soalnya jika di kantor pun aku hanya menghabiskan waktu dengan tidur saja di sana. Lebih baik aku tinggal di rumah, dan membantu packing barang untuk suamiku nanti. Besok dia hendak pergi ke luar kota," gumam Arumi sembari meletakkan baju yang di siapkannya untuk di pakai dan diletakkan di atas tempat tidur.


Berselang sepuluh menit kemudian, Fahri pun keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih fresh. Dengan hanya mengenakan lilitan kain handuk, Fahri berjalan menghampiri sang istri yang tengah memunggunginya.


Aroma mint tercium di indera penciuman Arumi. Wanita itu pun langsung berbalik, menyadari bahwa sang suami tengah menghampirinya saat itu.


Arumi berusaha keras menelan salivanya, melihat rambut basah Fahri, wajah freshnya, serta otot-otot yang tercetak sempurna karena pria itu hanya mengenakan lilitan kain handuk saja.


"Astaga ... kenapa dia begitu memikat sekali," batin Arumi yang tak mengalihkan pandangannya pada otot-otot perut yang terbentuk sempurna itu.


Fahri menyadari tatapan Arumi, pria itu pun tersenyum penuh arti. "Nanti Sayang, tunggu kandunganmu kuat dulu," ucap Fahri.


Jedderr ...


Bak petir di siang hari, mendengar ucapan suaminya itu yang langsung membuat Arumi mengalihkan pandangannya.


"Si-siapa juga yang menginginkannya. Aku hanya memandangi mu hanya untuk mencerca dirimu. Kenapa kamu tak langsung memakai pakaian mu, nanti masuk angin!" tukas Arumi yang mencoba menyembunyikan rona merah di wajahnya.


"Benarkah? Kalau begitu bisakah kamu membantuku mengenakan pakaian?" goda Fahri yang semakin mendekat.


Arumi langsung memasang siaga 1. Ia pun sedikit mendorong Fahri, lalu kemudian melangkah pergi dari ruangan itu. Namun, sebelumnya Arumi berbalik terlebih dahulu.


"Kamu sudah besar, tidak usah minta pakaikan pakaianmu!" ketus Arumi yang kemudian langsung pergi dari kamarnya.


Bersambung ....