
Citttt ...
Arumi menginjak rem dengan mendadak saat tiba di depan kantor. Kepala Fahri sedikit terbentur. Meskipun sudah berpegangan dengan erat, tak menutup kemungkinan bahwa ia akan terpental juga.
Arumi melirik Fahri sejenak, lalu tersenyum samar. Gadis itu melepaskan sabuk pengaman yang melingkar di tubuhnya. Ia pun turun dari kendaraan tersebut lebih dulu.
Sementara Fahri, pria itu masih menormalkan napasnya. Lalu kemudian melepaskan sabuk pengaman dan ikut turun dari kendaraan tersebut.
Tak lama kemudian, mobil yang biasanya dikendarai oleh Indra tiba di parkiran. Pria dengan postur tubuh yang lebih pendek dari Fahri keluar dari kendaraannya. Indra menatap Arumi dan Fahri secara bergantian.
"Kalian datang bersama?" tanya Indra dengan wajah yang heran.
"Jika sudah tahu, kenapa masih bertanya," celetuk Arumi sembari melepaskan kacamatanya, lalu kemudian menyimpannya di dalam tas jinjing yang ia bawa.
Indra menatap ke arah Arumi dengan tatapan tak suka. Lalu kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Fahri yang sedari tadi hanya menunduk.
"Kamu!! Kenapa jam segini baru datang? Apakah kamu merasa menjadi bos? Datang sesuka hatimu?!" ketus Indra pada Fahri.
"Maafkan saya, Pak."
Melihat Indra yang selalu bersikap kasar pada Fahri, membuat Arumi merasa geram. "Kamu juga. Apakah kamu sudah merasa menjadi bos karena sesuka hatimu memarahi karyawan di sini?" balas Arumi yang tak kalah ketus. Mata sipitnya menatap tajam ke arah Indra.
"Aku perhatikan, kamu selalu saja bertindak sesuka hatimu memarahi karyawan di sini. Ingat! Kamu menjadi pemimpin hanya karena semua tahu bahwa kondisiku yang saat itu sedang sakit. Tapi, perlu kamu ingat! Aku bisa saja merebut posisi itu kembali, kapan pun aku mau. Jadi bersiaplah!" ancam Arumi.
Indra hanya meneguk salivanya. Pria itu memilih untuk pergi meninggalkan keduanya tanpa mengucapkan sepatah katapun setelah di skakmat oleh Arumi.
Arumi melirik Fahri yang masih menunduk. Pria yang satu ini bak kerbau yang dicocok hidungnya. Ia selalu saja menurut dan patuh dengan orang-orang yang menindasnya.
"Angkat kepalamu dan tegakkan pandanganmu!" seru Arumi kepada Fahri.
"Jika kamu selalu bersikap seperti ini, maka orang-orang akan selalu menginjak kepalamu! Kamu adalah seorang pria lemah yang membiarkan dirimu ditindas sesuka hati," ketus Arumi yang sedikit memberikan petuah pada Fahri.
"Pertimbangkanlah tawaranku tadi. Jika kamu menerimanya, maka akan ku pastikan kamu akan disegani oleh orang lain. Pikirkan itu!"
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Arumi pun langsung kembali masuk ke dalam mobilnya. Gadis itu melajukan kendaraannya, pergi meninggalkan tempat tersebut. Karena memang dari awal, Arumi tidak memiliki niat untuk datang ke kantor. Hanya saja, ia ingin mengantarkan Fahri, memberikan tumpangan pada pria itu agar tidak kelelahan berlarian menuju ke kantor.
Fahri hanya menatap mobil yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya. Ia masih memikirkan apa yang baru saja dilontarkan Arumi. Bahkan, Fahri lupa untuk berterima kasih pada wanita itu karena telah memberikan tumpangan padanya.
Fahri langsung berjalan menuju pintu masuk. Ia mengulas senyum pada satpam yang tengah berjaga di depan. Satpam tersebut tersenyum penuh arti, karena ia sempat menyaksikan perdebatan antara Arumi dan Indra.
"Aku juga berharap, suatu saat nanti Bu Arumi kembali memimpin perusahaan," gumam satpam tersebut.
.....
Sifa melakukan aktivitas seperti biasanya. Melayani pembeli adalah pekerjaannya. Namun, kali ini wanita tersebut terlihat sedikit tak bersemangat memikirkan sikap Fahri yang sedikit kasar pagi tadi. Di samping itu, ia juga memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang dua ratus juta dalam sebulan untuk melunasi hutangnya pada Elena.
"Kamu terlihat sedikit pucat. Apakah kamu sakit?" tanya teman kerjanya.
Sifa menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak. Aku hanya sedikit memikirkan sesuatu saja," sahut Sifa.
"Oh iya. Pria yang membawa mobil Lamborghini kemarin, dia muncul lagi. Sepertinya menunggumu di depan," celetuk teman kerja Sifa tersenyum penuh arti.
"Benarkah?" Sifa melirik jam tangannya. "Sebentar lagi jam makan siang," gumam wanita itu.
Cukup lama Sifa terdiam saat mendapatkan pertanyaan seperti itu. Selama ini memang tak ada satu pun temannya yang mengetahui rupa suaminya. Mereka hanya mengetahui bahwa Sifa sudah menikah.
"Iya," ujar Sifa menimpali ucapan temannya itu.
"Wah ... ternyata kamu memiliki suami yang sangat kaya. Kenapa kamu bersusah payah bekerja seperti ini sedangkan suamimu kaya raya," ucap wanita dengan perawakan sedikit gempal itu.
"Aku tidak ingin terlalu bergantung padanya," timpal Sifa. Wanita itu begitu lihai menjawab semua pertanyaan tersebut dengan semua kebohongan belaka.
"Kalau pria yang membawa Lamborgini itu adalah suamimu, lantas pria yang pernah menemuimu waktu itu siapa? Kalau tidak salah, dia membawa id card-mu waktu itu," ujar wanita tersebut.
Senyum di wajah Sifa menjadi memudar. Pria yang dimaksudkan oleh temannya itu adalah Fahri. Yang pernah datang kemari untuk mengantarkan id card-nya yang tertinggal.
"Ah yang itu ... dia hanya tetangga saja. Suamiku meminta bantuannya karena tidak bisa mengantarkan id card ku secara langsung,"ucap Sifa yang kembali berbohong.
"Kamu mau titip makanan? Aku akan keluar sekalian menemui suamiku," ujar Sifa yang mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia takut jika temannya akan kembali membahas tentang Fahri.
"Ya. Aku titip seperti biasanya ya!" seru wanita tersebut.
"Oke." Sifa langsung meninggalkan temannya, berjalan menuju ke arah pintu keluar.
Wanita bertubuh gempal itu melihat Sifa yang berjalan semakin menjauhinya. "Ku kira pria yang mengantarkan id card itu adalah suaminya. Jika dipikir-pikir, lebih tampan pria itu dibandingkan pria Lamborghini yang ada di luar sana," gumamnya.
Sifa berjalan keluar menghampiri Aldo. Saat melihat Sifa yang semakin mendekat, Aldo menyunggingkan senyumnya.
"Kenapa kamu ke sini?" tanya Sifa.
"Di luar dugaan. Ku kira kamu akan senang dengan kehadiranku," ujar Aldo seraya mencebikkan bibirnya.
"Bukan begitu maksudku. Kalau bisa, kamu jangan terlalu sering untuk datang kemari. Tidak enak jika dilihat dengan yang lainnya," jelas Sifa.
"Apakah kamu merasa malu?"
"Bukan seperti itu. Teman-temanku terlalu sering melihatmu. Aku takut nanti mereka akan jatuh hati pula denganmu," tutur Sifa.
Aldo tersenyum, lalu kemudian menarik ujung hidung Sifa. "Aku senang melihatmu cemburu seperti ini."
"Baiklah. Kalau begitu, mari kita bertemu nanti malam. Aku akan menunggumu di tempat biasanya," ujar Aldo mengerlingkan matanya dengan nakal.
Setelah menggoda Sifa, ia pun masuk ke dalam mobilnya.
"Hati-hati di jalan. Aku akan mengabarimu jika hendak menuju ke sana," ucap Sifa dengan semburat kemerahan di wajahnya.
Aldo pun mengangguk. Pria tersebut menekan klaksonnya sejenak, lalu kemudian melajukan kendaraannya.
Sifa tak berhenti mengulas senyum setelah kepergian Aldo. Wanita tersebut berjalan menuju ke kedai yang tak jauh dari tempat kerjanya, untuk membeli makan siang serta titipan temannya tadi.
Dari jauh, Arumi menyaksikan semuanya. Di dalam mobil, gadis itu memata-matai Aldo dan Sifa. Arumi tersenyum melihat Aldo yang sudah berani menggoda Sifa di tempat terbuka tanpa menyembunyikan hubungan keduanya.
"Mereka seperti suami dan istri sungguhan. Rayu terus, Aldo. Supaya aku lebih mudah untuk merebut suaminya nanti," gumam Arumi tersenyum licik.
Bersambung ...