Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 163. Mengunjungi Indra


Malam itu, pelayan yang merupakan kaki tangan Dewi memilih untuk menyendiri di halaman belakang. Wanita itu berada di tempat sepi, lalu kemudian merogoh ponsel di dalam sakunya, berencana untuk menelepon Dewi.


Ia menempelkan benda pipih tersebut di salah satu telinga, hingga akhirnya terdengar suara wanita yang menyambut panggilan teleponnya.


"Bagaimana? Apakah semuanya aman terkendali?" tanya Dewi.


"Iya, Nyonya. Semuanya masih aman terkendali. Meskipun penjagaan di sini ketat, akan tetapi tak ada satu pun dari mereka yang menaruh curiga padaku," ucap pelayan tersebut.


"Bagus, kalau begitu kita akan mulai melancarkan rencana yang kemarin," ujar Dewi dari seberang telepon.


"Kira-kira kapan rencana itu akan dilaksanakan, Nyonya?" tanya pelayan tersebut.


"Tunggu saja perintah dariku," ujar Dewi diiringi dengan tawa yang begitu membahana.


Sambungan telepon terputus, Pelayan tersebut kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia tersentak, karena melihat kepala pelayan yang sudah berdiri di hadapannya.


"Sedang apa kamu di sini?" tanya kepala pelayan tersebut.


"Ah ini ... aku baru saja berbincang dengan kekasihku. Aku sedikit malu jika harus berbicara terang-terangan. Maka dari itu, aku memilih bersembunyi," papar pelayan tersebut.


"Apakah Bu Siti sempat mendengar perbincangan kami?" tanya pelayan tersebut penuh selidik.


"Aku? Aku baru saja datang. Tentu saja aku tidak mendengar apapun yang kamu perbincangan dengan kekasihmu itu," ujar Kepala pelayan.


"Syukurlah jika Bu Siti tak mendengarnya. Aku akan merasa sangat malu jika ibu mengetahuinya. Apalagi yang kami bicarakan cukup intim. Kalau begitu, saya permisi dulu," ucap pelayan tersebut yang langsung berlalu dari hadapan kepala pelayan yang diketahui namanya adalah Bu Siti.


"Vera, ..."


Merasa namanya dipanggil oleh kepala pelayan, wanita itu pun langsung berbalik menatap wanita paruh baya tersebut.


"Kira-kira seintim apa perbincangan kalian? Lain kali tidak perlu sembunyi-sembunyi. Aku wanita dengan usia 52 tahun, tentunya aku sudah sangat berpengalaman dengan yang kamu katakan intim itu," ucap kepala pelayan sembari terkekeh.


Vera, yang merupakan kaki tangan Dewi pun hanya menimpali ucapan kepala pelayan dengan sebuah anggukan. Wanita itu pun langsung pergi meninggalkan kepala pelayan sendirian di tempat tersebut.


Kepala pelayan memperhatikan bawahannya yang semakin lama semakin hilang dari pandangannya. Wanita paruh baya tersebut mengukir senyum sinis dari sudut bibirnya.


....


Keesokan harinya, Arumi hendak menyiapkan semua perlengkapan Fahri untuk pergi ke kantor. Akan tetapi, Fahri langsung mencegah Arumi.


"Sayang, jika kamu masih bersikeras seperti ini, aku tidak akan pergi ke kantor hari ini!" tegas Fahri.


Mendengar hal tersebut bibir Arumi langsung mengerucut. Wanita tersebut memilih untuk duduk saja, dengan mata yang melihat ke sana dan kemari, hanya bisa menonton sang suami yang bersiap dengan sendirinya.


Setelah semuanya selesai, Fahri melihat Arumi yang hanya diam sembari memperhatikannya.


"Mas, kira-kira kapan aku diperbolehkan untuk bebas. Jujur, Mas sangat terbatas memberikan ruang gerak padaku. Dan ini membuat diriku terasa sesak," protes Arumi.


"Tapi kamu belum sembuh total, Sayang."


"Alasan dokter menyuruhku untuk pulang karena aku sudah tidak apa-apa, Mas." Arumi langsung menyela ucapan suaminya.


"Baiklah, kamu boleh melakukan apapun asalkan hal tersebut tidak membahayakan mu," ujar Fahri sembari menangkup wajah istrinya.


Melihat emosi dari sang istri sudah mereda, Fahri langsung membawa Arumi ke bawah, untuk menikmati sarapan bersama dengan sang istri tercinta.


Setelah menyelesaikan sarapan, sepasang suami istri itu pun langsung berjalan keluar. Seperti biasanya, Fahri berpamitan pada istrinya dengan memberikan kecupan singkat di kening sang istri. Dan Arumi mencium punggung tangan Fahri.


"Hati-hati di jalan, Mas."


Fahri mengangguk, lalu kemudian masuk ke dalam mobilnya. Arumi melambaikan tangan saat melihat mobil yang dikendarai oleh Fahri mulai melaju. Setelah mobil tersebut sudah tak terlihat lagi, Arumi langsung kembali masuk ke dalam rumah.


Baru saja ia menginjak ruang tengah, kepala pelayan datang menghampiri sembari membawa nampan yang berisikan satu toples biskuit di dalamnya.


"Ini camilan untuk menyambut pagi anda, Nyonya." Kepala pelayan menyodorkan nampan tersebut pada Arumi.


"Baiklah. Terima kasih sebelumnya. Aku akan menikmati camilan ini," ujar Arumi yang langsung mengambil toples dari atas nampan tersebut.


Arumi menarik kedua sudut bibirnya. Tak lama kemudian, kepala pelayan itu pun juga pergi dengan tersenyum samar, dan Arumi menyadari akan hal itu.


Arumi segera ke kamar, membawa toples camilan yang dibawakan oleh kepala pelayan tadi. Sesampainya di kamar, Arumi langsung menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi. Wanita itu mulai membuka toples tersebut, dan tangannya menemukan secarik kertas dengan dibalut pipet bak kertas kocokan arisan.


Arumi membuka kertas tersebut, ia pun mengernyitkan keningnya saat membaca kalimat yang tertulis di kertas itu.


Arumi beranjak dari tempat duduknya. Wanita itu langsung mengambil tas jinjingnya, lalu kemudian pergi meninggalkan kamar tersebut. Namun, sebelumnya kertas tadi sudah ia robek menjadi potongan kecil.


Arumi melihat Pak Rahmat yang tengah bersantai sembari ngopi dengan beberapa penjaga. Arumi hendak menghampiri Pak Rahmat, akan tetapi ia mengurungkan niatnya.


Wanita tersebut memilih kembali ke kamar, mengambil kunci mobil yang ada di dalam laci nakas. Arumi menatap pantulan dirinya di cermin, ia meninggalkan kalung liontinnya, lalu kemudian meninggalkan ponselnya di kamar.


"Aku tidak tahu bagaimana setiap pergerakan ku dapat terbaca oleh suamiku. Namun, kali ini aku minta maaf, Mas. Aku ingin egois dulu," gumam Arumi.


Arumi keluar dari kamarnya. Wanita itu menuju garasi, mengeluarkan mobil di dalam garasi itu dengan sendirinya tanpa meminta bantuan dari supir.


Setelah berhasil, ia melihat Pak Rahmat dan penjaga lainnya sudah berdiri seakan bertanya kemana Arumi akan pergi. Arumi pun terpaksa memilih untuk turun sejenak dari dalam mobil.


"Pak Rahmat, jika Mas Fahri menanyakan keberadaan ku, katakan saja bahwa aku sedang tidur di kamar. Aku akan pergi sebentar saja karena ada urusan penting," titah Arumi.


"Tapi Nyonya ...."


"Tidak ada tapi-tapian!" tegas Arumi yang langsung menyela ucapan supirnya itu.


"Jika saya meminta kalian untuk bungkam, ya bungkam! Atau kalian semua akan ku pecat!" tukas Arumi.


"Kalian paham?!"


"Paham Nyonya," ujar mereka serentak.


Arumi kembali masuk ke dalam mobilnya. Wanita itu langsung memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, supaya cepat sampai di tempat tujuan.


Setelah menempuh perjalanan cukup lama, Arumi pun memberhentikan mobilnya di sebuah gedung lapas tahanan.


Tanpa berlama-lama, Arumi masuk ke dalam sana. Dan menghadap salah satu petugas penjaga lapas untuk meminta kunjungan.


Arumi diarahkan ke sebuah ruangan. Wanita itu menunggu sembari mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja.


Ada rasa sedikit khawatir, akan tetapi ia mencoba menepis semua itu demi satu hal. Membalaskan sebuah dendam yang tak kunjung terbalaskan.


Sesaat kemudian, Indra dibawa oleh dua petugas untuk masuk ke dalam ruangan tersebut. Pria itu tampak tak terurus. Rambutnya mulai panjang, serta kumis dan jambannya yang sudah cukup lebat tanpa dicukur.


"Aku cukup terkejut dengan pengunjung ku kali ini," ujar Indra sembari menjatuhkan bokongnya di salah satu kursi.


"Ada apa kamu datang ke sini? Apa untuk menertawai ku? Jika benar, lakukanlah!" Indra terkekeh geli.


"Aku akan menyewa pengacara yang hebat untuk memperpendek masa tahananmu," ujar Arumi.


Indra cukup tercengang mendengar apa yang baru saja dilontarkan oleh wanita cantik yang ada di hadapannya itu.


"Apakah aku tidak salah dengar?" tanya Indra dengan nada yang terkesan mengejek.


"Aku serius. Aku bisa menyewakan pengacara untukmu, akan tetapi itu tidaklah cuma-cuma," beber Arumi.


Kening Indra berkerut, salah satu alisnya tampak sedikit meninggi. "Sudah ku duga. Semua yang kamu lakukan pasti ada bayarannya. Jika aku boleh tahu, apakah yang akan kamu minta dariku?" tanya Indra dengan penuh selidik.


"Pertemukan aku dengan Dewi!" tegas Arumi dengan sorot mata yang tajam.


Bersantai ...


Eh salah, bersambung maksudnya 🤣 wkwkwk sengaja biar ngga tegang-tegang amat 😌