
Pesta telah usai, semua tamu undangan pun berangsur pergi. Arumi dan Fahri diantar menggunakan mobil pengantin menuju ke rumah. Arumi sesekali memandangi wajah suaminya yang dingin. Tampaknya Fahri masih marah padanya karena mengundang Sifa tanpa meminta persetujuan lagi dengan pria itu.
"Apakah kamu masih marah denganku?" tanya Arumi.
Fahri hanya diam, pria itu memilih untuk tidak menjawab pertanyaan yang dilayangkan oleh istrinya. Fahri mengarahkan pandangannya keluar jendela.
"Jika kamu memang marah karena aku mengundangnya, maafkan aku. Tapi bukankah ini bagus! Kamu bisa mempertontonkan di depan mantan istrimu bahwa kamu bukanlah pria yang tidak berguna. Dan bahkan dalam waktu yang dekat, kamu bisa mencari penggantinya," papar Arumi.
Fahri yang semula menatap keluar jendela, tak lama kemudian mengarahkan pandangannya pada Arumi.
"Aku hidup bersamanya sudah dua tahun, mustahil bagiku untuk bisa langsung melupakannya dalam waktu kurang dari satu bulan." Fahri menimpali Arumi dengan menatap wanita tersebut lekat.
Arumi berusaha sebisa mungkin menyembunyikan rasa kecewanya di depan Fahri. "Baiklah. Maafkan aku. Lain kali aku akan mendiskusikannya lagi padamu jika itu menyangkut tentang masa lalumu," ujar Arumi yang langsung mengalihkan pandangannya dari Fahri.
"Dasar pria bodoh! Kepala batu! Apakah kamu melupakan rasa sakitmu saat dia berselingkuh di belakangmu?" batin Arumi kesal. Ia benar-benar sangat dongkol karena Fahri yang terlalu cinta mati pada istrinya.
Tak lama kemudian, mereka pun tiba di rumah. Fahri dan Arumi keluar dari mobil pengantin yang mengantarkannya. Ia melihat Samuel yang sudah membawa tasnya dan hendak menunggangi motornya.
"Kamu mau kemana?" tanya Arumi kepada Samuel.
"Ya pulanglah. Apakah aku harus mendengar bisingnya malam pertama?" timpal Samuel.
Seketika wajah Arumi memerah. Ia memukul pelan lengan pria itu. "Jaga ucapanmu!" ketus gadis tersebut.
"Baiklah aku minta maaf. Aku pulang karena tugasku untuk menjagamu di sini sudah selesai. Kamu telah bersuami, dan tidak mungkin aku tetap berada di sini," jelas Samuel menatap Arumi dengan tersenyum.
"Tapi tenang saja. Aku tetap asistenmu. Kamu membutuhkanku, segeralah meneleponku. Ku harap, kamu memberikan bayaran yang cukup besar atas waktuku kemarin," lanjut pria tersebut diiringi dengan kekehan kecil.
"Dan kamu, ingat pesanku yang kemarin!" ujar Samuel kembali memberikan peringatan pada Fahri.
Setelah berucap demikian, ia pun menunggangi sepeda motornya. Samuel membunyikan klakson terlebih dahulu, lalu kemudian melajukan motornya ke jalanan.
Setelah Samuel tak terlihat lagi dari pandangannya, Arumi berjalan masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Fahri yang ada di belakangnya.
Para pelayan menyambut kedatangan Arumi. Wanita tersebut langsung menaiki tangga untuk masuk ke dalam kamarnya. Fahri mengikuti langkah Arumi, karena kamar yang ia tempati letaknya tak jauh dari kamar sang istri.
"Selamat beristirahat," gumam Fahri yang hendak berucap kepada Arumi. Akan tetapi wanita itu lebih dulu masuk ke dalam kamarnya tanpa mendengar apa yang diucapkan oleh Fahri.
Di dalam kamar, Arumi menatap dirinya di pantulan cermin. "Aku telah memakai gaun pengantin yang mahal harganya, serta menyewa perias terkenal untuk mendandani diriku. Tapi, apakah dia tidak dapat melihatku? Apakah mantan istrinya yang terlihat selalu cantik di matanya?" geram Arumi dengan mata yang berkaca-kaca. Ia menatap dirinya yang menyedihkan di pantulan cermin.
Arumi hendak melepas gaunnya. Ia mencoba untuk meraih resleting yang ada di belakang gaun tersebut. Awalnya ia berhasil, akan tetapi sialnya resleting tersebut tersangkut saat ditengah-tengah, membuat Arumi semakin kesulitan untuk meraihnya.
"Aishh sialan! Bahkan gaun ini mempersulitku!" keluh Arumi yang masih mencoba meraih resletingnya.
Terdengar suara pintu diketuk, Arumi pun menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu kemudian mengizinkan seseorang yang ada di depan pintu tersebut untuk masuk ke dalam kamar.
"Besok, bolehkah aku pulang sebentar? Aku ingin mengambil beberapa barang-barang ku yang tertinggal," ujar Fahri meminta izin pada Arumi.
"Ya sudah, pulanglah. Ambil pakaianmu saja, untuk perabotan rumah yang ada di sana, tinggalkan saja," timpal Arumi.
"Apakah kamu bisa membawa mobil?" tanya Arumi.
Fahri menggelengkan kepalanya pelan. "Ya sudah, kalau begitu kamu minta antar supir saja," lanjut gadis tersebut.
Fahri mengangguk, lalu kemudian berjalan keluar. Saat ia hendak menutup pintu, pria itu melihat Arumi yang saat itu tampak kesusahan membuka gaunnya. Fahri pun kembali menghampiri Arumi.
Arumi yang masih melihat pantulan dirinya di cermin pun cukup terkejut karena Fahri sudah berdiri di belakangnya. Fahri melihat bagian belakang tubuh Arumi yang mulus, membuat pria itu berusaha keras untuk meneguk salivanya. Bagaimana pun juga, Fahri adalah pria yang normal. Apalagi sudah lama ia tak melakukannya saat masih bersama Sifa dulu.
Fahri mengambil alih pekerjaan Arumi. Ia menyingkirkan tangan Arumi dengan lembut. "Biar ku bantu," ujar Fahri.
Perlahan tapi pasti, pria itu menurunkan resleting gaun sang istri. Bagian belakang tubuh Arumi pun semakin terekspos jelas, membuat pria itu semakin tercekat.
Cukup lama Fahri memandangi punggung yang mulus itu. Membuat pria tersebut lupa diri dan lupa daratan.
"Apakah sudah selesai?" tanya Arumi.
Seketika lamunan Fahri pun menjadi buyar. "I-iya, sudah." Pria itu menjadi gugup. Ia pun segera keluar meninggalkan Arumi sendirian. Takut jika nantinya, Fahri akan lupa diri dan menerkam Arumi saat itu juga.
Sepeninggal Fahri, wajah Arumi bersemu merah. Sedari tadi jantungnya berdebar tak karuan. Sentuhan tangan Fahri yang lembut dan dingin, menyentuh kulitnya secara langsung, membuat Arumi sedikit bergidik.
Arumi memilih untuk melucuti semua yang ada di tubuhnya, lalu kemudian berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Di waktu yang bersamaan, Fahri memegangi dadanya. Pria itu merasakan panas di sekujur tubuhnya. Ia pun mencoba untuk push up beberapa kali untuk menghilangkan pikiran kotor yang sempat bersarang di otaknya.
"Sadarkan dirimu! Dia adalah wanita yang tak boleh kamu sentuh!" ujar Fahri mencoba memberi sugesti pada dirinya sendiri.
Di dalam kamar, Fahri sibuk push up, atau pun lari di tempat. Mustahil jika yang ia lakukan tadi tak membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Fahri adalah pria yang normal. Sementara Arumi, dia adalah gadis yang sangat cantik.
Fahri mencoba untuk berbaring di atas kasur, memejamkan matanya. Namun, tetap saja. Matanya enggan untuk terpejam. Beberapa kali ia mencari posisi yang enak untuk tidurnya, tetap saja pikiran itu selalu berseliweran di ingatannya.
Fahri menyerah. Ia memilih untuk mencari udara segar dan keluar dari kamarnya. Pria tersebut berjalan menuju pintu, baru saja ia berhasil keluar dari kamarnya, ia kembali berpapasan dengan Arumi yang memakai piyama yang cukup seksi.
Dengan cepat, Fahri pun masuk kembali ke dalam kamarnya. Ia menghempaskan dirinya di atas kasur empuk tersebut. Menutupi wajahnya yang memerah dengan bantal.
"Kenapa cobaan ini begitu berat!" geram Fahri.
Bersambung ....