
Samuel tengah berada di jalanan, menunggangi kuda besinya dan memacunya dengan kecepatan tinggi. Ucapan serta ekspresi dari wajah Elena yang mengatakan bahwa gadis itu hendak menikah, masih terbayang-bayang dalam ingatannya.
"Ada apa denganku?! Tolong untuk tidak seperti ini. Bukankah sedari dulu aku yang mengabaikannya? Mengapa aku merasa ... sedikit sakit," batin Samuel.
Tanpa sadar, Samuel pun mengendarai sepeda motornya keluar dari aspal. Lalu kemudian ...
Brakkk ...
Kecelakaan pun tak terelakan. Samuel terlihat beberapa kali berguling-guling, sementara sepeda motor yang dipakainya tampak rusak parah.
Dengan setengah kesadarannya, Samuel mengembangkan senyumnya. Seketika pandangannya pun menggelap.
Di waktu yang bersamaan, Fahri melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya. Ia mengernyitkan kening karena Samuel tak kunjung datang.
"Kemana dia? Seharusnya sudah sedari tadi ia sampai di sini," gumam Fahri bermonolog.
Tak lama kemudian, pandangan Fahri pun teralihkan pada ponsel pintarnya yang tengah berdering. Ia melihat layar ponsel itu menyala, memperlihatkan bahwa saat itu nomor Samuel yang tertera di layar tersebut.
"Hei Kawan! Kenapa kamu lama sekali?" tanya Fahri tanpa berbasa-basi lagi.
"Apakah anda mengenal pemilik nomor ini?" tanya suara dari seberang telepon.
"Iya. Ini siapa?" Fahri balik bertanya.
"Pemilik ponsel ini tengah dilarikan ke rumah sakit karena mengalami kecelakaan, Pak."
Degg ...
Fahri terkejut, tubuhnya bergetar hebat saat mendengar bahwa Samuel tengah mengalami kecelakaan.
"Katakan padaku rumah sakit mana?" ucap Fahri panik.
"Rumah Sakit Cempaka, Pak."
"Baiklah, saya akan segera menuju ke sana," ucap Fahri yang langsung mematikan sambungan teleponnya.
Pria itu pun menutup lembar kerja yang ada di layar komputernya, lalu kemudian mengambil jas kantornya yang digantung tak jauh dari meja kerjanya. Fahri pun langsung mengenakan jas tersebut sembari berjalan keluar dari ruangannya.
"Doni, Saya akan keluar sebentar. Tolong kamu kosongkan dulu jadwal saya hari ini."
"Baik, Pak." Belum sempat ia mendengar jawaban dari sekretarisnya itu, Fahri sudah berlalu begitu saja dari hadapan Doni.
Doni mengernyitkan keningnya, menatap atasannya yang berjalan dengan tergesa-gesa. "Apakah ada masalah? Pak Fahri terlihat sangat panik," gumam Doni.
Setelah berhasil melewati pintu keluar, Fahri pun langsung masuk ke dalam mobilnya. Pria itu melajukan kendaraan roda empat itu menuju ke rumah sakit.
Berselang tiga puluh menit, Fahri tiba di rumah sakit. Pria itu langsung masuk ke dalam rumah sakit, lalu menuju meja perawat.
"Suster, apakah ada pria yang baru saja mendapatkan kecelakaan di bawa ke sini?" tanya Fahri pada suster tersebut.
"Benar, Pak. Kami baru saja menerima pasien laki-laki yang mengalami kecelakaan," timpal suster tersebut.
"Dimana ruangannya, Sus?"
Suster itu pun menunjukkan pada Fahri tempat dimana Samuel di rawat. Pria itu dengan segera mengikuti instruksi dari suster tadi, dan tak lama kemudian ia pun bertemu dengan ruang rawat inap yang dimaksud oleh suster tadi.
Fahri melihat salah seorang pria yang tengah berjaga tak jauh dari ranjang tempat Samuel terbaring.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Fahri tampak panik.
"Bapak yang saya telepon tadi?" tanya pria paruh baya tersebut.
"Iya, benar."
"Lukanya tidak terlalu serius, untung saja beliau mengenakan helm, jika tidak mungkin ia mendapati luka di bagian kepala yang cukup parah. Dokter bilang, pasien akan segera sadar nanti," jelas pria yang menyelamatkan Samuel.
"Terima kasih karena bapak sudah menyelamatkan teman saya. Apakah administrasinya sudah diurus?" tanya Fahri.
"Sudah, Pak." pria itu mengangguk.
"Tidak perlu, Nak. Bapak ikhlas," ucap pria paruh baya itu.
Fahri tak mempedulikan ucapan pria paruh baya tersebut. Ia mengambil ponselnya, lalu kemudian membuka mobile banking di dalam ponselnya.
"Sebutkan nomor rekening bapak," ujar Fahri.
"Sungguh, bapak tidak ingin uang bapak di kembalikan," tolak pria paruh baya itu.
"Jika uang administrasi tadi adalah karena bapak ingin menolong teman saya. Dan kali ini, saya ingin memberikan sejumlah uang kepada bapak karena telah membawa teman saya ke sini," tutur Fahri.
Seberapa besar pria paruh baya itu menolak, seberapa gigihnya juga Fahri membujuk pria tersebut. Dan akhirnya, bapak-bapak itu pun mau menerima pemberian dari Fahri.
"Nak, ini sangat banyak." pria paruh baya itu membulatkan matanya saat ia mendapati uang yang masuk ke dalam rekeningnya.
"Tidak apa-apa, ini bentuk rasa terima kasih saya karena bapak sudah berbaik hati menolong teman saya," timpal Fahri.
"Terima kasih banyak, Nak."
"Sama-sama, Pak."
"Kalau begitu ... bapak permisi dulu ya Nak. Soalnya bapak mau jemput anak bapak dari rumah temannya," ujar pria tersebut.
"Baiklah, Pak. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak, Pak." Fahri mengantarkan kepergian pria paruh baya itu sampai ke bibir pintu.
"Sama-sama, Nak."
Tak lama kemudian, pria itu pun pergi dari hadapan Fahri. Fahri kembali menghampiri Samuel yang masih terbaring. Ia menduduki kursi yang ada di sana, sembari melihat ke arah Samuel dengan sendu.
"Jika istriku tahu bahwa saat ini kamu berada di rumah sakit, mungkin Arumi akan segera berlari kemari dengan rasa panik. Maafkan aku karena memilih menyembunyikan kabar tentangmu dari istriku. Aku tidak ingin, nanti Arumi kembali lemah dan pikirannya terbebani lagi,"batin Fahri.
Cukup lama Fahri duduk di samping ranjang Samuel, menunggu pria itu yang tak kunjung membuka matanya.
"Hei! Ayo sadarlah! Kamu tahu, aku merasa bosan menunggumu seperti ini," gerutu Fahri yang mencoba mengajak Samuel berbicara.
Tak ada respon dari Samuel. Pria itu masih menutup matanya. Luka lecet di bagian siku dan kedua lututnya. Dan beberapa memar di bagian wajahnya.
Tak lama kemudian, Samuel pun membuka matanya. Bola matanya menatap ke sana dan kemari. Hingga ia pun melihat keberadaan Fahri yang menatap lekat ke arahnya.
"Aku tahu apa yang ingin kamu tanyakan," ujar Fahri bersedekap.
"Kita sedang ada di rumah sakit. Dan kamu mengalami kecelakaan tadi," lanjut Fahri yang tak ingin berbasa-basi.
"Bagaimana kamu bisa tahu jika aku ingin menanyakan hal itu?" tanya Samuel.
"Ya ... aku sering melihatnya di sinetron," timpal Fahri dengan enteng.
Samuel menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.
"Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu bisa mengalami kecelakaan seperti ini?" tanya Fahri yang langsung menginterogasi Samuel.
"Ini murni kesalahanku, karena terlalu memikirkan sesuatu saat sedang berkendara," ujar Samuel.
"Maaf, aku tidak memberikan kabarmu pada istriku, karena aku takut nanti dia banyak pikiran lagi dan akan berpengaruh pada calon anak kami," papar Fahri mencoba menjelaskan pada Samuel.
"Iya, tidak apa-apa. Aku bisa mengerti. "
Samuel merasa tidak nyaman berbaring. Ia pun mengubah posisinya menjadi duduk. Dan hal itu tak luput dari bantuan Fahri.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu," ujar Samuel.
"Apa?" tanya Fahri.
"Kalau bisa, jangan menyimpan video yang ku kirimkan itu di satu penyimpanan saja. Buat duplikatnya, karena kita tidak tahu apa yang terjadi kedepannya nanti," ujar Samuel.
Bersambung ....