Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 91. Ancaman Aldo


Aldo tengah menikmati sesuatu yang menjadi candunya. Pria itu menenangkan pikirannya yang kacau dengan serbuk halus yang menjadi ladang penghasilannya.


Ia marah, ia kecewa, pada sikap yang diperlihatkan oleh istrinya terhadapnya. Belum juga genap satu bulan pernikahan mereka, akan tetapi pertengkaran diantara keduanya terus saja terjadi.


"Jika dia masih menyukainya, kenapa dia harus memberikan harapan itu padaku. Dasar wanita rendahan!" cecar Aldo untuk sang istri. Ia benar-benar sudah tak bisa mengontrol emosinya lagi.


Di waktu yang bersamaan, terdengar suara gedoran pintu dari kamar. Sifa sedari tadi memukul-mukul pintu tersebut. Wanita itu dikurung oleh Aldo di dalam kamar dan sampai saat ini, pintu itu masih juga terkunci dari luar.


"Aldo buka! Buka pintunya!!" seru Sifa yang tak berhenti menggedor pintu sembari memutar handle pintu tersebut dengan kasar.


"Bibi!! Bi, tolong buka pintunya. Suruh Aldo buka pintunya!!" teriak Sifa.


Asisten rumah tangga yang bekerja di sana juga menulikan telinganya. Ia seolah tak mendengar teriakan dari Sifa. Jika ia membantu Sifa, maka dapat dipastikan nyawanya juga ikut terancam.


Mendengar suara teriakan Sifa yang tak kunjung berhenti, membuat Aldo naik pitam. Pria itu keluar dari gudang, lalu kemudian berjalan dengan cepat menuju ke kamarnya.


Aldo tiba di depan pintu kamar, membuka kunci pintu kamar tersebut, lalu kemudian masuk ke dalam ruangan itu.


"Tolong jangan kunci aku seperti ini. Aku janji, aku tidak akan melakukannya lagi," pinta Sifa dengan memelas.


Aldo berdecih, lalu kemudian membuang muka. "Tidak akan melakukannya lagi? Kamu pikir aku akan percaya dengan ucapanmu itu? Aku bukanlah mantan suamimu, yang bisa kamu tipu sesuka hati," sindir Aldo pada Sifa.


"Sungguh, aku tidak akan melakukannya lagi. Kamu bisa pegang ucapanku," ujar Sifa memelas sembari menangkupkan kedua telapak tangannya seakan tengah memohon pada suaminya itu.


"Baik. Jika kamu kedapatan denganku lagi seperti tadi, aku tidak akan segan-segan untuk menghukummu!" tukas pria tersebut.


Aldo memilih membaringkan tubuhnya di kasur. Ia tak ingin ambil pusing dengan sang istri yang menangis karena meminta pengampunan padanya.


....


Di lain tempat, dua insan yang semalam dimabukkan dengan cinta pun masih bergemul di balik selimutnya. Kedua orang tersebut saling berpelukan, mencari kehangatan dari dinginnya udara pagi itu.


Perlahan, Fahri membuka matanya. Hal pertama yang ia temui di pagi hari adalah wajah cantik istrinya yang tengah tertidur lelap di sampingnya.


Fahri mengulas senyum, memandangi wajah Arumi yang polos tanpa make up. Arumi benar-benar cantik alami. Bulu matanya yang lentik, hidungnya yang menjulang tinggi, serta bibir tipis sensual nan menggoda membuat wajah Arumi terlihat begitu sempurna.


Fahri kembali tersenyum saat mengingat tentang aktivitas panas semalam. Masih terngiang-ngiang di telinganya, saat Arumi mengatakan akan menghasilkan garis keturunan untuknya. Dan hal itu membuat Fahri sangat bahagia.


Selama ini, ia menginginkan hadirnya sang buah hati, akan tetapi di pernikahan yang terdahulu, Sifa menolaknya dengan alasan kondisi perekonomian yang kurang memungkinkan.


Dan sekarang, ia telah menitipkan benihnya pada istrinya saat ini, yaitu Arumi. Ucapan Arumi semalam begitu tulus, ia juga menginginkan seorang anak yang muncul di dalam pernikahan mereka.


Fahri mengecup kening Arumi cukup lama. Ia sangat berterima kasih pada Arumi yang sudah mau memenuhi keinginannya.


Tak lama kemudian, Arumi mulai mengerjapkan matanya. Ia memicing mendapati pria tampan yang saat ini tengah berbaring di sebelahnya.


"Pagi Istriku," ucap Fahri.


"Pagi juga, Suamiku," balas Arumi.


Suara keduanya tampak serak, khas orang baru bangun tidur. Mereka pun saling menatap dan saling melemparkan senyum. Arumi tak pernah menyangka jika pada akhirnya, ia akan jadi pemenang di hati Fahri secepat ini.


Tangan Arumi terulur memainkan hidung Fahri. "Hidungmu benar-benar mancung," puji Arumi sembari memegangi hidung Fahri yang menjulang tinggi.


"Hidungmu juga mancung," ucap Fahri.


Arumi menggelengkan kepalanya. "Tidak. Hidungmu lebih mancung dari pada hidungku," bantah Arumi.


Fahri tersenyum, pria itu membiarkan Arumi menyentuh dan menarik hidungnya berulang kali.


"Apakah kita akan seperti ini terus? Tidak ingin pergi ke kantor?" tanya Fahri.


Arumi baru saja sadar dengan ucapannya tadi, sesaat kemudian wajahnya memerah mengingat kejadian semalam.


"Maafkan aku. Apakah aku terlalu kasar?" tanya Fahri yang merasa tidak enak.


"Ah tidak. Mas Fahri tidak salah, mungkin karena aku belum terbiasa saja," ujar Arumi.


"Apakah kamu ingin lebih terbiasa?" goda Fahri. Pria itu langsung mengubah posisinya menjadi berada di atas Arumi.


Arumi pun langsung membelalakkan matanya. Ia ternyata sudah salah berucap dan ucapannya itu seolah menjebak dirinya sendiri.


"M-Mas, sebaiknya kita bangun dan pergi ke kantor. Di kantor tugas kita masih menumpuk," ujar Arumi mencari alasan.


"Bukankah tadi kamu bilang malas untuk pergi ke kantor. Tugas kantor, Samuel ada yang menggantikannya," balas Fahri.


"Ayo! Sekarang waktunya untuk bersenang-senang," lanjut Fahri langsung menarik selimutnya, menutupi seluruh tubuh mereka.


Di balik selimut tersebut, Fahri melancarkan aksinya lagi. Sesekali Arumi tertawa kecil, saat tangan Fahri menggelitiknya.


"Hahaha ... hentikan Mas Fahri!"


.....


Di lain tempat, Samuel menghela napasnya saat membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh Arumi. "Sebaiknya kalian mengambil waktu berbulan madu saja kemarin, dari pada seperti ini," keluh Samuel.


Pria itu melajukan sepeda motornya, menuju ke kantor.


Sesampainya di kantor, beberapa staf menyapa Samuel dengan mengulas senyum sembari menunduk hormat. Di kantor, Samuel juga cukup disegani karena mengingat bahwa pria tersebut adalah asisten dari Arumi yang memiliki kepribadian tak jauh dari atasannya itu.


Samuel baru saja hendak menuju meja kerjanya. Tak lama kemudian, langkahnya pun terhenti saat mendapatkan sebuah panggilan telepon.


Pria itu hanya mendengar seksama ucapan seseorang yang ada di seberang telepon. Setelah panggilan itu terputus, Samuel berbalik dan mengurungkan niatnya untuk menuju ke meja kerjanya.


Samuel keluar dari gedung, ia mengedarkan pandangannya di area parkiran, pria itu pun menangkap sosok yang meneleponnya tadi.


"Ayo! bicarakan saja di dalam mobil," ujar Samuel yang langsung membuka pintu mobil tersebut.


Pria pemilik mobil itu pun juga masuk ke dalam mobilnya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Samuel menatap lawan bicaranya.


"Katakan pada wanita itu untuk menjaga baik suaminya, jika tidak aku akan membunuhnya," ujar Aldo menatap tajam.


Samuel langsung mengernyitkan keningnya. "Apa kamu gila? Ku rasa otakmu memang sudah tidak waras lagi karena terkontaminasi oleh barang-barang haram itu!" cecar Samuel.


"Yang seharusnya kamu jaga itu istrimu sendiri. Bukan menyalahkan Fahri yang muncul di depan kalian. Fahri sekarang adalah orang terpandang, ia muncul di berbagai media, secara tak langsung ia juga merupakan pimpinan dari perusahaan yang cukup besar. Dan kalian? Kenapa kalian mempermasalahkan kemunculan Fahri? Yang mengejar itu istrimu, bukan Fahri," lanjut Samuel panjang lebar.


"Tetap saja, jika dia tak muncul dihadapan kami, tentunya Sifa tidak akan menjadi bimbang. Ini semua salah Fahri!" geram pria tersebut.


"Ckckck, ku rasa kalian memang sama-sama tidak waras. Dari pada kamu mengancam seseorang, alangkah lebih baiknya kalian introspeksi diri. Tanyakan pada istrimu, dia benar-benar mencintaimu atau hanya mencintai uangmu saja. Fahri sudah terkenal, lantas kenapa istrimu kembali mengejar pria yang sudah beristri sementara dia juga sudah bersuami. Seharusnya itu yang kamu pertanyakan!" tukas Aldo.


"Tidak usah menceramahiku. Sebaiknya kamu sampaikan saja pada wanita itu. Aku tidak suka melihat mereka berbahagia sementara aku harus menderita bersama istriku. Atau jika tidak, aku akan membeberkan semuanya, bahwa wanita itu juga yang telah menghancurkan rumah tangga mereka terdahulu," ancam Aldo sembari tersenyum smirk.


Wajah Samuel berubah menjadi suram. Matanya menajam menatap Aldo yang mengancam Arumi seperti itu. Samuel pun langsung menarik kerah baju Aldo.


"Jika kamu banyak bicara, aku sendiri yang akan menghabisimu! Jangan usik kebahagiaan mereka, atau kalianlah yang tidak akan hidup dengan tenang. Camkan itu!!"


Samuel sedikit menghempaskan cengkramannya dari kerah baju Aldo. Tak lama kemudian, pria itu pun keluar dari mobil tersebut. Dan menutup mobil Aldo dengan cukup keras hingga pria yang ada di dalamnya terlonjak kaget.


Bersambung ....