
Aldo berdiri di depan cermin, memeriksa penampilannya. Setelah di rasa cukup, pria itu pun langsung keluar dari kamarnya. Seperti biasa, Aldo malam ini akan pergi ke suatu tempat, dimana ia akan berkumpul sembari hura-hura. Apalagi dengan keadaan di rumah yang sedang tidak baik-baik saja. Kekecewaannya terhadap Sifa sudah tak bisa dibendung lagi.
Bagi Aldo, selama ini ia cukup mengalah. Menunggu Sifa bercerai dari Fahri dan memiliki wanita itu seutuhnya. Akan tetapi, setelah menikah dengan Sifa, Aldo tetap tak bisa memiliki Sifa seutuhnya. Karena Sifa yang berulah, selalu saja melirik pria yang telah menjadi mantan suaminya itu.
Mendengar Sifa yang secara langsung membandingkan dirinya dengan Fahri, membuat Aldo semakin geram dan tak ingin melembut lagi dengan wanita itu.
Aldo melangkah keluar rumah. Pria itu melirik gudang tempat Sifa dikurung. Ia pun kembali masuk, menemui pelayan yang bekerja di rumahnya.
"Bi ...." Aldo memanggil pelayan itu sembari memberikan kode dengan tangannya supaya wanita paruh baya tersebut mendekat ke padanya.
Pelayan tersebut menimpali ucapan Aldo, lalu kemudian langsung menghampiri majikannya itu.
"Ada apa, Tuan?" tanya wanita itu.
"Beri makan wanita yang ada di dalam sana. Ingat! Jangan sampai dia keluar gudang!" titah Aldo yang langsung memperingati pelayannya itu.
"Baik, Tuan." pelayan tersebut dengan pandangan menunduk, menuruti ucapan majikannya itu.
"Ini kuncinya. Jaga baik-baik! Jika kunci ini hilang, maka aku akan membuat bibi seperti wanita yang ada di dalam gudang itu. Mengerti?" tanya Aldo.
"I-iya, Tuan." wanita paruh baya itu menimpali dengan perasaan yang sedikit takut.
Setelah menyampaikan pesan tersebut, Aldo pun kembali melangkah keluar. Pria itu menaiki kendaraannya, dan melajukan mobil pemberian dari Arumi itu langsung menuju ke jalanan.
Pelayan tersebut bergegas ke dapur, mengambil makanan untuk Nyonya-nya yang saat ini tengah di kurung di dalam gudang. Setelah semuanya cukup, ia pun meletakkan makanan tersebut di atas nampan lengkap beserta dengan air minumnya. Wanita itu pergi ke gudang, untuk melaksanakan tugas yang telah dikatakan oleh majikannya tadi.
Sesampainya di gudang, pelayan itu pun meletakkan nampan yang ada di tangannya sejenak untuk membuka kunci pintu gudang tersebut. Setelah berhasil melakukannya, ia pun kembali mengambil nampannya, dan langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Nyonya, ..." pelayan itu menaruh rasa kasihan pada Sifa yang tampak terkulai lemas. Akan tetapi ia juga tidak bisa berbuat banyak. Jika ia melanggar ucapan Aldo, bisa saja ia akan dihabisi oleh majikannya itu.
Pelayan itu pun langsung menghampiri Sifa, lalu kemudian membuka penutup mulut Sifa.
"Bibi, ... tolong keluarkan saya dari sini, Bi. Saya sudah tidak tahan menghadapi Aldo," ujar Sifa dengan suara yang pelan.
"Maafkan bibi, Nyonya. Bibi tidak bisa melakukan apapun karena di awasi oleh Tuan Aldo," ucap pelayan tersebut.
Pelayan itu pun langsung menyuapi Sifa makanan serta minuman. Sifa tidak menyia-nyiakannya. Ia mengambil kesempatan itu untuk mengisi perutnya terlebih dahulu.
"Saat ini, yang lebih penting adalah aku mengisi sumber energiku terlebih dahulu . Setelah itu aku bisa berpikir jernih, bagaimana agar bisa keluar dari tempat ini," Batin Sifa.
Setelah makanan yang ada di kurung tersebut tersapu bersih, pelayan itu pun kembali hendak menutup mulut Sifa, akan tetapi dengan cepat wanita itu mencegahnya terlebih dahulu.
"Tolong bantu aku, sekali ini saja, Bi." Sifa tampak memelas berucap dengan pelayan tersebut.
"Bisakah bibi mengeluarkan ponsel yang ada di dalam saku celana yang ku pakai. Aku berjanji, tidak akan memberitahukan hal ini nantinya pada Aldo jika aku kedapatan. Tolong Bi, sekali ini saja," bujuk Sifa.
Pelayan itu pun langsung meraba saku celana Sifa. Ia pun berhasil mengeluarkan ponsel yang ada di dalam saku tersebut.
"Tolong ambil gunting yang ada di sana," tunjuk Sifa dengan bibirnya. Pelayan itu pun mengarahkan pandangannya pada gunting yang letaknya di dekat tumpukan kardus yang sudah tak terpakai.
"Tapi Nyonya ...."
"Tolonglah Bi, Aldo tidak akan mencurigai bibi," ujar Sifa kembali meyakinkan pelayan itu.
"Biar saya saja yang berusaha untuk membuka ikatannya. Lebih baik bibi segera pergi, sebelum Aldo melihat bibi," ucap Sifa.
Pelayan itu langsung membereskan bekas makan Sifa, laku kemudian melangkah ke pintu keluar sembari membawa nampan yang sudah tak berisi makanan lagi.
Setelah kepergian pelayan tadi, Sifa pun berusaha membuka ikatan Aldo dengan gunting yang ada di tangannya. Sesekali gunting itu membuat tangannya terluka hingga Sifa meringis kesakitan. Namun, wanita itu tak ingin menyerah, karena bagaimana pun juga ia sudah mendapatkan gunting ini dan ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu.
Setelah hampir setengah jam lamanya Sifa berusaha, akhirnya wanita itu pun berhasil membuka ikatan tangannya. Sifa meniup-niup tangannya yang terluka, mengeluarkan sedikit darah. Ia pun langsung meraih ponselnya yang diletakkan oleh pelayan tadi tak jauh darinya.
Sifa langsung menekan angka satu dengan cukup lama, menggunakan panggilan cepat. Hingga akhirnya yang keluar adalah nomor mantan suaminya.
Sifa menempelkan benda pipih itu di telinganya, ia sangat berharap jika Fahri mengangkat panggilannya saat ini juga.
Di waktu yang bersamaan, Fahri tengah menonton televisi bersama dengan istrinya. Tangan pria itu merangkul pundak Arumi, sementara Arumi menyenderkan kepalanya di pundak Fahri.
Tak lama kemudian, Arumi pun melepaskan rangkulan Fahri dari pundaknya. "Ada apa?" tanya Fahri.
"Aku mau ke kamar mandi dulu, Mas." Arumi yang langsung beranjak sembari memegangi perutnya akibat terlalu banyak makan.
Fahri terkekeh melihat istrinya yang langsung pergi dari hadapannya. "Hati-hati, Sayang." Fahri mengingatkan istrinya.
"Iya, Mas."
Fahri kembali memperhatikan layar televisi yang menampilkan drama kesayangan istrinya. Sesaat kemudian, ponsel Fahri pun berdering. Pria itu kembali melirik layar ponselnya. Ada nomor baru yang kembali menghubunginya setelah beberapa waktu yang lalu.
Fahri pun mengangkat panggilan tersebut, lalu kemudian menempelkan benda pipih itu di salah satu daun telinganya.
"Mas Fahri, ... ini aku Sifa. Mas, tolong aku Mas. Aku ...."
Tak lama kemudian panggilan tersebut langsung terputus. Kini Fahri baru tahu, jika sewaktu itu yang menghubunginya tanpa berbicara adalah Sifa. Lantas, kenapa Sifa tampaknya sangat panik? Bukankah seharusnya wanita tersebut sudah berbahagia dengan pria pilihannya?
Fahri menatap nomor yang baru saja memanggilnya dengan cukup lama. Ia bingung, harus meladeni Sifa yang baru saja meminta pertolongan padanya, atau justru mengabaikannya.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang datang menghampiri. Fahri pun langsung mengeluarkan tampilan dari menu panggilan itu langsung ke layar depan.
"Ada apa? Kenapa ekspresi Mas Fahri seperti itu?" tanya Arumi yang cukup heran mendapati Fahri yang tampaknya tengah kebingungan.
"Tidak apa-apa. Aku hanya memikirkan masalah pekerjaan saja," ujar Fahri yang mulai berbohong.
"Masalah pekerjaan yang mana, Mas? Biar aku bantu memecahkan masalahnya," tawar Arumi.
"Tidak usah. Aku bisa mengatasinya nanti. Kalau begitu, sebaiknya kita tidur saja. Lagi pula aku sudah mengantuk," ujar Fahri.
Arumi langsung menganggukkan kepalanya, menuruti ucapan suaminya itu. Fahri langsung meraih remote tv yang berada tak jauh darinya. Pria itu pun menekan tombol off membuat layar tv tersebut langsung mati.
Lalu kemudian, keduanya langsung berbaring di atas kasur. Arumi memeluk Fahri sembari mengulas senyumnya. Dan Fahri pun membalas pelukan dari istrinya dengan sesekali mengusap kepala Arumi.
"Istriku, maafkan aku. Karena aku mulai membohongimu. Aku tahu kebohongan kecil ini mungkin semakin lama akan menjadi kebohongan besar. Namun, aku melakukan itu demi menjaga perasaanmu. Aku yakin, ini bukanlah rasa yang masih tertinggal untuknya, melainkan rasa kemanusiaan yang dimiliki oleh sesama manusia saat manusia yang lainnya meminta pertolongan. Ku harap kamu bisa mengerti dan untuk nya, ku harap kamu juga selalu berbahagia dengan kehidupanmu saat ini," batin Fahri sembari mengecup puncak kepala istrinya.
Bersambung ...