
"Saudara Aldo Kusuma, terkait kejahatan yang dilakukan yaitu pengedar sekaligus pemakai narkotika golongan satu, maka akan dijatuhkan hukuman dua belas tahun penjara."
Ketukan palu serta pernyataan hakim yang menjatuhi hukuman untuk Aldo, menggema di ruang persidangan. Aldo hanya bisa tertunduk dengan seragam narapidana nya.
Air matanya mengalir begitu saja, saat mendengar pernyataan dari hakim tadi. Entah jauh di lubuk hatinya, ada penyesalan yang sangat dalam karena telah terlena akan bisnis terlarang itu.
Sementara Indra, karena dia hanya pemakai, maka hukumannya pun di ringankan hanya empat tahun saja dan dianjurkan untuk menjalankan rehabilitasi.
Sifa ada juga di persidangan itu Ia menatap ke arah suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada rasa kasihan, bercampur dengan rasa cinta yang masih tersisa dalam lubuk hatinya.
Kartika, ibunya selalu saja membujuk agar Sifa juga melaporkan Aldo yang telah berbuat kekerasan pada anaknya itu. Supaya Aldo dijerat pasal berlapis. Selain narkoba, dia juga mendapatkan hukuman atas kekerasan rumah tangga yang dilakukannya oleh Sifa.
Namun, Sifa menentang keinginan ibunya. Kali ini, Sifa memilih untuk berpegang kukuh pada pendiriannya sendiri. Jika dulu, Sifa selalu menuruti ucapan ibunya. Mengikuti semua perintah wanita yang telah melahirkannya itu. Melepaskan Fahri untuk mengejar Aldo. Dan kali ini, Sifa tak ingin melakukannya lagi. Ia ingin hidup sesuai dengan kemauannya dan pendiriannya sendiri.
Persidangan pun telah usai, Sifa melihat Aldo dengan kedua tangan yang diborgol, dibawa oleh dua orang polisi yang berada di sisi kanan dan kirinya.
Pria itu berbalik, lalu kemudian tertegun saat melihat keberadaan Sifa di ruang persidangan itu. Cukup lama mata mereka bertemu pandang, hingga salah satu polisi pun menarik paksa Aldo supaya melanjutkan langkahnya.
Tatapan Aldo menyendu saat melihat istrinya. Tidak ada kemarahan lagi yang terpancar di mata pria tersebut. Semuanya hilang dengan rasa penyesalan yang teramat mendalam.
Aldo berlalu dari hadapan Sifa dengan kedua polisi itu. Sifa menatap sang suami, tanpa melepaskan pandangannya sedetik pun. Hingga pria itu sudah tak terlihat lagi dari pandangannya.
Tak terasa, air mata menggenang di pelupuk mata, membuat pandangan Sifa sedikit mengabur. Sifa pun menyeka air matanya yang mulai tertumpah, sesekali ia mendongak, agar air matanya terhenti.
"Aku datang kemari, berencana ingin melihatmu untuk yang terakhir kalinya karena aku ingin mengajukan gugatan cerai setelah ini. Namun, saat aku sudah melihatmu, mengapa rasanya begitu berat? Aku bahkan tak mengerti dengan jalan pikiranku sendiri. Dan hatiku ... sepertinya tak ingin mengakhiri semua ini dengan begitu saja," batin Sifa.
Wanita itu berjalan gontai, keluar dari kantor pengadilan. Menuju ke pintu gerbang. Ada rasa sesak yang menghinggapi Sifa hingga membuat dirinya seakan kesulitan untuk bernapas.
Sesampainya di depan pintu gerbang, Sifa menghadang taksi. Wanita itu pun langsung masuk ke dalam taksi yang terhenti di depannya.
Di dalam taksi, Sifa menangis sejadi-jadinya. Entah kenapa, dia seperti ini. Harusnya Sifa bahagia melihat suaminya itu sudah mendekam di penjara. Dengan begitu, ia akan leluasa mengajukan gugatan perceraian untuk Aldo.
Namun, niat awal yang hendak Sifa lakukan pun langsung menguap begitu saja.
.....
Di lain tempat, Fahri sedang menanda tangani surat kontrak kerja. Pria itu pun menjabat tangan partner bisnis nya.
"Saya harap, setelah ini kita dapat bekerja sama dengan baik,"ujar Fahri.
"Saya juga mengharapkan hal yang serupa," ucap Pak Beni, yang merupakan partner bisnis Fahri.
Setelah berhasil menandatangani kontrak kerja, Pak Beni pun bersama dengan sekretarisnya memilih untuk pamit undur diri dari ruangan Fahri.
Fahri dengan sopan, mengantarkan kepergian Pak Beni sampai ke pintu.
"Oh iya." Pak Beni berbalik ke arah Fahri. Pria dengan usia kisaran empat puluh tahun itu tampaknya ingin mengatakan sesuatu pada Fahri.
"Ada apa, Pak?" tanya Fahri.
"Saya berencana mengajak Pak Fahri beserta istri untuk datang menghadiri pertunangan anak saya yang akan diadakan dua Minggu kedepan. Undangan resminya, nanti akan saya kirim ke sini," ujar Pak Beni.
"Saya harap, Pak Fahri dan istri dapat datang memenuhi undangan kami," lanjut Pak Beni.
"Baiklah, nanti kalau tidak ada halangan, saya pasti akan datang, Pak." Fahri pun mengulas senyumnya.
Pak Beni dan sekretarisnya kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi dari ruangan Fahri. Saat Fahri mengarahkan pandangannya pada sang sekretaris, ia melihat Doni yang tengah tersenyum malu-malu.
"Tidak apa-apa, Pak. Anu ...."
"Sekertaris Pak Beni sangat cantik," lanjut Doni.
Fahri melihat hal tersebut hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena sikap sekretarisnya itu.
"Setahu saya, sekretaris Pak Beni sudah memiliki satu anak," celetuk Fahri.
"Yah ... hancur sudah harapanku," gumam Doni dengan raut wajah yang kecewa. Pria itu memang tak sungkan-sungkan pada Fahri untuk bercerita lebih, karena ia merasa benar-benar nyaman saat bekerja di sana.
Fahri memperlakukannya dengan baik. Berbeda dengan tempat bekerja Doni yang sebelumnya, karena atasannya yang selalu saja menindasnya serta memarahinya.
Fahri bersikap demikian tentu saja karena dia tahu bagaimana saat menjadi bawahan. Atasan yang selalu marah-marah, meskipun sudah mengerjakan semuanya dengan begitu keras. Maka dari itu, Fahri bersikap baik pada karyawannya. Namun, disamping itu, Fahri tetap tegas dalam bertindak.
Fahri memilih untuk kembali masuk ke dalam ruangannya, dan Doni pun kembali ke meja kerjanya untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
Fahri berjalan menuju ke sebuah kamar yang ada di dalam ruangan tersebut. Kamar yang dibuatkan khusus tempat sang istri beristirahat jika tengah kelelahan.
Pria itu menghampiri istrinya yang masih tertidur pulas di atas kasur. Entah mengapa, sejak hamil Arumi lebih sering tidur siang.
Fahri mengusap kepala istrinya itu dengan lembut, hingga wanita cantik itu menggeliat kecil dan perlahan membuka matanya.
"Mas Fahri ...," gumam Arumi sembari mengerjapkan matanya.
"Iya, Sayang."
"Sekarang jam berapa, Mas? Kamu kan harus mengadakan pertemuan dengan Pak Beni jam satu ini," ujar Arumi perlahan mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk.
Wanita itu melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sesaat kemudian, ia pun langsung membelalakan mata, melihat hari sudah menunjukkan pukul dua siang.
"Astaga ... ini sudah lewat dari jam yang ditentukan," gumam Arumi sembari memegangi kepalanya.
"Kenapa aku tertidur sangat lama sekali?" ujarnya bermonolog.
Fahri terkekeh melihat sang istri yang tampak lucu. Mata sipitnya membulat sempurna dengan mulut yang sedikit menganga.
"Mas sudah menandatangani kontraknya, Sayang. Kamu tidak perlu terkejut seperti itu," celetuk Fahri sembari terkekeh geli.
"Benarkah?"
"Hmmm ... kamu tidak perlu khawatir akan hal itu," timpal Fahri.
"Kenapa Mas Fahri tidak membangunkanku," gerutu Arumi.
"Mas tidak tega karena tidurmu sangat lelap," jelas Fahri.
Kruuukk ...
Perut Arumi pun tiba-tiba saja berbunyi. Fahri tertawa melihat ekspresi lucu istrinya dengan sedikit malu-malu.
"Maaf, Mas. Cacing di perutku tidak bisa diajak kompromi," ujar Arumi tertunduk malu.
"Ya sudah, kalau begitu ayo kita makan dulu. Kebetulan aku juga merasa lapar," ucap Fahri.
Bersambung ....