Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 142. Suami Siaga


Fahri mengantarkan Samuel ke rumahnya.


Pria itu sudah boleh pulang karena lukanya tak cukup serius. Di perjalanan, Samuel hanya diam sembari menatap lurus ke depan. Tubuhnya masih terasa sakit semua akibat kecelakaan yang menimpanya tadi.


"Motormu benar-benar hancur, tapi kamu masih diberikan keajaiban karena hanya mendapatkan luka ringan saja," ujar Fahri.


Samuel tersenyum miring menanggapi ucapan Fahri.


"Tuhan masih sayang padaku," ucap Samuel.


"Mungkin karena kamu lajang," celetuk Fahri seraya terkekeh.


Samuel langsung mengarahkan pandangannya pada Fahri. Pria itu mendengkus kesal dengan melemparkan tatapan tajamnya.


"Kamu tahu ... aku cukup populer di kalangan wanita. Hanya saja ...."


"Hanya saja memang kamu tidak laku," ejek Fahri.


"Tutup mulutmu! Jangan sembarangan bicara!" sergah Samuel yang mencoba menghentikan ejekan dari pria yang tengah memegang setir itu.


Tak lama kemudian, suasana kembali hening. Ucapan Fahri tadi, membawa Samuel kembali mengingat Elena. Wanita yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahannya.


Tak terasa, mobil yang dikendarai oleh Fahri sudah terhenti tepat di rumah Samuel. Fahri membantu Samuel berjalan, menuntun pria tersebut untuk masuk ke dalam rumahnya.


"Terima kasih," ujar Samuel.


"Tidak perlu sungkan," timpal Fahri.


Fahri mengedarkan pandangannya, menatap sekeliling isi dalam rumah Samuel.


"Jika ingin minum, ambil saja di lemari pendingin. Kamu juga tidak perlu sungkan. Aku tidak bisa menyediakanya langsung," tawar Samuel.


Fahri hanya tersenyum lalu kemudian menganggukkan kepalanya.


"Apakah kamu menyimpan ponselku?" tanya Samuel.


"Ah, iya. Tadi orang yang menyelamatkanmu memberikannya padaku." Fahri pun merogoh saku jasnya. Lalu kemudian memberikan ponsel tersebut kepada Samuel.


Samuel mengambil ponselnya. Ia pun membuka situs website yang menunjukkan kabar tentang pembakaran gudang yang ia lihat sebelumnya, lalu kemudian memperlihatkan artikel tersebut kepada Fahri.


"Lihatlah! Ini pria yang menjadi korban kebakaran gudang yang sempat dihebohkan itu," ujar Samuel.


Fahri melirik sejenak, ia pun hanya mengangguk paham.


"Dan kamu tahu siapa dia?" tanya Samuel.


Fahri mengendikkan bahunya.


"Dia adalah pria yang memberikanku video tentang pembunuhan yang dilakukan oleh Bu Dewi kemarin. Waktu terjadinya kebakaran itu berselang sehari dengan pertemuan kita. Maka dari itu dia tidak bisa datang karena memang sudah tewas pada hari itu juga," beber Samuel menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


Fahri tertegun, kedua orang itu pun saling menatap satu sama lain.


"Berarti kebakaran itu ...," gumam Fahri.


Samuel mengangguk, " Bisa jadi karena ulahnya," sambung Samuel yang menambahi ucapan Fahri yang belum tuntas.


"Maka dari itu, aku memintamu untuk membuat salinan video tersebut. Suatu saat jika video itu hilang, setidaknya kita masih punya salinannya," ujar Samuel.


Fahri pun mengangguk paham. Sedari tadi ia memikirkan kata-kata ini saat Samuel memberitahukannya di rumah sakit. Dan inti dari maksud perkataan Samuel pun akhirnya bisa dipahami oleh Fahri.


Di lain tempat, Arumi tengah mengisi waktu luangnya dengan menonton televisi. Tak lupa dengan beberapa scoop es krim yang di letakkan pada mangkuk berukuran kecil yang diberi topping buah cherry serta coklat cair yang semakin membuat es krim tersebut terlihat lebih menarik.


"Ini mantap sekali dinikmati saat tengah hari seperti ini," gumam Arumi kembali menyendokkan es krimnya dan memasukkan makanan manis itu ke dalam mulut.


Arumi meraih remote yang ada di atas meja. Wanita tersebut mengganti channel tv, memencet beberapa kali tombol yang ada di remote tersebut.


"Sepertinya aku pernah melihat pria ini, tapi dimana?" gumam Arumi bertanya-tanya. Ia pun tampak mengingat-ingat wajah pria tersebut, akan tetapi tetap saja Arumi tak mengingatnya.


"Sudahlah! Mungkin hanya firasatku saja," ujar Arumi yang kembali mengganti channel tv itu.


....


Setelah mengantarkan kepulangan Samuel, Fahri pun kembali menuju ke kantor. Ada beberapa pekerjaan yang ia tunda hanya untuk melihat kondisi Samuel. Dan syukurlah pria itu tidak apa-apa.


Fahri menduduki kursinya, kembali membuka lembar kerja yang ada di dalam komputernya itu.


Tak terasa, waktu pun telah menunjukkan pukul 7 malam. Fahri meregangkan otot-ototnya sejenak, lalu kemudian bersiap merapikan meja kerjanya untuk pulang ke rumah.


Fahri meraih ponselnya. Ia menelepon sang istri yang memang hari ini tidak dilakukannya. Mengingat tadi siang Fahri sibuk mengurus Samuel sejenak.


Fahri menempelkan ponselnya di telinga, sembari berjalan keluar dari kantor. Beberapa pegawai yang memang belum pulang sempat menegurnya, dan juga satpam yang berjaga di tempat itu.


Namun, Fahri hanya membalasnya dengan senyuman dan sebuah anggukan. Tak lama kemudian, terdengar suara wanita yang dicintainya itu dari seberang telepon.


"Mas belum pulang?" tanya Arumi dari seberang telepon.


"Ini Mas sedang berada di parkiran, pulang untuk menemui istriku tercinta," sahut Fahri dengan sedikit memberikan ucapan manis pada istrinya itu.


"Dasar gombal!" cecar Arumi.


Fahri pun terkekeh mendengar cecaran yang dilontarkan oleh istrinya itu.


"Sudah, Mas Fahri pulang saja dulu. Gombalnya dilanjutkan nanti saja, saat sudah tiba di sini," ujar Arumi.


"Baiklah. Kalau begitu Mas tutup teleponnya ya."


"Hmmm ...."


Fahri pun mengakhiri panggilan teleponnya. Pria tersebut langsung masuk ke dalam mobilnya, dan kemudian membawa kendaraan roda empat tersebut menuju ke jalanan.


Cukup lama ia menyusuri jalanan malam, sesaat kemudian mobilnya pun telah menginjak area pekarangan rumah. Penjaga yang melihat kedatangan majikannya pun langsung membuka gerbang untuk Fahri.


Fahri mengulas senyumnya pada pria yang membukakannya gerbang, begitu pula dengan pria tersebut yang membalas senyuman dari Fahri.


Fahri memberhentikan mobilnya. Lalu kemudian keluar dari kendaraan tersebut sembari menenteng tas serta jas kantornya yang tak dipakainya. Menyisakan kemeja lengan panjang berwarna merah dengan dasi hitam bergaris-garis.


Arumi yang sedang berada di kamar menyingkap hordeng jendela kacanya, lalu kemudian segera keluar dari kamarnya untuk menemui sang suami tercinta.


Arumi menuruni anak tangga, melihat Fahri yang baru saja muncul dari pintu utama, memandang istrinya itu dengan senyum manisnya.


"Mas kenapa pulangnya sedikit terlambat?" tanya Arumi yang berjalan menghampiri suaminya.


"Masih ada tugas yang belum Mas selesaikan, Sayang."


"Aku sudah membantu Mas Fahri packing untuk pergi ke luar kota besok," ujar Arumi.


Fahri pun menepuk keningnya. Ia benar-benar lupa jika dirinya hendak pergi ke luar kota besok untuk mengecek anak perusahaan yang ada di sana.


"Kenapa Mas?" tanya Arumi heran.


"Mas lupa kalau besok ke luar kota. Mas masih ragu untuk meninggalkanmu sendirian di sini. Apa kamu bersedia ikut dengan Mas?" tanya Fahri yang memang mengkhawatirkan Arumi. Apalagi dengan kejadian Sugeng yang menjadi korban dari Dewi, membuat Fahri selalu memasang siaga untuk istrinya.


"Hmmm ... gimana ya ... Aku pikir nanti saja, Mas. Sebaiknya Mas mandi dulu, setelah itu kita bicarakan lagi," ucap Arumi yang langsung mengajak suaminya itu ke atas.


Fahri pun mengangguk. Ia pun langsung berjalan beriringan dengan sang istri, menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya.


Bersambung ....