Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 146. Berubah


Fahri dan Arumi saat ini tengah berada di lokasi, tempat dimana anak perusahaan yang dikendalikan orang-orang yang dipilih langsung oleh Arumi sebelumnya. Dan kini, Arumi menyerahkan tugasnya, terjun dan langsung mengecek kinerja di perusahaan tersebut ke tangan suaminya.


Saat Fahri tengah berada di lapangan kerja, Arumi di persilahkan menunggu di kantor. Ibu hamil itu merasa cepat lelah meskipun tidak melakukan aktivitas yang begitu berat. Perut Arumi juga sudah terlihat sedikit membuncit, namun tak begitu terlihat karena semenjak hamil, Arumi memang sering mengenakan dress yang sedikit longgar.


Arumi duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut. Wanita itu sesekali menatap ke arah luar. Seorang wanita, yang merupakan sekretaris dari perusahaan cabang tengah menemaninya di ruangan tersebut.


"Apakah Bu Arumi membutuhkan sesuatu?" tanya sekretaris tersebut.


Arumi yang semula mengarahkan pandangannya ke luar pun langsung menoleh pada sosok yang berada di sampingnya.


"Ah, tidak. Aku hanya ingin melihat-lihat saja." Arumi mengulas senyumnya.


"Apakah atasanmu memperlakukan pegawainya dengan baik?" tanya Arumi pada wanita yang ada di sebelahnya.


"Pak Damar selalu memperlakukan kami dengan baik, Bu." Sekretaris tersebut menimpali sembari menunduk.


"Baguslah kalau memang dia memperlakukan kalian dengan baik. Aku takut jika dia bersikap kasar seperti atasan yang lainnya," ujar Arumi yang mengingat bagaimana sikap Indra dahulu.


Ceklekk ...


Tak lama kemudian, pintu ruangan itu terbuka. Fahri dan Damar, yang mengelola perusahaan ini pun datang secara bersamaan.


"Maaf karena telah lama membuatmu menunggu," bisik Fahri yang langsung menjatuhkan bokongnya di samping sang istri.


"Tidak apa-apa, Mas. Lagi pula ada Yeni yang menemaniku di sini," timpal Arumi sembari mengarahkan pandangannya pada sekretaris tadi.


Fahri mengulas senyumnya. Lalu mereka yang ada di sana pun berbincang-bincang mengenai perusahaan serta visi dan misi yang akan dilalui kedepannya nanti.


....


Di lain tempat, Sifa baru saja turun dari taksi. Wanita itu menenteng rantang yang ada di tangannya, lalu kemudian menatap ke arah gedung yang ada di depannya.


Hari ini, Sifa hendak menjenguk suaminya. Ia membawakan makanan untuk suaminya itu meskipun dirinya sendiri tidak pandai memasak. Akan tetapi, Sifa mencoba untuk belajar melalui ponsel pintarnya. Menonton sebuah video sembari mempraktekkan sendiri bahan serta cara memasak yang ada di video tersebut.


Banyak perubahan dari diri Sifa. Semenjak hadirnya sang buah hati yang bersemayam dalam rahimnya, wanita itu menjadi lebih mandiri dan mencoba untuk menjadi istri yang baik.


Sejak usai pertemuan saat dipersidangan Aldo, baru kali ini Sifa kembali menjenguk suaminya itu. Ia diarahkan pada seorang penjaga lapas untuk menunggu Aldo di dalam ruang pertemuan.


Sifa menduduki salah satu kursi yang tersedia di ruangan itu. Ia mengetukkan jemarinya di atas meja, sembari menunggu Aldo datang. Tangan yang lainnya, mengusap perutnya yang masih rata, sembari berbincang kecil dengan anak yang ada di dalam kandungannya.


"Sayang, hari ini kita ketemu papa. Kamu harus senang ya, Sayang."


Di waktu yang bersamaan, wajah Aldo terdapat beberapa memar. Saat berada di dalam tahanan yang dulu, Aldo mendapat beberapa siksaan dari narapidana yang lebih lama satu sel dengannya.


Beruntung penjaga lapas langsung mengetahuinya dan segera memindahkan Aldo ke tempat lain.


Aldo yang saat itu tengah duduk dengan pandangan yang kosong, tiba-tiba ia pun dipanggil oleh penjaga lapas.


"Nomor tahanan 1405, ada yang ingin bertemu denganmu," ujar penjaga lapas tersebut sembari membukakan pintu tahanan itu.


"Siapa yang ingin bertemu denganku? Apakah ada yang masih peduli? atau hanya sekedar ingin menertawakan kemalangan ku?" batin Aldo.


Dengan malas, ia pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri penjaga lapas tersebut. Penjaga lapas itu memborgol kedua tangan Aldo terlebih dahulu, sebelum mengajaknya untuk menemui seorang pengunjung. Menghindari sesuatu hal yang tidak diinginkan nantinya.


Aldo berjalan gontai, mengikuti arah penjaga lapas itu membawanya pergi. Sesampainya di ruang pertemuan, Aldo sempat memalingkan wajahnya. Ia terlalu malas untuk bertemu siapapun karena tak ada satu pun orang yang peduli padanya.


Namun, itu terjadi beberapa detik saja, saat ia melihat siapa yang ada di dalam ruangan itu, Aldo tertegun. Akan tetapi, ia tersenyum perih, istrinya ralat! Mungkin sebentar lagi wanita itu akan menjadi mantan istrinya. Mungkin saja Sifa menemuinya hanya untuk mengatakan bahwa ia ingin meminta cerai dari Aldo.


Aldo duduk di kursi yang berseberangan dengan Sifa. Wanita itu menatap Aldo dengan ekspresi yang tak bisa diartikan.


"Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Sifa yang melihat memar di wajah Aldo.


"Tidak apa-apa," timpal Aldo dengan pandangan yang tetap tertunduk. Rasa bersalah dalam dirinya tentu saja sangat menumpuk, mengingat bagaimana ia memperlakukan istrinya dulu.


"Ada apa kamu menemuiku? Jika kamu ingin aku menandatangani surat perceraian, mana suratnya? Aku akan bubuhkan langsung tanda tanganku di atas surat itu," lirih Aldo.


"Aku datang ke sini bukan untuk itu," ujar Sifa.


"Lalu apa?" tanya Aldo mengernyitkan keningnya.


"Bukankah tujuanmu hanya itu? Jika kamu ingin mengejar kembali cinta mantan suamimu itu, silakan saja. Aku tidak akan melarangmu lagi," sambung Aldo.


Sifa mengeluarkan sesuatu di dalam tasnya. Lalu kemudian ia pun memperlihatkan benda pipih berukuran panjang, yang menunjukkan garis dua bahwa wanita itu tengah mengandung saat ini.


Wanita itu meletakkan benda tersebut tepat di depan Aldo. "Aku sedang hamil," ujar Sifa menatap Aldo dengan begitu lekat.


Entah mengapa, melihat benda pipih yang ada di hadapannya, serta mendengar ucapan sang istri, membuat hatinya sedikit bergetar.


"Jika kamu berpikir, bahwa kedatanganku kemari untuk menertawakan mu, kamu salah! " tukas Sifa.


"Dan jika kamu berpikir aku datang kemari hanya untuk meminta cerai darimu, kamu juga salah!" lanjut wanita itu.


"Kedatanganku kemari ... mengajak anak yang ada di dalam rahimku ini untuk bertemu dengan ayahnya yang saat ini tengah menebus dosa yang pernah ia lakukan terdahulu."


"Jika di dunia ini tak ada satu orang pun menunggu kepulangan mu ...." Sifa pun menggelengkan kepalanya.


"Ada kami yang menunggumu untuk pulang. Aku dan anak kita lah orang yang pertama akan menyambut kedatanganmu di rumah nanti," tutur Sifa setelah panjang lebar.


Penglihatan Aldo mengabur, air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. Pria itu tak dapat menahan tangisnya sembari memandangi bukti tes kehamilan itu. Ia menangis sejadi-jadinya, merutuki kebodohannya karena telah terjun di dunia hitam seperti ini.


"Tapi hukumanku terlalu lama. Setelah aku keluar, dia sudah mulai beranjak remaja, dan dia pastinya akan malu menganggapku sebagai ayahnya," ujar Aldo yang tak malu-malu lagi menumpahkan air matanya.


Sifa beranjak dari tempat duduknya, lalu kemudian memeluk suaminya, menepuk-nepuk bahu Aldo untuk menenangkannya.


"Tidak ada manusia yang tanpa cela sedikit pun. Anak kita tidak akan malu mempunyai ayah yang mau menanggung hukuman atas dosa yang telah diperbuatnya terdahulu. Namun, ia akan merasa sangat malu jika setelah itu ayahnya akan kembali gelap mata dan melakukan hal yang sama lagi," tutur Sifa, ia juga tak dapat menahan laju air matanya.


"Setelah ini berubahlah untuk menjadi yang lebih baik, jangan mengulangi kesalahan yang pernah kamu lakukan sebelumnya," ujar Sifa.


Aldo mengangguk, Sifa membingkai wajah sang suami dengan tangannya, lalu kemudian menyeka sisa air mata Aldo.


"Tapi ... setelah ini aku tidak kaya lagi. Semua yang ku miliki habis di sita oleh polisi. Apakah kamu mau hidup sederhana bersamaku dan memulainya dari nol lagi?" tanya Aldo.


Sifa menganggukkan kepalanya. " Setelah ini, mungkin kita akan hidup di desa saja. Di sana lebih asri, semuanya serba murah dan aku akan mencoba untuk belajar berladang atau pun membuka usaha di desa setelah memiliki modal nanti," tutur Sifa.


Aldo mengangguk, tangannya ingin memeluk Sifa, aka tetapi mengingat borgol yang terpasang di kedua tangannya membuat Aldo tak bisa bergerak leluasa.


"Aku memasakkan sesuatu untukmu. Mungkin rasanya jauh seperti yang kamu bayangkan, tapi aku akan berusaha untuk membuat makanan yang lebih sempurna lagi nantinya," ucap Sifa.


Ia mulai membuka rantang yang dibawanya, baru saja Sifa hendak memperlihatkannya pada Aldo, tiba-tiba penjaga lapas kembali masuk, mengatakan bahwa waktu kunjungan sudah habis.


"Pak, apakah saya boleh meminta waktu sepuluh menit lagi saja? Biarkan suami saya memakan makanan yang saya bawa terlebih dahulu," ujar Sifa yang meminta sedikit kelonggaran.


Penjaga lapas itu pun berpikir sejenak, sembari melirik jam tangannya. Lalu kemudian ia pun menganggukkan kepalanya, menyetujui permohonan yang diajukan oleh Sifa.


Sifa menyuapi suaminya itu makan. Aldo sangat lahap memakan masakan istrinya. Keduanya tampak melemparkan senyum .


Sepuluh menit telah berlalu, Aldo menghabiskan makanan yang dibuat oleh istrinya dengan begitu cepat. Penjaga lapas membuka pintu, hendak membawa Aldo kembali menuju tempatnya yang semula.


Saat Aldo dan penjaga lapas itu hendak melewati bibir pintu, Aldo berbalik. "Sifa, maafkan semua perbuatanku dulu terhadapmu," ujar pria itu.


Sifa menganggukkan kepalanya, wanita itu tersenyum tulus pada Aldo. Hingga penjaga lapas itu pun kembali membawa Aldo untuk menuju ke sel tahanan.


"Aku akan berubah demi anakku dan juga istriku," batin Aldo penuh tekad.


Bersambung ....