Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 73. Fahri Yang Berbeda


Mobil yang dikendarai oleh Fahri tiba di depan kantor. Arumi melepas sabuk pengaman yang masih melekat pada tubuhnya.


"Ingat! Berjalanlah dengan tegap, angkat kepalamu, dan jadilah percaya diri," ujar Arumi.


Fahri tersenyum, lalu kemudian menganggukkan kepalanya. Mereka pun turun dari mobil. Keduanya berjalan memasuki area lobi, melangkah dengan sangat elegan.


Beberapa karyawan yang ada di sana pun terpana, lalu kemudian menundukkan kepalanya saat berpapasan dengan kedua orang tersebut.


*Lihatlah! Fahri sudah sangat berbeda.


Iya. Sekarang ia terlihat lebih berkharisma.


Bahaya ... bahaya ... suami orang yang satu ini sangat meresahkan. Aku jadi menyesal dulu pernah bersikap angkuh padanya*.


Berbagai macam ujaran yang penuh pujian mereka lontarkan pada Fahri. Dengan setelan kantor biru, senada dengan baju dress yang dikenakan oleh Arumi.


Kedua orang tersebut masuk ke dalam lift. Mata mereka yang melihat kedua pasangan itu tampak membulat sempurna. Mereka terkejut akan perubahan Fahri yang terbilang cukup drastis.


Jika dulunya, Fahri terlihat polos. Namun, kali ini Arumi mengubah semua yang ada pada diri Fahri. Kepolosan yang dimiliki oleh pria tersebut tampaknya hanya di manfaatkan oleh orang-orang sekitarnya.


"Lihatlah! Mereka melihatmu seperti melihat bongkahan berlian. Penampilanmu hari ini cukup memukau banyak orang," ujar Arumi.


"Terima kasih. Kamu telah membuatku menjadi seperti ini," ujar Fahri.


"Jangan berterima kasih padaku. Tapi berterima kasihlah pada rasa sakitmu itu. Semuanya, berkat rasa sakit yang pernah kamu lalui. Mulai sekarang, jadilah pria yang memiliki kharisma. Dan bersikaplah untuk tetap tegas dan tidak mudah dikalahkan oleh siapapun," papar Arumi.


Fahri menganggukkan kepalanya. Bertemu dengan Arumi, banyak membuat suatu perubahan dalam dirinya. Arumi yang menarik Fahri dalam lingkaran rasa sakit itu. Arumi juga yang menuntun Fahri untuk menjadi pria yang lebih baik dari sebelumnya.


Tringgg ...


Lift pun terbuka. Fahri dan Arumi langsung keluar dari lift tersebut. Beberapa karyawan yang berpapasan dengan mereka langsung menunduk, menyambut kedatangan kedua orang yang sangat penting itu.


Beberapa karyawan yang tengah bergosip di meja kerja, langsung bubar saat melihat kedatangan kedua orang tersebut.


"Wah... kalau begini, pesonanya pak Indra udah kalah banting," ujar karyawan 1 yang saat ini tengah bergosip pada teman-temannya. Wanita itu mulai membuka bahan pembicaraan saat melihat atasannya sudah masuk ke dalam ruangannya.


"Asli, lihat saja. Aku sampai pangling saat melihat si Fahri yang ketampanannya seperti pangeran berkuda putih," ujar karyawan 2.


"Ssst ... jangan sebut namanya. Kalian sangat tidak sopan sekali! Dia itu sekarang suami dari atasan kita," ucap wanita yang ke tiga.


Mereka menutup mulut serentak karena merasa salah akan panggilannya pada Fahri saat ini. Tak lama kemudian, kumpulan itu bubar, untuk melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.


Di dalam ruangan, Arumi meminta Samuel untuk mengajari beberapa materi kepada Fahri. Sementara gadis itu, ia mengerjakan pekerjaan yang lainnya terlebih dahulu karena sedikit mendesak dan ini merupakan hari pertama Arumi kembali ke kantor.


Arumi mengecek beberapa file yang sudah rampung diselesaikan oleh Samuel saat ia masih sibuk liburan kemarin.


"Aku dan Samuel akan menghadiri rapat. Apakah kamu mau ikut atau tetap tinggal di ruangan ini?" tanya Arumi pada sang suami.


"Aku menunggumu di sini saja. Aku juga harus mempelajari beberapa file yang ditunjukkan oleh Samuel tadi," timpal Fahri.


"Ya sudah. Kalau begitu, aku dan Samuel pergi dulu," ujar Arumi berpamitan pada suaminya.


Fahri tersenyum lalu kemudian menganggukkan kepalanya pelan. Sementara Samuel, pria itu tampak tengah menggosok-gosok daun telinganya. Melihat interaksi kedua orang yang ada di dalam ruangan tersebut, membuat sedikit terasa panas di telinganya.


Arumi berjalan keluar dari ruang tersebut diikuti oleh Samuel yang berada di belakangnya. Pria itu sembari membawa yang digunakan untuk bahan rapatnya nanti.


"Aku melihat, dirimu sedikit berbeda setelah menikah," ujar Samuel pada Arumi saat keduanya berada di dalam lift.


Arumi tersenyum menatap asisten yang saat ini berada di sampingnya. "Berbeda? Dari segi apa?" tanya Arumi.


"Lebih sedikit menggelikan dari sebelumnya," cecar Samuel.


"Kita hendak pergi ke ruang rapat pun, kamu meminta izin seakan hendak bepergian sangat jauh sekali," sambung pria tersebut.


Setelah mendengar kalimat selanjutnya yang dilontarkan oleh pria yang ada di sampingnya itu, membuat Arumi tidak bisa menahan tawanya.


"Sepertinya kamu merasa iri ya," ejek Arumi.


"Aku? Iri? Mana mungkin!" ujar Samuel.


"Lebih tepatnya aku merasa cemburu!" lanjut pria tersebut dalam hatinya.


Tringg ...


Pintu lift terbuka. Arumi menormalkan ekspresinya, menjadi tampak tegas dan dingin. Gadis itu melangkah keluar dari lift tersebut, berjalan menuju ke ruangan yang akan menjadi lokasi rapat nanti.


.....


Setelah pulang dari rumah utama, Dewi pulang menuju ke tempat yang biasa ia tinggali selama ini. Di rumah tersebut, terdapat seorang pria yang sedang berbaring di atas kasurnya.


Dewi menggeram kesal melihat pria yang tak lain adalah kekasihnya saat ini, tengah bermalas-malasan di atas kasur, sementara dirinya harus menebalkan telinganya, mendengarkan cercaan dari Arumi terhadapnya hanya untuk mencapai tujuannya.


"Hei bangun!" ujar Dewi seraya mengguncang tubuh pria tersebut.


Pria itu bukannya bangun, justru ia menutup wajahnya menggunakan bantal seolah tidak ingin Dewi mengganggu tidurnya.


Dewi yang mulai kesal pun langsung menekan bekas luka yang masih belum mengering sepenuhnya. Luka akibat kejadian malam itu, di mana ia dapatkan saat menyelinap masuk ke ruang kerja ayahnya Arumi, lalu kemudian Arumi menusuknya dengan tusuk konde yang ada di tangannya.


"Argghhh ...." pria itu bangun langsung memegangi kakinya yang hingga saat ini masih sangat terasa sakit.


"Jika aku bilang bangun, ya bangun!" ketus Dewi. Wanita paruh baya itu menampakkan sisi buruknya, menatap kekasihnya itu dengan tajam.


"Ck, tapi tidak untuk menekan luka ini. Hanya demi memenuhi keinginanmu, aku bahkan mendapatkan luka ini. Luka yang diciptakan oleh anakmu sendiri! " keluh pria tersebut seraya memegangi kakinya.


Dewi berjongkok, lalu kemudian duduk dihadapan pria tersebut sembari memberikan tatapan yang begitu menusuk. "Apakah kamu lupa? Kamu adalah pria yang ku sewa. Aku memilihmu karena aku kira kamu cerdas. Tapi nyatanya, kamu orang yang sangat bodoh!!" ketus Dewi.


Dewi memang menyewa pria itu, agar memainkan perannya sebagai kekasihnya. Selain membantu Dewi dalam memuaskan hasratnya, pria itu juga ia gunakan untuk melakukan segala macam hal yang diinginkannya.


Saat itu, Dewi memang sengaja melakukan kegiatan panas bersama dengan pria tersebut di ruang tengah, bukan tanpa alasan. Ia ingin Arumi semakin membenci dirinya, supaya ia lebih leluasa untuk mengambil apa yang ditinggalkan oleh sang suami terdahulu.


Mantan suaminya, mewariskan perusahaan itu dengan nama Arumi, bukan dengan namanya. Alasannya karena, cinta Fian lebih besar pada anaknya dibandingkan cintanya pada sang istri.


Dan satu hal fakta yang tidak diketahui oleh Arumi adalah wanita yang ia panggil mama saat ini bukanlah ibu kandungnya.


Dewi menikah dengan Fian saat Arumi masih berusia sekitar tiga bulan. Ibu kandung Arumi merupakan seorang wanita penghibur yang mengandung benih dari Fian. Kala itu Fian terlalu malu, mengungkap identitas istrinya yang berprofesi sebagai wanita penghibur tersebut. Akhirnya Fian pun diam-diam menikahi Ibu kandung Arumi.


Ibu kandung Arumi meninggal dunia setelah melahirkan Arumi. Fian pun memutuskan untuk menikahi wanita lain, yang bersedia menerima dan mencintai Arumi seperti anaknya sendiri.


Kala itu, Fian bertemu dengan Dewi. Fian memutuskan untuk menikah dengan Dewi karena melihat wanita tersebut mampu memberikan kasih sayangnya pada Arumi. Fian juga meminta pada Dewi agar tidak pernah menceritakan keadaan yang sebenarnya, ia ingin Dewi menguburnya dengan rapat seakan Arumi adalah anak yang ia lahirkan sesungguhnya.


Dewi menyetujui hal itu. Hingga akhirnya, Fian pun mempublikasikan tentang pernikahannya dengan Dewi dan mengatakan bahwa Arumi adalah anak mereka.


Hingga saat ini, Arumi tidak menyadari kebenaran yang sesungguhnya. Hanya ada satu orang yang mengetahui rahasia besar itu. Dan orang tersebut tak lain adalah Indra.


Maka dari itu, untuk menutupi semuanya, Dewi memilih Indra untuk menggantikan posisi Arumi sementara. Jika gadis itu sampai mengetahui kejadian yang sebenarnya, dapat dipastikan jika Dewi tak akan lagi mengecap sedikit pun harta peninggalan dari Fian.


Fian tak meninggalkan sepeserpun harta untuk istrinya. Ia lebih memilih mewariskan semua itu pada Arumi. Karena saat itu Fian tahu, motif utama tujuan Dewi menikah dengannya bukanlah karena cinta, melainkan ingin menguasai semua harta yang Fian punya saat itu juga.


Bersambung ...