Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 106. Kata Cinta


Fahri memarkirkan mobilnya tepat di depan halaman. Pria tersebut turun dari kendaraannya, sembari menenteng kantong plastik yang ada di tangannya.


Fahri melihat sang istri yang berada di depan, berjalan untuk menghampirinya."Tetaplah di sana, biar aku saja yang menghampirimu," cegah Fahri yang tak membiarkan istrinya terlalu lelah.


Langkah Arumi pun langsung terhenti. Ia tetap berada di tempatnya, sembari menunggu Fahri yang datang menghampirinya.


Fahri pun sudah berada tepat di depan Arumi. Ia langsung merengkuh tubuh mungil milik istrinya itu. Arumi tersenyum, membalas pelukan dari Fahri.


"Aku pulang hanya untuk ini," ucap Fahri sembari menghirup aroma rambut istrinya.


"Sepertinya kamu sangat merindukanku sampai harus pulang hanya karena ingin memelukku," ujar Arumi sembari melepaskan pelukannya.


Fahri mencubit puncak hidung istrinya dengan gemas, lalu kemudian memberikan kantong plastik yang berisi buah jeruk, sesuai dengan permintaan sang istri tadi.


"Ini buah yang kamu minta tadi," ucap Fahri seraya menyodorkan kantong plastik tersebut.


Mata Arumi pun berbinar. Ia langsung meraih kantong plastik yang diberikan oleh suaminya itu. "Terima kasih, Suamiku." setelah berucap kata demikian, Arumi langsung memberikan hadiah sebuah kecupan singkat di pipi suaminya.


"Apa itu?" tanya Fahri sembari memegangi pipinya.


"Hadiah kecil untukmu," ujar Arumi sembari mengerlingkan matanya.


Fahri terkekeh, melihat punggung sang istri yang membelakanginya, lalu kemudian kembali duduk di tempat semula.


"Semenjak hamil, dia semakin membuatku gemas," gumam Fahri.


Fahri duduk di sebelah istrinya, ia bertopang dagu, memperhatikan Arumi yang mulai membuka kulit jeruk tersebut.


"Sini ... berikan padaku!" ujar Fahri yang langsung mengambil buah jeruk yang ada di tangan istrinya. Ia pun membuka kulit jeruk tersebut, lalu kemudian menyuapkannya pada Arumi.


"Aku merasa kembali seperti anak kecil lagi," ujar Arumi sembari mengunyah jeruk yang ada di dalam mulutnya.


"Tidak masalah. Aku sangat senang jika kamu lebih bermanja denganku," ucap Fahri. Wajah Arumi pun langsung bersemu merah.


"Aaaa ...." Arumi kembali membuka mulutnya, dan Fahri pun langsung menyuapkan jeruk yang ada di tangannya.


....


Di lain tempat, kewarasan Aldo pun baru saja kembali. Ia melihat istrinya sesegukan, dengan kondisi yang terikat. Aldo langsung membuka penutup mulut istrinya itu, membiarkan wanita tersebut berbicara.


"Apakah kamu tidak apa-apa, Sayang? Apa kamu terluka?" tanya Aldo bak seseorang yang tanpa dosa. Sementara Sifa, ia langsung membuang wajahnya, seakan tak sudi melihat suaminya saat itu juga.


"Apakah kamu marah padaku?" tanya Aldo yang semakin mendekat ke wajah istrinya. Pria itu menatap dua bola mata Sifa yang memilih untuk melirik ke arah lain.


"Kamu juga salah. Seharusnya kamu tidak usah mengurusi urusanku yang tidak semestinya harus kamu ketahui. Dan sekarang, kamu juga terlibat," tukas Aldo.


"Aku terlibat? Apakah kamu sudah benar-benar gila?!" ketus Sifa.


Mata Aldo kembali menatap Sifa dengan nyalang. "Kamu berani membentak ku?!"


"Iya. Aku bahkan tak takut melaporkanmu ke polisi bahwa kamu adalah bandar narkoba! Dan aku menyesal karena telah memilihmu dibandingkan Fahri!"


Aldo kembali menyumpal mulut Sifa. Wanita tersebut memberontak, akan tetapi ia tak sedikit pun memberi ampun pada istrinya itu.


"Kamu terlalu berisik! Awalnya aku benar-benar mengejarmu karena aku mencintaimu, akan tetapi ... satu hal yang harus kamu tahu. Aku merencanakan perpisahan kalian dari awal, terikat perjanjian dengan wanita kaya itu dan menghadiahi aku sebuah mobil mewah." Aldo menghidupkan puntung rokoknya, lalu kemudian menghembuskan asapnya ke wajah istrinya.


"Sekarang ... suamimu telah hidup bahagia bersama dengan wanita kaya itu, dan kamu ... kembali mengejar pria yang sudah memiliki banyak uang di bandingkan aku?" tukas Aldo menggebrak meja sembari melemparkan tatapan tajamnya pada Sifa.


"Haruskah kamu memungut kembali sesuatu yang telah kamu buang hanya karena dia telah memiliki banyak uang? Kini aku sadar, kamu menikah denganku juga karena tergiur dengan mobil mewah yang ku bawa bukan? Sekarang kamu mengetahuinya asal usul mobil itu!"


"Aku bukanlah pria yang memiliki banyak uang. Dan ini semua ... yang sering kamu gunakan untuk membeli barang-barang mewah. Jika aku kehilangan semua ini, maka akan ku pastikan bukan aku saja yang hancur, kamu juga harus ikut hancur bersamaku!"


Setelah berucap panjang lebar, Aldo pun memilih pergi meninggalkan istrinya di dalam gudang tersebut sendirian.


Teriakan Sifa yang terhalang oleh penutup mulut tersebut masih terdengar jelas. Namun, Aldo lebih memilih menulikan telinganya. Hatinya terlalu sakit karena dibanding-bandingkan oleh Fahri, mantan suami dari istrinya terdahulu.


Di dalam gudang, Sifa menangis tak henti-hentinya. "Berarti ... selama ini wanita itu lah yang membuat kami berpisah. Ia sengaja menyuruh Aldo dengan memberikan hadiah berupa mobil yang sering ia bawa," batin Sifa.


"Andaikan saja aku tidak tergiur dengan Aldo karena kendaraannya, andaikan saja aku tidak tertarik dengan harta yang diperlihatkan oleh Aldo kepadaku, aku pasti tidak akan berpisah dari Mas Fahri."


Sifa teringat, ia menyimpan ponsel di dalam sakunya. Wanita itu berusaha keras untuk mengeluarkan ponsel tersebut. Sifa mencoba melepaskan ikatan tali yang ada di tangannya, menggesekkan tali tersebut di kayu kursinya. Akan tetapi usahanya sia-sia, karena tali itu terikat sangat kuat melilit tangannya.


....


Malam itu, Arumi dan Fahri tengah menikmati makan malam mereka. Keduanya pun makan dengan tenang, hanya terdengar suara dentingan sendok serta piring yang beradu.


Fahri menyeka sudut bibirnya dengan tisu. Menyudahi makan malamnya. Sementara Arumi, wanita itu mengambil kembali nasi dan lauk yang ada di atas meja. Sejak kehamilannya, Arumi selalu saja merasa mudah lapar.


Fahri memperhatikan hal tersebut, hanya tersenyum simpul. Biasanya Arumi hanya makan sedikit, dan keesokan harinya ia melakukan olahraga untuk membakar lemak. Akan tetapi, kali ini wanita itu seolah tak peduli lagi akan berat badannya.


"Ketika di pagi hari, aku selalu merasa mual. Namun, malam harinya, napsu makanku bertambah," ujar Arumi terkekeh sembari memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya.


"Mungkin sebentar lagi berat badanku juga semakin bertambah, dan aku terlihat lebih jelek," lanjut Arumi.


Fahri menarik kedua sudut bibirnya. "Tidak apa-apa. Bagaimana pun penampilanmu, kamu akan tetap terlihat cantik. Lagi pula, yang penting kamu dan anak kita baik-baik saja," tutur Fahri dengan lembut.


"Mas, nanti kalau aku ngidamnya yang aneh-aneh bagaimana?" tanya Arumi.


"Tidak masalah. Akan aku turuti asalkan kamu merasa senang," timpal Fahri.


Arumi meraih air minum yang ada di hadapannya, lalu meminumnya beberapa tegukan untuk melajukan makanan yang terasa menyangkut di tenggorokannya.


"Tapi aku tidak ingin kamu sengsara. Jadi, tidak masalah bagiku jika kamu tidak mengikuti permintaanku kalau itu adalah hal yang kurang masuk akal," ujar Arumi.


Fahri sedikit mencondongkan tubuhnya, lalu kemudian mengusap pipi Arumi yang mulai terlihat gembul. "Tidak masalah, Istriku. Selagi itu bisa aku lakukan, maka aku akan melakukan apapun untuk mu. Demi kamu dan anak kita."


Arumi terenyuh mendengar ucapan Fahri. Ia ingin tetap seperti ini, selalu di perhatikan oleh Fahri meskipun Arumi tidak tahu pasti, apakah Fahri memang sudah benar-benar sembuh dari masa lalunya. Namun, satu hal yang Arumi selalu nanti-nanti kan dari suaminya itu. Kata cinta yang belum pernah terucap dari bibir Fahri secara langsung.


"Aku menantikan kamu berucap kata cinta untukku, Mas."


Bersambung ....