
Fahri baru saja pulang dari toserba karena jam kerjanya sudah habis. Saat ini ia sedang berjalan menuju ke rumah dengan berjalan kaki. Sepanjang perjalanan, ia tak henti-hentinya menghubungi kontak istrinya. Namun, kali ini nomor tersebut tidak aktif.
"Apakah dia sedang tidur di rumah," gumamnya.
Dengan langkah yang tergesa-gesa Fahri menuju ke rumahnya. Sesampainya di apartemen, pria itu tak menemukan keberadaan istrinya di dalam rumah tersebut.
Fahri kembali gelisah. Ia mencoba untuk menghubungi mertuanya. Mungkin saja sang istri memilih untuk menginap di tempat mertuanya itu.
"Halo, Bu. Maaf malam-malam mengganggu. Apakah Sifa berada di rumah Ibu?" tanya Fahri saat panggilan teleponnya tersambung.
"Ada apa? Apakah Sifa tidak pulang ke rumah?"
"Iya, Bu."
"Kenapa dia bisa tidak pulang ke rumah? Apakah kalian bertengkar?"
Fahri terdiam. Pria itu ragu untuk menjawabnya. Namun, sang mertua lebih dulu mengucapkan kalimat yang tidak enak di dengar.
"Sudah ku duga. Diammu adalah jawabannya. Tidak heran jika Sifa pergi meninggalkanmu. Lagi pula entah kenapa aku mendapatkan menantu yang payah sepertimu!!"
Panggilan telepon di tutup secara sepihak. Fahri menghela napasnya panjang setelah mendapatkan makian dari mertuanya. Di mata sang mertua, anaknya lah yang selalu benar. Bahkan sekalipun Sifa berbuat salah, Fahri lah yang di anggap sebagai suami yang payah.
Fahri kembali mencoba menghubungi istrinya, lagi-lagi hanya terdengar suara operator yang menyapa panggilannya.
"Kamu di mana Sifa?" gumam Fahri.
Dua jam telah berlalu. Jam di ponselnya sebentar lagi menunjukkan pukul dua malam. Namun, batang hidung istrinya masih tak terlihat juga.
Mata Fahri tak bisa terpejam. Ia sungguh mengkhawatirkan istrinya dan menyesal karena telah bertengkar tadi pagi. Jika saja Fahri mengalah dan mengiyakan ucapan Sifa, mungkin saja tidak akan seperti ini jadinya.
"Jangan-jangan dia tidak berani pulang karena aku mengetahui hutangnya. Mungkin Elena sudah mengirimkan pesan singkat dan mengatakan bahwa ia menagih hutangnya padaku," gumam Fahri.
"Sifa ... pulanglah! Jangan buat aku cemas. Seberapa besar hutangmu itu aku akan membayarnya walaupun dalam bentuk cicilan. Ku mohon pulanglah!" lanjut Fahri menatap ke arah luar melalui jendela kaca.
....
Matahari mulai menampakkan sinarnya. Dua insan yang saat ini masih terbungkus selimut saling berpelukan. Sifa mengerjapkan matanya saat sinar matahari yang begitu menyilaukan mata. Wanita itu melihat dada bidang yang saat ini tengah ia peluk. Ia pun mendongakkan kepalanya. Melihat wajah Aldo yang masih terlelap.
"Kami telah melakukannya," batin Sifa seraya mengintip sedikit tubuhnya dari balik selimut. Polos tanpa busana.
"Apa kamu menyesalinya?" tanya suara berat yang membuat Sifa sedikit terkejut.
Aldo menopang tubuhnya dengan sebelah tangan seraya menatap Sifa dengan ekspresi terkejutnya. "Kamu menyesal karena telah mengkhianati suamimu?" tanya Aldo lagi.
Cukup lama Sifa terdiam. Lalu kemudian ia pun menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Tidak ada yang harus aku sesali. Aku telah memulainya dan aku juga yang akan menanggung resikonya," ucap Sifa.
"Aku tidak akan membiarkanmu menanggung semuanya sendirian. Ada aku Sifa! Aku yang akan menjadi tamengmu jika ada seseorang yang berniat untuk menyakitimu," tukas Aldo seraya mengusap rambut Sifa dengan lembut.
Sifa bangun dari pembaringannya. Wanita itu mengecek ponselnya yang sudah mati karena kehabisan daya.
"Sepertinya aku harus pulang dulu. Setelah ini aku akan berangkat bekerja," ujar Sifa beranjak dari tempat tidur.
"Apakah suamimu tahu tentang kita?" tanya Aldo penuh selidik.
Sifa menggelengkan kepalanya. "Sepertinya ia tidak mengetahuinya," timpal gadis itu. Ia memunguti pakaian dalam serta busananya yang berserakan. Lalu tanpa merasa malu lagi, mengenakan semuanya di depan Aldo seakan keduanya adalah pasangan suami istri.
"Aku akan mengantarmu pulang," ujar Aldo yang juga bangkit dari tempat tidur.
"Tidak usah! Biar aku pulang sendiri saja!" tolak Sifa.
Aldo hanya mengangguk tanpa berucap apapun lagi. Wanita itu mengambil tasnya, lalu kemudian meninggalkan Aldo sendirian di dalam ruangan tersebut.
Aldo meraih ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur. Pria tersebut langsung menghubungi salah satu kontak yang ada di ponsel tersebut.
"Bisakah kita bertemu sebentar?" tanya Aldo saat panggilan itu telah tersambung.
Aldo segera mengenakan pakaiannya. Lalu kemudian pergi meninggalkan penginapan tersebut.
....
Sifa baru saja turun dari taksi. Wanita itu memasuki lift yang mengantarkannya menuju ke apartemennya. Setibanya di depan pintu, Sifa langsung menekan password smart lock pada pintunya. Lalu kemudian masuk ke dalam apartemen tersebut.
Ia melihat Fahri saat itu tengah memakai celemek, tampak sibuk di dapur. Saat mendengar suara pintu yang terbuka, pria itu berlari ke ruang tengah untuk memastikan bahwa sang istri sudah pulang.
"Sifa, ... kamu dari mana saja?" tanya Fahri berjalan menghampiri Sifa.
Melihat derap langkah yang semakin lebar menghampirinya, Sifa menebak bahwa Fahri sangat marah padanya. Dan saat ini pria itu mendekat untuk menamparnya. Sifa sudah memejamkan matanya Bersiap menerima resiko apapun dari suaminya atas perbuatan yang ia lakukan.
Namun, diluar dugaan Sifa. Justru Fahri datang, merengkuh tubuh mungilnya. "Kamu tahu, aku sangat mengkhawatirkanmu. Maaf karena aku telah membuatmu kesal."
Kalimat kekhawatiran itulah yang dapat ditangkap oleh telinga Sifa. Suaminya tidak memarahinya melainkan mencemaskan dirinya.
"Tolong, jangan seperti ini lagi. Aku akan berusaha mencari cara untuk membayar semua hutangmu pada Elena. Aku janji asalkan kamu tidak marah padaku lagi," ujar Fahri.
"Ternyata dia sudah mengetahui tentang hutangku pada Elena. Berarti dia juga tahu bahwa selama ini aku telah membohonginya," batin Sifa.
Sifa hendak membalas pelukan suaminya. Ia merasa tersentuh akan ucapan Fahri. Namun, wanita itu merasa berat karena mengingat dirinya yang sudah mengkhianati sang suami. Bahkan kesalahan itu tak bisa termaafkan jika sampai terdengar di telinga Fahri.
"Semalam kamu tidur di mana?" selidik Fahri.
"Di rumah temanku. Yang pasti itu bukan Elena karena lingkup pergaulanku cukup luas. Dan aku tidak hanya memiliki Elena sebagai temanku," timpal Sifa dingin. Wanita itu pun pergi meninggalkan suaminya yang saat ini tengah mematung menatap punggungnya.
"Ku harap dugaan ku salah, Sifa. Aku yakin kamu tidak akan mengkhianati ku dan berbuat sekeji itu," batin Fahri.
Sifa membersihkan tubuhnya yang terasa kotor. Wanita itu kembali mengingat kejadian di mana ia menyerahkan tubuhnya kembali pada Aldo setelah sekian lamanya.
Itu bukan yang pertama kalinya Sifa dan Aldo melakukannya. Bahkan sebelum itu, saat keduanya masih sama-sama menjalin asmara, Aldo dan Sifa sudah pernah beberapa kali berhubungan. Hingga akhirnya Aldo pergi dan Sifa, menikah dengan Fahri untuk menutupi aibnya.
Bersambung ...
Supaya lebih kuat menghalunya, aku kasih visual pemeran untuk kalian. Tapi dengan catatan adanya visual untuk mempermanis saja, jika tidak sesuai dengan visual yang diberikan oleh author, kalian bisa menghalu versi masing-masing.
FAHRI
ARUMI
SIFA
ALDO
SAMUEL
Minta dukungannya ya guys. Like, komen, sama votenya kalau ada❤️