Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 119. Kabur Dari Rumah


Sifa baru saja keluar dari nerakanya. Wanita tersebut segera menuju ke ATM terdekat, mencoba menarik semua uang yang ada di dalam kartu kredit tersebut sebelum Aldo memblokir kartu kreditnya itu.


Setelah menarik uang di beberapa tempat, Sifa pun memilih untuk menyewa sebuah kamar kos yang berukuran kecil demi menghemat pengeluarannya.


Sebelum menuju kemari, Sifa menyempatkan diri untuk membeli ponsel, karena ponsel lamanya telah dirusak oleh Aldo.


Wanita tersebut mencoba mengotak-atik ponselnya. Ia takut jika menghubungi ibunya terlebih dahulu. Karena bagaimana pun juga, Kartika selalu saja berpihak pada Aldo dan menganggap bahwa suaminya itu adalah pria yang baik-baik. Bahkan lebih baik dari pada Fahri.


Sifa memasukkan nomor ponsel yang selalu ia ingat. Nomor yang tak lain adalah milik mantan suaminya itu. Wanita tersebut langsung menempelkan benda pipih itu ke salah satu telinganya.


"Angkat Maas Fahri , ku mohon ...," gumam Sifa sembari menggigiti kuku jarinya.


Takut? Sudah tentu! Sifa takut jika nanti suaminya itu menemukan tempat persembunyiannya. Maka dari itu ia mencoba untuk menelepon Fahri, meminta perlindungan pada pria tersebut dan membantu untuk melaporkan Aldo ke polisi.


Sifa mendengkus kesal saat panggilannya tak kunjung di terima oleh Fahri. "Kenapa kamu mengabaikanku, Mas. Aku butuh kamu saat ini," gumam Sifa sembari sesegukkan menatap layar ponselnya.


Di waktu yang bersamaan, Fahri saat itu sedang menatap layar komputernya. Ia melihat panggilan dari nomor baru. Pria itu pun mengernyitkan keningnya.


"Siapa lagi ini? Apakah seseorang yang ingin mengganggu Arumi?" gumam Fahri.


"Lantas mengapa dia menghubungiku?" lanjut pria tersebut.


Seperti yang diucapkan oleh Arumi sebelumnya. Istrinya itu tidak ingin menambah beban pikiran hanya karena orang-orang jahat yang ada di sekitar mereka.


Fahri mengira yang meneleponnya adalah suruhan Dewi, atau yang lainnya yang berusaha meneror ia dan sang istri. Tanpa berlama-lama, Fahri pun langsung memblokir nomor yang baru saja menghubungi.


Sama hal nya seperti Arumi. Ia tidak ingin dipusingkan oleh teror-teror apapun yang ada di luar sana. Tanpa Fahri ketahui, bahwa yang meneleponnya saat itu adalah mantan istrinya, yang mencoba untuk meminta pertolongan melalui dirinya.


Setelah memblokir nomor tersebut, Fahri memilih untuk menelepon sang istri. Hanya untuk sekedar memastikan bahwa istrinya itu baik-baik saja.


Tuttt ... Tuttt ...


Terdengar suara dari benda pipih itu. Tak lama kemudian, panggilannya pun langsung di angkat oleh sang istri.


"Halo, Mas ...." terdengar suara Arumi dari seberang telepon.


"Kamu sudah bangun, Sayang?" tanya Fahri.


"Iya, Mas. Maaf ya ... pas kamu pulang aku ketiduran," ujar Arumi.


"Tidak apa-apa, Istriku. Aku justru menyuruhmu lebih banyak beristirahat. Sekarang kamu sedang apa?" tanya Fahri.


"Sedang bersantai, Mas. Aku merasa bosan hanya berdiam diri di rumah tanpa melakukan apapun," keluh Arumi.


"Jadi?"


"Ya ... sesekali izinkan aku ikut ke kantor, Mas. Aku bosan kalau kamu jauh dariku. Aku jadi tidak ada teman mengobrol," gerutu Arumi.


Fahri pun tampak berpikir sejenak. "Ya sudah, kalau begitu nanti aku akan sedikit memberi sekat di dalam ruangan ini. Membeli kasur single supaya kamu bisa beristirahat," ujar Fahri.


"Iya, aku setuju!" sambung Ayumi yang terdengar sangat antusias. Wanita tersebut tampak senang dengan usul yang diberikan oleh suaminya itu.


"Nanti pulang jangan terlalu larut, Mas."


"Iya, Istriku. Kalau begitu Mas lanjut kerja dulu ya," ucap Fahri.


"Hmmm ...."


Tak lama kemudian, Fahri pun menutup panggilannya. Ia tersenyum menatap layar ponselnya. Pria itu kembali melanjutkan pekerjaannya dengan tenang, karena telah memastikan kondisi istrinya sedang baik-baik saja.


.....


Aldo baru saja tiba di rumahnya. Pria tersebut lagi-lagi membawa barang yang menjadi bisinisnya. Aldo tiba lebih dulu, lalu kemudian di susul dengan salah satu mobil angkutan umum biasa, yang membawa barang-barang milik Aldo agar tak terlalu ketahuan.


"Masukkan semuanya di dalam sana!" titah Aldo sembari melemparkan kunci pada salah satu anak buahnya itu.


Dengan sigap, anak buahnya itu pun langsung menangkap kunci yang dilemparkan oleh Aldo. Lalu kemudian berjalan menuju ke gudang sembari memberikan instruksi pada supir yang membawa barang-barang terlarang itu.


"Dimana Sifa?" tanya Aldo saat hendak berlalu dari hadapan pelayan tersebut.


"Tadi masih tidur di kamar, Tuan." pelayan itu menimpali.


Aldo pun melangkahkan kakinya menuju ke kamar. Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Aldo mengangkat panggilan itu lebih dulu. Pelanggan yang sering memesan barang padanya.


"Siap bosku, akan segera diantar malam ini," ucap Aldo yang tengah berbicara dengan seseorang yang berada di seberang telepon.


Setelah panggilan terputus, Aldo kembali melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Ia memegang kenop pintu, lalu memutarnya. Saat pintu terbuka lebar, kening Aldo mengernyit karena tak menemukan keberadaan istrinya di atas kasur.


Aldo langsung berjalan menuju ke kamar mandi, akan tetapi ia tak menemukan keberadaan Sifa di sana. Lalu kemudian Aldo pun berjalan mendekati lemari pakaian, saat ia membuka lemari tersebut, ia menemukan setengah pakaian Sifa sudah tidak ada di dalam lemarinya.


"Sial!!" geram Aldo sembari membanting pintu lemari tersebut, hingga lemari itu pun sedikit rusak karena ulah pria tersebut.


Aldo keluar dari kamarnya dengan perasaan kesal. Kemarahannya kembali meledak-ledak saat mengetahui bahwa sang istri sudah kabur dari rumahnya.


Tak lama kemudian, ia melemparkan pandangannya pada pelayan yang masih menata barang-barang yang ada di ruang tengah. Aldo pun segera menghampiri pelayan tersebut, mengambil satu buah guci yang berukuran kecil, lalu kemudian membantingnya hingga terdengar bunyi suara yang begitu nyaring .


Pelayan tersebut tersentak kaget, ia menunduk tak berani menatap wajah majikannya.


"Kamu bilang, jika Sifa berada di dalam kamar? Di kamar bagian mana? Hah?!" ketus Aldo.


"Ta-tapi Tu-tuan, tadi Nyonya memang ada di dalam kamarnya dan sedang beristirahat," timpal pelayan tersebut terbata-bata karena merasa ketakutan.


Aldo mengusap wajahnya dengan kasar. Pria itu sesekali menghela napasnya sembari berteriak tepat di depan pelayannya itu.


"Dasar bodoh! Tak berguna! Aku membayarmu mahal bukan untuk membersihkan rumah saja. Tapi awasi juga istriku, bodoh!" cecar Aldo.


"Sebaiknya, kamu pergi dari sini. Pergi yang jauh dari hadapanku. Karena jika aku masih melihat wajahmu di sini, aku bisa saja menghabisi nyawamu," ancam Aldo dengan kemarahan yang berada di level tertinggi.


Pelayan tersebut segera berlari dari hadapan Aldo. Wanita itu langsung mengemasi barang-barangnya dan kemudian memilih pergi dari tempat itu dengan terbirit-birit.


Aldo langsung berjalan keluar. Ia menghidupkan mesin mobilnya, lalu kemudian melajukan kendaraan tersebut dengan kecepatan tinggi. Aldo baru saja mengecek ponselnya, ia melihat notifikasi penarikan uang dalam jumlah yang lumayan banyak dari kartu kredit yang pernah ia berikan untuk istrinya itu.


"Dasar wanita kurang ajar! Jika aku mendapatkanmu, akan ku buat kamu lebih sengsara dari pada yang kemarin," gerutu Aldo.


"Aku harus segera menemukannya, jika tidak ... dia pasti akan melaporkanku karena tahu bahwa aku adalah pemakai sekaligus pengedar," lanjut pria tersebut dengan pandangan yang tertuju ke depan.


Aldo tiba di apartemen yang ditinggali oleh mertuanya. Pria itu berusaha untuk menormalkan wajahnya, supaya mertuanya itu tidak mencurigai dirinya dan tetap berpikiran positif tentang menantu kesayangannya itu.


Aldo beberapa kali memencet bel. Tak lama kemudian, pintu pun terbuka. Kala itu Kartika menampakkan wajahnya dengan menggunakan masker.


"Duh, ada menantuku. Ayo masuk, Nak." tawar Kartika yang tampak kesusahan berbicara karena takut maskernya retak.


"Duduklah dulu. Ibu mau mencuci wajah terlebih dahulu," ujar Kartika mempersilahkan Aldo duduk.


Aldo pun menjatuhkan bokongnya. Lalu kemudian mengedarkan pandangannya. " Dia sangat licik. Sepertinya wanita itu tidak berada di sini," batin Aldo.


Selang beberapa menit kemudian, Kartika pun kembali menemui menantunya dengan wajah yang lebih cerah.


"Jika ibu berada di luar rumah, mungkin orang-orang akan mengatakan bahwa ibu seumuran dengan Sifa, karena terlihat awet muda," puji Aldo yang memang sengaja meninggikan rasa untuk mertuanya itu karena memang sifat Kartika yang haus akan pujian.


"Ah kamu bisa saja," ujar Kartika tersipu malu.


"Oh ya, mana Sifa? Kenapa tidak ikut ke sini?" tanya Kartika tak melihat sang putri bersama menantunya.


"Sifa di rumah, Bu. Aku kebetulan memiliki pertemuan dengan kolegaku. Dan aku datang kemari untuk menengok ibu," ujar Aldo berbohong


"Kamu memang menantu yang baik, Aldo. Ibu sangat menyukaimu. Bahkan Sifa saja jarang sekali menengok ibu di sini," tutur Kartika.


"Nanti, saya akan menasihati Sifa, Bu."


Kartika menganggukkan kepalanya, menyetujui ucapan sang menantu. Sementara Aldo, diam-diam pria itu tersenyum penuh arti. Ia mampu mendapatkan hati mertuanya, dan tentu saja Kartika akan terus mendukungnya seperti ini.


Bersambung ....