Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 183. Keluarga Kecil


Setelah satu minggu yang lalu berbincang masalah pernikahan, hari ini Indra hendak mengucapkan janji sucinya di depan penghulu, membuktikan keseriusan yang sempat diragukan oleh Jessy.


Pria itu berpakaian rapi dengan menggunakan setelan tuxedo putih dan dasi kupu-kupu yang melingkar di lehernya.


Sementara Jessy, sangat cantik dengan menggunakan kebaya berwarna putih, serta dengan riasan yang begitu cantik membuat Indra langsung terpana melihat kecantikan sang istri.


Semua orang mulai berdatangan untuk mengucapkan selamat pada kedua mempelai yang tengah menjadi raja dan ratu sehari. Indra dan Jessy sepakat pernikahan mereka diadakan secara tertutup, yang tentunya hanya mengajak orang-orang yang terdekat saja.


Teman-teman Indra mulai berdatangan, dengan membawa pasangan masing-masing. Fahri dan yang lainnya langsung menemui Indra, memberikan ucapan selamat pada Indra yang saat ini tengah menggendong anaknya.


"Apakah ini yang namanya bonus, Bro?" celetuk Samuel.


Elena langsung menyenggol lengan suaminya karena berbicara seperti itu.


"Haha iya, pecah celengan. Tabunganku sudah besar," timpal Indra seraya terkekeh, pria tersebut melemparkan juga candaan recehnya.


Fahri dan Samuel beserta para istrinya pun ikut tertawa mendengar ucapan pria tersebut.


"Tetapi tidak patut untuk dicontoh ya, kawan-kawan." Indra menyambung kembali ucapannya yang belum usai. Fahri mengangguk, membenarkan ucapan dari temannya itu.


Seusai asyik berbincang-bincang, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dimana Indra akan mengikrarkan janji sucinya di depan banyak orang. Dengan menjabat tangan Reno, yang tak lain adalah Abang dari Jessy, mengucapkan ijab kabul dengan begitu lantang di depan banyak orang-orang tanpa salah sedikit pun.


Para saksi pun mengesahkan pernikahan mereka, hingga akhirnya Indra dan Jessy pun dinyatakan resmi sebagai pasangan suami istri.


Kedua mempelai itu pun saling bertukar cincin, menyematkan cincin kawin tersebut di jari manis masing-masing. Jessy menyambut tangan suaminya, lalu mencium punggung tangan tersebut. Sementara Indra mengecup kening Jessy, yang kini sudah sah menjadi istrinya.


Setelah acara akad nikah, dilanjutkan dengan menikmati hidangan dan hiburan yang telah disuguhkan tuan rumah. Seperti biasa, hidangan ala gratisan ini, Samuel begitu sangat menikmatinya. Walaupun dirinya sudah menjadi menantu orang kaya, tetap saja ia tak melupakan hobinya, yaitu penikmat gratisan.


Acara telah selesai, tamu undangan pun perlahan mulai meninggalkan aula tersebut. Begitu pula dengan teman-teman Indra.


Kini kedua pengantin itu tengah berada di dalam kamar. Jessy bermain dengan anaknya di atas kasur, sementara Indra hanya mengusap tengkuknya. Menunggu giliran anaknya tertidur dan dialah bermain dengan istrinya.


"Pak Indra, aku menidurkan Tegar dulu ya," ujar Jessy yang memang dapat membaca ekspresi dari sang suami.


"Jessy, ..."


"Ya ...."


"Bisakah kamu jangan memanggilku dengan sebutan Pak Indra lagi?" tanya Indra.


"Aku bukan atasanmu lagi, aku adalah suamimu," lanjut Indra.


"Mas, aku menidurkan anak kita sebentar ya ..."


Blushhh ...


Wajah Indra memerah seketika bak anak ABG yang baru saja dilanda asmara. "Y-ya ... ma-maksudku seperti itu," gumam Indra dengan rona merah di wajahnya.


Entah mengapa mendengar Jessy memanggilnya dengan sebutan itu, membuat Indra tersipu malu bak manusia yang benar-benar polos. Padahal dirinya dulu adalah seorang pemain.


Jessy menepuk-nepuk pelan punggung anaknya, sembari menyanyikan lagu nina bobo untuk jagoan kecilnya.


Cukup lama Jessy menyanyikan lagu supaya anaknya tidur, akan tetapi jagoan kecilnya tak kunjung tertidur juga.


"Tidurlah, Nak. Hari sudah malam," ujar Jessy seraya mencium pipi gembul anaknya.


Saat dirinya mengarahkan pandangan ke arah sang suami, Jessy terkejut mendapati Indra yang telah tertidur lebih dulu. Terdengar suara dengkuran dari pria tersebut mungkin karena terlalu kelelahan.


"Aku menyanyikan lagu agar jagoan kecilku tertidur, yang tidur malah papanya," gumam Jessy sembari terkekeh.


Tegar yang seolah mengerti ucapan ibunya pun juga ikut mengembangkan senyumnya. "Papa mu sudah tidur, Nak. Sekarang giliran kita yang tidur ya, Sayang."


Jessy kembali menyanyikan lagu nina bobo agar anaknya tertidur. Tak lama kemudian, Tegar pun perlahan menutup matanya. Hingga terdengar dengkuran halus dari jagoan kecilnya itu. Mata Jessy juga mulai terasa berat, wanita tersebut juga ikut tertidur sembari memeluk anaknya.


.....


Hari demi hari telah berganti. Aldo saat ini tengah berkeringat membawa istrinya untuk menuju ke rumah sakit. Pria itu sempat terkejut karena melihat istrinya yang mulai meringis kesakitan sembari memegangi perutnya.


Aldo menuju ke rumah sakit dengan membawa mobil pick up yang ia pinjam dari tetangganya. Tak lama kemudian, mobil yang dikendarai oleh Aldo pun tiba di rumah sakit. Pria itu segera menggendong istrinya sembari berteriak memanggil dokter.


"Dokter, tolong istri saya, Dok."


Tak lama kemudian, beberapa perawat langsung menghampiri Aldo sembari membawa brankar. Aldo merebahkan Sifa di atas brankar. Wanita itu masih mengeluh kesakitan sembari memegangi perutnya.


"Tahan sebentar ya, Sayang." Aldo menimpali ucapan sang istri dengan nada yang bergetar, didukung oleh rasa panik yang semakin menguat.


Sifa dibawa ke ruangan bersalin, dan langsung ditangani oleh dokter. Dokter mengizinkan Aldo menemani istrinya disaat wanita hebat itu tengah berjuang hidup dan mati demi melahirkan buah hati yang mereka dambakan.


Dokter memberi instruksi pada Sifa untuk mengatur pernapasannya.


"Tarik napas, lalu hembuskan. Ulangi lagi, tarik napas, lalu hembuskan."


Sifa mengikuti instruksi dari dokter. Dengan mengucur peluh membasahi wajahnya, wanita itu berjuang keras untuk mempertaruhkan nyawanya.


Aldo menggenggam tangan Sifa tanpa melepaskannya barang sedetik pun. Pria itu menyeka peluh yang membasahi kening sang istri. Dalam hatinya, ia berdoa agar anak dan istrinya dapat terselamatkan.


Sakit yang saat itu Sifa rasakan tak terasa, demi melahirkan anaknya ke dunia ini, ia berusaha keras sekalipun saat ini seakan seribu tulang serasa dipatahkan.


Dan hingga akhirnya, perjuangan Sifa pun membuahkan hasil. Terdengar suara jeritan bayi yang memenuhi seisi ruangan itu.


Aldo tak kuasa menahan air matanya. Pria itu melihat bayi yang kemerah-merahan menangis menjerit pertanda bahwa dirinya telah lahir ke dunia ini.


"Bayinya laki-laki," ujar dokter tersebut.


Aldo mencium kening istrinya, air mata Sifa jatuh begitu saja karena merasa bangga telah berjuang sejauh ini demi sang buah hati.


"Terima kasih, Sifa. Terima kasih, Istriku." Aldo tak berhenti berucap demikian karena merasa terlalu bahagia saat ini.


"Terima kasih juga karena kamu selalu berada di sisiku, Sayang. Perjuangan kita selanjutnya yaitu menjadikan dia anak yang baik ketika dewasa nanti," ujar Sifa. Aldo mengangguk, pria itu kembali mencium punggung tangan istrinya sementara perawat membersihkan sang buah hatinya.


Bersambung ....