Pria 500 Juta

Pria 500 Juta
Bab 57. Flashback


Flashback on:


Fahri melihat beberapa orang yang sibuk berlalu lalang menurunkan barang-barang yang ada di atas mobil lalu membawanya masuk ke dalam kontrakan Fahri.


Pria itu hanya menggelengkan kepalanya melihat hal tersebut. "Ternyata lebih berbahaya jika dia merasa bosan," gumam pria tersebut.


Fahri memilih untuk mencuci wajahnya supaya rasa kantuknya hilang. Memakai sabun pencuci muka, agar terlihat sedikit cerah walaupun dirinya belum mandi.


Pria itu mengeringkan wajahnya dengan handuk. Ia melihat ke arah dapur, matanya menangkap makanan yang dibelikan oleh Arumi tadi.


Entah mengapa, Fahri merasa tidak enak. Bagi pria itu, Arumi terlalu berlebihan jika memang ini semua hanyalah sebuah keisengan belaka. Tak hanya sekali, akan tetapi berkali-kali ia dibawakan makanan oleh Arumi.


"Haruskah aku memberikannya sesuatu? Akan tetapi aku tidak mempunyai banyak uang untuk membelikannya hal-hal yang mewah," gumam Fahri.


Tak lama kemudian, Fahri pun mendapatkan ide. Ia langsung bergegas berjalan menuju ke ruang tengah, lalu kemudian memberhentikan para pengantar barang tersebut.


"Stop!! Tidak usah di turunkan lagi!" sergah Fahri.


Para pengantar barang yang tengah mengangkat kasur pun langsung menghentikan langkahnya. "Apakah ada masalah, Pak?" tanya salah satu dari mereka.


"Barangnya aku cancel saja," ujar Fahri.


Beberapa orang yang ada di sana pun langsung mengeluh saat mendengar ucapan Fahri.


"Tidak bisa begitu, Pak. Lagi pula, kami sudah hampir menurunkan semua barang-barangnya," protes salah satu dari mereka.


"Lagi pula barang ini sudah di bayar. Mungkin bos kami tidak mau mengembalikan uangnya," protes yang satunya lagi.


"Boleh aku minta kontak bos kalian? Biar aku yang berbicara padanya." Fahri berucap dengan mantap.


Salah satu dari mereka pun mengeluarkan ponselnya, lalu kemudian menyebutkan nomor tersebut satu persatu. Fahri langsung menghubungi nomor itu.


"Halo selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?" terdengar suara dari seberang telepon.


"Begini pak ...."


"Burhan," ujar salah seorang pengantar dengan bertubuh gempal, memberitahukan nama bosnya itu.


"Saya ingin mengembalikan semua barang yang baru saja di kirim ke tempat saya. Apakah bisa?" tanya Fahri.


"Maaf, barang yang mana? Bisakah saya bicara pada salah satu pengantar untuk menanyakan kendalanya?"


Fahri pun memberikan ponselnya kepada salah satu pengantar barang tersebut. Pria itu tampak serius dan menjelaskan keadaannya.


Tak lama kemudian, ia kembali menyerahkan ponsel itu kepada Fahri.


"Maaf, Pak. Saya baru saja tanya pada salah satu pengantar tadi bahwa tidak ada kendala dari kaminya. Untuk itu, kami tidak bisa menerima barang cancel. "


"Begini saja, Pak. Saya akan mengambil separuh dari barang yang diantar. Dan saya akan mengembalikan separuhnya lagi. Untuk kembali memasukkannya ke dalam mobil, saya akan bertanggung jawab untuk membantu mereka mengangkat barang-barang tersebut," papar Fahri.


"Tetap tidak bisa, Pak."


"Tolonglah, Pak. Bantu saya sekali ini saja. Saya ingin menggunakan uang itu untuk hal lainnya. Membelikan sesuatu untuk calon istri saya," ucap Fahri memelas.


"Baiklah, begini saja. Saya juga minta tolong dengan bapak untuk tidak cancel semuanya. Karena bagaimana pun juga, kami membawa barang-barang itu menggunakan tenaga dan juga bensin mobil. Saya hanya bisa membantu setengahnya saja."


"Baik, Pak. Kalau begitu terima kasih banyak," ujar Fahri yang merasa senang.


" Ya sudah, nanti jangan lupa untuk mengambil uangnya ke sini."


"Siap, Pak."


Sambungan telepon pun terputus. Fahri mulai memilih barang-barang yang ama dipulangkan olehnya. Pria tersebut hanya mengambil beberapa barang yang penting saja.


Para pengantar barang tersebut tengah beristirahat. Sementara Fahri, pria.tersebut sibuk menggotong barang-barang yang di bawa ke kontrakannya untuk kembali masuk ke dalam kendaraan tersebut untuk yang ke dua kalinya.


Beberapa dari mereka mulai berdiri, dan bergerak membantu Fahri. Barang-barang yang di cancel oleh pria tersebut memang lumayan banyak. Akan tetapi ia menepati janjinya pada pemilik toko tadi.


Dan kini Fahri tengah mengangkat barang yang terakhir, yaitu sebuah televisi. Pria tersebut berjalan menuju ke pintu keluar. Akan tetapi, tiba-tiba ia menginjak tumpahan air minum, membuat pria tersebut langsung terpeleset dan barang yang dibawanya tadi mengenai kaki bagian tulang keringnya.


Fahri meringis kesakitan merasakan tulang keringnya yang benar-benar nyeri. Beberapa orang yang melihat Fahri pun mencoba untuk membantunya.


Kaki Fahri mulai membengkak dan membiru dibagian rasa sakitnya. Pria tersebut mengernyitkan keningnya, berusaha untuk menahan rasa sakit itu.


"Televisinya biarkan saja tinggal. Mungkin memiliki kerusakan saat aku terjatuh tadi," ujar Fahri.


"Yakin, Pak? Kakinya bengkak," ujar pria bertubuh gempal itu.


"Bengkak sedikit saja," timpal Fahri.


Mereka pun akhirnya menuju ke toko untuk mengembalikan lagi barang-barang yang sudah dibatalkan oleh Fahri. Sementara pria tersebut, ia hendak mengambil uang dari barang-barang yang dikembalikan.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mobil pengangkut barang itu pun tiba di toko. Fahri dan yang lainnya turun dari mobil tersebut.


Dengan berjalan sedikit pincang, Fahri masuk ke dalam toko tersebut. Pria bertubuh gempal tadi, memperkenalkannya pada bos yang ada di toko itu.


Pria tersebut menyambut Fahri dengan ramah tamah, mengajaknya berbincang sejenak. Fahri pun bercerita, ia segera menikah akan tetapi ia ingin menghadiahi sesuatu untuk calon istrinya.


Pak Burhan menyarankan kepada Fahri untuk membelikannya cincin. Fahri menjelaskan tentang keuangannya, bahwa ia dan calon istrinya bak langit dan bumi, berbeda kasta. Pak Burhan pun memperkenalkan salah satu kenalannya yang bekerja di toko perhiasan. Meminta agar pria tersebut mencarikan harga yang terjangkau namun tetap dengan desain elegan.


Fahri juga meminta kepada Pak Burhan untuk merahasiakan barang-barang yang di cancel olehnya, untuk tidak diberitahukan kepada si pemesan barang yang tak lain adalah Arumi.


Pak Burhan menyetujui hal itu, ia bisa melihat Fahri adalah pria yang baik. Salah satu anak buahnya pun sempat bercerita atas kejadian yang menimpa Fahri sebelum pergi ke tokonya.


....


Saat di perjalanan pulang dari toko, Fahri mendapatkan pesan singkat dari Arumi. Ia pun membuka pesan tersebut.


Mari bertemu di tempat biasa. Kita perlu berunding tentang pernikahan kita.


Fahri pun langsung membalas pesan tersebut dengan memasang janji temu jam tiga sore. Pria itu kembali melanjutkan langkah kakinya, meskipun terasa sedikit sakit, akan tetapi Fahri tetap memaksakan diri untuk tetap berjalan pulang.


....


Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa sore pun telah tiba. Fahri memilih lebih awal untuk datang ke resto supaya Arumi tidak terlalu memperhatikan langkahnya. Karena wanita itu akan bertindak berlebihan lagi jika mengetahui hal tersebut.


Awalnya Fahri mengira bahwa Arumi tidak akan datang, akan tetapi tiba-tiba seorang gadis duduk di depannya dengan mengenakan kacamata hitam serta menggunakan scarf untuk menutupi sebagian wajahnya.


Arumi bersuara, mengatakan bahwa itu adalah dirinya. Fahri pun menatap Arumi dengan tersenyum. Ia mengernyitkan keningnya saat melihat wajah Arumi yang tanpa sengaja tertangkap olehnya sebuah luka lebam.


"Baiklah. Tujuanku kemari untuk membicarakan tentang pernikahan kita. Aku tidak ingin adanya kekurangan apapun dalam pernikahan ku. Maka dari itu aku ingin mendiskusikan kepadamu tentang beberapa hal. Yang pertama masalah deko ...."


Fahri yang sedang memperhatikan Arumi pun menjadi teralihkan saat melihat ponselnya berdering. Panggilan tersebut merupakan panggilan dari Pak Burhan.


Fahri kebingungan, ia tak mungkin untuk mengangkatnya di depan Arumi, sementara barang-barang Arumi dikembalikan lagi ke toko. Takut saja jika Arumi mengetahui nama pemilik toko tersebut.


"Aku permisi sebentar untuk mengangkat telepon," ujar pria itu yang langsung beranjak dari tempat duduknya.


Fahri yang awalnya tidak ingin diketahui oleh Arumi tentang kakinya, terpaksa gadis itu harus mengetahuinya saat ia menyeret kakinya yang sakit berjalan keluar.


Fahri mengangkat panggilan telepon tersebut."Besok, kamu sudah bisa mengambil cincinnya. Ukiran nama di dalam cincin itu pun sudah di buat," ujar Pak Burhan dari seberang telepon.


"Apa sudah beres semuanya?" tanya Fahri.


"Tentu saja. Mereka sangat mengutamakan pesanan pelanggan."


"Tolong usahakan tidak ada yang tahu tentang ini, atau dia akan membunuhku," ucap Fahri sesekali melirik Arumi yang tengah melamun.


"Tenang saja. Aku tidak akan memberitahukan kepada siapapun. Apakah kamu sedang bersamanya? Tampaknya dari suaramu sedikit gugup."


"Hmmm ...," timpal Fahri.


"Apakah dia mencurigaimu? Diam-diam bersembunyi menerima telepon dariku. Nanti dia akan mengira bahwa kamu berselingkuh," ujar Pak Burhan.


"Tidak. Sepertinya dia tidak mencurigaiku. Aku harap dia akan tetap seperti itu sampai tiba saatnya dia harus mengetahui semuanya," ujar Fahri lagi.


Setelah cukup lama berbicara dengan Pak Burhan, Fahri mematikan panggilannya. Ia kembali berjalan menuju Arumi. Mendengarkan apa yang hendak gadis itu katakan.


Namun, tak disangka, karena disanalah awal mula dari perdebatan mereka. Fahri sedikit tersinggung karena Arumi yang mencurigainya. Seakan di cap bahwa menjadi pria yang berkhianat dan bahkan dikatai bak kacang lupa kulitnya.


Falshback off


Bersambung ....


Ini chapter yang menjelaskan kejadian sebelumnya ya Takut aja nanti ada yang komen lagi kalo chapter ini nggak penting wkwkwk.


Jangan lupa untuk memberikan dukungannya. Hari senin nih, kasih votenya dung😁


Terima kasih ❤️