
Arumi melihat keberadaan ibunya di ruang tengah. Gadis itu berjalan menghampiri ibunya, lalu kemudian menjatuhkan bokongnya, meletakkan paper bag serta tas jinjingnya di samping.
"Ada apa?" tanya Arumi.
"Apakah kamu ingin kembali meng-handle kantor?" tanya Dewi, ibunya.
Arumi terkekeh saat mendengar ucapan dari ibunya. "Ternyata dia mempunyai nyali hello kity, belum apa-apa sudah melaporkan aku," gumam Arumi.
"Iya. Aku memutuskan untuk kembali mengurus kantor. Lagi pula, aku sudah dinyatakan sembuh dari kanker. Dan sudah seharusnya aku merebut kembali apa yang harusnya menjadi milikku," papar Arumi.
"Sebaiknya urusan kantor kamu serahkan saja pada Indra. Dia bisa membantumu untuk mengurus semuanya. Lagi pula kamu tidak perlu bersusah payah lagi untuk melakukan sesuatu. Kondisimu belum sepenuhnya pulih," jelas Dewi.
Arumi tersenyum miring seraya membuang mukanya. "Sejak kapan mama peduli padaku? Pulih atau tidaknya, biar aku yang mengurus diriku sendiri," ujar Arumi.
"Tetap saja. Jika nanti kamu sakit lagi, pasti Indra akan kembali mengurus semuanya. Dan dia ...."
"Tidak!! Indra tidak perlu lagi mengurus perusahaan. Aku akan menikah. Kelak, suamiku yang akan mengurus semuanya," tukas Arumi menyela pembicaraan ibunya .
"Lagi pula, kantor adalah urusanku. Mama urus saja jallang-jallang yang menjadi teman ranjang mama," lanjut Arumi.
"Kamu jangan kurang ajar, Arumi!"
"Kenapa? Bukankah yang ku katakan benar adanya?" Arumi beranjak dari tempat duduknya.
"Urus saja yang menjadi urusan mama. Tidak usah mencampuri urusanku," tegas Arumi.
Gadis itu pun memilih untuk pergi dari tempat itu, membiarkan ibunya sendirian di ruang tengah. Ia melangkah memasuki kamarnya, lalu kemudian menghempaskan tubuhnya di kasur yang berukuran king size tersebut.
Arumi menatap langit-langit rumah sembari memijat keningnya. Jika memikirkan urusan kantor, memang sedikit melelahkan baginya. Namun, jika dibiarkan begitu saja, maka Indra akan semakin merajalela.
Arumi mengambil ponselnya. Ia mencari kontak Fahri, dan mencoba menghubungi pria tersebut.
"Halo, ..." terdengar suara dari seberang telepon.
"Besok, di mana kita akan bertemu?" tanya Arumi.
"Terserah Nona saja. Jika Nona menginginkan waktu di siang hari, aku bisa menemui Nona saat itu juga."
Arumi mengernyitkan keningnya saat mendengar ucapan Fahri. "Bukankah jika siang hari kamu sibuk bekerja?" tanya Arumi.
"Aku sudah tidak bekerja lagi di sana," timpal Fahri.
"Ya sudah. Kalau begitu, aku akan menemuimu di tempat biasa. Aku akan membawa uangnya dalam bentuk tunai, supaya kamu lebih mudah dan tidak perlu repot-repot lagi untuk mencairkannya," ujar Arumi.
Setelah mengucapkan hal tersebut, Arumi pun memutuskan sambungan teleponnya. Ia memilih untuk beranjak dari tempat duduknya. Lalu kemudian menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
....
Di lain tempat, Fahri kembali meletakkan ponselnya setelah menerima telepon dari Arumi. Pria tersebut memeluk bantal gulingnya, lalu kemudian kembali memejamkan matanya.
Baru saja ia terpejam, tiba-tiba suara notifikasi pesan dari ponselnya berbunyi, membangunkan Fahri dari tidurnya. Pria itu pun kembali meraih ponselnya. Dengan mata yang sedikit menyipit, Fahri membaca rentetan pesan singkat yang dikirimkan oleh Arumi.
Aku akan menyewa pengacara untuk mengurus dokumen perceraianmu, agar kamu tidak terlalu repot. Anggap saja ini adalah bonus untukmu.
Setelah membaca pesan tersebut, Fahri memilih untuk mengabaikannya. Pria itu kembali meletakkan ponselnya begitu saja. Memejamkan mata yang memang mulai terasa berat akibat semalam tak tidur.
......................
Terkadang, ada sesuatu yang mengganjal di dalam benak Sifa. Mengapa sang kekasih terlihat begitu sangat santai, tidak seperti suaminya yang bahkan tak sempat bermanja-manja hanya untuk mencari uang.
Namun, sikap Sifa pada Aldo tak seberani saat dia bersama dengan Fahri. Meskipun Sifa yakin, bahwa ia lebih mencintai Aldo dibandingkan suaminya sendiri. Tetap saja ada sebuah dinding yang seakan menjadi pemisah mereka. Aldo sedikit sensitif jika membahas menyangkut privasinya.
Sifa menghampiri Aldo sembari mengulas senyum. Pria itu datang dan langsung mengusap puncak kepala Sifa dengan lembut.
"Ayo kita makan dulu sebelum pulang!" ajak Aldo.
Sifa menganggukkan kepalanya, tanda setuju akan ajakan Aldo. Pria itu pun langsung membukakan pintu mobil untuk sang kekasih, lalu kemudian ia pun segera bergegas menempati kursi kemudi, lalu menuju ke jalanan.
Di dalam mobil, Sifa menghidupkan tape untuk mendengar musik. Wanita tersebut tersenyum sembari memandangi wajah Aldo dengan sangat lekat.
"Kamu mau makan apa?" tanya Aldo.
Sifa berpikir sejenak, lalu kemudian membuat keputusan. "Sepertinya makan bakso saja. Lagi pula cuaca dingin seperti ini paling enak menikmati makanan yang berkuah," timpal Sifa.
"Baiklah."
Aldo menambah kecepatan laju kendaraannya. Melihat-lihat kedai penjual bakso di setiap pinggiran jalan.
Tak lama kemudian, pria itu pun terhenti di tempat bakso yang pernah menjadi kenangan manis sekaligus pahit percintaannya.
"Kamu masih mengingatnya?" tanya Sifa sedikit tertegun.
Di tempat inilah, Aldo dan Sifa sering singgah makan. Mereka biasanya sepulang dari tempat bekerja langsung menuju kemari untuk mengisi perut sembari berbagi cerita tentang apa yang dialami masing-masing.
Namun, di tempat ini lah juga Aldo memilih untuk mengakhiri hubungan mereka. Dan saat itu, datanglah Fahri yang menyembuhkan luka Sifa. Ia mencintai Sifa dengan sepenuh hati hingga akhirnya memilih untuk hidup bersama dengan wanita itu, meskipun kala itu ia tahu bahwa Sifa sudah tak suci lagi.
Semua pengorbanan Fahri seakan tak terlihat oleh Sifa. Ia dibutakan oleh cintanya pada masa lalunya. Dan kini menjelma menjadi masa depannya.
Ia melupakan Fahri hanya untuk pria itu. Ia meninggalkan suaminya, hanya untuk mempertahankan seorang pria yang pernah menorehkan luka padanya terdahulu.
"Aku tidak melupakan satu hal pun yang telah kita lewati," ujar Aldo menimpali pertanyaan yang diajukan oleh Sifa tadi.
"Ayo kita masuk!" ajak pria itu.
Ia membuka pintu mobil untuk Sifa, seakan menjadikan wanita tersebut adalah ratunya. Menarikkan kursi untuk Sifa, menatap Sifa dengan penuh cinta.
Sifa terhanyut akan cinta yang menyesatkan itu. Ia lupa jalan pulang hanya karena tatapan Aldo yang cukup memabukkan.
"Pak, pesan baksonya. Yang satu baksonya pakai mie putih saja. Yang satu lagi, jangan pakai mie."
Sifa tersenyum, karena Aldo masih mengingat seleranya. Wanita itu memang tidak terlalu suka dengan mie. Sifa lebih memilih menikmati baksonya tanpa menggunakan mie yang merupakan sebagai bahan pelengkapnya.
"Kamu kenapa melamun?" tanya Aldo melihat Sifa yang sedari tadi hanya diam saja.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ...." suara Sifa tercekat, ia tak kuasa menahan air matanya yang jatuh.
Dengan cekatan, Aldo pun langsung menyeka air mata Sifa. "Rasa cintaku padamu masih sama seperti dulu. Tak ada yang berubah sedikit pun," ujar Aldo.
"Tetapi, kenapa waktu itu kamu memilih untuk mengakhirinya?" tanya Sifa.
"Aku memiliki alasan untuk itu. Maaf, aku tidak bisa mengatakannya padamu," sahut Aldo.
Bersambung ....