
"Mas ... Mas Fahri!!"
Sifa mengecek ponselnya. Ia melihat benda pipih itu kehabisan daya, yang tentu saja membuat menggeram kesal.
"Sial!! Kenapa aku sampai lengah dan lupa mengisi daya ponselku!" gerutu Sifa.
Wanita itu menitikkan air matanya. Harapan satu-satunya adalah Fahri. Pria itu yang dapat menyelamatkannya, dan mengeluarkan Sifa dari gudang ini.
Sifa tersedu sembari memandangi layar ponselnya yang sudah mati. Kini ia hanya bisa pasrah, entah berapa lama suaminya itu akan mengurungnya di dalam ruangan itu.
....
Samuel tengah berada di dalam mobil bersama Elena. Lokasi keduanya tak jauh dari bar yang dikatakan oleh Elena sebelumnya, tempat Aldo dan Indra sering bertemu.
"Apakah kamu yakin hari ini mereka akan datang?" tanya Samuel seraya melihat ke arah bar tersebut.
"Entahlah, aku tidak bisa memastikan. Tapi aku cukup sering melihat keduanya keluar dari tempat itu," jawab Elena.
"Kamu sering datang kemari?" tanya Samuel seraya menaikkan alisnya sebelah.
Elena tersenyum simpul, seolah memberikan kode bahwa yang diucapkan oleh Samuel memang benar adanya.
"Dasar gadis nakal," ucap Samuel sembari menjentik kening Elena hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Kamu memang pria yang kejam!" ketus Elena.
Gadis itu melihat keningnya yang sedikit memerah melalui kaca spion. "Lihatlah, keningku menjadi merah karena ulahmu!" gerutu Elena.
"Benarkah? Coba sini aku lihat," ujar Samuel.
Samuel memegangi kening Elena dengan cukup lama, sembari meniup-niup pelan kening yang memerah itu akibat ulahnya tadi. Tanpa Samuel sadari, hal tersebut membuat jantung Elena berdegup kencang. Apalagi jarak mereka yang terbilang cukup dekat, serta hembusan napas Samuel yang menghangat, menerpa keningnya.
Elena membeku, debaran jantungnya semakin tak karuan karena perlakuan Samuel terhadapnya. Sementara pria itu, terlihat santai-santai saja seolah tanpa beban.
"Maaf jika memang kamu merasa sakit. Tapi jentikanku tidak akan membuatmu kehilangan nyawa," ujar Samuel.
Mendengar hal tersebut Elena langsung mendelik sembari mencubit lengan Samuel karena merasa kesal.
"Awww ... sakit!!" Samuel meringis sembari menggosok bekas cubitan Elena.
"Seperti yang kamu ucapkan tadi. Cubitanku tidak akan membuatmu kehilangan nyawa," ketus Elena, menirukan ucapan Samuel tadi dengan nada yang mengejek.
Samuel terkekeh, ia pun kembali melemparkan pandangannya ke arah bar. Dan matanya pun menangkap target yang sedari tadi ditunggunya.
"Tunggu!! Lihatlah! Dia datang," ujar Samuel menunjuk ke arah Aldo yang baru saja turun dari mobilnya.
Sifa pun mengikuti arah pandang Samuel. Dan benar saja, terlihat jika Aldo baru saja hendak berjalan masuk ke dalam bar tersebut.
"Tapi dia sendirian," gumam Samuel.
"Tentu saja mereka tidak akan datang bersama. Terlalu ketara jika memang keduanya saling bekerja sama," gumam Elena.
"Sebaiknya kita tunggu saja. Nanti yang satunya lagi pasti akan datang," lanjut wanita itu.
Dan benar saja, selang dua puluh menit kemudian, Indra pun datang dengan menggunakan mobilnya. Namun, pria itu tidak sendirian. Ada seseorang yang juga turun dari mobil bersamanya.
"Apakah itu kekasihnya?" gumam Elena yang tidak mengenali wajah wanita tersebut.
"Tapi tidak mungkin jika itu adalah kekasihnya, sepertinya wajahnya cukup berumur," lanjut Elena.
Samuel memicingkan matanya, mencoba melihat dengan seksama siapa wanita yang sedang bersama dengan Indra. Tak lama kemudian, wanita itu pun menoleh, seolah mengedarkan pandangan ke sekelilingnya.
Samuel langsung terkejut, ia kini dapat melihat dengan jelas siapa yang saat ini berdiri di samping Indra.
"Kamu mengenalnya?" tanya Elena menatap wajah Samuel yang tampak tegang.
Pria itu pun menganggukkan kepalanya pelan. "Bisakah kamu masuk ke sana untuk memata-matai mereka?" tanya Samuel.
"Aku?!" Elena tercengang.
"Iya, tolong bantu aku sekali ini saja. Jika aku yang masuk ke dalam sana, mereka pasti akan mengenali wajahku," jelas Samuel.
Elena tampak berpikir sejenak, akan tetapi Samuel selalu mendesak Elena, membuat gadis itu pun menyanggupi permintaan Samuel.
Samuel memberikan earphone pada Elena. Gadis itu pun menanggalkan benda tersebut di telinga kanannya, lalu kemudian membiarkan rambutnya tergerai untuk menutupi earphone yang ada di telinganya.
"Tetap terhubung denganku, agar aku bisa mengawasimu dari jauh jika nanti kamu mendapatkan masalah di sana," ucap Samuel.
Setelah di rasa siap, Elena pun turun dari mobil. Gadis itu langsung berjalan masuk menuju ke bar tersebut.
Sesampainya di dalam, Elena mengedarkan pandangannya. Ia melihat Aldo yang saat itu tengah di kerubuni oleh beberapa wanita cantik yang menemaninya minum. Gadis itu tak melihat keberadaan Indra dan wanita tadi di sana.
Elena berpura-pura duduk di meja tepat di depan bartender. Ia pun memesan minuman tanpa alkohol pada bartender tersebut.
"Hanya ada Aldo di sini, aku tidak melihat dua irang yang baru saja masuk tadi," ujar Elena yang berbicara pada Samuel melalui earphone.
"Bising sekali di dalam sana. Tapi aku bisa mendengar suaramu cukup jelas."
Mendengarkan keluhan Samuel membuat Elena memutar bola matanya. "Seharusnya kamu tidak melibatkan ku dalam masalah ini," gerutu Elena.
Minuman yang dipesan Elena pun telah tiba. "Terima kasih," ucap Elena pada bartender yang cukup tampan itu.
"Bartender di sini sangat tampan," gumam Elena.
"Namun, pria itu tak bisa mengalahkan ketampananku."
Elena tak menanggapi ucapan Samuel dari seberang telepon. Gadis itu tersenyum mendengar ucapan pria yang sampai saat ini masih ia sukai.
"Bagiku, memang kamulah yang paling tampan," batin Elena.
"Jika memang tidak ada Indra dan Bu Dewi, sebaiknya kamu kembali. Aku akan mencari tahu sendiri nantinya," ujar Samuel dari seberang telepon.
"Baiklah," timpal Elena yang langsung membayar minumannya, dan pergi dari tempat itu.
...****************...
Pagi menjelang, Arumi menggeliat kecil, sembari meraba ke sampingnya. Ia membuka matanya sempurna, melihat Fahri yang sudah tidak berada lagi di sampingnya.
"Apakah dia sudah bangun?" gumam Arumi.
Wanita itu bangun dari tidurnya, menggeliat sembari menguap. Ia pun tampak sangat malas meninggalkan kasurnya. Namun, sebelumya Arumi menatap sekeliling kamar, wanita itu tak menemukan keberadaan suaminya di dalam kamar mereka.
"Apakah dia sudah bersiap-siap hendak ke kantor? Tapi mengapa ia tak membangunkanku terlebih dahulu," racau wanita itu.
Arumi pun turun dari kasurnya, ia hendak melangkah keluar. Namun, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Suara notifikasi pesan yang ia setel, terdengar dan menghentikan langkah Arumi.
Arumi berbalik, meraih ponsel yang ada di atas nakas. Wanita itu mengusap layar ponselnya, memasukkan password yang telah diatur.
"Nomor baru? Siapa?" gumam Arumi.
Arumi pun membuka isi pesan tersebut. Matanya membulat sempurna saat membaca isi pesan dari pengirim yang tidak ia ketahui itu. Sebuah foto ayahnya yang kala itu tengah berlumuran darah.
"Aaakhhh!!" teriak Arumi histeris.
Bersambung ...