
Fahri hanya bisa menatap istrinya dari kejauhan. Wanita itu sepertinya benar-benar menbencinya. Ia bisa mendekat pada sang istri saat Arumi tertidur, setelah ia bangun, wanita itu akan kembali menyalahkan Fahri akan kehilangan buah hatinya.
Arumi lebih sering melamun, sesekali wanita tersebut menitikkan air matanya sembari memegangi perutnya. Sungguh! Ia benar-benar terpukul karena telah kehilangan anak yang ia nantikan kehadirannya di dunia ini.
Arumi sadar jika suaminya sedari tadi memperhatikannya. Namun, ia lebih memilih untuk mengabaikan Fahri. Ia masih marah pada suaminya, fakta sekeji itu ia mencoba menutupi semuanya dari Arumi. Padahal sudah berulang kali Arumi mengatakan untuk bercerita dengannya dalam segala hal sekecil apapun.
Fahri menatap istrinya dengan sendu. Dari semalam, hingga pagi ini makanan yang diantarkan oleh perawat sama sekali tak disentuh oleh Arumi. Wanita itu hanya duduk dan merenung tanpa melakukan apapun.
Fahri mencoba untuk mendekati istrinya. Ia sudah menyiapkan telinganya serta memasang badan jika nanti Arumi hendak memaki-makinya atau pun hendak memukulnya.
Fahri duduk di kursi yang ada di dekat ranjang. Pria itu meraih bubur yang ada di atas nakas, tepatnya di samping ranjang Arumi.
"Sayang, makanlah sedikit supaya nanti kamu bisa minum obatmu," bujuk Fahri dengan lembut.
Arumi tetap bungkam. Keberadaan Fahri seakan tak terlihat olehnya.
"Arumi, ..."
Arumi pun langsung menatap suaminya dengan tatapan tajam. "Bisakah kamu mengembalikan anakku? Kembalikan dia!" bentak Arumi pada suaminya.
"Jika aku bisa, aku pasti sudah menghidupkannya kembali. Jika aku bisa memutar waktu, aku juga tidak ingin hal ini terjadi. Bukan kamu saja yang merasa kehilangan, aku juga merasakan hal yang sama. Namun, mau bagaimana lagi? Yang hidup harus tetap hidup. Tolong, jangan seperti ini," ujar Fahri yang membalas ucapan istrinya. Memang semua ini adalah salahnya. Akan tetapi, Fahri juga tidak menginginkan hal ini terjadi.
Mata Arumi langsung berkaca-kaca setelah mendengar penuturan dari suaminya. Wanita itu ingin marah, akan tetapi ia terlalu lemah dan hanya bisa menyalahkan suaminya saja.
"Jika kamu tidak bisa melakukan hal itu, pertemukan aku dengan Dewi! Aku akan membunuh wanita itu seperti apa yang ia lakukan pada papa," ujar Arumi.
"Baiklah, tapi kamu harus makan agar mampu untuk melawannya," bujuk Fahri meskipun caranya sedikit melenceng.
Setelah Fahri membujuknya, Arumi pun mulai membuka mulutnya lebar-lebar. Ia menerima suapan dari Fahri dengan begitu lahapnya. Ucapan suaminya memang benar adanya. Jika ingin melawan ibu tirinya itu, Arumi harus sehat total.
"Tapi apakah Mas Fahri benar-benar tahu keberadaan wanita itu?" tanya Arumi memastikan.
Fahri tertegun, ia memilih menyodorkan segelas air untuk istrinya tanpa menjawab pertanyaan dari Arumi.
"Jawab aku, Mas!"
"Aku tidak tahu keberadaannya. Jika aku tahu, aku pasti akan memenjarakannya terlebih dahulu sebelum kamu bertindak," tutur Fahri.
"Ya sudah, kalau begitu aku tidak jadi makan," ucap Arumi yang langsung merajuk.
"Baiklah, nanti kita cari sama-sama." Fahri kembali menyuapkan bubur, akan tetapi Arumi menutup rapat bibirnya.
"Aku telah melaporkannya pada polisi. Kalian tidak perlu khawatir."
Arumi dan Fahri langsung mengarahkan pandangannya pada sosok yang saat ini tengah berdiri di ambang pintu.
Samuel masuk ke dalam ruangan Arumi bersama dengan Elena yang membawa buket buah di tangannya.
"Aku sudah membuat laporan kemarin, dan saat ini Bu Dewi tengah dalam pencarian polisi. Kita berdoa saja semoga Bu Dewi segera ditemukan," lanjut Samuel.
Elena meletakkan buket buah ke atas nakas. Wanita itu berdiri di sisi ranjang Arumi sembari mengulas senyumnya.
"Aku masih kesal dengan Mas Fahri, begitu juga denganmu, Sam. Kenapa kalian harus menyembunyikan perbuatan wanita jalaang itu," geram Arumi.
"Aku dan suamimu tidak ingin terjadi apa-apa padamu. Apalagi saat Fahri berkata bahwa kandunganmu lemah, kami berusaha untuk menutupinya dan memberitahukan padaku jika kamu sudah benar-benar pulih. Sungguh diluar dugaan akan terjadi seperti ini," jelas Samuel.
"Maafkan aku," ucap Fahri.
"Aku juga minta maaf padamu," imbuh Samuel.
"Baiklah, mulai sekarang kamu harus cepat pulih supaya kamu juga bisa ikut bersama kami untuk mencari keberadaan Bu Dewi," bujuk Elena.
Arumi menganggukkan kepalanya. Mereka pun tersenyum karena perlahan Arumi bisa kembali pulih meskipun dirinya masih dalam keadaan berduka.
....
Di lain tempat, Dewi tertawa terbahak-bahak. Kabar tentang dirinya yang saat ini tengah dicari oleh polisi, karena melakukan pembunuhan terhadap suaminya pun sampai ke telinganya.
"Ternyata Sugeng telah menyebarkan video itu. Dia sudah mati, tapi tetap menyebalkan!" tukas Dewi.
Saat ini, wanita tersebut tengah berada di sebuah ruangan yang gelap. Yang tak lain adalah tempat persembunyian yang paling aman bagi dirinya.
Letak ruangan itu ada di bawah tanah, yang tentu saja jarang sekali orang-orang dapat berhasil menemukannya.
Informasi yang di dapatkan olehnya tak lain dari salah satu anak buahnya, yang ia kirim untuk menjadi pelayan di kediaman Arumi, sekaligus memata-matai gerak-gerik Arumi saat itu juga. Bahkan kabar tentang Arumi yang saat ini keguguran karena mengetahui video kejahatannya pun sudah sampai di telinga Dewi.
"Saat ini ... Arumi sedang mengibarkan bendera peperangan kepadaku. Haruskah aku meladeninya?" ujar Dewi sembari menuangkan wine ke dalam gelasnya.
"Apakah dia tahu, jika kamu adalah suruhanku?" tanya Dewi menatap wanita muda yang ada di hadapannya dengan seksama.
"Aku dapat memastikan bahwa ia tidak tahu tentang diriku," ujar pelayan tersebut.
Wanita itu tak lain adalah wanita yang pernah menegur Dewi saat berusaha diam-diam masuk untuk mengambil dokumen rahasia yang ada di dalam ruang kerja milik ayah Arumi.
Saat itu mereka sedang memainkan perannya, bahkan Dewi memarahi wanita tersebut supaya pelayan itu dapat langsung dipercayai oleh Arumi. Tanpa mereka sadari, itu hanyalah sebuah pancingan saja agar pelayan yang merupakan tangan kanan Dewi dapat masuk untuk memata-matai Arumi.
Dewi tertawa keras, karena memang Arumi sudah masuk ke dalam jebakanmya sedari awal. "Bagaimana jika dia mengetahui tentang dirimu? Ku rasa dia akan sadar bahwa dirinya itu benar-benar bodoh," cecar Dewi sembari mengangkat gelas wine-nya lalu kemudian menenggaknya hingga tandas.
Pelayan tersebut hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya. Ia mengambil alih botol wine, laku kemudian menuangkannya ke dalam gelas milik Dewi.
"Sekarang, apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Nyonya? Polisi sedang mencari anda di luar sana," ujar pelayan itu.
"Aku? Ya ... akan tetap seperti ini. Namun, kali ini aku ingin mendapatkan umpan yang lebih besar lagi," ujar Dewi.
"Apa itu?" tanya pelayan tersebut.
"Arumi, aku harus mendapatkan wanita itu." Dewi menyunggingkan senyum iblisnya. Ia menggoyangkan gelas wine-nya, menghirup aroma anggur tersebut sebelum menenggaknya hingga tandas.
Bersambung ....
Like dan komen ya ...