
"Papa ... Papa!!"
Fahri mendengar suara Arumi dari kamar sebelah. Suara yang awalnya terdengar pelan, akan tetapi lama kelamaan terdengar semakin kencang.
Fahri langsung beranjak dari tempat tidurnya. Ia segera berlari menuju ke kamar Arumi. Tanpa mengetuk pintu kamar tersebut, Fahri langsung masuk ke dalamnya.
Pria itu melihat Arumi yang memanggil papanya dengan mata masih terpejam. Fahri duduk di sisi ranjang Arumi, mencoba untuk membangunkan sang istri dari mimpi buruknya.
"Arumi ... bangun Arumi!" ujar Fahri seraya mengguncang tubuh Arumi.
Tak lama kemudian, Arumi pun terbangun dari tidurnya. Gadis itu langsung bangun dengan posisi terduduk, dan napasnya juga tersengal. Keringat tampak mengucur membasahi area wajahnya.
Entah sadar atau tidaknya, Arumi langsung memeluk Fahri. Gadis itu sesegukan sembari memanggil ayahnya di dalam dekapan Fahri.
Fahri membeku karena Arumi yang memeluknya secara tiba-tiba. Ia merasakan dada bidangnya basah akibat tetesan bulir bening dari mata indah gadis itu.
Awalnya Fahri ragu. Perlahan tapi pasti ia pun mencoba untuk menepuk-nepuk punggung Arumi, mencoba untuk menenangkan istrinya tersebut.
Cukup lama mereka dalam posisi yang seperti ini. Hingga akhirnya, Arumi pun melepaskan pelukannya. Gadis itu mengusap jejak air matanya dengan tangannya.
Fahri mengambil air minum yang ada di atas nakas. Laku kemudian memberikannya pada Arumi yang masih sesegukan.
"Minumlah terlebih dahulu," ujar Fahri seraya menyodorkan segelas air minum pada Arumi.
Arumi yang saat itu masih dengan pandangan kosong, meraih gelas Fahri. Setelah meminum beberapa teguk air tersebut, ia pun kembali berbaring.
Fahri menyelimuti tubuh Arumi. "Tidurlah, sudah tidak apa-apa," ujar Fahri seraya menepuk sedikit bahu Arumi.
Saat pria itu hendak beranjak dari tempat duduknya, tiba-tiba Arumi langsung menarik tangan Fahri. Gadis itu menggelengkan kepalanya, seakan menyuruh suaminya itu untuk tidak pergi dari kamarnya, karena Arumi membutuhkan seseorang yang mampu menenangkannya seperti sekarang ini.
Fahri pun mengurungkan niatnya untuk pergi dari tempat itu. Ia kembali duduk di sisi ranjang Arumi karena tangan pria itu di peluk oleh sang istri.
"Seperti inikah yang dimaksudkan oleh Samuel? Kamu tidak sekuat seperti kelihatannya. Mimpi apa yang mendatangi tidurmu hingga kamu merasa sangat ketakutan seperti ini," batin Fahri.
Cukup lama Fahri memandangi wajah Arumi. Tangannya terulur untuk mengusap puncak kepala sang istri, memperhatikan wajah Arumi dengan lekat saat gadis itu berusaha untuk kembali memejamkan matanya.
Fahri memandang wajah Arumi cukup lama. Arumi benar-benar sangat cantik meskipun tanpa polesan make up sekalipun. Bahkan Fahri tak merasa bosan, menatap wajah Arumi dalam jarak yang sedekat ini.
"Aku selalu bertanya-tanya, apa yang menjadi targetmu hingga memilihku untuk menikah denganmu. Terkadang, aku bisa melihat cinta di matamu saat kamu menatapku. Namun, terkadang aku sadar. Bahwa saat ini kita sedang mendalami peran masing-masing. Menikah hanyalah demi sebuah keuntungan," batin Fahri.
....
Keesokan harinya, Arumi mengerjapkan matanya saat mendengar suara burung yang bersahutan. Gadis itu merasa sedikit heran, ia seperti tengah memeluk sesuatu yang besar, akan tetapi itu bukanlah bantal guling yang biasanya ia pakai.
Saat matanya terbuka sempurna, Arumi pun langsung terkejut dengan mata yang membola. "Apa ini? Bagaimana ia bisa berada di sini? Apakah dia salah kamar?" batin Arumi yang sadar akan posisi mereka terbilang sangat intim.
Gadis itu tak bergerak sama sekali. Ia hanya mengedarkan pandangannya saja menatap ke sekeliling ruangan. "Ah tidak! Ini memang kamarku. Tapi, sedang apa dia di sini? Mengapa kami bisa berada satu ranjang? Apakah semalam kami mabuk? Atau kami sudah membuat kemajuan dan berakhir di sini?" berbagai pertanyaan pun menghinggapi benak gadis itu.
Tak lama kemudian, Arumi merasa jika Fahri mulai bergerak, tandanya pria tersebut sudah bangun dari tidurnya.
Perlahan Fahri menjauh, menggeser tubuhnya dengan pelan agar Arumi tidak terbangun dari tidurnya. Pria itu sedikit memijat pinggang serta tangannya yang terasa pegal karena semalaman tertidur dengan posisi yang sama, tak beralih sedikit pun.
Fahri beranjak dari ranjang Arumi. Pria itu berjalan keluar seraya memegangi pinggangnya yang terasa pegal. Sementara Arumi, gadis tersebut mencoba membuka matanya sedikit untuk mengintip kepergian Fahri. Ia pun merasa sangat bersalah karena telah membuat tangan Fahri kebas serta pinggang pria tersebut menjadi pegal karena dirinya.
Saat Fahri sudah benar-benar keluar dari kamarnya, Arumi pun langsung menutupi wajahnya dengan selimut karena merasa malu. Di samping itu juga ia merasa bersalah, tidur dengan posisi enak sementara suaminya merasa sekujur tubuhnya terasa keram.
.....
Di meja makan, Arumi dan Fahri tengah menyantap sarapannya masing-masing. Fahri melirik istrinya yang lebih banyak diam daripada bersuara. Biasanya, Arumi cukup berisik, akan tetapi kali ini gadis tersebut banyak diamnya. Hal itu membuat Fahri sedikit merasa khawatir, takut jika akan berdampak lain bagi Arumi karena mimpi gadis itu semalam.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Fahri.
Arumi tertegun. "Apa? Mengapa dia yang menanyakan hal itu padaku. Seharusnya aku lah yang bertanya padanya," batin Arumi.
"A-aku tidak apa-apa," timpal Arumi. Ia merasa aneh karena Fahri melemparkan pertanyaan seperti itu pada dirinya. Arumi lupa atas apa yang terjadi pada dirinya semalam. Menangis histeris sembari memanggil ayahnya.
"Syukurlah kalau kamu tidak apa-apa," ujar Fahri.
Keduanya kembali menyantap makanannya. Arumi menyudahi sarapannya. Ia menyeka bibirnya menggunakan tisu yang ada di atas meja.
"Apakah kamu memiliki kegiatan hari ini?" tanya Fahri kembali membuka suara.
Arumi menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak, memangnya kenapa? Apakah kamu ingin berkunjung ke suatu tempat?" tanya Arumi.
Fahri menganggukkan kepalanya. "Iya. Aku berencana untuk mengajakmu ziarah ke makam papa mertua. Apakah kamu setuju?" tanya Fahri lagi.
Fahri sengaja mengajak Arumi mengunjungi makam mertuanya. Melihat Arumi yang bermimpi buruk dan menangis sesegukan semalam, itu semua karena gadis tersebut merindukan sosok ayahnya.
Fahri sangat tahu bagaimana rasanya, dan ia benar-benar paham saat memimpikan orang yang telah tiada, tentunya akan merasa rindu berat. Karena Fahri pernah mengalaminya. Dimana saat ia sangat merindukan ayah dan ibunya, maka Fahri akan langsung berziarah ke makam kedua orang tuanya.
Mendengar ucapan Fahri, Arumi menekuk bibir bawahnya ke dalam. Matanya sedikit berkaca-kaca karena memang saat ini dirinya merindukan sang ayah walaupun Arumi lupa akan apa yang terjadi pada dirinya semalam.
"Baiklah. Kalau begitu, nanti kita bersiap untuk mengunjungi papa," ujar Arumi.
Fahri mengulas senyumnya, menatap wajah cantik istrinya itu.
"Kalau begitu, sekalian saja. Kita juga mengunjungi makam ayah dan ibumu," lanjut Arumi.
"Tapi, makam ayah dan ibuku letaknya di sebuah desa dan jaraknya pun cukup jauh," ujar Fahri. Ia takut Arumi merasa keberatan akan hal itu.
"Bukankah kita akan pergi menggunakan kendaraan? Kita tidak pergi ke sana dengan berjalan kaki," tandas Arumi.
Mendengar penuturan dari sang istri, membuat Fahri pun mengangguk setuju. Kini ia dapat menilai, meskipun Sifa adalah wanita yang ia cintai, akan tetapi keberadaannya di sisi Arumi membuat Fahri merasa sangat dihargai.
Bersambung ....