Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Di dalam pesawat ..


Kali ini Joy kembali ke Jakarta


menggunakan pesawat pribadi milik


suaminya , dia tidak perlu lagi bercampur dengan banyak orang atau pun mentaati


banyak peraturan .


Pada dasarnya orang hamil tidak boleh


menaiki pesawat , apalagi sudah hampir


melahirkan seperti Joy , pihak pesawat


takut jika nanti terjadi hal yang tidak diinginkan .


Tapi lain lagi jika pesawat yang di


tumpangi adalah milik pribadi , terserah


apa yang diinginkan oleh pemiliknya .


Di dalam pesawat David , sudah tersedia


ahli medis dan peralatan yang di butuhkan ,


untuk berjaga-jaga jika terjadi suatu hal


pada istrinya , misalnya jika Joy


melahirkan didalam pesawat , tidak perlu


takut , masih ada tenaga medis yang


siap siaga untuk menanganinya .


David yang kasihan melihat istrinya yang


kepayahan , segera mengajak nya untuk


beristirahat kedalam sebuah kamar yang


tersedia di dalam pesawat . Tapi Joy tidak


bersedia , dia masih ingin duduk - duduk


bersama temannya .


Anggi yang menyendiri sengaja


mengambil tempat duduk paling pojok


di depan , menyendiri seperti tidak mau


diganggu . Dengan pelan Joy duduk


disampingnya , kemudian dengan perlahan menyentuh punggung tangannya .


Anggi yang sedang melamun tersentak


kaget dan seketika menoleh pada


seseorang yang menyentuh nya .


" Nggi .. apa kau baik - baik saja ?." Joy


tersenyum memandang Anggi .


Seketika Anggi langsung menangis dan


memeluk Joy , tanpa mengeluarkan satu


kata hingga kesegukan , Joy menepuk


punggung Anggi , memberi dukungan


serta menenangkan agar Anggi tidak


lagi menangis dan mau menjelaskan apa


duduk permasalahan yang sedang dia


alami .


Anggi mulai tenang , dengan perlahan


melepas pelukan dan mengusap sisa


air mata di pipinya , " Andreas Joy..


Andreas .." mengambil nafas dalam-dalam.


Joy mengangguk , memberi isyarat jika


dia siap mendengarkan ," jelaskan pelan -


pelan Nggi !, aku disini akan selalu ada untukmu , jangan kau kira dirimu itu


sendirian , aku ini sahabatmu ."


menyentuh kedua pipi Anggi dengan


telapak tangannya .


Melepaskan sentuhan tangan Joy ,


Anggi memalingkan wajahnya menatap


ke jendela .


" Aku tadi sebelum berangkat ke Bandara


sempat menelfon Andreas , karena dari


aku tiba di Surabaya aku tidak


mengabarinya sama sekali , aku ingin


melepas rindu walau pun cuma dengan


mendengar suaranya ." Anggi mulai


meneteskan air mata .


" Lalu ?." mengamati wajah Anggi yang


menghadap ke kaca jendela .


" Dia mengangkatnya dan aku senang


sekali ." mengusap bekas air mata dipipinya .


" Lantas apa yang membuatmu menangis


dan bersedih seperti ini ?."


Anggi menceritakan dengan detail jika


dia menangkap suara wanita saat sedang


berbicara dengan Andreas , meluapkan


kekesalan nya dengan berbicara pelan


dan berat , agar Joy mengerti apa maksud


dari sesuatu hal atas kemarahan nya .


Joy tidak membela Andreas atau pun


membenarkan sikap Anggi yang cemburu


tanpa mencari satu kejelasan pada


orang yang sedang dia cemburui .


Tapi dia hanya ingin menjadi penengah


atas permasalahan mereka , agar tidak


ada suatu hal yang mengganjal di hati


mereka masing-masing .


" Nggi dengarkan aku , apa kau sudah


tanyakan semua ini langsung pada


Andreas ?." Anggi menggeleng.


" Tidak perlu ." menjawab dengan sinis,


menunjukkan kekesalannya .


" Kalau kau tidak tanya padanya , mana


kau tahu wanita itu siapa , bisa jadi kan


kalau wanita itu adalah rekan bisnisnya,


atau saudara , mungkin juga teman


lamanya ."


Joy dengan sabar menyadarkan Anggi


dari prasangka buruknya terhadap


Andreas , dia tahu jika sahabatnya ini


susah mendengar pendapat orang lain


tapi Joy tahu , kalau lama - lama pasti


Anggi luluh dan mau menerima masukan


jika itu baik untuknya .


Anggi masih kukuh dengan pendiriannya,


berpendapat jika Andreas telah


menduakannya . Joy yang kehabisan


kata , akhirnya meminta ketegasan


dari sahabatnya .


" Sekarang aku mau tanya padamu ,


tadi kau menelfon Andreas , disela


pembicaraan kalian kau menangkap


suara seseorang perempuan ?, tapi,, kau


tidak mau menanyakan pada Andreas


malah langsung mematikan telfonnya ?


sekarang kau menangis dan emosi


seperti ini , tanpa ada penjelasan apapun


dari Andreas , jangan bilang padaku jika


Andreas tidak tahu kalau kau saat ini


sedang marah padanya ?." menatap


Anggi dengan jengkel .


" Iya ..iya...iyaaaaaaa..." meraup mukanya .


" Anggi , Anggi .. bodoh kok dipelihara ,


tambah gede kamu ini tidak tambah


pinter , malah berfikiran pendek seperti


ini ." menggelengkan kepalanya , tidak


habis pikir dengan apa yang sahabatnya


ini pikirkan .


Dari awal Joy sudah mengira , jika Anggi


sedang salah faham , Joy tahu jika


Anggi sering melakukan kesalahan


apabila amarah sudah memenuhi


kepalanya .


" Jadi sekarang kau masih marah tak


jelas dengan Andreas ? ." bertanya


dengan nada yang tak kalah sinisnya


dengan Anggi , merasa jengkel dengan


sikap Anggi .


" Iya ." jawab Anggi enteng .


Satu kata membuat Joy tak mampu


bicara , panjang lebar Joy menjelaskan


pada Anggi tapi masih saja dia bergemul


dengan prasangka buruknya pada


Andreas , hingga Joy kehabisan akal


dan kata - kata ," Terserah kau saja ."


Joy memutuskan meninggalkan Anggi


sendiri dan menuju ke tempat suaminya .


πŸ€πŸ€πŸ€


Melihat istrinya yang berjalan mendekat


kepadanya , David segera berdiri dan


mengajak Joy untuk menuju kamar


untuk beristirahat .


" Ayo sayang kita ke kamar , aku tidak


mau kau kelelahan ." mencoba menuntun


istrinya untuk masuk ke kamar yang


sudah di sediakan .


di pesawat ." berbisik pelan , takut ada


orang lain yang mendengar .


David tersenyum mendengar apa yang


istrinya ucapkan ," jangan berfikiran yang


aneh - aneh ." mentoeel hidung mancung


istrinya .


" Boleh juga , jika kau yang minta ." ikut berbisik , sengaja ingin menggoda


istrinya , dengan cepat Joy memukul


perut David dengan menggunakan sikunya .


Masih dengan berjalan menuntun Joy


untuk menuju kamar , David becanda


dengan istrinya , para pramugari beserta


ahli medis yang ikut ada di dalam


pesawat ingin ikut membantu , tapi


David menghalanginya , dia ingin


melakukannya sendiri , menikmati


kesigapan pada istrinya .


" David ingat ini dimana , masa yang


tadi sore masih kurang , hormati orang


yang masih sendiri seperti aku ." ocehan


Roy yang baru saja keluar dari Toilet .


Joy memejamkan matanya , malu oleh


ucapan Roy , ingin membalas dan


mengelak tapi sekarang ini mereka


ada di dalam pesawat , banyak orang


yang memperhatikannya .


" Joy kondisikan suamimu , biar dia tahu tempat jika mau meminta jatahnya ."


goda Roy yang kemudian kembali


ketempat duduknya .


Belum sampai Roy di kursinya , Joy


sudah memberhentikan nya kembali ,


" Salah kamu sendiri , kenapa dari dulu


tidak mencari pasangan , apa kau tidak


laku , jangan sampai di dahului oleh


keponakan mu ini uncle ." membalas Roy ,


kemudian Joy masuk kedalam kamar .


David yang semakin geram dengan


ocehan Roy yang semakin tidak tahu


tempat , kalau mereka sedang berdua


tidak apa tapi ini dengan Joy , di pesawat


pula , apalagi David yang melihat wajah


Joy yang bersemu merah menahan


malu , ditambah dengan celotehan Joy


yang menambah kepastian jika dia


tidak terima dengan perkataan Roy ,


memang mulut Roy tak ada rem .


" Roy besok aku tugaskan kau ke Inggris ,


tidak usah kembali ke Jakarta lagi , kau


menetap saja disana ." berbicara saat


berada di ambang pintu .


" Ampun bos , ampun .. tadi itu cuma


becanda , pliss .. jangan kirim aku


ke sana ." berbicara sambil mendekati


arah pintu , tapi pintu tertutup .


Roy kembali ke tempat semula , " tidak


ada tapi - tapian ." membuka pintu ,


berbicara sekilas dan menutupnya


kembali .


Di kejauhan , Anggi yang dari tadi


mendengar perdebatan antara teman-teman


nya , tertawa terpingkal-pingkal . Anggi


lupa jika dirinya sedang kesal , ocehan


demi ocehan yang di dengarnya hanya


sepele , tapi bisa membuatnya lupa


dengan rasa amarahnya .


Dengan wajah lesu Roy duduk di samping


Mery , memelas dengan pelan


menyandarkan kepalanya di pundak


Mery ," jangan modus kak ."


Roy tertawa dan mengangkat kepalanya ,


" Aku tidak modus Mer , aku hanya


ingin bersandar sebentar pada orang


yang sudah mengganggu tidurku ."


berusaha menggoda .


" Mana ada aku mengganggu tidur kak


Roy , membangunkan saja aku tidak


pernah ." sewot tidak terima dengan


tuduhan yang Roy berikan .


Niat yang awalnya ingin menggoda


dan merayu Mery , malah berujung


menjadi pertengkaran . Perkataan yang


asal keluar dari mulut Roy , di salah


tanggapan oleh Mery .


" Caramu mengganggu tidurku tidak


dengan kau yang membangunkan ku ,


melainkan wajahmu yang selalu


terbayang di sela mimpiku ." Mery


yang malu tak bisa berkata hanya


memalingkan wajahnya .


" Nge gombal terus ,, udah basi Roy ,


ingat umur , Mery seumuran adekmu ,


jangan percaya gombalan om - om Mer."


ejek Anggi yang akan menuju toilet .


Ejekan Anggi berhasil membuat Mery


tak bisa menahan tawanya , dia


terpingkal-pingkal sampai memegang


perutnya yang kaku .


" Kau jangan dengarkan apa kata Anggi ,


aku masih muda umurku saja masih 28


lihat tampang ku saja tidak kalah dengan


anak SMA ." Roy yang membela diri ,


memaksa Mery untuk melihatnya .


" Sudah kak , iya ..iya .. aku percaya ."


menatap Roy dengan masih ingin tertawa .


Sebenarnya Roy juga minder jika dia


menyukai Mery , karena usia mereka


yang terpaut lumayan jauh ,Mery yang


saat ini masih sekolah tingkatan SMA


usia mereka berbeda sepuluh tahun .


Tapi hati tidak bisa memilih , dengan


siapa harus menaruh tempatnya .


" Mery kau jangan mau sama Roy , nanti


bisa - bisa kau jadi sugar Daddy nya ,


mending kalau kau sama Bimo , dia lebih


muda dan kalian pasti serasi ." berbicara


di sepanjang perjalanan nya hingga


sampai ke tempat duduknya .


Bukan hanya Mery yang semakin tertawa ,


bahkan para pramugari pun ikut tertawa


tapi di tahan , mereka tidak berani


takut jika tuannya semakin marah .


Mereka hanya bisa diam , seperti tidak


mendengar apa-apa .


Roy semakin tak terima jika di banding-


bandingkan dengan Bimo , dia


tersinggung jika Anggi mengatakan


Mery seperti sugar Daddy baginya .


Di dalam hati Roy memang mengakui


jika Bimo lebih pantas untuk Mery , tapi


jiwa lelaki nya tidak mau terima , didalam


fikiran nya dia lebih unggul dalam


segalanya .


Soal wajah , tinggi bahkan Roy sekarang


juga sudah berkerja , sedangkan Bimo


masih menyandang status pelajar atau


bisa di bilang masih mahasiswa . Jadi


tidak bisa di bandingkan dengan nya .


Mery yang melihat Roy yang terdiam


menahan emosi , dia menyadari jika Roy


tersinggung dengan candaan yang Anggi


ucapkan .


" Kak Roy masih kelihatan muda kok,


tampan malah ." memberikan sebotol


jus jeruk , agar di minum oleh Roy .


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


_


_


Up dikit ...


jejaknya manaaaa...😊😊😊


Next 🌹🌹🌹🌹