
Kali ini Joy kembali ke Jakarta
menggunakan pesawat pribadi milik
suaminya , dia tidak perlu lagi bercampur dengan banyak orang atau pun mentaati
banyak peraturan .
Pada dasarnya orang hamil tidak boleh
menaiki pesawat , apalagi sudah hampir
melahirkan seperti Joy , pihak pesawat
takut jika nanti terjadi hal yang tidak diinginkan .
Tapi lain lagi jika pesawat yang di
tumpangi adalah milik pribadi , terserah
apa yang diinginkan oleh pemiliknya .
Di dalam pesawat David , sudah tersedia
ahli medis dan peralatan yang di butuhkan ,
untuk berjaga-jaga jika terjadi suatu hal
pada istrinya , misalnya jika Joy
melahirkan didalam pesawat , tidak perlu
takut , masih ada tenaga medis yang
siap siaga untuk menanganinya .
David yang kasihan melihat istrinya yang
kepayahan , segera mengajak nya untuk
beristirahat kedalam sebuah kamar yang
tersedia di dalam pesawat . Tapi Joy tidak
bersedia , dia masih ingin duduk - duduk
bersama temannya .
Anggi yang menyendiri sengaja
mengambil tempat duduk paling pojok
di depan , menyendiri seperti tidak mau
diganggu . Dengan pelan Joy duduk
disampingnya , kemudian dengan perlahan menyentuh punggung tangannya .
Anggi yang sedang melamun tersentak
kaget dan seketika menoleh pada
seseorang yang menyentuh nya .
" Nggi .. apa kau baik - baik saja ?." Joy
tersenyum memandang Anggi .
Seketika Anggi langsung menangis dan
memeluk Joy , tanpa mengeluarkan satu
kata hingga kesegukan , Joy menepuk
punggung Anggi , memberi dukungan
serta menenangkan agar Anggi tidak
lagi menangis dan mau menjelaskan apa
duduk permasalahan yang sedang dia
alami .
Anggi mulai tenang , dengan perlahan
melepas pelukan dan mengusap sisa
air mata di pipinya , " Andreas Joy..
Andreas .." mengambil nafas dalam-dalam.
Joy mengangguk , memberi isyarat jika
dia siap mendengarkan ," jelaskan pelan -
pelan Nggi !, aku disini akan selalu ada untukmu , jangan kau kira dirimu itu
sendirian , aku ini sahabatmu ."
menyentuh kedua pipi Anggi dengan
telapak tangannya .
Melepaskan sentuhan tangan Joy ,
Anggi memalingkan wajahnya menatap
ke jendela .
" Aku tadi sebelum berangkat ke Bandara
sempat menelfon Andreas , karena dari
aku tiba di Surabaya aku tidak
mengabarinya sama sekali , aku ingin
melepas rindu walau pun cuma dengan
mendengar suaranya ." Anggi mulai
meneteskan air mata .
" Lalu ?." mengamati wajah Anggi yang
menghadap ke kaca jendela .
" Dia mengangkatnya dan aku senang
sekali ." mengusap bekas air mata dipipinya .
" Lantas apa yang membuatmu menangis
dan bersedih seperti ini ?."
Anggi menceritakan dengan detail jika
dia menangkap suara wanita saat sedang
berbicara dengan Andreas , meluapkan
kekesalan nya dengan berbicara pelan
dan berat , agar Joy mengerti apa maksud
dari sesuatu hal atas kemarahan nya .
Joy tidak membela Andreas atau pun
membenarkan sikap Anggi yang cemburu
tanpa mencari satu kejelasan pada
orang yang sedang dia cemburui .
Tapi dia hanya ingin menjadi penengah
atas permasalahan mereka , agar tidak
ada suatu hal yang mengganjal di hati
mereka masing-masing .
" Nggi dengarkan aku , apa kau sudah
tanyakan semua ini langsung pada
Andreas ?." Anggi menggeleng.
" Tidak perlu ." menjawab dengan sinis,
menunjukkan kekesalannya .
" Kalau kau tidak tanya padanya , mana
kau tahu wanita itu siapa , bisa jadi kan
kalau wanita itu adalah rekan bisnisnya,
atau saudara , mungkin juga teman
lamanya ."
Joy dengan sabar menyadarkan Anggi
dari prasangka buruknya terhadap
Andreas , dia tahu jika sahabatnya ini
susah mendengar pendapat orang lain
tapi Joy tahu , kalau lama - lama pasti
Anggi luluh dan mau menerima masukan
jika itu baik untuknya .
Anggi masih kukuh dengan pendiriannya,
berpendapat jika Andreas telah
menduakannya . Joy yang kehabisan
kata , akhirnya meminta ketegasan
dari sahabatnya .
" Sekarang aku mau tanya padamu ,
tadi kau menelfon Andreas , disela
pembicaraan kalian kau menangkap
suara seseorang perempuan ?, tapi,, kau
tidak mau menanyakan pada Andreas
malah langsung mematikan telfonnya ?
sekarang kau menangis dan emosi
seperti ini , tanpa ada penjelasan apapun
dari Andreas , jangan bilang padaku jika
Andreas tidak tahu kalau kau saat ini
sedang marah padanya ?." menatap
Anggi dengan jengkel .
" Iya ..iya...iyaaaaaaa..." meraup mukanya .
" Anggi , Anggi .. bodoh kok dipelihara ,
tambah gede kamu ini tidak tambah
pinter , malah berfikiran pendek seperti
ini ." menggelengkan kepalanya , tidak
habis pikir dengan apa yang sahabatnya
ini pikirkan .
Dari awal Joy sudah mengira , jika Anggi
sedang salah faham , Joy tahu jika
Anggi sering melakukan kesalahan
apabila amarah sudah memenuhi
kepalanya .
" Jadi sekarang kau masih marah tak
jelas dengan Andreas ? ." bertanya
dengan nada yang tak kalah sinisnya
dengan Anggi , merasa jengkel dengan
sikap Anggi .
" Iya ." jawab Anggi enteng .
Satu kata membuat Joy tak mampu
bicara , panjang lebar Joy menjelaskan
pada Anggi tapi masih saja dia bergemul
dengan prasangka buruknya pada
Andreas , hingga Joy kehabisan akal
dan kata - kata ," Terserah kau saja ."
Joy memutuskan meninggalkan Anggi
sendiri dan menuju ke tempat suaminya .
πππ
Melihat istrinya yang berjalan mendekat
kepadanya , David segera berdiri dan
mengajak Joy untuk menuju kamar
untuk beristirahat .
" Ayo sayang kita ke kamar , aku tidak
mau kau kelelahan ." mencoba menuntun
istrinya untuk masuk ke kamar yang
sudah di sediakan .
di pesawat ." berbisik pelan , takut ada
orang lain yang mendengar .
David tersenyum mendengar apa yang
istrinya ucapkan ," jangan berfikiran yang
aneh - aneh ." mentoeel hidung mancung
istrinya .
" Boleh juga , jika kau yang minta ." ikut berbisik , sengaja ingin menggoda
istrinya , dengan cepat Joy memukul
perut David dengan menggunakan sikunya .
Masih dengan berjalan menuntun Joy
untuk menuju kamar , David becanda
dengan istrinya , para pramugari beserta
ahli medis yang ikut ada di dalam
pesawat ingin ikut membantu , tapi
David menghalanginya , dia ingin
melakukannya sendiri , menikmati
kesigapan pada istrinya .
" David ingat ini dimana , masa yang
tadi sore masih kurang , hormati orang
yang masih sendiri seperti aku ." ocehan
Roy yang baru saja keluar dari Toilet .
Joy memejamkan matanya , malu oleh
ucapan Roy , ingin membalas dan
mengelak tapi sekarang ini mereka
ada di dalam pesawat , banyak orang
yang memperhatikannya .
" Joy kondisikan suamimu , biar dia tahu tempat jika mau meminta jatahnya ."
goda Roy yang kemudian kembali
ketempat duduknya .
Belum sampai Roy di kursinya , Joy
sudah memberhentikan nya kembali ,
" Salah kamu sendiri , kenapa dari dulu
tidak mencari pasangan , apa kau tidak
laku , jangan sampai di dahului oleh
keponakan mu ini uncle ." membalas Roy ,
kemudian Joy masuk kedalam kamar .
David yang semakin geram dengan
ocehan Roy yang semakin tidak tahu
tempat , kalau mereka sedang berdua
tidak apa tapi ini dengan Joy , di pesawat
pula , apalagi David yang melihat wajah
Joy yang bersemu merah menahan
malu , ditambah dengan celotehan Joy
yang menambah kepastian jika dia
tidak terima dengan perkataan Roy ,
memang mulut Roy tak ada rem .
" Roy besok aku tugaskan kau ke Inggris ,
tidak usah kembali ke Jakarta lagi , kau
menetap saja disana ." berbicara saat
berada di ambang pintu .
" Ampun bos , ampun .. tadi itu cuma
becanda , pliss .. jangan kirim aku
ke sana ." berbicara sambil mendekati
arah pintu , tapi pintu tertutup .
Roy kembali ke tempat semula , " tidak
ada tapi - tapian ." membuka pintu ,
berbicara sekilas dan menutupnya
kembali .
Di kejauhan , Anggi yang dari tadi
mendengar perdebatan antara teman-teman
nya , tertawa terpingkal-pingkal . Anggi
lupa jika dirinya sedang kesal , ocehan
demi ocehan yang di dengarnya hanya
sepele , tapi bisa membuatnya lupa
dengan rasa amarahnya .
Dengan wajah lesu Roy duduk di samping
Mery , memelas dengan pelan
menyandarkan kepalanya di pundak
Mery ," jangan modus kak ."
Roy tertawa dan mengangkat kepalanya ,
" Aku tidak modus Mer , aku hanya
ingin bersandar sebentar pada orang
yang sudah mengganggu tidurku ."
berusaha menggoda .
" Mana ada aku mengganggu tidur kak
Roy , membangunkan saja aku tidak
pernah ." sewot tidak terima dengan
tuduhan yang Roy berikan .
Niat yang awalnya ingin menggoda
dan merayu Mery , malah berujung
menjadi pertengkaran . Perkataan yang
asal keluar dari mulut Roy , di salah
tanggapan oleh Mery .
" Caramu mengganggu tidurku tidak
dengan kau yang membangunkan ku ,
melainkan wajahmu yang selalu
terbayang di sela mimpiku ." Mery
yang malu tak bisa berkata hanya
memalingkan wajahnya .
" Nge gombal terus ,, udah basi Roy ,
ingat umur , Mery seumuran adekmu ,
jangan percaya gombalan om - om Mer."
ejek Anggi yang akan menuju toilet .
Ejekan Anggi berhasil membuat Mery
tak bisa menahan tawanya , dia
terpingkal-pingkal sampai memegang
perutnya yang kaku .
" Kau jangan dengarkan apa kata Anggi ,
aku masih muda umurku saja masih 28
lihat tampang ku saja tidak kalah dengan
anak SMA ." Roy yang membela diri ,
memaksa Mery untuk melihatnya .
" Sudah kak , iya ..iya .. aku percaya ."
menatap Roy dengan masih ingin tertawa .
Sebenarnya Roy juga minder jika dia
menyukai Mery , karena usia mereka
yang terpaut lumayan jauh ,Mery yang
saat ini masih sekolah tingkatan SMA
usia mereka berbeda sepuluh tahun .
Tapi hati tidak bisa memilih , dengan
siapa harus menaruh tempatnya .
" Mery kau jangan mau sama Roy , nanti
bisa - bisa kau jadi sugar Daddy nya ,
mending kalau kau sama Bimo , dia lebih
muda dan kalian pasti serasi ." berbicara
di sepanjang perjalanan nya hingga
sampai ke tempat duduknya .
Bukan hanya Mery yang semakin tertawa ,
bahkan para pramugari pun ikut tertawa
tapi di tahan , mereka tidak berani
takut jika tuannya semakin marah .
Mereka hanya bisa diam , seperti tidak
mendengar apa-apa .
Roy semakin tak terima jika di banding-
bandingkan dengan Bimo , dia
tersinggung jika Anggi mengatakan
Mery seperti sugar Daddy baginya .
Di dalam hati Roy memang mengakui
jika Bimo lebih pantas untuk Mery , tapi
jiwa lelaki nya tidak mau terima , didalam
fikiran nya dia lebih unggul dalam
segalanya .
Soal wajah , tinggi bahkan Roy sekarang
juga sudah berkerja , sedangkan Bimo
masih menyandang status pelajar atau
bisa di bilang masih mahasiswa . Jadi
tidak bisa di bandingkan dengan nya .
Mery yang melihat Roy yang terdiam
menahan emosi , dia menyadari jika Roy
tersinggung dengan candaan yang Anggi
ucapkan .
" Kak Roy masih kelihatan muda kok,
tampan malah ." memberikan sebotol
jus jeruk , agar di minum oleh Roy .
ππππππππ
_
_
Up dikit ...
jejaknya manaaaa...πππ
Next πΉπΉπΉπΉ