
Andreas masuk ke ruang UGD dengan seorang Dokter bersamanya , dia berlari
menghampiri David setelah melihat
keributan Anggi yang sedang marah dan memukuli David .
" Anggi hentikan , David baru siuman
ini di Rumah Sakit sayang , " ucap
Andreas memegang tangan kekasihnya.
" Jangan hentikan aku Dre, biarkan aku
memukulnya sampai puas , dia pantas
mendapatkannya , dia laki -laki ba*****n
yang pernah ku temui." Anggi membuang
bantal yang dia gunakannya untuk
memukul David .
" Anggi David sekarang sedang sakit ,
nanti saja kalau dia sudah sembuh , kau
boleh memukulkannya lagi ." bujuk
Andreas lirih.
" Cukup Dre, kau membelanya ?, kau
membela pedebah itu , aku muak
denganmu Dre,, bisa- bisanya kau lebih
memilih untuk membela dia daripada
aku." Anggi berkata dengan nada kesal.
Anggi kesal segera keluar dari sana, tapi sebelum melangkahkan kakinya dia mengambil bantal yang di buangnya tadi
dan melemparkannya pada David .
" Anggi tunggu ." Andreas mengikuti
Anggi yang pergi dengan kesal.
Diluar Andreas berpapasan dengan Roy ,
" Kau cepatlah kedalam David sendirian
disana , dia sudah siuman . Aku mau
mengejar Anggi dia marah pada David ."
ucap Andreas tergesa-gesa.
" Kenapa ?." Roy memegang lengan
Andreas , mencegahnya pergi .
" Aku juga tidak tahu, ." melepas paksa
genggaman tangan Roy .
Roy terpaksa membiarkan Andreas pergi,
dan dia masuk ke dalam mencari
keberadaan David.
" Hay David bagaimana keadaanmu?,
kata Andreas Anggi marah padamu ,
kenapa ?." Roy bertanya saat dokter
baru saja pergi .
David diam , malu untuk menjelaskan.
" Apa karena Joy ?."
" Entahlah , aku tak tahu ." jawab David
dengan wajah murung .
" David kata Joy , tadi yang melukaimu
adalah Rosa , apa itu benar ?." David mengangguk " benar , kau cepat urus
wanita itu , kalau bisa buat dia tak bisa
berbuat macam-macam lagi denganku."
" Baiklah ,aku akan membereskannya."
" Aku hampir lupa mengatakan padamu,
aku diminta Joy untuk mengurus
perceraian kalian ." menatap David tajam.
David kaget " Lalu kau menyetujuinya ?."
" Terpaksa mau bagaimana lagi , kalau
aku tidak menurutinya , dia akan
menyuruh orang lain ."
David menghirup nafas dalam-dalam.
" Aku akan berbicara padanya , tapi aku
butuh bantuanmu ." bisik David di telinga
Roy .
" Apa ?." tanya Roy penasaran.
" Besok buatlah Joy sendirian di
kamarnya , aku akan bicara dengannya."
" Baiklah , itu gampang." Roy tersenyum.
Dua orang perawat datang menghampiri David , mereka bertugas untuk
memindahkan David keruang perawatan .
πππ
" Anggi , ku mohon kau jangan marah
padaku ." berlari mengejar Anggi .
" Kau tak tahu apa yang telah David
lakukan ." menarik tangan Anggi ,
terpaksa dia berhenti.
" Mana aku tahu , kau tidak
menjelaskannya padaku ." mengajak
Anggi duduk di kursi Taman Rumah Sakit.
" Apa kau tahu Dre, kenapa Joy masuk Rumah Sakit ." Andreas menggeleng.
" Itu karena perbuatan David , dia dengan
teganya memper**** Joy lagi ." Andreas
terkejut.
" Apa aku tidak salah dengar sayang ?."
" Apa kau tidak percaya padaku ?, aku
mendengar nya sendiri dari mulut
David ." suara Anggi lirih , takut ada
orang yang mendengar.
" Tunggu , David kan sedang hilang
ingatan ." ucap Andreas seperti
mengingat sesuatu.
" Tidak Dre , hilang ingatan tidak bisa
di jadikan alasan , bisa kan David
memintanya dengan baik - baik , tidak
harus memaksanya , apa kau lupa Joy
juga sedang hamil ? , bisa - bisanya dia
berbuat seperti itu pada Joy ." Anggi
mulai marah.
" Tenanglah Anggi , pasti ada alasan
di belakang itu semua." Andreas akan
memeluk Anggi agar lebih tenang , tapi
didorongnya.
" Kalian memang para lelaki, tidak bisa
memahami wanita , kau jangan
mendekatiku jika kau masih membela
temanmu , karena disini aku juga
membela temanku ." Anggi berdiri meninggalkan Andreas sendirian di kursi Taman.
Andreas menggaruk kepalanya yang tidak
gatal , merasa tidak mengerti dengan keadaannya saat ini , karena semua
perkataan nya salah di mata Anggi .
πππ
Keesokan harinya...
David di antar oleh Roy menuju ruangan
Joy dengan menggunakan kursi roda ,
dia berhenti tepat di depan pintu .
" David kau tunggu di sini , aku akan
masuk dulu ." Roy masuk kedalam dan
David masih di luar .
Didalam ruangan ada Joy yang sedang
berbaring dengan ditemani Mery yang
duduk di sebelahnya.
" Hai Joy bagaimana keadaanmu , apa
sudah lebih baikan ?." tanya Roy yang
berjalan mendekati ranjang Joy .
" Terimakasih Roy kau sudah datang ,
seperti yang kau lihat sendiri aku mulai
yang di kupaskan oleh Mery .
Roy duduk di samping Mery , " Roy , kau
jangan duduk disini , aku merasa gerah
sekarang , duduklah di samping ibu."
ucap Joy yang melihat gelagat aneh Roy .
" Baik nyonya bos , aku akan selalu
mematuhimu." ibu Wulan tertawa
melihat perdebatan Roy dan putrinya.
Roy pindah duduk di samping tantenya.
" Tante di luar ada David , dia mau bicara
dengan Joy berdua , apa Tante mau
keluar denganku sebentar ." ibu Wulan tersenyum dan mengangguk.
" Mery tolong antarkan ibu ke Minimarket
sebentar ." ajak ibu Wulan dengan
menggandeng tangan Mery.
" Untuk apa Bu ?." tanya Joy ingin tahu.
" Ibu mau membeli beberapa cemilan
untuk nanti malam , kau disini sama Roy
ya sayang , ibu cuma sebentar saja ."
mengelus pucuk kepala Joy.
" Tenang saja Tante , Joy pasti aman
denganku ." mengantarkan tantenya
keluar , kemudian membawa David
masuk kedalam .
" Joy ,, ." panggil David , yang sekarang
dihadapan Joy .
Joy kaget melihat David di depannya,
David duduk di kursi roda dengan slang
infus yang masih menyambung di
tangannya.
" Mau apa kau kesini ." Joy berpaling dari
pandangan David.
" Aku kesini untuk meminta maaf padamu,
aku tahu kau tidak mungkin dengan mudahnya memaafkan diriku , tapi aku
sangat memohon padamu, jangan pernah mempunyai keinginan untuk bercerai denganku , karena itu tidak mungkin."
David berbicara dengan nada datar dan sedikit memelas.
" Ini omong kosong , kau kesini untuk
minta maaf atau untuk mengancamku ."
teriak Joy marah.
" Aku tidak mengancammu sayang ,
aku hanya menegaskan padamu , sekali
kau menjadi istriku selamanya akan
tetap menjadi istriku , karena istriku
hanya satu yaitu Joyyana dan tidak akan
pernah tergantikan." Joy tersenyum masam.
" Kau jangan konyol David , berulang kali
kau melukai hati dan ragaku ." teriak Joy,
kesal karena merasa di permainkan.
" Aku minta maaf sayang , itu semua
diluar kesadaranku , kau tau sendiri jika
saat itu aku tidak mengingat dirimu ."
" Apa kecelakaan itu kemauanku , tidak
sayang aku tidak sedikit pun mempunyai
niat untuk menduakan dirimu , sungguh
di dalam lubuk hatiku yang paling dalam
hanya kaulah wanitaku ."
David berusaha berdiri dan berjalan
pelan mendekati ranjang istrinya.
" Joy ,,, kau tau sendiri kan kalau aku
tidak akan bisa melakukannya jika tidak denganmu , dan saat di Kantor itupun
yang ada di bayanganku adalah dirimu ,
bukan wanita ****** itu ."
David mengangkat tangannya untuk menghapus air mata Joy , tapi Joy memegang tangan David agar tidak bisa
menyentuh wajahnya.
" Tapi kau kejam padaku David ." air
mata Joy mulai menetes.
" Kejam ? , maaf sayang saat itu aku
terbawa emosi , karena aku mendengar
dirimu berbicara mesra dengan pria lain
di dalam telfon." ingin memeluk tapi
Joy mendorongnya.
" Aku tidak semudah itu David untuk bisa
memaafkan dirimu , tidak hanya dengan
penjelasan semua masalah beres , itu
tidak mungkin , penjahat saja menerima
hukuman , kalau kau tidak mau menerima
hukuman penjahat yang ada di penjara
akan iri padamu ." mendorong David
lebih keras.
" Aku akan menerima semua hukuman
darimu , asalkan kau tidak berpisah
denganku ."
Joy menutup mulutnya , dia tertawa
hambar " enak saja , kau yang menerima
hukuman tapi kau sendiri yang
menentukannya ? itu konyoool."
" Terserah padamu aku akan menerimanya."
Joy tersenyum sadis , memikirkan
sebuah hukuman yang tepat untuk David.
" Baiklah dengarkan baik-baik apa yang
aku katakan , " David mengangguk.
" Aku akan tetap tinggal di Rumah Oma ,
tapi kau dan aku tidak akan saling
bertemu satu sama lain , sekalipun
untuk sekedar makan , kita akan tidur
terpisah , sampai anak kita lahir ."
David melotot Karena kaget " Joy ..."
panggilnya memelas seperti hampir
menangis .
Joy mengangkat tangannya" aku tidak
menerima penolakan David , jika kau
melanggar hukumannya kita akan
bercerai , titik kau cepat keluar dari
kamarku ."
Dengan perasaan yang kalut David
berjalan menghampiri kursi rodanya,
dan keluar dari sana .
*
*
Masih setia membaca, bagaimana
kelanjutannya , Author nantikan
kritik dan sarannya π
untuk dukungan like komen dan votenya
author ucapin terimakasih banyaaak
author seneeeeng pake banget deh
pokoknya tidak bisa di ungkapin dengan
kata "
Jangan lupa ninggalin jejaknya
author tunggu π₯°βοΈ
salam cinta dari author ππ
Next βοΈ