
Masih didalam ruang NICU , ketiga orang
ini gemas melihat kelincahan putra joyyana ,
rambut hitam tebal , kulit yang putih
membuat bayi itu terlihat tampan meskipun
masih bayi , mata yang biru dan hidung
mancung nya menambah terlihat jika
manusia kecil itu seperti foto copy dari ayahnya .
" Tampan sekali ya Mer keponakan ku ?."
melihat lebih dekat , Adinda gemas .
Mery mengangguk , masih fokus
memandang bayi lucu di dalam kotak
kaca , seperti ikan dalam aquarium
bayi itu bergerak tanpa suara . Mata
beningnya berkedip menoleh kesana
kemari melihat jeli satu persatu orang
yang ada di atasnya .
" Ihh .. lucunya , lihat pipi gembulnya
aku tidak tahan pingin dia cepat besar ,
biar bisa ku ajak jalan-jalan ." berbicara
sambil meremas kedua pipinya sendiri .
" Emang bisa kamu ajak jalan-jalan , dia
pasti ikut orang tuanya disini , sedangkan
kamunya aja ada di Jogja , tidak mungkin ."
Dinda tidak terima dengan penuturan Mery ,
menaruh kedua tangannya di pinggang
Adinda menghadap Mery .
" Huh .. bisa lah Mer , biar aku bawa
si mungil ini ke Jogja pasti kak Joy setuju ."
Bimo dan Mery tertawa mendengar ocehan
Adinda , menurut mereka pemikiran
Adinda itu sangatlah konyol , tidak mungkin
kakak iparnya akan menyetujui usulan gadis
tengil itu .
" Ussssst .. jangan keras-keras ." himbau
Bimo kepada Adinda , gadis itu pun
meringis malu .
Lima belas menit berlalu mereka masih
berada didalam , tidak terasa sudah lama mereka berdiri , seorang perawat datang
dengan sopan menyuruh ketiga orang itu
untuk keluar , karena waktu jenguk mereka sudah habis .
Ketiganya keluar tanpa membantah , saat berada didepan pintu Adinda mengajak
untuk ke kantin .
"Kita ke Kantin yuk nyari minum , pasti
kak Bimo haus ." Adinda mengakrabkan
diri , Mery spontan menoleh .
Tumben sekali Adinda banyak bicara
tidak biasanya dia mau bicara dengan
laki - laki .
Mery diam melihat tangan Adinda yang
memegang lengan Bimo . Hatinya sedikit
terluka saat teman lelakinya didekati oleh
perempuan lain , meskipun yang
mendekati adalah temannya sendiri .
Mery ingin memastikan jika anggapan nya
itu tidak benar , dia mempunyai ide untuk
meninggalkan mereka berdua agar bisa
melihat reaksi Adinda bagaimana .
Mery dan Bimo menyetujui ajakan Adinda
tapi Mery pamit ke toilet terlebih dahulu .
" Kalian kesana duluan , aku ke Toilet
dulu nanti aku akan menyusul ." berlari
meninggalkan Adinda dan Bimo berdua .
" Yang lama ." teriak Adinda sambil tertawa .
Deg .. Mery kaget , melihat ke belakang
memaksakan bibirnya untuk tersenyum .
Kenapa Dinda berkata seperti itu .
Gurauan Adinda membuat hati Mery teriris ,
meskipun hanya sekedar candaan tapi
Mery tahu jika itu kenyataannya ,
membalikkan badannya Mery menuju toilet .
Menggandeng Bimo , Adinda segera mengajaknya ke Kantin . Seperti ada
harapan Adinda pun tak menyia-nyiakan kesempatan .
Sejak pertama bertemu kemarin , Adinda
sudah jatuh hati dengan Bimo , dia
sebenarnya iri jika Mery dekat dengan
Bimo tapi Adinda tak punya pilihan lain ,
karena Mery lah Bimo ada dan juga berkat
temannya itu pula dirinya bisa bertemu
dengan Bimo , seorang lelaki yang
Dari awal tujuan Mery hanya berpura-pura
ingin ke Toilet , dia membuntuti kedua temannya itu dari belakang , dengan bersembunyi Mery menguping setiap percakapan .
Rasa penasaran membuatnya ingin tahu
seberapa benar dugaannya tentang
isi hati sahabat nya itu .
Di sepanjang jalan menuju Kantin Adinda melemparkan beberapa pertanyaan pada
Bimo , mengulik kebenaran tentang
sepenggal indentitas dan kehidupan
lelaki itu , bagai seorang wartawan Adinda
berulang kali bertanya .
Dengan ramah Bimo menjawab setiap pertanyaan Adinda tanpa risih dan
terganggu , lelaki itu menganggap jika
gadis itu adalah teman baik Mery ,
membuatnya tidak pantas jika tidak
menjawabnya .
Dari nama panjang , kuliah , sampai hoby
pun tidak luput dari pertanyaan Adinda .
Terlalu deh Adinda , masa ya segitunya
kak Bimo juga kenapa di jawab terus sih ,
diam kek gitu saja tidak bisa .
Kesal Mery bersembunyi di balik dinding
mendengar percakapan keduanya , Mery
jengkel sendiri .
Menuju satu meja , Adinda menarik Bimo
mengajaknya untuk mengambil tempat
disisi luar , menggeser kursinya agar
lebih dekat dengan Bimo , Adinda
semakin bersemangat .
" Bayi kak Joy tadi tampan ya kak ."
sambil membuka buku menu , Adinda
mengajak Bimo bicara .
" Iya ." perhatian Bimo fokus pada menu .
" Kak Bimo tahu kan siapa ayahnya ?."
Bimo menoleh ," Tuan David kan ?."
" Pasti , suami kak Joy itu tampan sekali
lho kak , andai saja aku nanti bisa punya
suami setampan suaminya kak Joy ,
pasti aku akan punya putra yang tampan
juga ." Bimo hanya melirik tak menjawab .
Kenapa gadis ini membahas soal suami
lulus SMA saja belum .
Bimo pura - pura melihat buku menu tapi pikiran nya tertuju pada Adinda . Dari jauh
Mery menahan kesal .
Dasar Dinda .
Mery menarik nafasnya dalam kemudian
mengeluarkannya , membuang rasa
jengkelnya Mery menciptakan wajah yang
biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa .
Dengan langkah tenang dia berjalan
menuju meja ketempat kedua temannya
itu mengambil tempat duduk .
Adinda tak mengetahui kedatangan Mery
yang akan menghampirinya , gadis itu
masih asik melakukan pendekatan .
" Kak Bimo juga tampan , jika kak Bimo
punya putra pasti tampan juga , iya kan
kak ?." Bimo tersenyum , tak kuasa untuk
menjawab pertanyaan Adinda kali ini .
" Ehhem .. maaf lama , tadi Toilet nya
antri ." deheman Mery membuat Dinda
menoleh kaget ," Mery ." ucapnya lirih .
Mau tanya apa lagi Lo , ha ? .
Dalam hati Mery tertawa melihat Dinda
geram atas kedatangan nya .
" Tidak apa Mer , sini duduk ! , kita baru
saja akan mulai memesan makanan , kau
mau pesan apa ." Menyeret satu kursi
untuk ditempati Mery .
Melihat perlakuan Bimo pada Mery , Dinda
kesal .
Cepet banget , lamaan dikit kek di Toiletnya
kalau ada Mery pasti pandangan kak Bimo
tidak mau lepas .
Dalam hati Adinda menahan kekesalan .
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Up ..up ..up ..up
Next ๐