Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Nyesek 2


Masih didalam ruang NICU , ketiga orang


ini gemas melihat kelincahan putra joyyana ,


rambut hitam tebal , kulit yang putih


membuat bayi itu terlihat tampan meskipun


masih bayi , mata yang biru dan hidung


mancung nya menambah terlihat jika


manusia kecil itu seperti foto copy dari ayahnya .


" Tampan sekali ya Mer keponakan ku ?."


melihat lebih dekat , Adinda gemas .


Mery mengangguk , masih fokus


memandang bayi lucu di dalam kotak


kaca , seperti ikan dalam aquarium


bayi itu bergerak tanpa suara . Mata


beningnya berkedip menoleh kesana


kemari melihat jeli satu persatu orang


yang ada di atasnya .


" Ihh .. lucunya , lihat pipi gembulnya


aku tidak tahan pingin dia cepat besar ,


biar bisa ku ajak jalan-jalan ." berbicara


sambil meremas kedua pipinya sendiri .


" Emang bisa kamu ajak jalan-jalan , dia


pasti ikut orang tuanya disini , sedangkan


kamunya aja ada di Jogja , tidak mungkin ."


Dinda tidak terima dengan penuturan Mery ,


menaruh kedua tangannya di pinggang


Adinda menghadap Mery .


" Huh .. bisa lah Mer , biar aku bawa


si mungil ini ke Jogja pasti kak Joy setuju ."


Bimo dan Mery tertawa mendengar ocehan


Adinda , menurut mereka pemikiran


Adinda itu sangatlah konyol , tidak mungkin


kakak iparnya akan menyetujui usulan gadis


tengil itu .


" Ussssst .. jangan keras-keras ." himbau


Bimo kepada Adinda , gadis itu pun


meringis malu .


Lima belas menit berlalu mereka masih


berada didalam , tidak terasa sudah lama mereka berdiri , seorang perawat datang


dengan sopan menyuruh ketiga orang itu


untuk keluar , karena waktu jenguk mereka sudah habis .


Ketiganya keluar tanpa membantah , saat berada didepan pintu Adinda mengajak


untuk ke kantin .


"Kita ke Kantin yuk nyari minum , pasti


kak Bimo haus ." Adinda mengakrabkan


diri , Mery spontan menoleh .


Tumben sekali Adinda banyak bicara


tidak biasanya dia mau bicara dengan


laki - laki .


Mery diam melihat tangan Adinda yang


memegang lengan Bimo . Hatinya sedikit


terluka saat teman lelakinya didekati oleh


perempuan lain , meskipun yang


mendekati adalah temannya sendiri .


Mery ingin memastikan jika anggapan nya


itu tidak benar , dia mempunyai ide untuk


meninggalkan mereka berdua agar bisa


melihat reaksi Adinda bagaimana .


Mery dan Bimo menyetujui ajakan Adinda


tapi Mery pamit ke toilet terlebih dahulu .


" Kalian kesana duluan , aku ke Toilet


dulu nanti aku akan menyusul ." berlari


meninggalkan Adinda dan Bimo berdua .


" Yang lama ." teriak Adinda sambil tertawa .


Deg .. Mery kaget , melihat ke belakang


memaksakan bibirnya untuk tersenyum .


Kenapa Dinda berkata seperti itu .


Gurauan Adinda membuat hati Mery teriris ,


meskipun hanya sekedar candaan tapi


Mery tahu jika itu kenyataannya ,


membalikkan badannya Mery menuju toilet .


Menggandeng Bimo , Adinda segera mengajaknya ke Kantin . Seperti ada


harapan Adinda pun tak menyia-nyiakan kesempatan .


Sejak pertama bertemu kemarin , Adinda


sudah jatuh hati dengan Bimo , dia


sebenarnya iri jika Mery dekat dengan


Bimo tapi Adinda tak punya pilihan lain ,


karena Mery lah Bimo ada dan juga berkat


temannya itu pula dirinya bisa bertemu


dengan Bimo , seorang lelaki yang


Dari awal tujuan Mery hanya berpura-pura


ingin ke Toilet , dia membuntuti kedua temannya itu dari belakang , dengan bersembunyi Mery menguping setiap percakapan .


Rasa penasaran membuatnya ingin tahu


seberapa benar dugaannya tentang


isi hati sahabat nya itu .


Di sepanjang jalan menuju Kantin Adinda melemparkan beberapa pertanyaan pada


Bimo , mengulik kebenaran tentang


sepenggal indentitas dan kehidupan


lelaki itu , bagai seorang wartawan Adinda


berulang kali bertanya .


Dengan ramah Bimo menjawab setiap pertanyaan Adinda tanpa risih dan


terganggu , lelaki itu menganggap jika


gadis itu adalah teman baik Mery ,


membuatnya tidak pantas jika tidak


menjawabnya .


Dari nama panjang , kuliah , sampai hoby


pun tidak luput dari pertanyaan Adinda .


Terlalu deh Adinda , masa ya segitunya


kak Bimo juga kenapa di jawab terus sih ,


diam kek gitu saja tidak bisa .


Kesal Mery bersembunyi di balik dinding


mendengar percakapan keduanya , Mery


jengkel sendiri .


Menuju satu meja , Adinda menarik Bimo


mengajaknya untuk mengambil tempat


disisi luar , menggeser kursinya agar


lebih dekat dengan Bimo , Adinda


semakin bersemangat .


" Bayi kak Joy tadi tampan ya kak ."


sambil membuka buku menu , Adinda


mengajak Bimo bicara .


" Iya ." perhatian Bimo fokus pada menu .


" Kak Bimo tahu kan siapa ayahnya ?."


Bimo menoleh ," Tuan David kan ?."


" Pasti , suami kak Joy itu tampan sekali


lho kak , andai saja aku nanti bisa punya


suami setampan suaminya kak Joy ,


pasti aku akan punya putra yang tampan


juga ." Bimo hanya melirik tak menjawab .


Kenapa gadis ini membahas soal suami


lulus SMA saja belum .


Bimo pura - pura melihat buku menu tapi pikiran nya tertuju pada Adinda . Dari jauh


Mery menahan kesal .


Dasar Dinda .


Mery menarik nafasnya dalam kemudian


mengeluarkannya , membuang rasa


jengkelnya Mery menciptakan wajah yang


biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa .


Dengan langkah tenang dia berjalan


menuju meja ketempat kedua temannya


itu mengambil tempat duduk .


Adinda tak mengetahui kedatangan Mery


yang akan menghampirinya , gadis itu


masih asik melakukan pendekatan .


" Kak Bimo juga tampan , jika kak Bimo


punya putra pasti tampan juga , iya kan


kak ?." Bimo tersenyum , tak kuasa untuk


menjawab pertanyaan Adinda kali ini .


" Ehhem .. maaf lama , tadi Toilet nya


antri ." deheman Mery membuat Dinda


menoleh kaget ," Mery ." ucapnya lirih .


Mau tanya apa lagi Lo , ha ? .


Dalam hati Mery tertawa melihat Dinda


geram atas kedatangan nya .


" Tidak apa Mer , sini duduk ! , kita baru


saja akan mulai memesan makanan , kau


mau pesan apa ." Menyeret satu kursi


untuk ditempati Mery .


Melihat perlakuan Bimo pada Mery , Dinda


kesal .


Cepet banget , lamaan dikit kek di Toiletnya


kalau ada Mery pasti pandangan kak Bimo


tidak mau lepas .


Dalam hati Adinda menahan kekesalan .


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Up ..up ..up ..up


Next ๐Ÿ˜