Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Murka ibunda Roy


Dari ruangan kakaknya dirawat, Mery hendak pulang. Di sepanjang kakinya melangkah


gadis itu memikirkan betapa pilu hidupnya.


Hidup gadis itu kini sebatang kara, satu anggota keluarga pun tak punya, hanya


seorang kakak yang bukan sedarah menjadi teman dan pengayom untuk mengarungi kehidupannya.


Mery senang dan sayang sekali pada


kakaknya itu, meskipun tak ada aliran darah yang sama dengannya tapi kakaknya itu


sangat menyayanginya seperti layaknya saudara kandung.


Keberadaan kakaknya itu membuang rasa kesendiriannya, dia bisa merasakan adanya keluarga.


Saat tinggal bersama ibu Wulan di Jogja,


Mery bahagia karena menemukan satu kehangatan keluarga, disaat dirinya haus


akan kasih sayang sebuah keluarga.


Apalagi ditambah dengan adanya seorang teman sebayanya yang melengkapi rasa memiliki saudara yang seumuran, bisa


berbagi suka maupun duka bersama, tanpa rasa malu dan sungkan.


Saat itu hidup Mery sangatlah lengkap, membuatnya melupakan sejenak akan rasa kehilangan orang-orang yang dia sayangi.


Tapi hari ini seakan sirna. Kasih sayang, sahabat, saudara seakan hilang dengan sekejap, berganti dengan perselisihan yang membuat orang saling menikamnya dari belakang.


Dia tak habis pikir, hanya karena hal sepele


bisa membuat hubungan yang dekat menjadi jauh dan hilang dalam sekejap.


Kini yang tersisa hanyalah sebuah kenangan yang tersimpan dalam bilik ingatan yang


entah sampai kapan kenangan itu masih


tetap diingat.


Langkah Mery yang menuju pintu keluar Rumah Sakit di urungkan, dia berniat beristirahat sejenak untuk melepaskan relung kesedihan yang senantiasa bergulad di hatinya.


Manik mata itu menangkap hijaunya pemandangan taman Rumah Sakit.


Sedetik Mery membelokkan arah kakinya melangkah menjadi ke arah Taman.


Gadis itu duduk bersandar, sendirian melihat hijau daun yang segar dan tingkah lincah


anak kecil yang sedang bermain di sana. Berusaha mencuri mata agar bisa membersihkan kegundahan hatinya.


"Aku tidak mungkin bisa selalu bersama kak Joy, semua ini terlalu rumit. Tapi apakah aku bisa menjauh dari kakakku, kakak yang paling aku sayangi hanya dialah satu-satunya keluarga ku." Gumam Mery dengan


menitikkan air mata.


Rasanya kali ini dia ingin pergi jauh tapi masih berat dengan kakaknya, dia berpikir keras bagaimana langkahnya selanjutnya.


Kembali ke rumah Oma, pasti di sana nanti


dia ketemu dengan pria buaya itu, kalau tidak ke sana dia harus kemana lagi, Mery bimbang.


Ingin rasanya dia kembali ke rumahnya


sendiri, tapi rumah itu sekarang bukan


haknya lagi. Meskipun nama dan hak milik tetap atas namanya, tapi Mery juga sudah menerima uang dari hasil jual beli itu.


Ingin pergi jauh dan membawa ATM, tapi


uang itu juga dari pria buaya itu.


Kenapa hidupnya selalu terikat dengan pria


itu, tak bisakah dia lepas dan menghilang


jauh dari sang buaya, Mery sudah muak


hatinya dipermainkan, kali ini dia ingin tegas dan memilih hanya nama Bimo lah yang ada


di hatinya.


Kalau Mery masih terikat bayang - bayang


Roy apa dia bisa membuang sisa perasaan yang pernah tumbuh untuk pria itu.


Mery yang duduk sendirian dikagetkan


dengan kedatangan seorang wanita yang dia kenal, wanita itu datang - datang langsung memukul Mery dari belakang menggunakan


tas kecil yang dibawanya.


Tanpa kata dan sapaan sebuah pukulan terbang bebas mengenai bahunya.


Bukkโ€ฆ Mery seketika menoleh.


"Tante." Mery yang kaget tak bisa berkata.


"Dasar gadis tidak tahu diri, aku sudah menganggapmu seperti putriku sendiri sekarang kau berani merayu putraku?."


Mery syok, menutup mulutnya.


Rani yang marah, mengolok Mery di tempat umum. Banyak pasang mata menjadi


pemirsa dadakan. Rasa penasaran membuat mereka memfoto dan merekam kejadian itu.


Mery berlinang air mata mendengar kata-kata yang keluar dari mulut seorang wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu itu.


Baru saja tadi dia meratapi kemalangan hidupnya dan akan memutuskan untuk pergi, sekarang dengan adanya kejadian ini bisa membuat hatinya menjadi mantap untuk tekadnya tadi.


"Maaf Tante, apa salahku?." Memohon pengampunan pada Rani.


Rani seakan membabi buta, dipukulinya


gadis itu bagai seorang pencuri sambil


bibirnya mengeluarkan umpatan dan hinaan pada Mery.


"Apa kurang jelas kata - kataku tadi, kau


jangan mendekati Roy lagi, menjauhlah dari hadapan putraku, kau tidak pantas."


Mery hancur.


"Aku tidak pernah merayu kak Roy Tante,


Tante hanya salah paham padaku." Rani melepaskan tangan Mery yang berlutut di kakinya.


"Aku lihat sendiri tadi kalian berpelukan,


sudah jangan mengelak lagi."


Dari jauh ada Anggi yang hendak menjenguk joyyana, karena mendengar jika temannya


akan pulang hari ini membuatnya ingin membantu apa yang dia bisa.


Saat kakinya hendak masuk ke Rumah Sakit, Anggi mendengar satu seruan pengunjung Rumah Sakit yang mengatakan jika di Taman ada keributan, hal itu membuat Anggi penasaran dan ingin tahu siapa yang sedang ribut.


Anggi berjalan ke Taman sambil sedikit


berlari, mengikuti langkah orang yang hendak kesana juga.


Betapa kagetnya Anggi saat mengetahui


siapa orang yang sedang melakukan


keributan disana, ternyata orang yang dia


kenal, yang tak lain adalah Mery dan


ibundanya Roy.


Melihat Mery yang menangis, Anggi tak tega. Dia langsung berlari untuk menolong gadis itu.


Sampai di tempat Anggi segera mengangkat tangan ibunda Roy yang hendak memukul


Mery kembali.


"Cukup, Tante." Melotot pada Rani.


"Apa Tante tak malu dilihat banyak orang." Tunjuk Anggi pada orang yang sedang menyaksikan perdebatan mereka.


"Terserah aku tidak peduli." Melepas paksa tangan yang dipegang oleh Anggi.


"Apa salah Mery pada Tante, sampai Tante


tega memarahinya di tempat umum dan disaksikan banyak orang." Mengangkat Mery untuk mengajaknya berdiri.


"Tanyakan saja pada gadis itu, dia sudah


berani merayu putraku." Ucapan sombong


Rani membuat gelak tawa Anggi menggema.


"Hahaha .. apa Tante bilang, apa aku tidak


salah dengar? Tante bilang Mery merayu


anak Tante?."


"Hahaha .. ." tak cukup sekali, Anggi tertawa berulang kali.


Memandang ibunda Roy, Anggi masih tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.


"Apa yang kau tertawakan Anggi? Apa ada


yang lucu?." Memasang tasnya kembali di pundak.


Anggi menarik nafas, untuk menyeimbangkan agar dia bisa berhenti untuk tertawa.


"Eh Hem .., gini Tan aku bukan menghina


anak Tante lho ya, aku hanya merasa lucu


saja dengan kemarahan Tante yang tidak jelas."


Anggi menyuruh orang-orang pergi dan melarang untuk mengambil gambar dan menghimbau agar menghapus semua


gambar yang sudah terlanjur diambil, agar


tidak tersebar yang bisa menimbulkan kesalahpahaman.


Selanjutnya Anggi mengajak Rani dan Mery untuk sama - sama duduk agar tidak emosi. Dan membicarakannya dengan baik - baik, awalnya Rani menolak tetapi selanjutnya dia menurut karena bujukan Anggi.


"Tante dengar dari siapa kalau Mery merayu Roy?." Sesi tanya jawab pun terjadi.


"Bukan dari siapapun, aku melihatnya sendiri tadi mereka berpelukan."


Mendengar penuturan Tante Rani, semakin membuat Anggi ingin tertawa.


"Tante .. , itu tidak bisa dikatakan merayu, kecuali jika Tante melihat Mery yang


memeluk Roy duluan, Tante bisa


menjatuhkan tuduhan itu padanya, tapi perkataan Tante tadi bisa jadi fitnah atau tuduhan yang tak berbukti lho." Jelas Anggi membuat Rani terdiam.


"Tante hanya tau sekali kan? Aku yang sering melihatnya harus berkata apa, padahal yang aku lihat itu Mery yang selalu menolak ketika putra Tante mencuri cium dan peluk darinya."


Rani menelan ludah, kaget dan malu


bercampur menjadi satu.


"Aku harus menyebut anak Tante apa?


perayu, buaya , apa pria gat*l yang ingin


sekali menikah tapi ibundanya yang kebanyakan aturan?."


Bagai disambar petir, perkataan Anggi menampar keras muka Rani, membuatnya hilang muka dalam sekejap.


Rani langsung pergi tanpa ada kata yang yang dia ucapkan.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Yang nulis ikut emosiiii... gak ad yg ngasih


hadiah oyyyy ๐Ÿ™ˆ