Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Kepergok Adinda


Mery terdiam dan dengan pelan


menggerakkan lehernya membuat wajahnya bisa menatap pada kakak iparnya.


"Tunangan." Mery menyunggingkan sedikit bibirnya, menyadari alasan konyol yang disebutkan oleh kakak iparnya baru saja.


Yang Mery tahu hanyalah jika


pertunangannya itu cuma sekedar sandiwara tapi rasanya berbeda sekarang karena yang dilihatnya bukanlah kata sandiwara tapi


seolah kakaknya ini sangat menginginkan pertunangan itu benar-benar terjadi sebab


ada perasaan yang mendasari.


Seperti yang sempat ibunda Roy tuduhkan tempo hari, Mery tak mau itu sampai terjadi.


Tatapannya kembali pada Roy yang sedang merintih kesakitan di lantai, kemudian memikirkan semua ucapan yang pernah dia dengar dari Tante Rani, semua hal yang dituduhkan padanya kembali muncul terngiang-ngiang di telinganya.


Tanpa ragu Mery mengangkat satu tangan David yang memegang lengannya, "lepaskan!." David melihat tatapan Mery berbeda.


Tatapan tajam dan sinis membuat David terpaksa melepaskan cengkraman tangannya.


Mendekati Roy, Mery membantu agar pria itu bisa berdiri. David hendak melarang tapi Mery bersikukuh dengan kehendaknya ingin menolong Roy dan tidak menuruti apa yang dikatakan oleh David.


"Lepaskan dia dan ayo ikut aku pulang." Mery tidak menggubris permintaan David.


Membantu Roy berjalan Mery mengalungkan satu tangan Roy di pundaknya, tanpa pamit dengan David dia langsung meninggalkan tempat itu. David geram dengan situasi itu,


dia tak habis pikir bisa-bisanya Mery memperlakukannya seperti ini.


Sambil tertatih-tatih akhirnya Roy sampai di mobilnya, Mery membantu membukakan


pintu dan dengan pelan membantu Roy masuk.


"Pelan-pelan kak." Roy berhasil duduk dengan bantuan Mery.


"Terimakasih Mer, kau berpihak padaku." Tersenyum menatap gadis di depannya.


"Tidak usah berterima kasih, semua ini terjadi karena aku, harusnya aku yang minta maaf pada kakak."


David tak terima dengan sikap Mery padanya, ditariknya gadis itu dan menyeretnya untuk pergi. Dia tak mau mendengar penolakan lagi, mau tidak mau Mery harus menurut padanya, tanpa memperdulikan perasaan Mery dan


sorot mata banyak orang yang memperhatikan mereka, David memasukkan calon tunangannya itu kedalam mobilnya dan meninggalkan pantai.


###


Di kontrakan Bimo.


Bimo Ling-lung mendapati dirinya kini dalam satu selimut bersama dengan Alina, dia


masih belum sadar dan mengingat penuh


apa yang mereka lakukan semalam, dengan pelan Bimo turun dari tempat tidurnya sambil


sedikit melirik Alina yang masih tertidur pulas, dipakainya celana boxer miliknya yang tergeletak di lantai dengan berdiri kemudian berjalan cepat kekamar mandi.


Di bawah shower Bimo mengguyur kepalanya, mencoba membasahi seluruh tubuhnya dan berusaha mengingat apa yang terjadi.


Berulang kali dia memeras seluruh isi di otaknya agar keluar ingatan bahwa yang dilakukannya semalam adalah sebuah kesalahan, tapi sedikit pun ingatan itu tidak muncul, hingga dia membenturkan kepalanya di dinding karena merasa frustasi.


"Keluarlah, cepat keluar, apa aku sudah gila hingga melakukan hal sehina itu." masih membenturkan keningnya.


Menurutnya dia semalam cuma bermimpi bercinta dengan Mery, dia mengira mungkin itu efek dari rasa kesal saat membaca artikel berita yang menyangkut pertunangan kekasihnya itu.


Bimo meluapkan semua kekesalannya saat dirinya tidak tersadar, rasa takut kehilangan dan ingin memiliki membuatnya menumpahkan hasratnya dialam mimpi padahal yang dilakukannya itu nyata tapi dengan wanita berbeda.


Bimo menghentikan kepalanya yang membentur di dinding kamar mandi, satu tangannya mematikan shower kemudian mengusap wajahnya yang basah akibat


terkena guyuran air.


"Apa jangan-jangan semalam yang ku lihat Mery itu adalah Alina? berarti aku semalam


tidak bermimpi, lalu yang ku lakukan adalah nyata bersama dengan Alina?." bertanya pada dirinya sendiri Bimo menarik nafasnya dalam.


"Berarti semalam aku telah merusak seorang gadis, astaga... bagaimana ini bisa ku lakukan, sebejad itukah diriku, oh tuhan... sungguh aku tidak sadar dan tidak sengaja." Berbicara sendiri, sambil melihat pantulan dirinya dikaca yang membatasi antara shower dan bathub.


###


Di pantai


video itu didalam ponselnya, saat dirinya tak sengaja melihat orang pada berlarian, setelah dirinya dari toilet umum.


Gadis itu kembali ketempat dimana teman-temannya duduk di pinggiran pantai, dengan membawa ponselnya ditangan gadis itu hendak menunjukkan berita yang heboh yang sudah dia simpan di dalamnya.


"Eh lihat deh, tadi aku tak sengaja melihat


ada dua cowok yang rebutan seorang cewek, mungkin cewek itu selingkuh, untung saja


aku pintar dan ku ambil saja gambarnya,


hihihi." Menyodorkan ponsel yang didepannya terlihat sebuah video orang yang sedang dihajar.


Gadis itu sengaja memamerkan.


"O, rupanya kau tadi lihat live pertunjukan ya? pantas saja kau lama sekali." Seorang temannya menyahut tanpa ingin melihat


video apa yang ditunjukkan temannya.


Tapi temannya yang lain malah asik


menonton video dari gadis yang merekam pertikaian Roy dan David.


"Kok tidak asing ya, itu yang dihajar kok aku pernah lihat tapi siapa ya, eh Dinda pria ini bukannya kakakmu?." Adinda kaget langsung merebut ponsel, dia ingin memastikan.


Tanpa berkedip Adinda memutar video berkali-kali, ketiga temannya diam memperhatikan reaksi Adinda.


"Hem, liat saja tadi aja sok gak mau lihat, sekarang malah di kuasai." sindir seorang teman, Adinda tak menghiraukan.


"Ini tidak mungkin, berarti kak Roy tadi


di pantai ini." Mengembalikan ponsel pada temannya.


"Mit, kirim video itu padaku, dan jangan


sampai video itu menyebar." Mita mengangguk.


"Jadi pria yang dipukuli itu beneran kakakmu Din?." Tanya Mita tak percaya.


"Ya."


"Kau samperin saja sekarang, dia lagi


sendirian didalam mobil, ceweknya dibawa paksa tuh sama cowok yang menghajar kakakmu tadi." Dinda langsung berdiri.


"Sekarang mobilnya dimana?."


Mita menujuk letak dimana mobil Roy


terparkir dan Adinda tak menunggu lagi langsung menghampiri kakaknya, takut terjadi apa-apa pada kakaknya itu.


"Din, sudah ku kirim." Teriak Mita melihat Adinda berlari.


"Terimakasih." Sahut Adinda tanpa melihat temannya.


Sampai ditempat parkiran Adinda mencari mobil kakaknya ternyata sudah tidak ada, Adinda berkeliling bila ada kemungkinan kakaknya masih didekat sini, tapi nihil dia tidak mendapat apa yang dia cari.


Sampai dia bertemu dengan tukang parkir


dan menanyakan padanya karena melihat Adinda yang dari tadi memutari tempat parkir, dari tukang parkir itu Adinda mendapatkan


titik terang ternyata kakaknya dibantu oleh seorang pria untuk menyetir mobilnya untuk menuju ke Rumah Sakit terdekat.


Adinda sedikit lega, tapi dia kini sudah mengantongi video dari temannya, dengan


rasa kesal pada suami kakak sepupunya Adinda dengan cepat mengirimkan video itu pada tantenya, agar tantenya itu tau


bagaimana menantunya menghajar kakak kandung Adinda.


"Biar Tante Wulan yang membereskan ini."


Ucap Adinda saat video itu berhasil terkirim.


🐞🐞🐞🐞🐞🐞🐞🐞🐞🐞🐞🐞🐞


Yeyeyeyeeee,,, mana jejaknya.....


up lagi yukkkk🚴🚴🚴🚴🚴