Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Permainan perasaan


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Di Rumah Sakit orang tua Andreas datang


menjenguk joyyana , mereka hanya


melihat Joy dari luar karena Oma


melarang ada orang masuk kedalam sana


kecuali perawat dan Dokter .


Setelah Joy mengalami kejadian tadi yang hampir saja mengancam jiwanya ,


Oma tak mau ada orang yang menggangu


istirahat cucu menantu nya itu .


Setelah berbincang dengan Oma dan


Anggi , joyyana menyusui putranya ,


tak berapa lama dia pun tertidur mungkin


itu pengaruh dari obat yang di suntikan


oleh seorang perawat yang kata dokter


joyyana harus banyak istirahat .


Di luar ruangan Anggi menemui orang


tua Andreas ditemani oleh Oma juga ,


mereka berbincang membicarakan


masalah kejadian tadi sore dan tak luput


mereka juga menyinggung masalah


pengelolaan perusahaan .


Karena mereka juga sudah mendengar


jika perusahaan keluarga Alexander kini


mendapat penurunan drastis dari saham


mereka , orang tua Andreas ikut prihatin .


Banyak investor yang mencabut bahkan


menjual saham mereka , hal itu yang


membuat David kini berada jauh dari


anak dan istrinya .


Sepulang orang tua Andreas , Anggi


mempersilahkan Oma untuk pulang dan


beristirahat, agar malam ini dirinya saja


yang menjaga joyyana .


Anggi tahu jika saat ini di Rumah Mery


sedang tidak ada yang menemani ,


disamping itu jika berlama - lama


di Rumah Sakit maka tidak baik untuk


kesehatan Oma juga .


Oma mengiyakan permintaan Anggi , tapi


tidak untuk sekarang karena beliau masih


ingin menunggu kedatangan Andreas ,


agar Anggi ada yang menemani .


Oma melarang Anggi agar tidak memberi


kabar pada ibunya Joy , beliau tidak ingin


jika besannya itu menjadi khawatir ,


karena jika besannya itu sampai tahu


maka beliau akan langsung menuju


Rumah Sakit .


Andreas datang .


Dia datang dengan santainya berjalan


menghampiri Anggi yang duduk


berdampingan bersama Oma .


Dengan dua kantong di tangan Andreas


tersenyum pada Anggi .


" Sesuai pesanan nona , dua burger dan


tiga kentang goreng sampai ditujuan


tepat waktu ." tawa Andreas menjinjing


kantong yang dibawanya keatas tepat


di depan mukanya , untuk di tunjukkan


pada kekasihnya itu .


Anggi mengedip - kedipkan matanya ,


seolah mengatakan jika " jangan disini ,


nanti saja ." Anggi mengarahkan matanya melirik pada Oma .


Andreas menahan tawa sambil mengangguk .


Anggi malu jika memperlihatkan


kemesraan di depan Oma , padahal Oma


lebih berpengalaman dari pada mereka .


Meskipun Oma sudah tua , tapi jiwanya


masih seperti anak muda , beliau tidak


pernah mau ikut campur, kecuali jika anak muda itu berlebihan .


" Tak usah malu padaku , kalian pikir aku


tak pernah muda seperti kalian , aku


sudah menelan asam garam kehidupan ,


jadi puas - puaskan masa muda kalian


sebelum kalian menyesal dan tak mungkin kalian bisa kembali lagi ." Oma berdiri


masuk kedalam kamar joyyana .


Anggi menoleh pada Oma ," pasti Oma ,


terima kasih atas nasihatnya ." Oma


mengangkat satu tangannya tanpa


menoleh pada Anggi , mengisyaratkan


jika " iya " .


Andreas menaruh pesanan Anggi di


sebuah kursi yang memisahkan antara


keduanya .


" Tidak salahkan ?." Anggi mengangguk .


" Pacar siapa dulu , pasti tepat kalau


menerima pesanan ." mengambil kantong


yang berisikan burger lalu membukanya.


Tanpa menawari dan berterima kasih


dulu pada orang yang membawakan nya ,


Anggi langsung menyantap satu burger


yang berukuran jumbo .


" Pelan - pelan tidak ada yang akan


merebutnya , jika antara aku dan burger


kau memilih siapa ?."


Andreas memandangi kekasihnya , yang


sangat bersemangat saat menyantap


burger yang kelihatan nya sangat lezat itu .


Anggi tersedak mendengar pertanyaan


kekasihnya , dengan cepat Andreas memberikan segelas air mineral dalam


bentuk botol pada Anggi .


" Minumlah pelan - pelan , jika tersendak


lagi maka bibirku yang akan menjadi


sedotannya ." Anggi memaksakan untuk


menelan sisa air mineral yang masih ada


di mulutnya .


Melotot pada Andreas , Anggi ingin


protes ," mmmmmm ." mulut yang masih


penuh tak bisa membuatnya untuk


berbicara .


Andreas malah tertawa .


Dengan meletakkan kedua telapak


tangannya di kedua sisi pipi Anggi ,


Andreas gemas ," caby mu ini yang


membuatku tak tahan ." menoleh ke kiri


dan kanan .


Anggi mengangkat kedua alisnya sambil


membuka mata , sebuah isyarat ingin


bertanya "APA" , menambah rasa gemas


dihati Andreas .


Menarik kepala Anggi agar mendekat


bersama dirinya mendekatkan wajahnya ,


Andreas mengecup kedua pipi Anggi


dan berakhir pada bibir yang sudah


di buat monyong Andreas menghisapnya .


Anggi mendorong .


" Apaan sih Dre ini Rumah Sakit ." Andreas


meringis , " maaf lupa , habis kamunya


ngegemesin ." mencubit pipi Anggi lalu


mengambil satu kantung yang berisi


kentang goreng .


tapi sambil tersenyum .


Hatinya berdebar karena sudah lumayan


lama mereka tidak canda mesra seperti


saat ini .


" Lain kali jika di Rumah mau kan ?." goda


Andreas membuat Anggi berbalik .


" Mau sih , tapi halalin dulu ." Anggi


menutup mukanya karena malu , Andreas


mengangkat jempolnya , " ok , kalau cuma


itu syaratnya ."


" Pastinya mau kapan , sekarang ?." Andreas menambahi .


Anggi melotot , " Beneran ?." Andreas mengangguk .


" Iya dong , masa aku boong sama kamu ."


menarik tangan Anggi untuk berdiri ,


ingin mengajak nya pergi untuk


membuktikan perkataannya .


" Jangan gil* kamu Dre , tidak semudah


itu ,kita butuh i,,,." mulut Anggi ditutup


oleh telunjuk Andreas.


" Kita urus dulu ke Kantor sipil , masalah


tunangan bisa belakangan , urusan keluarga pasti mereka menyetujui , tau sendirilah


mana ada orang yang nolak menjadikan


aku sebagai menantunya ."


Andreas berdiri membenarkan kerahnya .


Anggi ikut berdiri , merusak tatanan


rambut Andreas ," ke PD an ."


🌷🌷🌷


Masih di kamar Mery ,


Roy yang merintih kesakitan berusaha


berdiri , merasa tak dapat menerima


jika dirinya seorang pria dikalahkan


oleh sebuah serangan dari lutut Mery .


" Aku tak bisa terima ini , kau harus


menerima pembalasan dariku ." berjalan tertatih-tatih mendekati Mery , mendorong


dan memojokkannya di dinding .


Kedua tangannya memegang erat


pergelangan tangan Mery , " Lepasin !,


mau aku tambah lagi kak ." ucap Mery


tanpa takut .


Roy menyunggingkan ujung bibirnya .


" Sekarang sudah mulai berani ya , sudah


di ajarkan apa saja oleh pacar barumu


itu , bisa membuatmu tidak gentar


sedikitpun saat di depan pria ."


" Jangan - jangan dia sudah membuatmu


lebih berpengalaman , bisa aku


mencobanya sekarang ." goda Roy yang


membuat hati Mery bergemuruh dengan amarah .


Merasa di lecehkan dengan perkataan


Roy yang menuduhnya seperti sering


melakukan hal yang tidak tidak dengan


Bimo , Mery merasa emosi .


" Jaga bicara kak Roy , aku bukan cewek gampangan , dan perlu kak Roy tahu jika


kak Bimo itu tidak seperti yang kak Roy


bayangkan , selama kami berhubungan


tidak sekalipun kak Bimo menciumku ."


Membela diri atas tuduhan yang Roy


berikan padanya , Mery pun melotot .


Tapi yang dipelototi malah tersenyum


mendapati Mery yang masih mau


merespon ucapan nya .


" Lagi dan lagi , segala tindakan gadis ini


selalu bisa membuatku tergoda ."


Roy tak tahan mendengar ocehan Mery ,


lebih mendekatkan wajahnya Roy


mengendus leher Mery , mendapat


perlakuan yang tidak senonoh seketika


Mery meronta ," jangan kurang ajar kak ."


Mengarahkan lututnya kembali ke pusat


junior Roy , tapi dia sudah menghindar


" jangan berharap kau bisa menyerangnya


lagi , keapesan tidak datang dua kali ."


Roy tersenyum merasa menang .


Kekesalan Mery tidak sampai disitu ,


menggertakkan gigi , memikirkan kata


untuk membalas pria belagu yang tak


tahu malu ini .


" Memang benar apa kata kak Roy , tapi


ingat kesempatan juga tidak datang dua


kali , jika sudah pindah ke lain hati


jangan harap nanti bisa kembali ."


seketika Roy melepaskan cengkraman tangannya .


Menatap manik mata yang berkilau ,


Roy mencari penjelasan ,


" Apa maksudmu ?."


Mery menggerakkan pergelangan


tangannya , mengusap mana yang sakit


akibat cekalan dari Roy .


" Kak Roy jangan ngeles , aku sudah


dengar semuanya dan aku juga melihat


dari kedua mata kepalaku sendiri


bagaimana mesra dan serasinya kalian


berdua , jadi aku ucapkan selamat ."


Mery berjalan kearah pintu , membuka


dengan satu tangannya lalu berbalik


menghadap pada Roy .


" Ini kamarku , mohon silahkan keluar !,


Anda sudah tidak ada urusan disini ,


silahkan ." mengukir senyum, Mery


menantikan kepergian Roy .


Roy tak bisa berkutik , dalam diam dia


berlalu keluar dari kamar Mery , tepat


saat berada di sebelah nya Roy berhenti .


" Suatu saat kau pasti mengerti , alasan


di balik semua ini ." menolehkan sedikit


wajahnya , Roy ingin melihat wajah gadis


manis disampingnya ini sebelum dia


pergi dari sana .


" Ti-dak per-lu ." menunjuk arah pintu , Mery


sekali lagi menyuruh Roy keluar dari kamarnya .


" Alasan , alasan apa , tidak ada alasan


yang pantas untuk seorang buaya ,


sekali orang itu berselingkuh selamanya


pasti seperti itu jua ."


Mery menutup pintunya , tapi sebelumnya


menangkap gambar punggung lebar Roy .


" Mungkin dekat dengan kak Bimo bisa


membuat perasaan ini sedikit demi


sedikit hilang ."


Menutup pintu dan membantingnya .


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


_


_


Lama ya ,, lama ya ,, maaf Author nya


lagi nyari kebutuhan lebaran ,,πŸ™ˆ


Semangat yang lagi puasa ,,


Miss you 😘😘😘 Salam cinta dari author


πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


Next 😍