
Sisa apel ditangan Anggi terlempar jauh
di seberang , dia tidak peduli jika nanti
sampai mengenai orang , dipikirannya
hanyalah rasa kesal yang teramat mendera
di hatinya.
Usai melempar , Anggi bergegas meraih
koper kemudian berjalan mendahului tiga
orang yang mengajaknya . Kekesalan nya
semakin menumpuk hingga tak mampu
di bendungnya .
Berulang kali umpatan Anggi ucapkan
di dalam hati , hingga sumpah serapah
pun tak ayal ikut serta melengkapi rasa
geramnya pada Andreas .
Joy semakin bingung melihat Anggi yang
menyelonong pergi tanpa kata , padahal
niat Joy tadi ingin memberitahukan jika
mereka berangkat menggunakan mobil
milik David , serta menunggu kedatangan
mbok Imah yang sebentar lagi datang ,
untuk menitipkan rumah apabila mereka
kembali ke Jakarta .
" Anggi .." panggil Joy yang hendak
mengikuti Anggi yang sudah menjauh ,
tapi lengannya dipegang erat oleh David ,
menghalangi niatan Joy .
David tidak mengijinkan istrinya untuk
berbuat yang ceroboh , yang bisa
membahayakan dirinya maupun anaknya .
Ditatapnya sebuah tangan yang
memegang lengannya erat kemudian
naik keatas , ternyata wajah suaminya
yang sedang menggeleng , tidak setuju
dengan apa yang akan di perbuatnya.
"Mery cepat kejar Anggi !." satu kalimat
dari David , membuat Mery segera
bergegas mengejar Anggi .
Sambil masih berlari , sesekali Mery
berteriak memanggil Anggi yang semakin
menjauh menyebrang .
Tanpa di kasih tahu pun Anggi sudah tahu ,
jika mereka berangkat pasti menggunakan mobil David , toh pakai mobil siapa lagi
di otak Anggi berpendapat jika mereka
pasti kembali ke Jakarta bersama .
Jadi tanpa di suruh dia langsung menuju tempat mobil David terparkir .
Mendapat satu panggilan yang menyebut
namanya , Anggi langsung menoleh .
Terlihat Mery dari jauh hendak
menyeberang dengan nafas yang
ngos - ngosan .
" Kenapa anak itu mengejarku ?." sambil
menatap Mery dengan penuh tanda tanya .
Mery semakin mendekat , hingga sampai
di depan Anggi , berbarengan dengan Roy
yang baru keluar dari pintu utama .
" Kau kenapa Mer ?." melihat raut wajah
Mery yang cemberut dan berantakan .
" Aku ,, aku ,,." tak sanggup melanjutkan
kata - katanya , masih berusaha mengatur
nafasnya .
Tanpa kata , Roy masuk kedalam rumah
dan kembali keluar dengan membawa
satu gelas air putih ditangannya .
" Minumlah pelan - pelan ." memberikan
pada Mery sambil membantu memegang
gelas kedepan bibir Mery .
Melihat adegan bermesraan yang
terpampang di depan matanya , membuat
Anggi semakin geram .
" Mer.., tujuanmu memanggilku dan
datang kemari itu untuk apa ?, apa untuk
menunjukkan kemesraan kalian padaku ?."
kekesalan Anggi membuatnya tak
sengaja mengeluarkan suara yang agak
keras .
" Ya, ,, aku tahu kalian disini berpasangan
dan memang cuma aku yang sendirian,
tapi tidak seharusnya juga kalian
memamerkan nya padaku ." semakin
keras suara Anggi , malah terkesan
seperti sedang mengolok Mery .
Roy terkejut dengan apa keluar dari mulut
Anggi , tidak seperti Anggi yang biasanya .
Anggi memang suka becanda , tapi tidak
dengan suara kasar dan keras seperti
barusan yang dia dengar .
" Anggi ." teriak Roy yang tak kalah keras
dengan Anggi .
Tersadar Roy yang tersinggung dengan
Omelan tadi , dengan cepat Mery
mencubit pinggang Roy agar tidak
melanjutkan kemarahan nya , seketika
Roy menoleh , melihat bola mata Mery
yang melotot padanya . Roy terdiam
meringis menahan sakit karena ulah Mery .
Mery tidak memperdulikan raut pasi
Roy yang memelas padanya , dia kembali
pada tujuan awalnya tadi dia datang kemari .
" Kak , kak Joy tadi berpesan jika kita
berangkat menunggu mbok Imah dulu ,
beliau sebentar lagi akan datang ." Anggi
mengangguk , kemudian memasukkan
kopernya kedalam bagasi mobil , yang
sebelumnya melempar lirikan tajam yang
menusuk pada Roy .
Mobil angkutan umum berhenti di depan
rumah Mery , turun seorang wanita agak
tua yang ternyata adalah mbok Imah , yang
langsung masuk ke dalam pekarangan
rumah Mery , Mery yang melihat segera
,πππ
Di depan rumah masih berdiri Joy dan
David , yang menunggu kedatangan
seorang wanita yang akan mereka titipi
amanat menjaga rumah jika mereka
kembali ke Jakarta .
Rumah memang sudah menjadi milik Roy ,
tapi nama dan hak masih terpegang
penuh pada Mery , meskipun dengan
di embel - embeli nama Roy yang ikut
tercantum di belakangnya .
Karena apa mau dikata , rumah itu memang sudah terbeli oleh Roy , Mery ingin membatalkannya tapi Roy tidak mau ,
ibarat rumah itu bagaikan pengikat jika
Mery adalah miliknya .
Mbok Imah yang baru datang , di sambut
dengan senyuman yang merekah di bibir
Joy .
" Mbok ,, saya mau balik ke Jakarta ,
saya mau nitip Rumah ini kembali pada
si mbok ." menyerahkan gantungan kunci
yang terisi banyak kunci di sana.
" Iya Non , terus non Mery nya sekarang
dimana ?." menerima dengan mengangguk
berulang kali .
" Mery ada disana , si mbok baik - baik
ya disini , anggap saja seperti rumah
mbok sendiri ." menunjuk Mery yang
berjalan mendekat .
Mery pun berpamitan dengan orang
yang dulu ikut merawatnya dari kecil,
yang sampai sekarang masih setia
mengabadikan hidupnya untuk keluarga
Mery , meski cuma sekedar untuk
menjaga Rumah nya .
Mbok Imah memeluk Mery dengan erat , meraup rasa berat yang akan terpisah
kembali dengan anak majikannya dulu
yang sudah di anggapnya seperti anaknya
sendiri .
David memegang pundak istrinya,
mengangkat tangan , di tunjukkan sebuah
arloji yang melingkar di pergelangan
tangannya pada istrinya , " sayang kita
hampir terlambat." berbisik pelan , agar
tidak ada yang mendengar .
Joy mengangguk , tanda dia faham .
" Mbok kami berangkat dulu , pesawat
kami berangkat pukul 20 .30 , doakan
kami selamat sampai tujuan ya mbok ."
bicara santun tanpa berniat menyinggung
agar mbok Imah segera melepaskan
pelukannya pada Mery .
Setelah selesai dengan sesi perpisahan
dengan mbok Imah , David menggandeng istrinya menuju mobilnya untuk segera berangkat dengan Mery yang mengikuti
di belakang .
Semua orang sudah siap , bergantian
masuk kedalam mobil , dengan Roy yang
berada di kursi mengemudi dan Mery
duduk disampingnya .
Dengan dibantu David , Joy masuk
kedalam mobil . Duduk bersebelahan
dengan tangan yang masih berpegangan ,
Anggi yang belum masuk merasa
terasingkan , tak punya pasangan
hati teriris melihat dua pasang orang didepannya .
" Aku duduk dibelakang saja ." seru Anggi
dengan wajah di tekuk .
Joy hendak melepaskan genggaman
tangan suaminya , ingin menghalangi
kemauan temannya yang sangat terlihat
kecewa , namun di cegah oleh David .
" Biarkan dia sendiri , mungkin Anggi
ada masalah , jika sudah berkurang
pasti dia akan bercerita padamu ." bisik
David menenangkan istrinya .
Joy menuruti apa yang dikatakan
suaminya , membiarkan Anggi duduk
sendiri di belakang dengan keterdiaman
dan kebisuan , seperti tidak ada orang
disana .
Dengan membuang muka menatap
ke jendela mobil , Anggi memusatkan
pikiran nya pada siapa yang bersama
Andreas di Cafe tadi , dia tak percaya
dengan apa yang memenuhi pikirannya .
Sebelum kepergiannya , tidak ada
perubahan sedikit pun sikap Andreas
padanya , kenapa Andreas berbuat
seperti itu padanya . Prasangka buruk
bermunculan di otak Anggi , memupuk
rasa amarah didalam hatinya .
"Apa karena wanita itu Andreas tidak
meminta ikut denganku ? , apa juga
karena dia ,, Andreas tidak
menghubungiku ?, lantas kenapa Andreas
tidak bilang pada ku jika dia mau
mengakhiri hubungan ini ? untuk apa
dia masih berbuat manis padaku ?."
Lamunan Anggi membuahkan hasil
banyak dugaan pada kekasihnya ,
ingin rasanya dia menghilang dan
muncul tepat di depan Andreas ,
memuntahkan semua amarah dan
pertanyaan yang menyesakkan dadanya.
πππππππππ
_
_
Dikit - dikit yg penting up ..πππ
kita lanjut aj.... NEXT π