Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Kekalutan Anggi ..


Sisa apel ditangan Anggi terlempar jauh


di seberang , dia tidak peduli jika nanti


sampai mengenai orang , dipikirannya


hanyalah rasa kesal yang teramat mendera


di hatinya.


Usai melempar , Anggi bergegas meraih


koper kemudian berjalan mendahului tiga


orang yang mengajaknya . Kekesalan nya


semakin menumpuk hingga tak mampu


di bendungnya .


Berulang kali umpatan Anggi ucapkan


di dalam hati , hingga sumpah serapah


pun tak ayal ikut serta melengkapi rasa


geramnya pada Andreas .


Joy semakin bingung melihat Anggi yang


menyelonong pergi tanpa kata , padahal


niat Joy tadi ingin memberitahukan jika


mereka berangkat menggunakan mobil


milik David , serta menunggu kedatangan


mbok Imah yang sebentar lagi datang ,


untuk menitipkan rumah apabila mereka


kembali ke Jakarta .


" Anggi .." panggil Joy yang hendak


mengikuti Anggi yang sudah menjauh ,


tapi lengannya dipegang erat oleh David ,


menghalangi niatan Joy .


David tidak mengijinkan istrinya untuk


berbuat yang ceroboh , yang bisa


membahayakan dirinya maupun anaknya .


Ditatapnya sebuah tangan yang


memegang lengannya erat kemudian


naik keatas , ternyata wajah suaminya


yang sedang menggeleng , tidak setuju


dengan apa yang akan di perbuatnya.


"Mery cepat kejar Anggi !." satu kalimat


dari David , membuat Mery segera


bergegas mengejar Anggi .


Sambil masih berlari , sesekali Mery


berteriak memanggil Anggi yang semakin


menjauh menyebrang .


Tanpa di kasih tahu pun Anggi sudah tahu ,


jika mereka berangkat pasti menggunakan mobil David , toh pakai mobil siapa lagi


di otak Anggi berpendapat jika mereka


pasti kembali ke Jakarta bersama .


Jadi tanpa di suruh dia langsung menuju tempat mobil David terparkir .


Mendapat satu panggilan yang menyebut


namanya , Anggi langsung menoleh .


Terlihat Mery dari jauh hendak


menyeberang dengan nafas yang


ngos - ngosan .


" Kenapa anak itu mengejarku ?." sambil


menatap Mery dengan penuh tanda tanya .


Mery semakin mendekat , hingga sampai


di depan Anggi , berbarengan dengan Roy


yang baru keluar dari pintu utama .


" Kau kenapa Mer ?." melihat raut wajah


Mery yang cemberut dan berantakan .


" Aku ,, aku ,,." tak sanggup melanjutkan


kata - katanya , masih berusaha mengatur


nafasnya .


Tanpa kata , Roy masuk kedalam rumah


dan kembali keluar dengan membawa


satu gelas air putih ditangannya .


" Minumlah pelan - pelan ." memberikan


pada Mery sambil membantu memegang


gelas kedepan bibir Mery .


Melihat adegan bermesraan yang


terpampang di depan matanya , membuat


Anggi semakin geram .


" Mer.., tujuanmu memanggilku dan


datang kemari itu untuk apa ?, apa untuk


menunjukkan kemesraan kalian padaku ?."


kekesalan Anggi membuatnya tak


sengaja mengeluarkan suara yang agak


keras .


" Ya, ,, aku tahu kalian disini berpasangan


dan memang cuma aku yang sendirian,


tapi tidak seharusnya juga kalian


memamerkan nya padaku ." semakin


keras suara Anggi , malah terkesan


seperti sedang mengolok Mery .


Roy terkejut dengan apa keluar dari mulut


Anggi , tidak seperti Anggi yang biasanya .


Anggi memang suka becanda , tapi tidak


dengan suara kasar dan keras seperti


barusan yang dia dengar .


" Anggi ." teriak Roy yang tak kalah keras


dengan Anggi .


Tersadar Roy yang tersinggung dengan


Omelan tadi , dengan cepat Mery


mencubit pinggang Roy agar tidak


melanjutkan kemarahan nya , seketika


Roy menoleh , melihat bola mata Mery


yang melotot padanya . Roy terdiam


meringis menahan sakit karena ulah Mery .


Mery tidak memperdulikan raut pasi


Roy yang memelas padanya , dia kembali


pada tujuan awalnya tadi dia datang kemari .


" Kak , kak Joy tadi berpesan jika kita


berangkat menunggu mbok Imah dulu ,


beliau sebentar lagi akan datang ." Anggi


mengangguk , kemudian memasukkan


kopernya kedalam bagasi mobil , yang


sebelumnya melempar lirikan tajam yang


menusuk pada Roy .


Mobil angkutan umum berhenti di depan


rumah Mery , turun seorang wanita agak


tua yang ternyata adalah mbok Imah , yang


langsung masuk ke dalam pekarangan


rumah Mery , Mery yang melihat segera


,πŸ€πŸ€πŸ€


Di depan rumah masih berdiri Joy dan


David , yang menunggu kedatangan


seorang wanita yang akan mereka titipi


amanat menjaga rumah jika mereka


kembali ke Jakarta .


Rumah memang sudah menjadi milik Roy ,


tapi nama dan hak masih terpegang


penuh pada Mery , meskipun dengan


di embel - embeli nama Roy yang ikut


tercantum di belakangnya .


Karena apa mau dikata , rumah itu memang sudah terbeli oleh Roy , Mery ingin membatalkannya tapi Roy tidak mau ,


ibarat rumah itu bagaikan pengikat jika


Mery adalah miliknya .


Mbok Imah yang baru datang , di sambut


dengan senyuman yang merekah di bibir


Joy .


" Mbok ,, saya mau balik ke Jakarta ,


saya mau nitip Rumah ini kembali pada


si mbok ." menyerahkan gantungan kunci


yang terisi banyak kunci di sana.


" Iya Non , terus non Mery nya sekarang


dimana ?." menerima dengan mengangguk


berulang kali .


" Mery ada disana , si mbok baik - baik


ya disini , anggap saja seperti rumah


mbok sendiri ." menunjuk Mery yang


berjalan mendekat .


Mery pun berpamitan dengan orang


yang dulu ikut merawatnya dari kecil,


yang sampai sekarang masih setia


mengabadikan hidupnya untuk keluarga


Mery , meski cuma sekedar untuk


menjaga Rumah nya .


Mbok Imah memeluk Mery dengan erat , meraup rasa berat yang akan terpisah


kembali dengan anak majikannya dulu


yang sudah di anggapnya seperti anaknya


sendiri .


David memegang pundak istrinya,


mengangkat tangan , di tunjukkan sebuah


arloji yang melingkar di pergelangan


tangannya pada istrinya , " sayang kita


hampir terlambat." berbisik pelan , agar


tidak ada yang mendengar .


Joy mengangguk , tanda dia faham .


" Mbok kami berangkat dulu , pesawat


kami berangkat pukul 20 .30 , doakan


kami selamat sampai tujuan ya mbok ."


bicara santun tanpa berniat menyinggung


agar mbok Imah segera melepaskan


pelukannya pada Mery .


Setelah selesai dengan sesi perpisahan


dengan mbok Imah , David menggandeng istrinya menuju mobilnya untuk segera berangkat dengan Mery yang mengikuti


di belakang .


Semua orang sudah siap , bergantian


masuk kedalam mobil , dengan Roy yang


berada di kursi mengemudi dan Mery


duduk disampingnya .


Dengan dibantu David , Joy masuk


kedalam mobil . Duduk bersebelahan


dengan tangan yang masih berpegangan ,


Anggi yang belum masuk merasa


terasingkan , tak punya pasangan


hati teriris melihat dua pasang orang didepannya .


" Aku duduk dibelakang saja ." seru Anggi


dengan wajah di tekuk .


Joy hendak melepaskan genggaman


tangan suaminya , ingin menghalangi


kemauan temannya yang sangat terlihat


kecewa , namun di cegah oleh David .


" Biarkan dia sendiri , mungkin Anggi


ada masalah , jika sudah berkurang


pasti dia akan bercerita padamu ." bisik


David menenangkan istrinya .


Joy menuruti apa yang dikatakan


suaminya , membiarkan Anggi duduk


sendiri di belakang dengan keterdiaman


dan kebisuan , seperti tidak ada orang


disana .


Dengan membuang muka menatap


ke jendela mobil , Anggi memusatkan


pikiran nya pada siapa yang bersama


Andreas di Cafe tadi , dia tak percaya


dengan apa yang memenuhi pikirannya .


Sebelum kepergiannya , tidak ada


perubahan sedikit pun sikap Andreas


padanya , kenapa Andreas berbuat


seperti itu padanya . Prasangka buruk


bermunculan di otak Anggi , memupuk


rasa amarah didalam hatinya .


"Apa karena wanita itu Andreas tidak


meminta ikut denganku ? , apa juga


karena dia ,, Andreas tidak


menghubungiku ?, lantas kenapa Andreas


tidak bilang pada ku jika dia mau


mengakhiri hubungan ini ? untuk apa


dia masih berbuat manis padaku ?."


Lamunan Anggi membuahkan hasil


banyak dugaan pada kekasihnya ,


ingin rasanya dia menghilang dan


muncul tepat di depan Andreas ,


memuntahkan semua amarah dan


pertanyaan yang menyesakkan dadanya.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


_


_


Dikit - dikit yg penting up ..😊😊😊


kita lanjut aj.... NEXT πŸ€