
Kebosanan mendera di saat rasa
penasaran Joy menunggu temannya ini
untuk mengingat tentang keberadaan
sebuah amplop yang akan di tunjukkan padanya .
Membuang rasa itu Joy mengingat sesuatu
bahwa di saat kedatangannya tadi dia
mendengar perbincangan Nenek dan
karyawan nya jika hari ini pesanan
rangkaian bunga harus siap semuanya .
Sebuah bayangan Joy muncul diatas kepala saat dirinya dulu bekerja di sini , keinginan untuk menghias bunganya pun bangkit .
Bosan menunggu Joy mengajak temannya
ini untuk masuk kedalam Toko , " sudah
Nggi , nanti saja kalau fotonya dah
ketemu baru kau tunjukkan padaku , yuk
kita kedalam saja aku sudah lama tak menyentuh bunga , apa masih bagus ya rangkaian ku ."
Joy berdiri melepas celmek yang
dipakainya untuk menghalangi air
menyiprat ke bajunya di saat tadi dia
menyiram bunga .
Merasa tak sabar untuk memenuhi
hasrat nya yang sudah lama tak menyentuh bunga bunga untuk di jadikan nya rangkaian buket yang indah , Joy masuk kedalam Toko sendiri .
Meninggalkan seorang Anggi yang masih
asik dengan pikirannya , mengupas rasa
penasaran dimana dia menaruh amplop
yang berisikan foto wanita simpanan Andreas .
" Dimana ya ,, mmm,,, aku menaruhnya ."
menutup rapat-rapat mulutnya .
" Ya sudahlah , nanti juga ketemu
sendiri ." menyusul Joy masuk kedalam Toko .
Disana duduklah Mery yang dengan
tangan tangkasnya menghias tumpukan
bunga mawar menjadi ratusan bunga
yang telah terbungkus plastik yang siap
di kirim ke tuannya .
" Wah,,, sudah hampir selesai ini ,
beruntung nya aku yang datang terlambat , upss,, ." Anggi menutup mulut seraya ingin menggoda Mery .
Mery yang mendengar ujaran dari orang
yang baru masuk itu pun merasa tak
terima , dia melempar lirikan yang siap
menerkam , layaknya harimau yang
kelaparan .
" Astaga Mery , bola matamu hampir
copot , sebentar aku ambil wadah agar
tidak jatuh ." Anggi meringis , ejekannya
rupanya berhasil .
Joy yang asik memberi pita di tangkai
bunga pun ikut mendaratkan tatapan nya
pada seorang Mery ,
Tapi tidak ikut menimpali , karena dia
tahu jika mereka berdua cuma bercanda .
Anggi ikut duduk diatas sebuah tikar
yang siap untuk melakukan tugasnya ,
dia tak puas dengan respon yang Mery
berikan , Anggi ingin mengupas semua
hal yang berhubungan dengan gadis
remaja ini .
" Joy kau tahu tidak Mery itu ada
hubungan dengan sepupumu ? ." Anggi
berkata dengan mata melirik Mery serta senyum yang mengejek .
" Ya ," respon biasa yang Joy berikan .
Dia menjawab dengan tidak menoleh
pada yang mengajak nya bicara , dia
terlalu fokus dengan setangkai bunga di
tangannya .
Anggi terkejut dengan respon yang
temannya berikan , berniat memberi
kejutan malah dirinya sendiri yang jadi
terkejut .
" Apa kau tidak kaget Joy ?." Joy
menggeleng ," tidak , malah aku tadi
melihat mereka berciuman secara
langsung di Kolam ." jawab Joy enteng .
Anggi melongo , merasa tak percaya
karena yang dia tahu Mery sangat takut
jika kakaknya itu tahu bila dia dekat
dengan pria .
" Astaga Mery sekarang kau sudah
semakin berani ya , aku salut padamu ."
memukul bahu Mery .
" Aww, sakit kak , mana ada aku seperti itu
kak Joy yang salah faham , tadi itu aku
cuma tercebur ke kolam kok ." sambil
menggosok bahunya yang sakit Mery
membela diri .
" Yang kebetulan berbarengan dengan
kak Roy , karena dia yang memelukku dari
belakang dan kami tercebur bersama ."
" Salah faham dari mana sih , la aku lihat
sendiri kau juga menikmatinya ."
Percekcokan saling membantah pun
terjadi , Joy yang sudah mulai emosi
dan Mery yang semakin bersikukuh
dengan pembelaan diri nya .
" Buahahhahh..." Anggi tertawa puas ,
melihat perdebatan antara dua kakak
beradik ini .
" Mengapa jadi bahas masalah aku sih ,
ini gegara kak Anggi yang sengaja
tu kan dia tertawa senang , huh ngeselin ."
gerutu Mery di dalam hati .
" Bukan seperti itu kak , ini sudah keluar
dari jalur , kenyataan aku tidak seperti yang
kalian pikirkan , titik ."
Mery berusaha meluruskan jalan pikir
Joy dan Anggi , sebisa mungkin dia
membela diri , karena sesungguhnya
kejadiannya bukan seperti yang mereka
lihat .
" Sudah jangan berdebat , nikahkan saja
mereka berdua Joy , saat di Surabaya
mereka sudah berani sekamar berdua .'
Joy menaruh bunga yang ada di tangannya ,
menggeser posisi duduknya hingga
menghadap tepat di depan Mery .
" Apa itu benar Mer ?." tanya Joy dengan
ketus .
Sebuah tatapan yang siap menghunus
keluar dari mata indah Joy , kalimat Anggi
membuatnya bagai terkena sebuah
hantaman , langsung menorehkan luka
tatkala sebuah rasa kecewa .
Joy sangat menyayangi Mery , dia tak
mau hal yang di alaminya kini menimpa
pada adiknya , sebuah keadaan yang
membuat nya hamil sebelum menikah , walaupun Mery bukan adik kandung yang sebenarnya .
Joy sangat mengharuskan Mery untuk
menjaga diri , bukan tidak memperbolehkan
Mery untuk menjalin hubungan dengan
setiap pria , hanya saja Joy ingin menjaga
kehormatan Mery sampai dia menikah .
Rasa kecewa yang mendalam , membuat
hati Joy terguncang , denyutan kencang
terasa penuh di perutnya .
" Tidak kak , kak Anggi cuma asal bicara ,
kami di dalam kamar tidak melakukan
apa - apa , ku mohon kakak percaya
padaku ." menangkupkan kedua tangannya .
Joy menggigit bibir bawahnya , menahan
rasa sakit di perutnya yang semakin
mengkoyak .
" Asal bicara dari mana , kau saja keluar
kamar dengan baju yang berantakan dan
aku juga lihat bibirmu monyong penuh
dengan ,,."
" Cukup ." teriak Joy yang sudah tak bisa
menahan rasa sakitnya .
Ketiganya kaget , Julia yang sedari tadi
cuma diam segera berdiri , dengan kecepatannya dia merangkul Joy dari belakang .
Keringat bercucuran keluar dari kening
putih wanita hamil ini , dia sudah tak
mampu bicara lagi , kesadarannya kini
sudah berkurang .
" Joy ,"
" Kakak ."
Sahut Mery dan Anggi bersamaan , " kita
harus cepat membawa Joy ke Rumah Sakit
pasti dia mau melahirkan ."
Pernyataan Julia membuat Mery dan
Anggi semakin ketakutan , Nenek masuk
mendengar kegaduhan .
" Ada apa ini ."
Nenek Melati yang baru datang pun
merasa ikut terkejut , terlihat Joy yang
sudah tak sadarkan diri dengan mata yang terpejamkan serta ada darah bercampur dengan air ketuban keluar mengenai
rok nya .
" Astaga apa yang terjadi , kenapa Joy
bisa seperti ini , Anggi kau hubungi
Rumah sakit secepatnya dan kau Mery
telfon suaminya ."
Kebingungan dan rasa takut memenuhi
pikiran Melati , tadi dia menyanggupi saat
temannya titip untuk menjaga cucu
menantunya , tapi kalau sudah begini bisa berbuat apa .
Anggi berhasil menghubungi Rumah
Sakit terdekat , tinggal menunggu
ambulans datang . Mery masih mondar
mandir karena telfonnya belum juga tersambung .
Lima belas menit sudah berlalu , suara
ambulance pun terdengar , " syukurlah ."
kecemasan sedikit terobati , bantuan
sudah datang .
Tiga orang perawat datang menghampiri , mengangkat tubuh lemas Joy yang
sudah tak berdaya untuk dipindahkan
ke atas kereta dorong .
Dengan penuh hati - hati membawa
Joy ke mobil ambulans , Nenek Melati
ikut menemani Joy di dalam ambulans ,
pintu mobil tertutup dan segera
meninggalkan area Toko .
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
jejaknya mana ,, di lanjutin gak nih ..
buat yang sudah mensuport novel
ini q ucapkan banyak terima kasih,
salam cinta dari author ๐
Next ๐