Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Di Bandara...


Setelah kepergian mobil David yang


meninggalkan pemukiman Rumah Mery ,


tak berapa lama seorang pemuda datang


dengan membawa satu kantong plastik


berisikan dua kotak martabak di tangannya .


Pemuda itu adalah Bimo yang sengaja


datang untuk membawakan cemilan


kesukaan Mery , yaitu martabak manis


dan martabak asin . Dengan perasaan


penuh suka cita , Bimo bersemangat


ingin cepat - cepat menemui Mery .


Tok..tok..tok... Bimo mengetuk pintu.


Rumah nampak sepi tiada suara maupun


gerak orang di dalamnya , berulang kali


dia mencoba memanggil siapa pun yang


ada di dalam , tapi tidak ada sahutan.


"Kemana perginya Mery ?, tadi siang


masih ada , apa dia pergi tanpa bilang


dulu padaku ?." Bimo duduk di kursi


teras untuk beberapa saat .


Ceklekk.... pintu terbuka.


" Den Bimo .." Bimo melonjak kaget ,


segera berdiri melihat orang yang


memanggil namanya .


Ternyata mbok Imah yang baru terbangun


setelah mendengar ada suara orang


mengetuk pintu dan memanggil nama


anak majikannya .


Mbok Imah menceritakan jika sekarang


Mery dan teman- temannya sedang


menuju Bandara , dari kabar yang mbok


Imah ketahui , mereka akan kembali


ke Jakarta malam ini ini juga , tepat pada


pukul 20.30 pesawat mereka akan lepas landas.


Mendengar hal itu , Bimo langsung


bergegas meninggalkan mbok Imah


yang terbengong karena di beri


bungkusan yang tadi Bimo bawa untuk


di berikan pada Mery .


" La ..apa ini ?, untuk apa martabak


sebanyak ini , siapa yang akan memakan


martabak sebanyak ini ?." melihat


bungkusan plastik yang ada di tangannya


dan memandang kepergian Bimo , yang


berlari menghilang .


Bimo yang tak mau melewatkan


pertemuan terakhirnya dengan Mery ,


segera pulang untuk mengambil


apa pun yang bisa dia gunakan untuk


mengejar Mery ke Bandara .


Sampai di Rumah , Bimo melihat


kendaraan yang terparkir di Garasi ,


memilih salah satu yang cepat untuk


di pakainya , manik matanya menangkap


satu motor sport yang terparkir di tempat


paling pojok .


Tanpa menunggu , Bimo segera masuk


ke dalam untuk mengambil kunci kontak


motor yang akan di pergunakan nya.


Di dalam kamar Bimo tergopoh-gopoh


meraih satu jaket seadanya yang sedang


tergeletak d ranjang tempat tidurnya.


Dengan berlari untuk mempercepat


waktu , Bimo lupa untuk berpamitan


dengan orang tuanya , di ruang tamu


dia di hadang oleh tangan ibunya yang


membentang menghalangi jalannya .


" Mau kemana ?." bertanya dengan nada


sinis , raut wajah ibu yang sangat dia


sayangi membuat Bimo menghentikan langkahnya .


" Pliss mom.., biarkan aku keluar sebentar


hanya sebentar , aku pasti cepat kembali ."


menangkupkan kedua telapak tangannya


Bimo memohon .


Melihat sorot mata Bimo yang memohon


dengan memelas , membuat ibunya tidak


tega dan dengan terpaksa membiarkan


Bimo pergi tanpa memberi jawaban


tentang pertanyaan nya .


Dengan mengendarai motor sport yang


pernah dia gunakan untuk membonceng


Mery dulu saat masih bersekolah , Bimo


menuju Bandara . Mungkin keadaan


jalanan mendukung tekadnya , saat ini


tidak banyak kendaraan yang melalang


buana , yang biasanya memenuhi jalanan .


Keadaan jalan yang agak sepi membuat


Bimo cepat sampai di Bandara .


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Di Bandara ...


Mobil yang di kendarai oleh Roy sampai


di Bandara , berhenti tepat di depan pintu


masuk untuk menurunkan siapa pun


yang ada di dalamnya . Satu persatu


mulai turun dari mobil , dengan di bantu


suaminya , Joy turun dengan hati - hati


memegang erat tangan kekar yang selalu


siap siaga dalam keadaan apapun untuk nya.


" Hati - hati sayang ," masih menggandeng


istrinya , Joy tersenyum membalas


ucapan dan perlakuan David padanya .


Anggi yang cemberut keluar paling akhir


dari mobil , membantu mengeluarkan


koper - koper yang ada di dalam bagasi


dengan di bantu oleh Mery .


" Kak Anggi marah padaku ?." membuka


pembicaraan dengan tangan yang masih menurunkan koper dari dalam mobil .


Anggi menggeleng tidak mengeluarkan


suara , membuat Mery makin tak enak hati .


Roy memberikan kunci mobil pada


anak buahnya yang baru sampai , agar


bisa mengurusnya .


" Angkat koper - koper itu kedalam


pesawat , selanjutnya masukkan juga


beberapa kotak itu ke dalam bagasi


pesawat ." perintah Roy pada anak buahnya.


" Baik boss ." jawaban yang melegakan


dengan di barengi anggukan .


Roy mengajak Anggi dan Mery untuk


segera menuju masuk ke Pesawat ,


menunjuk tuannya yang sudah naik dan


hampir masuk kedalam . Tanpa


mengiyakan ajakan Roy , Anggi


menyelonong sendiri meninggalkan


Roy yang telah mengajaknya .


" Kenapa dengan Anggi ?." bertanya pada


Mery saat menatap kepergian Anggi .


" Aku tidak tau , aku ke Toilet sebentar


kak , nanti aku menyusul ." berlari


mencari letak Toilet .


" Baiklah , aku menunggu didalam "


melihat bayangan Mery yang sudah


menjauh .


Roy memutuskan untuk menjalankan


apa yang telah di ucapkannya, menuju


ke Pesawat yang sebelumnya berpesan


kepada anak buahnya untuk mengawasi


Mery dari kejauhan , takut jika ada sesuatu


terjadi pada gadis pujaan hatinya .


Bimo yang mengendarai motornya


dengan kecepatan bak pembalap


professional , membuatnya secepat kilat sampai di Bandara . Di parkirkan motor


miliknya di tempat parkir roda dua ,


segera berlari masuk kedalam mencari keberadaan orang yang sangat dicintainya .


Di amatinya setiap calon penumpang


pesawat yang sedang menunggu


waktu jam terbang Pesawat mereka ,


tiada satupun orang yang mirip dengan


sosok Mery .


Lelah Bimo mencari , dia pun hampir


putus asa , setiap penjuru Bandara sudah


dia periksa , setiap tempat juga sudah


dia cari , tapi tiada hasil .


"Kemana lagi aku harus mencarimu


Mery .. apa ini akhir dari pertemuan ku


denganmu ?." mengusap wajahnya


dengan kasar , terduduk di kursi tunggu.


Bimo yang sudah tidak ada harapan lagi ,


dengan lemas berjalan keluar Bandara ,


dia tidak bersemangat dan berjalan


dengan menunduk tanpa memperhatikan


jalan yang di lewatinya .


Bimo menyesal , mengapa tadi dia tidak


meminta nomer ponsel pada Mery ,


karena terlalu gembira bisa bertemu


dengan sosok yang sangat di rindukannya .


Bimo yang tidak memperhatikan jalan


tidak sengaja bertabrakan dengan orang


yang sedang berjalan pula di depannya .


" Aduh ." rintihan orang yang terjatuh


tertabrak Bimo .


Bimo mengerjap kaget telah menabrak


orang sampai terjatuh , dengan perasaan


bersalah Bimo berusaha menolongnya , menambah rasa terkejutannya setelah


melihat siapa orang yang telah di tabraknya .


Bimo menyunggingkan senyum


di bibirnya , dengan cepat dipeluknya


orang itu dengan erat , enggan untuk


melepaskannya , terlalu senang bisa


bertemu dengan seseorang yang dia


cari dari tadi , tanpa sadar Bimo


mencium kening dan kedua pipi Mery


setelah melepas pelukannya .


Mery yang syok dengan sikap Bimo


padanya , segera mendorong tubuh


Bimo agar jauh darinya .


" Maafkan aku Mer .." berusaha berdiri


setelah dorongan Mery yang


membuatnya roboh .


Bimo berusaha membantu Mery berdiri,


tapi ditolak , Bimo meminta maaf pada


Mery berulang kali , berusaha menjelaskan


jika sikapnya tadi hanya reflek karena


terlalu senang bisa bertemu kembali


dengan nya .


" Sungguh Mery , aku tidak bermaksud


mesum padamu , aku hanya terlalu


senang bisa menemukan mu ."


" Kak Bimo ke sini mencariku ? untuk apa?."


mencari kejujuran dari mata Bimo .


" Aku tak ingin berpisah denganmu


Mer.. setidaknya beritahu aku kemana


kau akan pergi dan beri aku nomor yang


bisa aku hubungi , maaf tadi itu hanya


reflek , kau bisa memakluminya kan ?."


memelas , meminta pengampunan Mery .


Mery yang tau dengan sifat Bimo ,


memang mengerti tidak mungkin


Bimo berbuat seperti itu padanya ,


dia percaya jika Bimo tadi tidak sengaja.


Dengan mengeluarkan paksa nafasnya


dengan kasar , Mery menjawab pertanyaan


dari Bimo .


" Baiklah mana ponsel kak Bimo , aku


tinggal di Jogja kak , bersama dengan


ibunya kak Joy , tapi aku kembali


ke Jakarta dulu untuk mengantarkan


kak Joy pulang ." mengetikkan nomornya


pada ponsel Bimo .


" Kali ini aku memaafkan kakak , lain kali


jangan ada refleks - refleks lagi , kak Bimo


kesenangan tapi akunya yang kegeraman."


menyerahkan kembali ponsel ke tangan


Bimo .


" Terimakasih ." menerima dengan


memandang wajah cantik Mery dengan


senyuman .


Mendapat senyuman dari Bimo yang


memperlihatkan ketampanan nya ,


membuat Mery tersipu malu menjadi


salah tingkah . Perasaan yang dulu


sempat hilang , kini tiba -tiba muncul


kembali , debaran kecil sedang bergejolak


didalam ruang hatinya .


" Mer , aku masih menyimpan perasaanku


padamu , aku masih menunggu sampai


kau siap untuk menerimanya , dari dulu


sampai sekarang masih tetap dirimu


yang bersemayam di dalam sini ."


menunjuk dadanya .


Mery terdiam mendengar pengungkapan


perasaan Bimo padanya , tak mampu


menjawab ,


" Mery , kau tidak usah menjawab , cukup


kau jaga hatimu hanya untukku , sampai


cita - citamu terwujud , aku tidak mau perasaanku ini membebanimu ." menatap


sirat wajah Mery yang pucat pasi , diam


seribu bahasa.


Mery hanya bisa mengangguk dan


akhirnya bimo memeluknya ,


menenangkan kegugupan Mery .


" Biarkan aku memelukmu sebentar saja


untuk pertemuan kita yang terakhir


kalinya ." masih memeluk Mery .


Bimo melihat Roy dari kejauhan dan Roy


pun sama , dengan penuh kemenangan


Bimo mengukir senyum yang mengejek


pada Roy , saat mata mereka saling


melempar pandang .


Roy yang semakin geram segera berlari ,


ingin cepat sampai dan melerai Mery


dan Bimo yang sedang berpelukan .


" Mery ." teriakan Bimo berhasil


mengagetkan Mery , dengan cepat dia


menjauh dari Bimo .


Mencari sosok orang yang memanggilnya ,


menoleh ke belakang ternyata Roy sudah


berada tak jauh darinya , dengan wajah


penuh amarah , Roy berjalan menghampiri


nya .


Tanpa bicara , dengan cepat Roy menarik


Mery menjauhi pergi meninggalkan Bimo ,


tangan Bimo yang erat masih memegang


pergelangan Mery yang satunya , dan


terjadilah adegan tarik menarik bak anak


kecil yang sedang rebutan mainan .


Mery merintih kesakitan , akibat ulah


dua orang yang saling menuruti ego


mereka , memperebutkan seseorang


yang belum resmi jadi milik mereka .


" Lepaskan ." teriak Mery marah , dan


terlepaslah pegangan keduanya .


" Memangnya aku ini siapa kalian ? ,


seenak jidat kalian menarikku sampai


kesakitan , memang salah apa aku pada


kalian , hingga membuatku jadi bahan


rebutan ." dengan kesal meninggalkan


kedua orang yang sudah memperebutkannya .


Roy dan Bimo masih beradu tatap ,


tidak ada yang mau mengalah perihal


perebutan hati Mery .


" Kali ini aku biarkan kau memeluknya ,


tapi lain kali tidak akan ." tegas Roy


dengan menunjuk raut muka Bimo .


Bimo tersenyum mendengar ucapan


Roy ," jangan kau pikir aku tadi cuma


memeluknya , pipinya pun sudah aku


dapatkan ." Bimo menyombongkan diri


pada Roy , dia tak mau jika Roy meremehkannya .


Berjalan mendekat ," jangankan pipinya ,


bibirnya pun sudah aku dapatkan ,


berulang kali malah ." bersuara pelan


namun pasti , mengalah telak kan


kesombongan Bimo .


Bak di sambar petir di siang bolong ,


Bimo tak mampu bicara , diam terpaku


tenggelam dalam keterkejutan nya .


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


_


_


Gimana ,,, Lanjut ????


Pasti melahirkan kok Joy ,, tapi author


masih ngikutin alurnya ... pelan - pelan


pasti lebih asyik 🀭😌😌😌😌


Jangan lupa ninggalin jejaknya ya 😊


salam cinta dari author 😘😘😘


NEXT 🌹🌹🌹