
David Bingung apa yang harus dia lakukan sekarang, investor yang diharapkan untuk membantu masalah keuangan perusahaannya tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan, dia sangat pusing harus mencari investor kemana lagi.
Niat hatinya yang ingin menyelesaikan pekerjaan di sini dengan cepat mungkin akan tertunda, sampai dia menemukan investor lain yang bisa membantunya.
Dia mengira orang yang akan menjadi investor di perusahaannya itu adalah orang baik atau teman lamanya tapi perkiraan nya di luar dugaan.
Orang itu melainkan seorang musuh bebuyutannya, yang dari awal bertemu sudah menunjukkan titik masalah dari perkara yang menimpa dirinya, malah yang lebih buruk dia malah menertawakan tentang semua masalah yang kini telah dihadapinya.
Pikiran David sekarang rasanya seperti buntu tidak ada jalan keluar, kali ini dia dipusingkan tidak hanya masalah perusahaan melainkan juga masalah keluarganya.
Tadi pagi setelah bangun tidur dia dikagetkan dengan sebuah pesan yang berisi sebuah peringatan baginya, hal itu membuatnya cemas memikirkan hal apa yang akan menimpa keluarganya di Indonesia.
Setelah menerima pesan misterius tadi, David segera menghubungi Roy dan anak buahnya agar lebih siaga dan berhati-hati dengan pengawasan keamanan terhadap situasi yang berhubungan dengan keluarga David.
Roy langsung membuat penjagaan sangat ketat di Kantor, di Rumah serta di Rumah Sakit pun tak luput dari pengawasan Roy karena disana adalah tempat incaran utama para musuh David.
Penuh kecemasan David berdiam di kursi kekuasaannya, memikirkan nasib perusahaan serta keadaan keluarga yang saat ini jauh dengannya.
Kling.. kling ..
Bunyi pesan masuk di ponselnya dengan nomor yang sama seperti nomor misterius yang pagi tadi telah memberikan pesan peringatan padanya.
( PULANGLAH .. NIKMATI SEDIKIT WAKTU BERSAMA KELUARGAMU, SEBELUM KAU TAK BISA BERSAMA MEREKA LAGI ).
David membaca pesan dan mengulangnya kecemasan parah sedang melanda hati dan pikirannya, dia tak bisa konsentrasi dalam bekerja, membuatnya ragu untuk berada tetap disini dan ingin segera cepat pulang kembali ke Indonesia.
Pesan itu terngiang di telinganya, membuatnya takut terjadi sesuatu pada anak dan istrinya.
David mengambil ponselnya yang terletak diatas meja, mencari nomor Roy lalu menghinggapinya, tak butuh waktu lama nomor mereka pun saling tersambung.
"Hallo Roy bagaimana kabar disana?."
Dengan penuh keseriusan David menunggu jawaban dari asisten pribadinya itu, bahkan saat ada sekretarisnya masuk untuk memberikan jadwalnya hari ini David menolak untuk membahasnya dulu karena yang terpenting saat ini hanyalah keadaan istri beserta putranya.
"Semua masih aman dalam kendali, kau disana jangan terlalu khawatir aku akan mengawasinya dengan ketat, anak buahku sudah melakukan penjagaan di setiap sisi."
David tersenyum mendengar penjelasan sepupu iparnya itu, sebuah jawaban yang barusan dia dengar telah membuat sedikit kekhawatirannya berkurang.
"Terus perkembangan penyelidikanmu bagaimana?."
Pertanyaan David membuat Roy menggaruk kepalanya yang tidak gatal, terasa di ingatkan dengan seseorang yang telah membuatnya berkutat di masalah yang sama.
"Menurutku pelakunya tetap sama."
Ucap Roy menyunggingkan bibirnya.
"Siapa?."
"Siapa lagi kalau bukan mantan wanitaku."
Teriak Roy membuat David menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Siapa, apa maksudmu Rosa?." Pertanyaan David membuat Roy tertawa terbahak-bahak.
"Terus siapa lagi, apa kau punya mantan jal*ng yang sangat terobsesi denganmu melebihi obsesi wanita itu, katakan padaku agar bisa menyelidikinya juga." Roy berkacak pinggang.
Roy sudah bosan, pria ini selalu dihadapkan dengan satu orang yang sama jika dia mengusut tentang masalah David,
Dia bingung kenapa tak ada bosan - bosannya wanita satu itu mencari masalah dengan David padahal Roy sudah memberikan pelajaran yang lumayan parah bahkan sampai nasib kehidupannya yang berantakan.
Roy tidak percaya jika wanita itu berbuat atas kemauannya sendiri, pasti ada orang yang mendukung di balik keberaniannya. Roy tahu persis bagaimana Rosa, modal saja tidak punya bagaimana dia bisa melarikan diri dengan cepat jika tidak ada ikut campur tangan dari orang yang bermodal.
"Kau gil* Roy, apa aku sebajing*n itu sampai punya wanita dimana-mana, aku tidak pernah menggauli mereka kalau sekedar bercumbu memang, tapi itu pun tidak sembarang wanita, jangan samakan aku denganmu kita itu berbeda." Kesal David menaruh ponselnya kembali ke atas meja dengan masih tersambung.
"Beda apanya, kau menghinaku David?."
" Tidak menghina tapi itu kenyataan, apa kau lupa siapa yang suka pergi ke Diskotik, KAU."
Kata - kata Roy terakhir membuat David terbungkam, dia tidak bisa mengelak dari tudingan yang Roy berikan, memang yang Roy ucapkan adalah benar adanya, mau tidak mau David harus menerimanya.
"Ya aku salah jika kataku menyinggungmu sorry teman aku cuma terbawa emosi." David meraup mukanya, menyesali dengan apa yang dia katakan tadi.
"Sudah kita kembali ke pembicaraan awal, sekarang bagaimana masalah perusahaan disana apa sudah ada perkembangan?."
"Tetap sama mungkin aku akan lama disini, titip Joy dan my boy tolong jaga mereka."
"Jangan bicara begitu mereka juga keluargaku, my boy adalah keponakanku dia juga jagoanku ingat itu." Mereka tertawa bersama.
"Pasti aku tidak akan melupakan itu."
"Ya sudah aku tidak bisa berlama-lama sekarang aku sedang ada di Bandara sedang mengawasi seseorang."
"Lanjutkan misi mu, aku tutup telponnya."
Setelah sambungan telepon terputus Roy langsung menyimpan ponselnya kedalam saku dan kembali ke misinya semula, mengintai yang katanya ada mata - mata dari musuh David yang baru tiba dari luar negeri.
๐น๐น๐น๐น๐น
Di Rumah Sakit
Roy masih mengikuti mobil Oma yang mengantarkan Mery ke Rumah Sakit, gadis itu barusan keluar dari mobil dan sedang berjalan masuk kedalam.
Roy yang melihat itu segera memarkirkan mobilnya dan berlari ke arah Mery.
Mery masuk ke dalam lift dan Roy pun ingin ikut masuk juga, sambil menahan dengan satu tangannya dia menghentikan pintu lift yang akan tertutup kemudian dia melangkahkan kakinya masuk kedalam.
Mery melotot saat melihat pria itu mengikutinya,"ada lift lain kenapa kau memilih lift ini." Berbicara dengan nada sinis, Mery membentak seraya mengusir Roy agar tak satu lift dengannya.
Adinda yang penasaran dengan apa yang akan dilakukan kakaknya pada Mery membuatnya ingin ikut masuk juga, tapi kata larangan dari kakaknya membuatnya mengurungkan niatnya.
"Kau naik lift sebelah." Memberikan telapak tangan sebagai sebuah tanda untuk melarang adiknya masuk kedalam.
Adinda mundur dengan wajah kesal sambil menggertakkan giginya.
'Awas ya kalau ada informasi lagi, aku tidak akan memberitahumu kakak kurang ajar.'
Adinda berdiri di depan pintu lift sambil melihat pintu lift yang sudah tertutup tanpa dia bisa melakukan apa-apa.
Di dalam lift hanya ada Mery dan Roy sekarang, gadis itu tidak bisa berkutik dia sekarang takut jika Roy berbuat sesuatu padanya.
'Oh tuhan lindungilah hambamu ini, jangan sampai orang ini berbuat sesuatu yang sesat, jika dia sampai berani berbuat macam-macam padaku aku sumpahin dia tidak akan pernah menikah seumur hidupnya.'
Hati Mery bergenderang keras tapi dia berusaha tetap tenang tidak menunjukkan rasa takut dan khawatir nya di depan pria brengsek menurutnya ini.
Roy menatap Mery dengan intens, melangkahkan kakinya mendekati Mery sambil pandangan yang tak lepas pada gadis di depannya.
Mery berusaha menelan ludahnya merasa dibanjiri oleh rasa takut, Roy yang semakin mendekat membuatnya memundurkan langkahnya sampai tubuhnya tak bisa mundur lagi karena sudah mentok di dinding lift.
Berusaha mendorong tubuh Roy yang mulai menghimpitnya,"kak Roy cepat menjauh, aku sesak." Sambil mendorong Mery berucap.
"Tidak." Ucap Roy enteng .
"Kak Roy mau apa?." Mendongakkan wajahnya.
"Memakanmu." Sambil senyum remeh Roy membuat Mery gemetar .
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Kalau kalian jadi Mery mau ngapain
Hayooooโฆ. Mmmmmmmmm ๐๐๐
Next gakkk???