Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Pikiran konyol Mery


Mery di kamar mendengar keributan di lantai bawah tidak berani keluar, dia hanya


menangis memikirkan bagaimana keadaan kakaknya kini, keluarga satu - satunya apakah harus meninggalkannya juga, Mery tak sanggup jika harus memikirkan kehilangan orang yang disayanginya lagi.


Sudah cukup semua anggota keluarganya


pergi jauh meninggalkannya dan tak akan pernah kembali, dia tak ingin hal itu terjadi lagi.


Mery menangis tersedu-sedu, gadis itu


sempat berpikir apakah semua ini terjadi karena keapesan dirinya yang mencelakakan orang yang berada di dekatnya.


"Bodoh, bodoh, kau yang membunuh mereka." Frustasi Mery memukul kepalanya berulang kali.


"Kak Joy maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat kakak celaka, huhuhu .. " tangis


Mery pecah, memenuhi ruangan.


Wulan berjalan melewati kamar Mery, mendengar ada tangisan segera wanita


paruh baya itu masuk tanpa mengetuk pintu dahulu, pemandangan pertama yang


dilihatnya adalah Mery yang sedang frustasi memukuli kepalanya.


Wulan berlari cepat untuk menghalangi kelakuan gadis itu lebih jauh lagi.


"Hentikan Mery!."


Memegang kedua tangan Mery dengan erat, agar gadis itu tak bisa bergerak untuk


memukul kepalanya lagi.


"Kau adalah putriku juga, aku tidak akan membiarkanmu terluka, aku tidak mau jika putriku satunya nanti menyalahkanku jika terjadi sesuatu pada putriku yang lainnya." Memeluk Mery demi membuatnya agar lebih tenang.


"Hiks, hik .." Mery kesegukan.


Gadis itu mendorong cepat Wulan yang memeluknya.


"Tante jauhi aku, aku tidak mau Tante terkena keapesanku seperti mereka yang celaka


akibat dekat denganku, huhuhu .. ." Mery meronta agar Wulan melepaskan pelukannya.


Tapi Wulan tak mendengarkan perkataan konyol Mery yang menyalahkan dirinya


sendiri akan semua yang terjadi.


"Cukup Mery, dengarkan aku! Semua yang


telah terjadi sudah ada garisnya, aku tidak percaya akan adanya keapesan apalah itu,


jika tuhan tidak menggarisnya semua ini


tidak akan terjadi sayang." Mengeratkan pelukan.


"Tapi .. ." bantah Mery yang masih kukuh akan pendapatnya.


"Ussttt," Wulan meletakkan jari telunjuk di depan bibir Mery.


"Buang semua pemikiran laknat itu, kau


masih bisa hidup sampai saat ini adalah anugerah dari Tuhan, jadi buang semua pemikiran jelek itu, yang terjadi pada Joy kini adalah salah satu garis hidupnya, dan saat ini kita harus berdoa agar Tuhan menyelamatkannya dan menyatukan dia pada kita dalam keadaan yang utuh tanpa kurang apapun." Mengelus rambut Mery, tanpa terasa air mata Wulan pun banjir.


"Tante, bolehkah aku memanggilmu IBU?."


Wulan mendongakkan kepalanya melihat


Mery dengan penuh cinta, mengusap sisa air mata di pipi gadis itu. Sambil mengangguk Wulan tersenyum bahagia.


"Silahkan sayang, aku akan sangat senang sekali, seperti layaknya Joy yang sangat menyayangimu, begitupun kasih sayangku pada kalian sama, dari pertama bertemu aku sudah menganggapmu seperti putriku sendiri Mery."


"Terima kasih ibu, maafkan kebodohan


anakmu ini ibu." Mery menarik Wulan, dan terjadilah pelukan erat antara ibu dan anak meskipun bukan kandung itu.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Di dalam mobil Joy teringat tangisan


putranya, yang meraung saat meminta asi darinya, rasanya dia tak sanggup jika harus berpisah lagi dengan putra semata


wayangnya itu.


Dalam diam Joy berpikir, bagaimana caranya dia harus bisa melarikan diri dari


cengkraman para penjahat ini, dia tak mau diam saja menunggu bala bantuan ataupun menunggu nasib untuk dibunuh oleh


penjahat tak berperasaan ini.


Joy melirik satu pistol yang berada di saku salah satu pengawal, dengan cepat merampas dan menembakkannya pada pengawal yang ada di sebelahnya.


Dor .. dor ..


Dua tembakan jatuh di lengan pengawal


yang ada di samping Joy, pengawal itu


merintih kesakitan, meremas lengannya yang berdarah pengawal itu ingin mengambil alih pistol yang ada ditangan Joy.


Terjadilah adegan perebutan pistol.


"Sudah dikasih hati malah minta jantung, tau dari awal aku bunuh saja kau, dasar pedebah." Ucap sang supir marah.


Pengawal yang ada di samping Joy masih hidup dalam kesakitan, kedua sasaran Joy adalah menembak sang supir, mobil yang mereka tumpangi merleok kesana dan


kemari, akibat tidak imbangnya sang supir


yang kesakitan.


"Serahkan pistol itu padaku," dengan darah bercucuran dilengan, pengawal itu berusaha merebut pistol yang ada di tangan Joy.


Joy masih bersikukuh berusaha menembak lagi, tapi adegan cekik dan menarik pun terjadi.


Mobil bergoyang dan menabrak pembatas jalan, berguling berulang kali dan berakhirlah pada pinggiran tebing mobil itu berhenti. Sedetik kemudian mobil itu masuk kedalam jurang dan mobil itu pun terbakar dan menghanguskan orang yang ada didalamnya.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


Detik detik menuju end.


jejaknya ya sayang ..


Next gakkkk???