
Dicky adalah orang kepercayaan pak Farhan, sejak kecil Dicky diasuh oleh pak Farhan sebagai penebus kesalahannya yang telah membuang cucunya sendiri, yang mengakibatkan putri kandungnya stress dan memutuskan untuk pergi meninggalkan
rumah dan membuang apapun yang berhubungan dengan keluarganya.
Dicky diambil oleh pak Farhan di Panti
Asuhan ketika dia masih berusia 10 tahun, Dicky disekolahkan tinggi oleh Farhan hingga ke luar negeri, sampai dia berhasil menjadi menjadi salah satu lulusan terbaik di universitas tempatnya mengenyam pendidikan.
Untuk menebus rasa terima kasihnya, Dicky mengabdikan diri pada Farhan dan tidak pernah sekalipun membantah kata dan ucapan pria tua yang sudah membesarkan dan memberikan pendidikan yang terbaik untuknya.
Dulu saat masih berada di Panti Asuhan, Dicky pernah mempunyai seorang teman perempuan yang tangguh dan selalu melindunginya, meskipun temannya itu jauh di bawahnya tapi dia berbeda dengan perempuan lain, kecil tapi tidak takut dengan yang lebih besar darinya.
Saat melihat wanita yang ada di rumah ayah angkatnya, Dicky seakan melihat pancaran sinar mata yang hampir sama dengan temannya dulu, teman kecil dan pemberani bernama Ana.
πΉπΉπΉ
Dicky menyelidiki kasus cucu dari ayah angkatnya, dia menemukan kenyataan
tentang siapa dalang dan motif di balik penculikan wanita itu. Dan tanpa berbelit,
Dicky langsung memberitahukan semua apa yang ditemukannya pada bos sekaligus ayah angkatnya itu.
Ditemuinya di ruang kerja pak Farhan, Dicky menjelaskan dengan serius jika yang dihadapinya ini adalah seorang mafia, dan tujuannya adalah untuk merusak keluarga wanita itu.
"Jadi apa yang harus kita lakukan Dicky? Apa kita harus menyerang orang itu?." Tanya
Farhan marah.
Setiap akan mengambil keputusan, Farhan selalu bertukar pikiran dengan anak
angkatnya itu terlebih dahulu, dia sangat mempercayai pria muda ini.
"Kita tidak boleh gegabah, maaf tuan kita
harus mempunyai rencana yang sangat
matang jika ingin menyerang orang ini." Jelas Dicky dengan sopan.
"Baiklah, kau saja yang membuat rencana,
aku percaya padamu."
"Terima kasih atas kepercayaannya, saya
akan memikirkannya tapi sebelumnya saya pamit dulu ke Kantor, karena ada klien yang ingin bertemu."
Dicky mengakhiri pertemuannya kali ini dan pamit untuk pergi ke Kantor.
Selain urusan rumah, urusan kantor pun
Dicky yang memegangnya.
Kedua putri pak Farhan pergi
meninggalkannya dan tidak pernah sekalipun menjenguk atau pulang ke rumah orang tuanya.
πΉπΉπΉπΉ
Keadaan Joy mulai membaik, Joy sudah diperbolehkan oleh nenek Antika keluar dari kamar, Joy ditemani seorang pembantu berjalan jalan ke Taman.
Rasanya wanita tua itu tidak ingin jauh
dengan cucunya, kemanapun Joy berada dia selalu ingin menemani, begitupun sekarang setelah lama melihat dari kejauhan
lama - lama pun tak betah dan memutuskan untuk menghampiri.
"Sayang, kau tidak kedinginan?." Antika bertanya sambil mendudukkan dirinya di samping joyyana.
Sambil membawa jaket rajutan Antika memakaikan jaket itu pada cucunya.
"Nek, ini siang kenapa juga aku kedinginan." Jawab Joy sambil menatap lensa mata nenek Antika yang berwarna coklat.
Joy akan melepaskan jaket rajutan itu, tapi
dia malah menangkap gambar genangan air mata yang sudah hampir jatuh.
"Nek sepertinya nenek sangat bersedih,
kenapa saat nenek memandangku selalu menangis? coba nenek ceritakan padaku
di pelupuk mata.
Antika menahan tangisnya.
"Sayang coba ceritakan tentang dirimu." Joy terbelalak.
Joy belum menceritakan apapun tentang dirinya pada orang yang merawatnya kini.
Joy memegang jemari Antika.
"Nek namaku joyyana, aku sebenarnya saat ini sangat merindukan putraku, tapi aku tidak bisa pulang."
"Joyyana?." Tanya Antika yang belum mendengar jelas.
Joy mengangguk.
"Iya nek."
Antika ragu ingin bertanya, dia terdiam.
"Aku sudah bersuami dan mempunyai
seorang putra, aku sangat bahagia dengan keluarga kecilku tapi orang tak bertanggung jawab ingin merusak keluarga kecil kami." Joy bercerita sambil berlinang air mata.
"Siapa mereka?." Tanya Antika iba.
Joy menggeleng, "aku tidak tahu nek."
"Aku juga masih mempunyai seorang ibu namanya Wulan, tapi kami dipertemukan di saat aku sudah dewasa nek, karena aku sejak kecil tinggal di Panti Asuhan." Sedetik setelah mendengar cerita joyyana, Antika menangis.
"Maaf, maaf, maaf β¦ ."
Antika menutup wajahnya, tak kuasa menahan tangis.
"Nek, nenek kenapa meminta maaf padaku?." Joy memegang pergelangan Antika hendak membuka tangan yang menutupi wajah
nenek tua itu.
"Karena keegoisanku, keserakahanku, kau menderita nak." Joy semakin bingung.
Joy tak bisa berkata, dengan penuh kebingungan dia ingin sekali menggali penjelasan.
Nenek Antika seketika bersimpuh di bawah joyyana.
"Maafkan aku nak, aku adalah orang yang
telah tega membuang cucu kandungnya
sendiri di Panti Asuhan dan akibatnya kau menderita tanpa adanya kasih sayang
sebuah keluarga dan terpisah dengan ibumu, huhuhu .." Joy terdiam, syok tidak bisa berbicara.
"Apa nenek bilang?." Joy mematung.
Perasaan Joy kini sangatlah hancur, mendengar kenyataan tentang dirinya.
Berdiri orang didepannya kini orang yang
telah membuat dirinya menderita, dan orang
itu pula yang merawatnya saat ini.
"Jadi nenek adalah .. ?." joy tak kuasa melanjutkan pertanyaannya.
Nenek Antika mengangguk, " iya sayang, aku nenek kandungmu."
Joy meraup mukanya kasar, tak bisa merasakan apa yang ada dalam dirinya kini.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Panjangnya joyyy... flashback nya dikit lagi
yahhhhhh...πππ
Next π