Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Kebersamaan 2


Roy turun duluan dari mobil Rudi ,dan


dengan cepat membukakan pintu untuk


Mery , " terimakasih kasih kak." ucap


Mery saat akan keluar .


" Saya pergi dulu pak Aditya , titip salam


untuk Joy ." ucap Rudi didalam mobil,


yang memperlihatkan wajahnya.


Roy mengangguk dan Mery pun tersenyum


" Iya kak hati - hati di jalan." Mery melambaikan tangan pada Rudi , mobil


Rudi pun menjauh.


Roy dan Mery saling bertukar pandang,


" Apa yang kita pikirkan sama ?." Roy


bertanya dengan menunjuk mobil Rudi


yang sudah menghilang.


" Apa maksud kak Roy , kalau kak Rudi


suka dengan kak Joy ?." Roy mengangkat


kedua alisnya tanpa mengeluarkan suara, Mery tersenyum dan berlalu menuju pagar,


belum juga pagar terbuka .


" Maryyy." suara seseorang memanggil ,


Mery menoleh .


Seorang pria datang menghampiri Mery


tanpa bicara dan langsung memeluknya.


Roy yang geram hampir saja menarik


pria yang memeluk mesra gadis


pujaan hatinya , jika saja pria itu tidak


melepaskan diri dari pelukannya.


Mery terlihat syok , diam tak menolak


pelukan itu.


" Mery aku sangat merindukanmu , aku


pulang seminggu yang lalu , tapi saat


kucari kau di sini , kata pembantumu


kau tidak tinggal lagi disini." ucap


pria yang tadi memeluk Mery .


" Mas Bimo ." ucap Mery sedikit berteriak


saat menyadari siapa pria yang memeluknya .


Bimo tersenyum dan mengangguk, Roy


memandang dua orang yang ada


depannya secara bergantian.


" Ayo masuk ." ajak Mery .


Tanpa memperdulikan Roy , Mery


menggandeng Bimo , mengajaknya


untuk masuk kedalam rumah.


Roy merasa bertambah geram , Karena


Mery mengabaikannya malah dengan


entengnya menggandeng pria asing


dan mengajaknya masuk kedalam


rumah.


Roy berjalan mengikuti dari belakang ,


tidak mau meninggalkan mereka


hanya berdua saja.


" Oh iya aku lupa , kak Roy kenalkan


ini mas Bimo dia kakak kelas aku dulu ."


Mery memperkenalkan Bimo pada Roy


saat mereka sudah ada di ruang tamu.


Dan mereka saling bersalaman.


Mery meninggalkan mereka berdua


di ruang tamu untuk membuat kan


minum . Roy menatap tajam pada Bimo


dan begitu pula sebaliknya.


" Jadi kau sudah kenal lama dengan


Mery ?." Roy bertanya dengan nada datar.


" Iya kau sendiri ?." Bimo balik bertanya.


Roy bingung harus menjawab apa ,ingin


marah tapi dia belum mengikat Mery .


Roy menyesal kenapa tidak dari dulu


dia menjalin hubungan yang pasti dengan Mery .


" Aku ..aku juga sama dengan mu." Roy


menjawab asal.


"Hahaha." Bimo tertawa meremehkan ,


" Kau tahu siapa aku ?, aku bukan sekedar


kakak kelasnya saja , aku dan Mery dulu sudah hampir berpacaran , andai saja


aku tidak kuliah ke luar negeri,"


tegas Bimo .


" Mery tak mau menjalin hubungan ,


dia masih ingin fokus sekolah , dan


dia tak mau menjalin hubungan dengan


jarak jauh , tapi perasaan kami masih


terjaga sampai sekarang ." imbuh Bimo.


Roy kaget dengan apa yang di dengarnya,


ternyata dia kalah telak dengan Bimo ,


Roy menyadari bahwa pria yang ada


di depannya adalah saingan barunya .


Roy sempat merasa minder , karena


saingannya ini masih terlihat muda


dan sepadan dengan Mery , tapi untuk


urusan tampang masih lebih tampan


dirinya.


" Kita lihat saja siapa dari kita yang


akan memenangkan hati Mery ." ucap


Roy datar , yang tidak mau kalah.


" Kita akan bersaing secara adil , tidak


perlu dengan kekerasan , siapa yang


lebih dulu bisa menjadi kekasihnya."


imbuh Roy.


Bimo menanggapi ucapan Roy dengan


wajah jengahnya , dia sangat yakin jika


Mery masih menyimpan perasaan


untuknya.


Mery keluar dari dalam dengan membawa


nampan berisikan minuman dan cemilan,


Roy dan Bimo berdiri saat melihat Mery .


" Biar aku bantu ." ucap Roy dan Bimo


bersamaan. Mery tertegun , menghentikan


langkahnya.


Roy dan Bimo salah tingkah mereka


menggaruk rambutnya yang tidak gatal ,


untuk mengurangi rasa malunya.


" hahaha." Mery tertawa renyah , merasa


jika tingkah dua orang pria yang sudah


dekat dengannya ini seperti anak yang


berlomba memperebutkan sesuatu.


" Sudah tidak perlu di bantu , ini kan


cuma minuman aku bisa sendiri." Mery meletakkan yang di bawanya diatas


meja . Roy dan Bimo saling lempar


pandang.


Mery memberikan teh kepada Roy dan


Bimo untuk meredakan kecanggungan


diantara mereka bertiga.


" Di minum kak ." Mery duduk di kursi


yang berbeda , tidak ingin membuat


kesalahpahaman antara mereka bertiga.


Roy dan Bimo pun meminum teh


yang Mery berikan.


Mery mendengar suara mobil berhenti


di depan rumahnya , dia penasaran dan


keluar, seseorang turun dan mendekat.


" Nona apa benar ini rumah nona


Joy ?." tanya seorang kurir dengan


menyodorkan selembar kertas keterangan alamat .


" Iya benar , ada apa ya ?." Mery menjawab


dan balik bertanya.


" Saya di tugaskan untuk mengantarkan barang , karena nona Joy sudah


berbelanja di toko kami ."


Mery membaca kertas yang bertuliskan


nama dan alamat yang memang atas


nama Joyyana .


" Iya benar memang ini alamat dan nama kakak saya , " Mery mengembalikan


kertas keterangan alamat pada sang


kurir .


kurir itu pun kembali ke mobil


untuk mengambil barang dan membawanya


ke depan rumah Mery. Setelah selesai


kurir itu meminta tanda tangan pada


Mery sebagai bukti jika barang sudah


diterima .


Merasa Mery keluar terlalu lama , Roy


memutuskan untuk mengikuti keluar


rumah .


" Ini ada apa Mery ?." tanya Roy saat


melihat banyak barang .


" Ini milik kak Joy , aku tidak tahu apa


isi di dalamnya." jawab Mery berusaha


mengangkat barang .


" Biarkan aku saja yang mengangkat ,


ini pasti kelakuan David, Joy tidak


mungkin berbelanja sebanyak ini."


alih sebuah kardus berukuran lumayan


besar yang tadi akan di angkat Mery .


" Aku bantu ." Bimo tak mau kalah


mengangkat kardus lainnya .


Roy melirik Bimo , yang ingin ikut


membantu , Bimo hanya mengangkat


sudut bibirnya , seakan mengatakan


jika persaingan mereka sudah dimulai.


Mery menggeleng kan kepalanya,


melihat tingkah dua pria yang seperti


anak kecil yangtak bosan bosannya


berebut mainan.


πŸ€πŸ€πŸ€


Setelah menyelesaikan makanannya ,


David mengajak istrinya untuk sekedar


berjalan di tepi laut . menikmati udara


panas dan angin yang sepoi-sepoi


dengan bergandengan tangan.


Joy berhenti , dia memandang hamparan


laut luas yang sangat indah menurutnya ,


dia memejamkan matanya , merasakan


hantaman udara yang mengenai tubuhnya.


" Sayang , apa kau masih ingin


jalan - jalan?." tanya David dengan


menatap wajah Joy .


Tapi Joy tidak menjawab, dia hanya


berdehem ria " hmmm." karena Joy


tidak mau di ganggu.


" sayang jika melihat laut aku teringat


saat kita ..." David tidak meneruskan


ucapan nya .


Joy membuka matanya, menoleh dengan


cepat menatap suaminya.


" Kau teringat apa David ?." ucap Joy


penasaran dan sedikit berteriak.


David tertawa jahil , dengan lembut


memeluk istrinya , bibirnya sejajar


dengan letak telinga Joy .


" Aku teringat saat kita di dalam mobil ."


bisik David , dan menggigit kecil


telinga Joy sebelum dia melepaskan


pelukannya .


" Kau jangan mulai David , aku tidak


mengerti dengan apa yang kau bicarakan."


Joy mulai salah tingkah , menutupi


rasa malunya .


David sangat suka jika melihat Joy


yang tersipu malu , dia malah lebih


bersemangat untuk menggoda istrinya.


" Apa perlu aku yang ingatkan sayang."


Mendengar ucapan David Joy bertambah


rasa malunya , " tidak usah ." Joy berlalu


pergi , David pun ikut di belakangnya.


Joy duduk di sebuah kursi di bawah


pohon kelapa dan David duduk


di sampingnya.


" Jujur sayang saat di mobil aku sangat


bahagia , karena aku melakukannya


dalam keadaan sadar ." joy mencubit


perut David.


" Cukup , aku tidak mau dengar." Joy


memanyunkan bibirnya.


" Sayang aku minta maaf .."


Karena David tidak melanjutkan


perkataan nya Joy pun penasaran.


" Maaf kenapa ?."


" Maaf karena aku melakukannya lagi


saat kita di apartemen."


" David cukup !." teriak Joy , yang


syok dengan permintaan maaf yang


konyol dari suaminya.


David tertawa lepas karena merasa


geli bercampur sakit saat perutnya


berulang kali kena cubitan dari jari


mungil istrinya.


" Baiklah , aku tidak mengatakan nya


lagi , tapi sayang..." David kembali tidak


melanjutkan ucapannya.


" Huh , tapi apalagi ? ." tanya Joy


menahan rasa kesalnya.


" Tapi kita sangat menikmati dimana


saat kita bertemu yang sudah beberapa


bulan terpisah . " Joy menoleh , dia


merasa bingung , kapan dia berpisah


dengan David.


" Saat aku masuk ke kamarmu ." bisik


David lirih , dan langsung mendapat


jambakan rambut dari tangan Joy .


Joy yang marah bercampur malu , dia


emosi dan hendak berdiri , tapi david


menghalanginya dengan menggenggam


pergelangan tangan Joy .


" Di sini dulu , ada yang ingin aku


tunjukan padamu ." Joy kembali duduk.


David merogoh sakunya , dia mengambil


kotak kecil dan bersimpuh di hadapan


istrinya yang sedang duduk.


" Sayang , aku belum pernah melamarmu


secara pribadi , maukah kau menjadi


istriku dan menjadi ibu dari anak-anakku,


kita akan melangkah bersama


dengan anak anak kita nanti ." David


memberikan sebuah kotak kecil yang


berisi sebuah cincin berlian , dia


menatap Joy , menunggu Jawaban


darinya.


Huh....Joy mengeluarkan nafas kasarnya.


" David kau ini lucu , kau meminta aku


menjadi istrimu ? , apa kau lupa jika


kita sudah suami istri." David kaget


dengan jawaban yang Joy berikan,


dia pun menahan tawanya.


" Dan dengarkan aku dulu , kau bertanya


padaku , maukah aku menjadi ibu dari


anakmu , apa kau tidak lihat aku


sekarang sedang mengandung anakmu,


kau baru terbentur dimana David ?."


David tertawa terbahak-bahak.


Joy menggelengkan kepalanya.


Joy menyodorkan tangannya di depan


David ," Pakaikan , kau kan sudah


melamarku , sekarang cepat sematkan


cincin itu di jariku ." Joy berbicara dengan


suara yang manja .


Tanpa menunggu lagi , David segera memakaikan cincin di jari manis istrinya ,


" Terimakasih telah menerima lamaranku ." David mengecup kening istrinya.


Saat akan turun ke bibir , Joy lebih


dulu menghalangi nya ,


" Stop !, ini di tempat umum , kau jangan


mulai lagi ." David menahan tawanya


dia mengusap raut wajahnya dengan kasar.


" David , kita kan sudah selesai drama


lamarannya , ayo kita pulang ." ajak


Joy .


" Baiklah , tapi..." ucapan David terhenti


karena Joy mengecup bibirnya sekilas ,


berdiri kemudian meninggalkan David.


David merasa hatinya berbunga-bunga,


dia berlari mengejar Joy yang sudah


mulai jauh meninggalkannya , dia merasa


sudah jika Joy sudah memaafkan nya .


**"Aku berjanji , ini akan menjadi


kemarahan mu yang terakhir padaku


Joy , selanjutnya tidak akan ada lagi


kata Joy yang berpisah dengan David.**


Batin David.


_


_


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Maaf Author telat up,,,


besok author usahain bisa up


teratur lagi....


jangan lupa ninggalin jejaknya ya 😊😊😊


Next....