
Tak lama setelah Roy pergi meninggalkan
Rumah sakit , terdengar suara tangisan
seorang bayi dari dalam ruangan dimana
Joy di operasi , David terdiam kemudian
mengalihkan pandangannya pada Oma .
" Oma , apa itu suara tangisan anakku ?."
wanita tua itu mengangguk .
David berhambur kepelukan Omanya ,
merasa lega akhirnya setelah sekian
lama menunggu dia bisa mendengar
suara tangisan David junior .
Melepaskan pelukan David mengusap
air matanya , " kau lihat kan doa kita
akhirnya terkabul , kita tunggu saja
sebentar lagi Dokter pasti akan keluar ."
mengelus punggung cucunya .
David berjalan ke pintu , tak sabar ingin
segera bertemu dengan istri dan juga
anaknya .
Oma kemudian memanggil temannya
dan Mery yang duduk tak jauh darinya
agar mendekat , " Bayinya sudah keluar ."
melambaikan tangan .
" Hati - hati nek ," Mery membantu Melati
berdiri .
" Terimakasih Mery , nanti jangan
singgung soal Anggi , biarkan semua ini
berjalan seperti adanya ." berbicara
sebelum melangkahkan kakinya untuk
menghampiri temannya .
Mery tersenyum mengangguk , isyarat
bahwa dia mengiyakan apa yang
di katakan Melati padanya .
David tak sabar mondar mandir di depan
pintu , tak berapa lama Dokter pun keluar
dengan di ikuti seorang perawat yang
menggendong seorang bayi untuk dibawa
ke Ruang Inkubator .
" Mau di bawa kemana bayi itu ?." bertanya
saat seorang perawat melewatinya .
" Tenang pak , kami hanya membawanya
ke tempat perawatan khusus agar
kondisinya lebih baik ."
Penjelasan Dokter menghalangi niatan
David untuk mencegah perawat tadi
membawa bayinya .
" Sekarang kondisi istriku bagaimana
Dok ?." hendak masuk kedalam , tapi
Dokter menghalangi nya , " jangan tuan ,
pasien masih belum bisa di temui ."
menghadang dengan kedua tangan
agar David tak bisa masuk .
David diam menunggu jawaban dari
pertanyaan nya .
" Pasien ,, ." raut wajah Dokter itu murung .
Semua orang yang ada di sana ikut
takut , menunggu kata selanjutnya .
" Lama sekali , aku masuk tidak boleh ,
sekarang jawab pertanyaanku jangan
bertele-tele , keadaan istriku bagaimana? ."
Bentak David pada Dokter yang menangani
istrinya dengan amarah yang menggebu-gebu .
" Dengan sangat terpaksa , saya
memberikan kabar duka ini pada tuan ."
Sang Dokter menunduk .
Melihat reaksi dari penuturan Dokter
David seketika murka .
" Menolong satu nyawa saja tak becus ,
ku pastikan mulai hari ini status
pekerjaanmu akan hilang ." bentak David
memukul tembok .
David langsung lemas terduduk dilantai
tadinya dia langsung ingin menemui
istrinya sekarang di urungkan .
Dia tak kuasa melihat bujur kaku istrinya .
" Ini tidak mungkin , Dokter bohong kan ?
kak Joy tidak mungkin pergi secepat ini ."
jeritan Mery memenuhi lorong .
Melati memegang Mery erat , tak memperbolehkan nya untuk berlari
masuk ke Ruang operasi .
Oma berusaha bersikap tenang dan
mendekati sang Dokter , " lanjutkan
penjelasannya ."
Yang menangani Joy kali ini adalah
Dokter khusus keluar Alexander , Dokter
yang berpengalaman dan Oma sangat
mengenalnya .
" Baiklah , " Dokter baru membuka kata ,
semua terdiam .
" Pak David saya ucapkan selamat
untuk kelahiran bayi anda yang hebat ,
mungkin untuk bayi lain tidak akan
kuat dengan kondisi yang seperti ini ,
dimana saat kontraksi sang ibu malah
pingsan yang cukup lama ." semua mendengarkan .
" Dan untuk keadaan nyonya joyyana ,
sekarang beliau belum sadar ." David
langsung berdiri .
" Apa Dokter bilang ?." mencengkeram
kerah sang Dokter .
David tak kuasa karena perasaannya
sudah di permainkan oleh Dokter bedah
yang menangani istrinya .
" David tenangkan dirimu , biarkan
Dokter Harun melanjutkan
penjelasannya ." Oma memaksa David
untuk melepaskan cengkraman tangannya .
Setelah terlepas Dokter pun melanjutkan
terlebih dahulu longgarkan kerah
bajunya yang tertarik akibat ulah tangan
David .
" Mungkin butuh waktu satu atau paling
lama dua jam kemungkinan pasien akan
sadar dan terakhir saya mau bilang
tolong di jaga bicaranya nanti , soalnya
pasien tidak boleh mendapat tekanan
pikiran dahulu , karena kondisinya masih
belum stabil ." Dokter menambahkan .
David hendak masuk namun dihalangi
oleh cekalan lengan sang Dokter lagi .
" Tunggu tuan biarkan perawat kami
memindahkan nyonya joyyana ke Ruang
perawatan ."
David menurut dan duduk di kursi tunggu
dengan perasaan lega , meminum
segelas kopi yang telah di bawakan
oleh Roy dan Isabella tadi .
Mery menghapus air matanya ,
menggambil ponsel untuk memberikan
kabar berita tentang kondisi kakaknya
pada Anggi .
" Maaf Oma dan tuan David bisa ke
Harun .
Berjalan meninggalkan Ruang Operasi
di ikuti Oma dan David di belakangnya .
####
Anggi dan Andreas masih di Kantin ,
menunggu kabar selanjutnya dari Mery,
" kok lama ya Dre ?." tanya Anggi yang
tak berhenti meneteskan air mata .
" Sabar , mungkin sebentar lagi , jangan
berfikiran macam - macam , keduanya
aku yakin pasti selamat ." memaksa
Anggi untuk meminum segelas jus ,
Dari tadi minuman maupun makanan
yang di pesankan untuknya tak
di sentuh oleh Anggi .
" Tapi ini udah satu jam lebih lho ,
apa Mery nya yang lupa ya ?." suaranya
serak akibat kebanyakan menangis .
Tringgg...tringgg...3x
Bunyi pesan masuk ke ponsel Anggi ,
dengan cepat Anggi membukanya .
π»- Kak Anggi ,, kak Joy dan bayinya
selamat , sekarang dalam proses
menuju ke Ruang perawatan ,π~
πΊ- Syukurlah Mery , terima kasih udah
mengabari ku π~
π»- Jika kak Anggi mau melihat kak Joy
sekarang saja , Oma dan kak David
sekarang di Ruangan Dokter bedah .
πΊ- Baiklah aku dan Andreas akan
kesana .
π»- Ok kak , aku tunggu π,~
Anggi memasukkan ponselnya kembali
dan mengajak Andreas untuk melihat
sahabatnya itu . Dengan tergesa-gesa
di bantu oleh Andreas , Anggi mengemasi minumannya .
πΏπΏπΏπΏ
Mobil yang di Kendarai Roy sudah
sampai di Rumah Sakit , satu persatu penumpang bergantian mulai turun .
Dengan tatapan menusuk Roy memberi
peringatan pada adiknya , tanpa punya
rasa takut Adinda malah mengejek
raut muka sadis kakaknya .
Rani dan Wulan berjalan di depan ,
sedangkan Isabella pamit pulang dulu ,
karena sedari Kantor dia belum sempat
membersihkan diri .
Tinggal saudara kakak beradik yang
berjalan di belakang , " Jaga bicaramu ,
apalagi jika di depan bunda ." bisik Roy
mensejajarkan jalannya dengan Adinda .
" Kak Roy juga , jaga tingkah nya
sebelum semuanya terungkap ." Adinda
menahan tawa .
Roy berhenti kemudian menarik adiknya
itu menepi ," Apa saja yang sudah kau
ketahui , katakan ! ." mencengkeram erat
lengan adiknya .
" Lepasin kak ! , pokoknya banyak , kak
Roy tak perlu tahu ." menggigit tangan
kakaknya dan berlari kearah bundanya
yang sudah jauh namun masih terlihat .
Sampai di tempat yang di tuju , Adinda
melihat tantenya itu langsung
menghampiri Mery , menanyakan keadaan
terbaru tentang anaknya .
Adinda melangkahkan kakinya selangkah
demi selangkah sampai di dekat Mery
dia langsung menjewer telinganya .
" Nakal ya,, jalan - jalan tidak mengajakku ."
berbicara dengan nada ngambeknya .
" Ey,,,, sakit tau , siapa yang jalan - jalan ."
menggosok telinganya yang panas
akibat ulah cubitan Adinda .
Seorang perawat membuka pintu dan
keluarlah perawat lain membawa kereta
dorong dengan ada joyyana di atasnya .
" La itu kak Joy ." teriak spontan adinda
terdengar nyaring .
" Diam dodol ini Rumah Sakit ." menutup
mulut Adinda , takut jika asal nerocos lagi .
Mereka mengikuti dari belakang , tidak
letak dimana kamar yang akan di tempati
oleh joyyana .
Mery dan Adinda sengaja berjalan
di belakang , banyak sekali yang ingin
mereka bicarakan , memelankan
langkahnya agar lebih santai .
" Mer , mer ,,, kau tahu tadi kami dijemput
siapa hayo ?." bersuara lirih namun
di ikuti dengan candaan yang menggoda
sambil sesekali berbisik .
" Alah , pasti buaya kudisan yang
menjemput iy kan ? ." melihat arah depan
menjawab dengan angkuhnya .
" What , buaya kudisan , siapa itu Mer ?."
Adinda yang penasaran menghentikan
temannya melangkah , berdiri
menghadang .
Mery jengah ," minggir !." mengambil
jalan kosong di sisi Adinda .
" Eh, eh eh tunggu jawab dulu , siapa
buaya kudisan itu ." menarik lengan
temannya .
Kedua gadis yang masih duduk di bangku
SMA itu bertatapan , " apa dia kakak ku ?."
Adinda menduga .
" Lantas siapa lagi dodol ." meninggalkan
temannya yang masih diam tak menyangka .
Keduanya tak tahu dari tadi di belakang
mereka ada orang yang sedari tadi
mereka bicarakan sedang asik menguping .
" Buaya kudisan ? , sampai segitunya
Mery memberiku julukan ." Roy kaget
dan menahan tawa .
Adinda yang masih memikirkan apa yang
temannya ucapkan , melihat ada orang
di belakang mereka .
" Kak Roy ?." Adinda mengedipkan mata
masih tertegun .
" Sejak kapan kak Roy disini ya ?."
menelan ludahnya kasar , kepergok
membicarakan kakaknya di belakang .
"Sejak kalian membicarakan ku ."
seketika Adinda melotot .
πΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Nyicil dulu ya ... nanti di lanjut lagii..π
jangan lupa ninggalin jejak nya yaaa
ππππππ
salam cinta dari author π
Next π...