
Setelah menghabiskan sarapannya Joy
mengajak Mery turun ke lantai bawah,
itu tidak bisa di sebut sarapan karena
saat ini sudah hampir pukul sebelas
siang , bisa dikatakan jika Joy merangkap
antara sarapan dan makan siang nya
menjadi satu .
Karena baru kali ini Mery datang ke
Rumah Oma , Joy igin menunjukkan
pada Mery sebuah kolam renang yang
terdapat di Rumah itu .
Di benaknya pasti Mery suka, karena Joy
mengetahui betapa sukanya Mery
dengan olahraga yang satu ini .
" Mer ,, pasti kau belum tahu , kalau
disini kakak punya kolam renang , "
berjalan tergopoh-gopoh , bersemangat
ingin segera sampai di kolam .
" Sudah tahu kak ." Joy berhenti .
" Dari mana ?." Joy menatap dengan
wajah heran .
Mery menceritakan jika dia mengetahui
nya tadi saat dirinya sedang berada
di balkon kamar kakaknya tadi .
Joy sedikit kecewa ," ya sudah, tidak jadi
kejutan ini namanya ," memasang wajah
cemberut .
" Kakak ,, aku hanya melihat tapi belum
pernah kesana ." mendengar hal itu Joy
langsung semangat , menarik tangan
Mery agar cepat sampai .
πππ
Di Kantor ...
Di dalam ruangan David , Oma sudah
siap menunggu kedatangan cucunya ,
rasa kesal dan amarahnya masih bisa
dibendung, tapi lain jika menyangkut
masalah perusahaan , Oma tidak bisa
tinggal diam .
Beliau tidak ingin terjadi masalah yang
serius dengan perusahaan miliknya ,
Oma tidak ingin kerja keras suaminya
selama ini hancur akibat ulah dari para
musuh yang dari dulu ingin
menghancurkan perusahaannya .
Ceklekk,,,,
Pintu ruangan David terbuka , David
masuk kedalam menuju kearah lurus
tempat Oma duduk sekarang , disebuah
sofa yang di sediakan untuk para tamu
David .
" Oma maaf ." meraih tangan Oma dan
menciumnya .
David memeluk Oma erat ," maafkan
cucumu yang kurang ajar tapi tampan
ini , Oma kan tahu jika aku tidak bisa
berlama - lama jauh dari anakku ."
melepaskan pelukan , meringis saat
menatap Oma .
" Dasar cucu kurang ajar , bisa - bisanya
kau melupakan Oma mu ." menjewer
telinga David .
David tahu jika Oma tak bisa
berlama-lama marah padanya ,
kemarahan Oma akan hilang seketika
jika David sudah mulai manja .
" Omong kosong jika kau tidak bisa jauh
dari anakmu , dia saja belum lahir , itu
cuma alasanmu saja , memangnya aku
tidak mengerti apa tujuan mu dan
bilang saja kalau kau kesana tidak mau
jauh dari ibunya ."
David tertawa tidak bisa menjawab ,
ingin membantah pun percuma karena
memang itulah kenyataannya sekarang .
Roy yang sejak tadi berdiri juga ikut
tertawa , mendengar alasan yang David
berikan bisa dikalah telakkan oleh Oma .
Oma menyuruh seorang pengawal nya
untuk mengambilkan dokumen yang ada
diatas meja David ,
" Lain kali kalau mau kemana-mana
pamit pada Oma , agar oma tidak
khawatir memikirkan kandungan istrimu ,setidaknya memberi kabar kan
bisa , kalian berdua sama saja ."
menerima sebuah dokumen dengan
tangannya .
Oma menyerahkan nya pada David ," ini
bukankah !, ada masalah serius menimpa
perusahaan kita di Inggris ." Roy mendekat .
David mulai membaca isi dari dokumen
yang dia pegang , membaca dengan
seksama dengan di dampingi oleh Roy ,
" Kenapa bisa seperti itu Oma ?." tanya
David dengan menunjuk isi dokumen .
" Itu karena kelengahanmu , musuh kita
bisa masuk dengan mudahnya kedalam
perusahaan kita dan dengan leluasa
menusuk kita dari belakang ."
Oma meminum secangkir teh yang
berada diatas meja , untuk
menghilangkan penuh penat dipikirannya .
David bersandar di kursi dengan satu
tangan memijat pelipisnya , mencari
solusi yang terbaik untuk jalan keluar
dari masalah yang menimpa perusahaan .
" Oma ,, aku tidak harus pergi kesana
kan ? ," menatap Oma yang sedang
tersenyum .
" Pertanyaan itu yang sudah Oma
tunggu- tunggu dan yang pastinya
jawaban nya adalah YA ." Oma menatap
David dan Roy bergantian .
Kedua orang yang ditatap Oma pun
saling pandang , mungkin pemikiran
mereka saat ini sama , ingin melempar
tanggung jawab . Secara sama - sama
malas di perintahkan untuk menangani
perusahaan disana .
" Mampus aku , jangan sampai Oma
menunjukku untuk pargi ke Inggris ."
Roy menelan ludahnya kasar .
Rasanya David enggan untuk
meninggalkan istrinya , dia ingin
menunggu hari H saat kelahiran putranya .
Di lain sisi ada Roy yang juga seperti
David , yang malas melakukan perjalanan
jauh karena saat ini ada Mery di dekatnya .
Tanpa ada satu jawaban yang keluar
dari mulut salah satu dari dua orang
yang ada di depannya , Oma merasa
geram , dengan sedikit membanting
cangkir saat menaruhnya di atas meja
Oma menegaskan .
" Kalian harus segera pergi ke Inggris
secepatnya ." David dan Roy kaget .
" Oma mengapa harus kami berdua ,
tidak bisakah salah satu diantara kami ,
kumohon Oma jangan menyuruhku
kesana ." memasang wajah lesu .
Oma menggeleng-gelengkan kepalanya ,
" permintaan mu itu tidak mungkin ,
karena kau David adalah pemilik
perusahaan , jadi wajib bagimu untuk
datang dan harus kau ingat , apa kau
ingin jerih payah kakekmu dirusak
begitu saja oleh ulah orang - orang
yang tidak menyukai kita ."
David memejamkan matanya dengan menyandarkan punggungnya di kursi ,
tak mampu memilih salah satu antara
keluarga nya atau nasib banyak orang .
" Oh bagaimana ini , aku tidak bisa
egois dan kali ini nasib para karyawan
ku ada di tangan ku ."
Rasanya David tak mampu memilih
sama - sama penting , David ingin
sekali memilih untuk dirinya sendiri
tapi dia juga tidak tega jika harus
menelantarkan nasib para karyawan nya .
Saat ini yang dia inginkan hanyalah
menemani istrinya di saat-saat
terakhir menjelang kelahiran buah cintanya .
Akhirnya David memutuskan untuk
menuruti apa kata Oma ," Kapan aku
harus kesana ?." menegakkan duduknya .
Oma tersenyum lebar ," secepatnya ,
besok juga bisa , lebih cepat lebih baik ."
David kaget , dia tidak menyangka jika
harus berangkat secepat ini .
" Apa ." teriak Roy dan David bersamaan .
" Isss...Oma tidak menerima bantahan."
menggoyangkan jari telunjuknya di
depan dua cucunya .
Oma pun meminta bantuan anak
buahnya untuk berdiri , tanpa bicara
meninggalkan ruangan David .
" Oh ya David , bagaimana keadaan
Joy ?." berhenti di ambang pintu .
" Sangat baik Oma , tadi saat aku
kesini dia masih tidur , dia ingin sekali
menemui Oma kemarin malam ,
tapi aku melarangnya ." menatap Oma
dari jauh .
" Baiklah aku akan menemui nya ."
keluar ruangan .
Selepas kepergian Oma , Roy pindah
tempat duduk , mengubah posisi
terlentang diatas sofa .
" Tidak bisakah kau pergi sendirian ?
aku disini saja , untuk berjaga-jaga
jika Joy membutuhkan bantuan ."
Alih-alih ingin membantu Joy , maksud
Roy sebenarnya adalah sambil
menyelam dia bisa mencicipi air ,
sambil siaga Joy , Roy bisa mendekati Mery .
" Baiklah aku akan pergi kesana sendirian
jika ada sesuatu dengan istriku , aku
akan segera pulang ." Roy menunjukkan
jempol tangannya dengan senyuman
yang lebar .
πππ
Joy kini meninggalkan Mery sendirian
di kolam , dia bersama dengan Oma
di ruang tengah , menceritakan
tentang maksud kepergian nya yang
tiba -tiba .
Tanpa ingin melepaskan pelukannya
Joy masih kangen dengan Oma ,
begitu pula dengan Oma mengelus
rambut cucu menantu kesayangan nya
" Sudah - sudah apa kau sudah memberi makan buyutku ?." Joy mengangguk .
Oma menceritakan tentang
keputusannya yang meminta David
untuk pergi ke Inggris , dia tidak
bermaksud memisahkan Joy dengan
suaminya , ini untuk kebaikan semua.
Dengan rasa berat Joy menyetujui nya ,
tapi di dalam hatinya dia ingin sekali
ditunggu disaat terakhir usia
kehamilan nya , tapi itu adalah pilihan
yang kekanak-kanakan .
Tak berapa lama David kembali ,
karena sudah memasuki waktu jam
makan siang , dia ingin menikmati
makan siangnya bersama dengan
istrinya .
David datang bersama dengan Roy ,
langsung menemui orang yang dia
tuju , berkumpul bersama di ruang
tengah , bercengkrama ria menunggu
para pembantu menyiapkan makanan .
Siratan mata Roy lari kemana-mana ,
mencari sosok yang tidak ada ,
" Kemana gerangan gadis kecilku ."
" Kau mencari Mery ?, dia d kolam ."
melempar satu kacang tepat du kepala
Roy .
David dan Oma tertawa melihat
keusilan Joy pada sepupunya dan
menangkap respon Roy yang benar
seperti dugaan Joy , bahwa Roy datang
memang untuk mencari Mery .
Segera beranjak menuju tempat yang
di katakan Joy , tanpa kata Roy
meninggalkan ruang tengah .
Mery berenang dengan senangnya ,
sudah lama dia tidak merasakan
dingin nya air saat berenang , dulu
dia sering berrenang dengan teman
temannya saat hari libur , kini dia
tidak lagi bisa melakukan olahraga
satu itu .
Roy sampai di kolam renang , berdiri
dengan tangan bersendakap di dada ,
dia memperhatikan Mery ,
" Alamak ,, godaan apalagi ini , rasanya
aku tak kuat lagi untuk berlama-lama
untuk memilikinya ." matanya tak lepas memandang Mery .
Mery yang tak tahu jika ada sepasang
mata yang mengintai nya dari tadi ,
dia masih asik saja berenang , dengan
memakai pakaian yang bukan bikini
tapi masih ketat di tubuh , agar dia
leluasa untuk berenang .
Merasa haus Mery naik keatas , menuju
meja di tempat duduk nya , memakai
handuk untuk menggosok rambutnya .
Masih berdiri , Mery membalikkan
badan , bola matanya menangkap
Roy yang asik memandang nya .
" Hah ,,, sejak kapan orang itu disana ,
apa dia melihat ku berenang dari tadi ?."
salah tingkah memalingkan wajahnya .
Tersenyum pada Mery dengan
melambaikan tangan , " hah pake
senyum lagi ." Roy mengangkat kedua
alisnya .
Seketika Mery melihat tubuhnya ,
nampak dirinya yang memakai
baju renang agak tertutup tapi ketat
menunjukkan lekuk tubuhnya yang
teramat , membuat Roy tersenyum
lebar .
Sadar jika Roy menatap nya dengan
tatapan penuh nafsu , Mery cepat
memakai kimono dan langsung berlari
pergi melewati di samping Roy , tepat
di dekat , Roy menangkap Mery .
" Mau kemana ?." Mery ngos - ngosan .
" Lepaskan,,,. cepat kakak lepaskan !,
kalau nggak aku akan ..." melirik Roy .
Roy malah semakin mengeratkan
pelukannya , " Kak royyy..." Mery
berteriak mendorong Roy kebelakang
dengan tubuhnya .
" Kalau aku tidak mau , kau mau apa ."
tetap di posisi semula .
Dengan penuh tenaga Mery ingin
lepas dari cengkeraman tangan Roy .
" Aaaaaaaa......." teriakan Mery menggema .
Byurrrr.....
Karena posisi yang dekat dengan kolam
kedua orang yang sedang bertikai
tercebur ke dalam kolam .
πππππππ
_
_
Next πππ